Menikah tanpa ayah.

Ayah, Bagaimana Aku Hidup Tanpamu?

Rumah tua itu hanya berpenghuni Ayah dan satu anak perempuan yang sudah berumur 24 tahun. Mereka hidup dengan sederhana, dan nampak bahagia. Hingga suatu ketika Ayahnya berkata kepada anaknya, “Ratih, kamu sekarang sudah dewasa, kapan kamu segera menikah?”

“Belum ada yang cocok Ayah, kalau sudah dipertemukan, dan cocok. Ratih akan segera menikah,” melihat Ayah sembari tersenyum.

Sudah sejak umur 7 tahun Ratih tinggal dengan Ayahnya seorang, ia belajar memasak, menyapu dan mengerjakan apa yang biasa Ibunya lakukan dulu.

Ratih sangat sayang kepada kedua orangtuanya, apalagi dengan Ayahnya. Sudah tidak ada kata yang terucap dalam bibir Ratih kalau menyinggung tentang Ayahnya. Ia masih tidak bisa hidup dengan orang lain kecuali dengan Ayahnya, ia tidak ingin pisah dengan Ayahnya. Itu alasan yang ada dalam hatinya, sampai sekarang ia masih belum memutuskan untuk mancari pasangan hidupnya.

Sudah beberapa kali ada yang datang untuk berniatan baik melamar Ratih, namun Ratih dengan halus menolak. Terus menerus menolak dengan alasan yang sama, yakni ia ingin berkarier terlebih dahulu. Namun itu hanya alasan Ratih saja agar tidak berpisah dengan Ayahnya.

Ratih menyiapkan makanan, Ayah sudah menunggu di meja makan sembari membaca koran. “Anak Ayah semakin cantik seperti Ibunya,” goda Ayah, Ratih hanya tersenyum.

“Pertanyaan Ayah yang tadi, belum kamu jawab nak,” tangannya mengambil piring dan sendok untuk bersiap-siap makan.

“Pertanyaan yang mana Ayah?” Ratih membalas, ia masih bolak-balik ke dapur menyiapkan makanan. Tinggal nasi yang belum tersedia di meja makan, ia mengambil dengan cepat lalu duduk di sebelah Ayahnya.

“Kalau Ayah nyinggung itu pasti kamu langsung tidak mau mendengarkan,” ujar Ayah dengan sedikit nyengir.

“Beneran Ayah, Ratih tidak tau apa yang Ayah tanyakan tadi,” mencoba meyakinkan, tangan kanannya mengambil nasi lalu di taruh di piring Ayahnya.

“Kamu sudah waktunya mencari pasangan hidup, kamu menunggu apa lagi? Ayah sudah tidak apa-apa, jangan terlalu memikirkan Ayah. kalu Ibu kamu masih ada dan melihat kamu secantik ini, pasti Ibu juga bilang hal yang sama dengan Ayah.”

Ratih tidak ingin suasana makannya terganggu dengan Ayah, ia bergegas mengganti topik pembicaraannya, “Sudah ah Ayah, jangan bicara terus. Nanti nasinya keburu dingin Ayah.”

“Iya sayang, ini Ayah makan,” kepala Ayah geleng-geleng melihat tingkah putrinya seperti itu, setiap pertanyaan mengenai pasangan, seolah ia menghindar. Pertanyaan itu seperti hantu yang selalu meneror ratih entah di luar rumah atau di rumah.

Setelah selesai makan, bel berbunyi. Ratih seketika meninggalkan tumpukan piring, ia membukakan pintu. Matanya melotot, terkejut dengan tamu yang datang. Ternyata yang datang adalah ketua fakultasnya dahulu, kakak kelasnya. Dalam hatinya, Ada perlu apa kakak ke sini?

“Siapa itu Ratih?” tanya Ayah.

“Tamu Ayah,” jawab ratih singkat.

“Ajak masuk ke rumah.”

Ratih hanya menganggukkan kepalnya saja, yang bertandakan “Iya”. Kemudian Ratih mempersilakan tamu itu duduk, “Silakan duduk Kak.”

“Terimakasih,” selepas duduk Ayah melontarkan pertanyaan, “Adik namanya siapa?”

“Saya Rafi, Bapak,” jawabnya.

“Jangan panggil Bapak, panggil Ayah saja,” pintanya.

Setelah berkenalan dan ngobrol basabasi. Rafi akhirnya bicara dengan nada agak terbata-bata, “Ayah, maaf, maksud Rafi datang ke sini untuk melamar putri Ayah, Ratih,”

Alhamdulillah, nak Rafi datang dengan maksud yang baik, santai saja anggap ini rumah sendiri. Nak Rafi kenal Ratih dari mana?”

“Kami satu kampus Ayah, dan satu jurusan. Saya kakak kelasnya waktu itu. Saya asli Kalimantan Ayah.”

“Ah, jauh sekali. Nak Rafi pasti capek perjalanan ke sini.” Minuman datang, Ratih membagi satu per satu di hadapan Ayah dan Rafi.

Hatinya berdesir kencang entah apa yang dirasa oleh hatinya, ia tahu nama dan siapa yang ada di hadapanya. Dulu ia biasa saja kalau dihadapan laki-laki itu, namun kenapa sekarang seperti ini? Apa ini yang di namakan cinta? Entah betul atau tidak, Ratih belum sepenuhnya menyadarinya.

“Bagimana Ratih?” tangan Ayah menyentuh Ratih membuyarkan lamunannya.

Entah kenapa Ratih melihat Ayahnya dengan penuh harap. Ayah dan Ratih saling menatap, Ayah mengangguk pertanda “Iya” selepas itu Ratih menundukkan kepala sejenak.

Dua menit tidak ada suara apa pun, semua menunggu jawaban dari Rati, memang kedatangan Rafi sangat mengejutkan bagi Ratih, ia tahu betul bagaimana sosok Rafi kalu dulu.

“Ratih, kenapa diam?” sahut Ayah.

Ia melihat tatapan Ayahnya sekali lagi, matanya memancarkan kebahagiaan kala ia menerima lamaran dari Ratih.

“Setelah saya nanti diterima, saya akan bawa Amak saya ke sini,” ucap Rafi seraya menebar senyum.

“Iya, Ratih mau, Ayah,” dengan berat hati Ratih katakan.

Alhamdulillah,” syukur terucap dari bibir Ayah.

***

Satu minggu sudah berlalu, keluarga Rafi sudah mendatangi rumah Ratih. Raut wajah semua orang bahagia mendengar kabar baik ini. Namun di satu sisi, Ayah termenung sendiri di dalam kamar sembari melihat foto Istrinya dan Ratih, “Sayang, anak kita akan segera menikah, pasti kamu juga bahagia di sana.”

Ratih masih sibuk dengan pakaian yang dikenakan, satu bulan lagi acara pernikahan akan digelar. Semua dari mulai undangan, tempat, dan juga ketering sudah lunas. Tinggal pelaksanaan saja.

Ayah menghampiri Ratih, “Wah, anak Ayah cantik sekali nih,” seraya Ayah tersenyum.

“Ih, Ayah. Apaan sih Ayah, Ayah sendiri kan yang bilang Ratih cantik dari kecil,” Ratih Ikut tersenyum.

“Ayah ke kota Bandung dulu, mau menemui nenekmu. Kamu di sini saja jaga rumah.”

“Siap Ayah.”

Sampai malam Ayah belum kembali, Ratih menunggu di ruang tamu, terlelap Ratih tertidur. Suara adzan subuh menusuk ke dalam rumah, Ratih terbangun. Ia melangkah ke kamar, tidak ada Ayah. Ia telepon berkali-kali juga tidak aktif.

Hati ratih semakin gusar, tidak biasanya Ayah seperti ini, kalau pun tidak pulang ke rumah pasti mengabari terlebih dahulu. Ia mencoba menelepon sekali lagi, tapi tidak diangkat. Ia mencoba lagi menelepon, tapi bukan Ayahnya melainkan saudara yang ada di kota. Sama saja tidak ada jawaban, Ratih bingung harus bagaimana.

Ia kembali duduk, menunggu kabar dari Ayahnya. Beberapa menit kemudian, handpone Ratih berdering, ia mengangkat.

Tubuh Ratih seketika lemas, ia mendengar kabar Ayahnya mengalami kecelakaan dan langsung meninggal, “Ayah … Ayah … Ayah …” teriak Ratih keras.

Tidak ada kata yang terucap lagi dari bibir Ratih, hanya kesedihan yang melanda, cintanya kepada Ayahnya sangat besar. Melebihi cintanya kepada Rafi.

Rafi kala itu datang, melihat Ratih yang penuh dengan kesedihan, penuh dengan linangan air mata. Tidak ada yang bisa ia lakukan. Rafi hanya bisa berdoa, semoga Ayahnya mendapat tempat yang terbaik di sana.

Oleh: Akbar T. Mashuri.

Ilustrasi dari sini.

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan