ketika orangtua tidak merestui cinta kita

Ayah, Ibu … Izinkanlah Aku Menikah

Air matanya leleh membanjiri pangkuan ibunya. Sania tak habis pikir bahwa perjuangan pulang ke tanah air hanya meminta restu untuk menikah benar-benar ditolak oleh Ayahnya. Rasa menyesal, hancur, sedih, dan keraguan untuk melangkah menyatu dalam dirinya. Ia menggenggam tangan ibunya lebih erat, tak berkata apa-apa lagi. Ia menghela napas panjang, pasrah.

“Ibu yakin, Nduk. Keputusan Ayahmu itu yang terbaik. Mungkin kamu sempat berpikir bahwa ini merupakan hal konyol ketika orang tua merelakan anaknya seorang diri berjuang di negeri lain. Tapi kau harus tahu ini adalah wujud besarnya kepercayaan Ayah dan Ibu kepadamu,” tutur ibunya sembari mengelus punggung tangan Sania.

“Iya, Ibu. Sania paham. Hanya saja Sania khawatir dengan deretan kenyataan yang akan Sania hadapi lagi. Entah mengapa Sania merasa ganjal bila selalu sendiri berjuang di  negeri lain tanpa mahram, Bu,” jawabnya dengan sedikit terisak.

“Ibu dan Ayah selalu mendoakan keselamatanmu, ke mana pun kamu pergi, di mana pun kamu berada, kamu tak pernah lepas dari perlindungan-Nya. Selama semua tujuan kamu adalah kebaikan, jangan khawatir dan ragu Sania.”

Tangisnya perlahan reda, ia memeluk ibunya dengan erat. Sania sadar bahwa rasa cinta ayah dan ibunya begitu besar. Dua hari lagi ia harus segera kembali ke negeri perantauannya. Islamabad, Pakistan.

Satu tahun yang lalu, Sania pernah memohon kepada ayah dan ibunya supaya dicarikan suami sebelum ia lanjut kuliah S2. Ia berharap, supaya dirinya lebih terjaga karena ada mahram yang mendampinginya. Kuliah di luar negeri yang berbasis Islam pun ia masih memiliki keraguan dengan kesendiriannya.

Tiba di pertengahan kuliah, ia bertemu dengan lelaki dari Indonesia yang kebetulan satu kampus dengan Sania. Meski mereka tak pernah begitu dekat, namun lelaki tersebut pernah mengungkapkan niat mengkhitbahnya. Sania tak mau terjerumus dalam kemaksiatan, oleh karena itu Sania memintanya supaya ia mengkhitbah dalam kurun waktu terdekat. Tentunya atas persetujuan ibu dan ayahnya. Lelaki tersebut setuju. Maka Sania pulang untuk menjelaskan sedetail mungkin sesuatu yang tengah dihadapi. Namun, semua takdir tak seindah yang Sania harapkan. Ayah dan ibu belum merestuinya karena khawatir jika Sania tak sanggup menyelesaikan kuliah karena sudah berkeluarga. Meski begitu, itulah keinginan terbaik Allah untuk Sania. 

Teringat kejadian tiga bulan lalu ketika Sania di Mesir, sungguh itu menjadi pengalaman pertama yang sangat mendebarkan sekaligus menakutkan. Ketika ia menelusuri perjalanan menuju masjid Al-Azhar seorang diri, ada lelaki berperawakan tinggi mengikutinya. Ia sama sekali tak berani menoleh ke belakang. Ia mempercepat langkahnya, begitu pun lelaki tersebut terus mengikuti Sania hingga ia sampai di masjid. Lelaki itu melototi Sania dengan pandangan yang begitu tajam.

Min ein?” tanyanya dengan loghat bahasa ‘ammiyah.

“Ana andonisi,” jawab Sania dengan sedikit gemetar.

Lelaki itu mengangguk dan melanjutkan obrolan ringan dengan bahasa arab Fusha. Akhirnya Sania lega dan lebih tenang jika bercakap dengan bahasa Arab fusha. Sebab ia tak begitu paham bahasa ‘ammiyah, karena kuliah di Pakistan ia memakai bahasa Arab fusha atau bahasa Inggris sebagai bahasa keseharian.

Sebut saja Ahmad, ia orang Mishriyah yang bisa dibilang kejam atau bahkan sebaliknya. Ia menemukan Sania kepada imam masjid Al-Azhar. Harapannya supaya Sania di cek bahwa memang kedatangan ia ke Mesir selama bulan Ramadhan adalah untuk belajar dengan resmi. Setelah semua dicek, sang imam masjid memberi uang saku untuk Sania dan mempersilahkan untuk kembali ke asrama.

Dari sinilah hadir kegelisahan Sania. Ternyata benar, wanita itu rawan bila berpergian jauh tanpa mahram. Apalagi bukan di negerinya sendiri. Meskipun ia mengenal banyak teman wanita lainnya, tapi ia masih merasa berbeda. Sebab tak semua teman memiliki keinginan dan tujuan yang sama. Dengan itulah Sania memilih untuk hidup sendiri. Namun, ia tetap berinteraksi ala kadarnya ketika di kampus maupun asrama, tak berlebihan.

Bagaimanapun keadaan yang membuat gundah hati Sania sekarang, ia tidak terpuruk. Justru ia bangkit dan lebih semangat untuk mengejar gelar masternya satu tahun lagi. Tidak boleh melebihi target dua tahun. Ia harus tunjukkan kepada ayah dan ibunya bahwa Sania berhasil melewati semua hiruk pikuk kehidupan di luar negeri sebagai orang yang begitu asing menurutnya.

Ketika ia kembali ke Pakistan, ia tak memikirkan lagi siapa jodohnya, siapa lelaki masa depannya. Siapa yang akan selalu menemani di setiap langkahnya dan kapan ia segera disatukan-Nya. Semua dipasrahkan kepada Allah Swt. Sania yakin bahwa dengan taat, ia akan dipertemukan dengan indahnya cinta yang luar biasa. Ia fokus mengejar target terdekat. Yakni, lulus tepat waktu.

Tepat sesuai target ia menyelesaikan tesis dan wisuda. Dua bulan sebelum rencana pulang ke tanah air, Ayahnya membelikan tiket penerbangan pulang lebih awal dari rencana Sania. Seolah ini menjadi sebuah surprise tersendiri. Ada rencana indah dari kedua orang tuanya. Sania mendengar kabar bahwa dirinya akan segera dita’arufkan dengan salah satu putra dari teman Ayahnya. Dan segera untuk lanjut ke prosesi pernikahan.

Sesampainya di rumah, ia menghambur ke pelukan Ibu. Rasa rindu memang tak pernah dusta dengan pemiliknya. Akan tetapi, adiknya yang baru duduk di tingkat SMP tak melihatkan senyum sama sekali. Wajah sang adik terlihat muram, entah mengapa ia tak langsung memeluk Sania.

“Rara, kau kenapa muram seperti itu? Apa kamu sedih atas kedatangan Kakak, oh iya, Ayah di mana?” Tanya Sania terhadap adiknya yang duduk murung di ruang tamu.

Seketika itu pun Rara terisak. Deras air matanya. Ia menutup erat wajah mungil dengan kedua tangannya.

“Kamu kenapa, Ra? Kenapa nangis seperti ini. Kakak tidak paham.”

“Ayah, Ayah kita sudah tiada, Kak. Sudah satu bulan yang lalu.” Jawabnya dengan keadaan masih terisak.

“Apa kamu bilang? Ayah tidak ada? Sudah satu bulan yang lalu? Kenapa tak ada yang memberiku kabar sama sekali?” Teriak Sania dengan mengguncangkan tubuh adiknya karena rasa tidak percaya dengan berita pahit yang ia terima.

Air mata Ibu pun tak mampu terbendung lagi. Ibu mendekati kedua anak itu, memeluknya erat. Seketika itu dunia seolah menjadi gelap, tak ada harapan indah lagi.

Inikah ujianku untuk menjemput calon imam? Tak semulus yang aku bayangkan sebelumnya. Sudah berkali-kali ayah dan ibu melarangku menikah sambil kuliah. Ketika aku telah meraih gelar master dan siap untuk dinikahkan, Engkau memanggil ayah untuk kembali kepada-Mu.

Oleh: Sayyidatina Anzalia.

Ilustrasi dari sini.

Tinggalkan Balasan