Namanya Rina. Ia ditinggal orangtuaya ke negeri Jiran. Orangtuanya merantau sejak ia usia 14 bulan. Tiap kali berangkat sekolah, ia berangkat sendiri. Tak ada yang mengantarkan. Suatu hari ia pernah berkata pada teman kelasnaya. “Enak ya, kamu ada yang nganterin. Coba aku juga ada yang nganterin, pasti aku semangat.”

Tahun 2017, genap 7 tahun sudah umur gadis cantik nan imut itu. Rina sudah memasuki kelas satu di Madrasah Ibtidaiyah pagi. Hari pertama sekolah ia memakai seragam baru dan sapatu sebagaimana teman-temanya. Matanya berkaca-kaca dan bernadai-andai. “Coba ibu ada di sini, aku pasti bahagia seprti mereka.” Tanpa sengaja saya mendengar kalimat itu yang sedang lewat di dekat anak itu.

“Memangnya ibu kamu ke mana, nak?” tanyaku kepada gadis berkulit kuning langsat itu dengan senyum kasih sayang.

“Kata nenek, ibu ikut Ayah ke Malaysia. Katanya cari uang buat aku sekolah, Bu Guru.” Dengan polos Rina menjawab pertanyaanku.

Aku pun tersenyum kembali dan menyentuh kepala anak itu. Kuusap ubun-ubunya dan berkata, “Kamu yang sabar ya, Nak. Kamu harus yakin, Ayah dan Ibu kamu kembali. Doakan saja ya, agar mereka selamat, kerjanya lancar. Dan, nanti bisa kembali ke Madura dalam waktu dekat. Nanti, ibu atau ayah kamu akan antar kamu ke sekolah tiap hari.” Rina mengamini saranku.

“Nama kamu siapa, Nak?”

“Rina, Bu Guru.”

“Nama lengkapnya siapa?”

“Arinal Haq, Bu Guru.” Aku pun manggut-manggut dan mengajak anak itu ke perpustakaan. Kebetulan, aku adalah guru sekaligus kepala perpustakaan di MI Mifathul Ulum Ragang.

***

Di sekolah, Rina dikenal agak sedikit nakal. Tak sedikit teman-temanya jadi korban kenakalannya. Pernah suatu hari Rina hampir kena pukul dari orangtua teman sekelasnya. Kejadiannya begini. Rina mengambil pensil dan buku gambar temannya. Temannya melapor ke orang orangtuanya. Saat itu Rina sudah kelas lima. Esok hari dari aksi nakalnya itu, orangtua temannya mendatangi sekolah dan marah-marah di depan pagar sekolah.

“Memangnya kamu diajari mencuri sama orangtuamu?” ketus orangtua Ayu, teman Rina yang diambil pensil dan buku gambarnya. Rina tertunduk sambil cengengesan. Karena tingkahnya yang aneh itu, Rina hampir digampar sama orangtua Ayu.

Aku yang hendak pulang kala itu dan tanpa sengaja menjumpai kajadian itu. Rina lari ke arahku. Rina minta pertolongan. Dengan nada ramah, aku bertanya ihwal kejadian yang sebenarnya. Setelah Rina bercerita, sebagai gurunya, aku mencoba menenangkan suasana.

“Pak, maafkan murid saya si Rina. Biar saya ganti pensil dan buku gambarnya anak bapak. Mohon maaf, Rina memang agak sedikit nakal. Maklum, dia sepertinya kurang perhatian. Orangtuanya tidak bersamanya. Katanya merantau. Sampai saat ini belum pulang.” Saya merasa lega karena orangtua Ayu bisa tenang dan pulang usai dialog.

Aku mengatar Rina pulang. Di rurmahnya, aku menjumpai neneknya. Rumah Rina terlihat mewah. Secara ekonomi pasti tercukupi. Di depan neneknya, saya menceritakan kejadian di sekolah. Mendengar ceritaku, si nenek minta maaf atas kenakalan Rina. Saya pun coba tanya Rina dengan seragam yang masih rapi di tubuhnya.

“Nak, kenapa kamu melakukan itu? Apa kamu tidak punya buku gambar dan pensil? Atau tidak ada uang?”

“Bu Guru, saya punya uang untuk beli ini dan itu. Nenek selalu beri aku uang jika aku butuh sesuatu. Apalagi hanya beli pensil dan buku gambar.”

“Lalu kenapa kamu melakukan itu, Nak?”

Mata indahnya Rina menjatuhkan kristal bening. Ia menunduk. Sesekali tanganya menarik baju seragam bagian bawahnya untuk menghapus air matanya.

Hitungan menit Rina menangis lirih. Lalu mendongak dan angkat bicara. “Bu Guru, dengan melakukan kenakalan, aku dapat perhatian dari orang lain. Saya merasa senang kalau ada orangtua temen saya bicara dengan saya walaupun aku dimarahin. Karena bagi saya, itu adalah perhatian. Saya ingin dipertikan saja. Bu Guru, buku gambar dan pensil yang saya ambil bukan untuk saya. Tapi saya simpan di rumah dan saya janji akan kembaliin itu kepada si Ayu. Saya butuh perhatian. Orangtua saya tidak di sini.

Mereka tak pernah perhatian sama saya. Ketika nelpon, mereka hanya tanya butuh apa, mau dibelikan apa. Nggak pernah nanya kabar Rina, sekolah Rina gimana. Kalau nggak ada nenek, saya pasti sudah tidak sekolah. Aku butuh mereka. Bukan dibelikan ini itu, Bu. Tapi tiap kali saya minta mereka pulang, mereka hanya bilang siapa yang akan carikan dan dari mana uang sekolah kalau bukan kerja di Malaysia.”

Aku diam tanpa bahasa selain bahasa haru. Hatiku tersentuh dengan penuturan Rina. Aku memeluk Rina erat. Neneknya menyeka air matanya sendiri yang juga jatuh perlahan. Tak kuasa aku tahan rasa ibaku pada Rina. Air mata Rina membasahi baju dinasku di bagian depan.

“Kamu yang sabar, Nak. Ayah dan Ibumu pasti pulang.” Kucoba seka air mata Rina. Lalu kucoba tenangkan Rina dengan setengah berjanji akan membujuk orangtuanya dan mengerti untuk segera pulang.

“Beneran, Bu?” ucap rina dengan rupa semangat dan berterima kasih. Aku minta nomor telepon orangtuanya. Dan mencoba menghungi nomor berawal +60, kode nomor kontak negara malaysia.

Tut … tut …

Panggilan berhasil. Kuputuskan sambungan sementara karena pulsa terbatas dan hanya bisa miscall. Beberapa menit kemudian, panggilan masuk dengan nomor telepon berbeda tapi berkode sama.

“Maaf, dengan siape?” sapanya dengan logat ala Upin-Upin.

“Ini dengan guru Rina, Pak. Benar ini bapaknnya Rina siswa di Miftahul Ulum?” Aku langsung panggil ia Pak karena suara yang aku dengar ciri suara laki-laki.

“Ye, Cek Gu. Ini dengan Cek Gu siape?” sambungnya tetap ala Upin-Ipin.

“Ibu Ulfa, Pak Cik.” Aku pun ikut terbawa bicara melayu.

“Ada ape, Cek Gu?”

“Begini, Pak. Bukan maksud ingin ikut campur urusan bapak. Tapi ini soal Rina. Jadi saya diminta Rina untuk biacara dengan bapak. Jadi, mohon maaf sekali.” Aku pun menceritakan kejadian di sekolah. Lalu saya coba ulang penuturan Rina yang masih lekat di pikiran dan hatiku.

“Cek Gu, saye bukan tak mau balik kak Madura. Tapi kalau saye dan istri balik, kami kerja ape di sana. Siapa yang mau carikan ringgit buat Rina sekolah anak saye. Kami ini tak punya ijasah buat nak kerja. Kami SD saje tak lolos. Kalau nasib Cek Gu enak, ijasah ade. Lamar kerja kak sana kak sini bisa. Cari ringgit tak susah.”

Aku diam dan menekan menu volume di android. Pak Parto, ayah Rina, melanjutkan bicaranya. “Bilang kak Rina, Cek Gu. Kami rindu Rina. Kami insyaallah akan pulang ketika Rina lulus dan nak lanjut MTs atau mondok.” Obrolan tiba-tiba terputus. Kulihat jam sudah pukul 14:00 Wib. Aku pun pamit pulang kepada Rina dan nenekya.

***

Rina sudah lulus. Sejak lulus, aku tidak mendapati kabar Rina. Jujur, kalau ingat namanya, rasanya rekaman kejadian beberapa tahun silam kembali berputar dengan sendirinya dalam ingatan. Aku tidak melupakan dan tidak mau melupakan itu. Karena kejadian itu, aku mendapati pelajaran betapa berhargnya kasih sayang dan perhatian orangtua bagi anaknya.

Malam mulai menua. Aku baru saja menyelesaikan list buku yang akan dibeli untuk tahun ajaran baru. Kakiku melangkah ke kamar mandi untuk ambil wudhu dan hendak tidur. Baru saja mau masuk kamar, tiba-tiba suara Eri Susan menyanyikan lagu Bunda terdengar dari androidku. Kuangkat panggilan yang masuk itu, ternyata nomor baru.

Assalamualaikum,” suara gadis yang aku sendiri tak mengenalinya.

Setelah kujawab salam, kutanyakan siapa dan perlu apa malam-malam telepon. Siapa sangka, ternyata gadis itu Rina. Kami pun ngobrolin kabar antara satu sama lain. Tak lupa juga aku tanya Rina lanjut pendidikan di mana.

“Saya mondok di pesantren al-Amin Prenduan Sumenep, Bu.”

“Wah, alhamdulillah, Rina. Kamu sudah kelas berapa? Kamu ikut program tahfidzkah di sana?” Aku sangat bersyukur Rina menghubungiku malam itu. Sebelum menjawab pertanyaan itu, aku tanyakan kabar orangtua dan neneknya.

“Nenek sudah meninggal, Bu.” suaranya mulai parau.

Innalillah, kapan? Kok ibu tidak dikabari, Nak? Lalu siapa yang merawatmu setelah nenek meninggal?”

“Waktu itu saya masih genap tiga bulan di pesantren. Keluarga yang merawat dan ngirim  saya ke pesantren. Mohon doanya semoga nenek ditempatkan di surga Allah, Bu.”

“Aamin. Ya, Nak.”   

“Ayah dan Ibumu sudah pulang?”

“Ayah dan ibu masih diperjalanan menuju Indonesia. Insyaallah besok sudah bisa sampai rumah.”

Obrolan berakhir.

Aku merasakan kebahagiaan malam itu. Dari tuturnya yang bahagia, sepertinya, Rina sudah merasakan pelukan kasih sayang orangtuanya walaupun masih dalam perjalanan. Tak lama lagi, Rina sudah bisa melihat, tersenyum, mencium  bakti tangan orangtuanya. Semoga kamu bahagia, Rina.  

Oleh: Gafur Abdullah.

Ilustrasi dari sini.

Facebook Comments
error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: