Aku mematut diri di depan cermin. Menyematkan sebuah bros kecil berbentuk bunga pada kain segi empat yang menutup rambutku. Tambah manis. Batinku memuji diri sendiri.

“Ester!” seru Ayah dari luar pintu kamar, “cepat sedikit.” Lanjutnya diikuti gumaman yang tak dapat kudengar jelas.

Aku segera menanggalkan kain penutup kepala yang baru kukenakan. Merapikan rambut dengan asal lalu keluar kamar menghampiri Ayah dan Bunda. “Kita berangkat, Bun?” tanyaku dingin.

“Ayahmu garing. Dari tadi nungguin kamu dandan gak selesai-selesai.” ujar Bunda.

“Memangnya berapa baju yang kamu coba? Ganti berapa kali?” tanya Ayah sewot.

Aku membuang napas kesal. “Namanya juga anak muda. Biasalah. Bunda pasti paham, kan?”

Aku semakin tidak bersemangat ikut Ayah dan Bunda. Entah kenapa, akhir-akhir ini aku malas keluar bareng mereka. Aku lebih suka membaca buku-buku motivasi agama yang kupinjam dari Syifa–sahabat kecilku.

“Kamu nggak takut Ayah-Bundamu marah, Ter?” tanya Syifa sore lalu saat aku meminjam bukunya.

“Ya jangan sampai tahu dong, Fa. Aku bacanya juga kalau malam atau waktu mereka keluar.” jelasku.

Wajar saja kalau Syifa sedikit khawatir meminjamkan bukunya. Kami bertetangga dan bersahabat sejak kecil. Tapi keluarga kami menganut kepercayaan yang berbeda. Syifa lahir dan dibesarkan oleh keluarga muslim, sedang keluargaku Katolik. Dan Ayahku seorang pendeta.

Perbedaan keyakinan itu tidak menjadi masalah di antara kami. Keluarga Syifa dan para tetangga lainnya sangat baik pada keluargaku. Sayangnya, akhir-akhir ini Ayah sering melarangku main dan belajar bersama Syifa. Larangan Ayah membuatku semakin hari semakin tidak betah di rumah. Setiap Ayah bertutur hati kecilku ingin sekali berontak.

***

Suatu petang saat jejak senja musnah terjadi debat hebat antara aku dan Ayah. Bahkan, laki-laki beruban itu sampai memintaku memilih dia atau keinginanku. Sungguh, itu pilihan yang berat. Aku dilema. Aku bingung harus minta pendapat siapa?

Pada Yessus? Apakah Dia masih mau mendengar keluh kesahku? Apa Dia akan menolongku keluar dari masalah setelah aku berniat berpindah hati darinya? Sungguh. Aku hanya bisa bertanya-tanya ditengah keresahan.

“Kalau kamu tetap pada inginmu, silakan tinggalkan Ayah dan Bunda.” Ujar Ayah tegas.

Aku memainkan kuku ibu jari sembari mencari kalimat yang tepat untuk Ayah. Maafkan Ester, Ayah. Ester yakin pilihan ini terbaik. Batinku.

“Siapa yang mempengaruhimu, Nak?” tanya Bunda lembut.

Aku menggeleng. “Tidak ada, Bun. Keputusan Ester itu murni karena keinginan diri sendiri.”

“Syifa? Atau anak laki-laki yang kerap azan di mushola? Atau teman-teman sekolahmu?” tanya Ayah dengan emosi yang belum reda.

Aku menggeleng kuat. “Ester sudah bilang, Yah. Ini pilihan Ester. Kemauan yang lahir dari hati yang paling dalam.”

Ruangan mendadak beku. Tak ada tanya. Tak ada debat. Yang ada hanya desahan napas panas yang keluar dari lubang hidung kami. Bukankah setiap orang berhak untuk mempercayai dan memilih suatu agama yang diyakini? Apakah salah jika aku yang lahir dan tumbuh dalam keluarga Katolik lalu memutuskan berpindah keyakinan?

“Yah, bukankah kita masih bisa hidup bersama dan rukun meski berbeda keyakinan?” tanyaku hati-hati. Kuberanikan mengangkat kepala dan menatap Ayah.

“Pikirkan lagi, Nak. Ini bukan keputusan gampang.”

“Tidak, Bun. Ester tetap pada keinginan Ester. Hati ini sudah mantap memilih Islam sebagai agama Ester.”

Ayah berdiri dari duduknya. Matanya menyala menatapku yang duduk di pojok sofa mendekap ketakutan.

“Silakan. Tapi setelah ini kita tidak memiliki hubungan apa-apa!” ujarnya tegas. “Dan kamu boleh meninggalkan kami!” lanjutnya dengan suara yang tinggi.

Bunda menangis. Air matanya menderas membanjiri pipinya yang sedikit keriput. “Jangan, Ayah! Jangan minta Ester pergi dari rumah ini. Jangan lakukan itu!” sembah Bunda. Perempuan itu berlutut pada Ayah.

Maafkan Ester, Bunda. Ester sama sekali tidak berniat menyakiti Ayah dan Bunda. Ester hanya ingin memeluk apa yang Ester yakini. Aku hanya membatin. Melihat Bunda berlutut di hadapan Ayah, hatiku terasa perih. Bunda rela merendahkan dirinya di hadapan orang hanya demi aku, anaknya yang tak tahu diri. Tuhan, mohon maafkan aku yang telah membuat Bunda tersakiti.

Ayah meninggalkan kami dengan emosi dan tanpa permisi. Aku dan Bunda saling berpelukan. Kami sama-sama terluka. Telah kusampaikan pilihanku pada Ayah dan Bunda. Telah kuyakini keputusan ini terbaik untuku. Dan kalimat terakhir Ayah adalah jawabannya. Aku harus keluar dari rumah ini. Ke mana? Entahlah. Aku belum tahu harus pulang pada siapa? Jalan yang mana yang harus kususuri pun aku belum tahu.

“Bun, Ester harus pergi. Tapi Ester tidak akan meninggalkan hati Bunda. Ester akan tetap menjadi anak Bunda.” Aku pamit setenang mungkin.

Bunda menggeleng. Menangis lagi. “Ester … “

“Maafkan Ester, Bun.”

“Tapi kamu mau kemana, Nak?” tanya bunda lemah.

“Ke mana pun bersama keyakinan Ester, Bun. Bunda jangan khawatir, Ester akan baik-baik saja.”

Kupeluk sekali lagi tubuh Bunda. Air matanya yang jatuh di atas pundakku membuat perih di hatiku semakin terasa. Sudahlah. Pilihan dan keputusan telah kujatuhkan. Aku tidak boleh berbalik. Kukecup pipi dan kening Bunda penuh cinta. Kemudian gegas meninggalkan rumah dan membawa ransel yang telah kusiapkan.

***

Cukup lama aku duduk di taman depan rumah. Aku masih bingung harus ke mana. Ke rumah paman Naim tidak mungkin. Ke rumah Syifa tambah tidak mungkin. Selain hari sudah malam mereka tidak akan menerimaku tinggal di rumah mereka karena tidak enak sama Ayah.

Akhirnya aku memutuskan menyusuri malam menuju Masjid Ibrahim. Masjid di depan alun-alun desa. Telah kuputuskan esok pagi untuk pergi ke pesantren Al Darul Huda. Sebuah pondok pesantren yang terletak di dekat kecamatan dan tidak terlalu jauh dari desa tempat tinggalku. Juga tempat Syifa belajar.

Aku yang sebenarnya penakut menjadi pemberani seketika. Kususuri jalanan desa yang semakin sepi seorang diri. Kurang lebih setengah jam aku telah sampai di Masjid Ibrahim. Perjalanan yang melelahkan karena kutempuh dengan berjalan kaki serta jalanan yang naik-turun.

Aku sedikit takut saat memasuki halaman masjid. Apakah Dia akan menerima kehadiranku? Apakah aku pantas memohon pertolongan dan perlindungan-Nya? Begitu banyak harapanku pada-Nya yang sama sekali belum kukenal. Belum kusembah. Tapi, yakinku tetap ada dan aku semangat berjalan menuju teras masjid.

Aku meletakkan ransel di balik salah satu tiang teras. Duduk melipat kaki sambil merenung. Satu wajah rupawan terlintas di pelupuk mata. Laki-laki berpeci putih yang memiliki suara merdu saat mengumandangkan azan. Laki-laki yang membuatku terpesona dan menghantui hariku akhir-akhir ini.

Ah … Aku sadar. Tidak seharusnya aku memikirkan rupawan itu. Aku tidak pantas buat laki-laki sesaleh Apud. Aku tahu diri, siapa aku di antara gadis-gadis salihah di sekitarnya. Aku hanya seorang pendamba cintanya yang sama sekali tidak tahu cara mencintai penggenggam hatinya.

Harus kuakui memang, Apud menjadi salah satu alasan aku memilih berpindah keyakinan. Tidak munafik kalau aku ingin menjadi jodoh sang rupawan itu. Aku pernah membaca kalimat yang membuat aku mantap mengambil keputusan ini. Laki-laki yang baik untuk perempuan yang baik. Jujur aku tidak paham maksudnya. Aku hanya menyimpulkan, Apud hanya untuk perempuan yang seperti dirinya. Dari itu aku memutuskan untuk memperbaiki diri. Salah satu caranya dengan memeluk Islam dan menjadi perempuan salihah.

Ayah, Bunda maafkan aku yang telah berbohong saat Ayah bertanya siapa dan apa penyebabku memutuskan ini. Aku hanya khawatir Ayah akan melabrak rupawan itu. rupawan yang telah mencuri hati anak perempuanmu ini.

Suara azan subuh membangunkanku dari lelap karena lelah. Sudah ada beberapa jemaah di dalam masjid saat aku mengedarkan pandangan. Aku harus bagaimana? Ikut salat atau melanjutkan perjalanan menuju ponpes Al Darul Huda. Akhirnya kuputuskan untuk bersembunyi di bawah bonsai di taman masjid. Tidak mungkin aku ikut salat karena caranya saja aku tidak tahu. Melanjutkan perjalanan juga tidak mungkin. Belum ada tukang ojek sepagi ini.

Aku kembali teringat Apud. Ya ampun, laki-laki itu benar-benar racun yang sudah menyebar keseluruh tubuhku. Keinganan berjodoh dengannya berbanding lurus dengan ketakutan yang juga kerap hadir. Bagaimana jika aku sudah berubah, sudah hijrah tapi Apud tidak suka padaku. Bukan jodohku. Apa aku bisa menghadapi kenyataan itu kelak? Aku memukul pelan keningku, mencoba mengusir keresahan yang bertandang dipagi buta ini.

Tetiba aku teringat kata-kata Syifa tempo hari. Kalau mau hijrah itu ya karena Allah saja. Jangan karena lainnya apalagi cinta. Kalau kita hijrah karena Allah, insyaallah kita mendapat cinta dan bonus lainnya. Tapi kalau hijrah karena cinta, sewaktu cinta kita tak terbalas kita akan kehilangan keyakinan pada Allah. Juga karena lainnya. Saat hijrah karena alasan apa-apa, suatu saat kita akan semakin jauh dari Allah karena kenyataan yang tak selaras dengan ingin kita.

Aku memejamkan mata. Jika apa yang Syifa katakan benar, berarti niatku salah. Sebab alasan pertamaku adalah cinta–Apud. Fine, aku harus memperbaiki niat hijrahku. Aku harus mencintai Rabbnya sebelum aku mencintai Apud terlalu dalam.

Satu per satu jemaah salat subuh meninggalkan masjid. Aku membulatkan tekad untuk melanjutkan perjalanan. Keluar area masjid beberapa meter dan menunggu ojek. Biasanya ada beberapa yang mulai bekerja, antar-jemput orang ke pasar. Kumantapkan hati sekali lagi, perubahan ini bukan karena rupawan itu. Tapi sebenar-benarnya perubahan untuk kualitas diri.

***

Aku sampai di seberang pagar ponpes saat matahari pagi mulai terbit. Lalu-lalang santri terlihat jelas dari pagar besi yang tidak rapat. Debar jantungku terasa kencang. Akankah aku diterima di tempat itu? Apakah nanti aku sanggup melalui prosesnya? Apakah aku siap menjadi diriku yang lain? bermacam tanya berkelebat dalam pikiran.

“Ester … “

Aku menoleh ke seberang kiri. “Syifa …” aku menyeberang, menghampiri Syifa.

“Kok kamu ada di sini?” tanyanya heran.

Aku sedikit bingung. Pura-pura aku membenarkan tali ransel di pundak. “Anu …”  aku tidak tahu harus mulai cerita dari mana. “Aku pergi dari rumah, Fa. Sejak semalam.”

Syifa tampak kaget. “Kenapa? Kok semalam nggak ke rumah? Terus kamu tidur di mana?”

Aku menggeleng. “Di Masjid Ibrahim.”

Syifa mengajakku masuk ke ponpes setelah kuceritakan alasanku pergi dari rumah. Syifa membawaku untuk bertemu pemilik ponpes langsung. Tuhan, betapa aku terkejut. Aku merasa duniaku berhenti saat kutangkap seseorang yang menyambut salam kami.

Mas Apud. Gumamku. Tuhan, rencana apa yang Kau siapkan di depan? Bagaimana bisa rupawan itu berada di rumah pemilik ponpes ini sedang rumahnya satu rt denganku? Apa mungkin dia menantu atau calon menantu di sini?

“Ter, ayo masuk.” Syifa menarik tanganku.

Baiklah. Apapun yang terjadi aku tetap harus melanjutkan perjalanan ini. Bukankah niatnya sudah kuubah dan bulat. Aku hijrah, memilih menjadi bagian dari perempuan salihah bukan karena cinta atau lainnya. tapi karena Allah semata.

Aku menegaskan pada diriku sendiri, hijrahku bukan karenamu rupawan. Dan aku telah siap berproses demi cinta-Nya. telah kuawali proses ini meninggalkan Ayah-Bunda dan melepaskan diri dari keyakinan yang 19 tahun mereka tanamkan.

Bismillah!

***

Oleh: Isti Syarifah.

Ilustrasi dari sini.

Facebook Comments
error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: