Suatu malam menjelang subuh yang begitu pekat dan dingin, gadis Ibu yang telah beranjak dewasa mengetuk pintu ruang sholat. Ia hapal betul bahwa ketika semua orang sedang lelap tertidur dan dibuai mimpi, sang ibu justru sedang menikmati kekhusyukan bersama Rabb-nya di ruangan paling pojok di rumahnya itu.

Ia mengetuk pelan, tak ingin membangunkan sang ayah yang sedang melepas lelah karena telah bekerja seharian demi kebahagiaan keluarga di kamar samping ruang sholat.

Tanpa menunggu jawaban dari dalam, ia mendorong gagang pintu. Sosok bermukena putih yang sedang duduk bersila menyambutnya teduh.

“Kau terbangun? Kemarilah, Nak!” terdengar syahdu sekali suara itu di tengah sunyi menjelang fajar.

Si gadis serta merta terisak dan menghambur ke dalam pelukan ibunya. Ia telah lupa jika tadi berniat untuk tak berisik. Ia juga tak tahu bahwa sang ayah sekarang terjaga tersebab mendengar isakannya dan kini menuju ke arah mereka.

Namun menyaksikan dua wanita tercintanya dari sudut pintu yang sedikit terbuka sedang menyesap hening dalam sedu sedan yang menggetarkan lubuk hatinya membuat ia urung untuk masuk ke sana.

Wanita selalu memiliki cara paling indah dalam mengungkapkan emosi yang melanda. Ya. Wanita. Dan segala keindahan yang terbungkus dalam keshalihahan mereka. Ayahnya seolah terpaku. Hatinya terenyuh mengintip keduanya. Ada sedikit kerisauan, ketakutan akan perannya yang masih jauh dari sempurna sebagai seorang pemimpin.

“Ssst … hapus air matamu, Nak,” pinta Ibu sambil menyeka sungai kecil yang mengilau di pipi putrinya.

Ia sendiri tak mengacuhkan buliran bening yang tak kuasa untuk jatuh pula di pipi yang mulai menampakkan satu dua keriput. “Apakah ada sesuatu yang mengganggumu?”

Setahunya, yang merupakan orang paling dekat dan paling mengerti putrinya, sang putri adalah gadis shalihah yang selalu ceria dan optimis atas apa yang digariskan oleh Allah. Ia mengaku ragu jika putrinya memiliki masalah yang tak bisa diselesaikannya sendiri.

Melihat senggukan yang begitu mengiris, Ibu memegang kedua lengan sang gadis seolah menguatkan. Dalam hatinya sempat terbersit apakah ada sesuatu dari dirinya yang telah tak sengaja menyakiti putrinya. Diam-diam ia meminta ampun pada Allah dalam hati.

“Katakan, ada apa, Sayang?” Lembut sekali suara itu. Sang gadis akan merindukan suara itu sebentar lagi.

Masih dalam isakan yang mengiris kalbu siapa saja yang mendengar, si gadis menggeleng kuat. Tak ada yang berhasil mengganggu pikiran gadis berlesung pipit itu sebelum dua bulan terakhir ini.

Tadinya semua baik-baik saja. Bahkan syukur pada Allah dan kebahagiaan seumpama taman bunga yang terus bermekaran. Mengingat dua bulan lagi dengan izin Tuhannya, seorang ikhwan sholeh akan mengucap janji di hadapan Rabb dan walinya.

Bagi wanita, menggenapkan separuh agama bersama sosok sholeh dengan ridho kedua orang tua dan dengan proses sesuai syariat menjadi impian yang terus berulang-ulang pada tiap malam. Ketika Allah menjawab segenap doa dan harapan dengan kun fayakun, maka nikmat Tuhan mana lagi yang dapat didustakan sang makhluk.

“Bu, aku tidak sanggup jika harus berpisah dengan Ayah dan Ibu.” Meski tergagap, suara dalam tangis itu terdengar sangat jelas masih dalam hening sepertiga malam.

Awalnya gadis ini tak pernah merisaukan apa yang akan terjadi. Mendekati hari bahagia itu, ada gumpalan-gumpalan perasaan yang tiba-tiba saja menyelimuti hatinya dan mengganggu pikirannya. Perasaan takut kehilangan dan perpisahan.

Demi bakti pada imamnya kelak, putri satu-satunya Ibu akan tinggal bersama sang suami. Jarak tempat baru dengan kampung halamannya seumpama perjalan sehari semalam dengan transportasi darat.

Meski teknologi telah maju dan transportasi cepat sudah menjamur, bagi sang putri tak ada yang bisa mengalahkan maupun menggantikan indah kebersamaan bersama dua malaikat yang telah menjaga dan merawatnya penuh kasih sayang selama ini.

Jarak seumpama sekat yang membayangi para perindu. Samudera biru membentang, menunggu para pelayar membelah air beningnya. Ya, putri Ibu akan meninggalkan kampung halaman.

Pahamlah sudah Ibu akan kerisauan yang membayangi putrinya. Ia tersenyum dan sekali lagi menghapus air mata yang menganak-pinak di wajah malaikat kecilnya.

Dua puluh dua tahun yang lalu tak pernah ia lupakan. Ketika tangis bayi mungil yang begitu cantik dan menggemaskan menyapa mereka berdua. Rasa sakit yang bagaikan dua puluh tulang dipatahkan secara bersamaan dalam perjuangan melahirkan menguap begitu saja. Tangis haru, rasa bahagia, syukur, tak terbendung terasa.

Kini ia harus melepaskan sang putri untuk hidup bersama orang lain dan berpisah dengan dirinya. Maka, jika dengan sombongnya ia memperhitungkan dan menuntut apa yang egonya inginkan, maka dialah orang yang paling kecewa, yang paling tidak ikhlas atas apa yang telah ditakdirkan oleh Allah.

Namun tidak, pemikiran tersebut jauh sekali, bahkan tidak ada sama sekali dalam pikiran Ibu—wanita pemilik kasih sayang paling besar di dunia.

Di balik pintu, Ayah tak sanggup untuk tidak menangis. Ia menurunkan tubuhnya dengan tangan masih memegang gagang pintu. Wajahnya telah basah, dua wanitanya telah membuatnya begitu takzim pagi ini.

Oleh: Ummu Ayyash.

Facebook Comments
error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: