Sudah 23 tahun aku dijodohkan oleh ayah dengan putri sulung sudaranya. Tapi aku belum tahu jua seperti apa wanita yang dijodohkan denganku  itu. Wanita yang bernama lengkap Zakiyatul Ulfa itu berumur selisih dua tahun dari umurku. Sebagai putra laki-laki satu-satunya dari empat bersaudara, akulah yang diharapkan dari keluarga untuk menyatu dengan famili terdekat. Aku hanya bisa menuruti keinginan keluarga, kalaupun aku menyadari bahwa tidak ada setitik benih cinta dalam hatiku  kepada Ulfa. Tapi mau gimana lagi.

“Hasan, ayah mau hubungan keluarga ayah dengan pamanmu, Syamsul, lebih dekat lagi. Karena ayah khawatir hubungan ayah dengan dia terputus. Kamu kan tahu keluarga kita satu-satunya cuma keluarga dia, jadi ayah harap kamu nanti kamu siap menikah dengan nak Ulfa, Cuma kamu yang menurut ayah dapat melakukan itu.” Kata-kata itulah yang sering melintas dalam benakku ketika aku mencoba untuk mencintai temanku, Aisyah.

Rumah keluargaku dengan keluarga paman Syamsul memang jauh jaraknya.Rumah pamanku itu berada di ujung barat Bangkalan. Sedangkan keluargaku berada di ujung timur Sumenep.

Aku dan Ulfa dijodohkan sejak Ulfa masih dalam kandungan. Kata ibu, kira-kira Ulfa sudah sembilan bulan dalam kandungan, saat itu umurku sudah hampir 2 tahun. Aku tahu bahwa aku dijodohkan dengan dia dari ibu. Sebenarnya ibuku tidak memaksa aku untuk menikah dengan Ulfa, karena ibu tahu bahwa aku tidak mencintainya.

Malam itu aku memang sengaja tidak diperbolehkan keluar rumah oleh ayah, karena ada tamu yang akan datang ke rumah. Aku merasa bingung kala itu dan bertanya kepada diriku sendiri. Kenapa ayah melarangku untuk keluar rumah, padahal malam itu ayah tahu kalau Aku punya janji dengan temanku.

Aku melihat jam di HP NOKIA tipe X2-Ku menunjukkan 19:00 WIB. Kala itu pula tiba-tiba kudengar bunyi klakson dari halaman rumah. Kulihat dari jendela kamarku berhorden warna kesukaanku, biru.Ternyata dugaanku benar bahwa tamu yang akan datang adalah paman Syamsul. Iya, banar bahwa yang  datang malam itu adalah adik ayah, yang datang jauh jauh dari Bangkalan.

Pantesan ayah melarangku keluar rumah.

“Assalamualaikum..” paman Syamsul panggil salam seraya mengetuk pintu.

Ibu menjawab salam paman Syamsul sembari menyilakan mereka masuk.

“Silahkan duduk, dek Sul.” Titah ibu sambil membereskan meja.

“Ya, Mbak.” paman Syamsul dan rombongan duduk.

“Sampean, Paman.” Sapaku mendekati paman dan segera aku mengambil tangan dan kucium sebagai tanda hormat kepada orang yang lebih tua, tidak terkecuali dengan bibi Romlah yang sudah dianggap seperti ibu aku sendiri.

“Ya, San.” Balas paman pendek.

“Gimana kabarnya, San?” Sapa bibi Romlah.

“Baik, Bibi.” Jawabku singkat.

“Kak Idris mana, Mbak Mina?” Tanya paman kepada ibu yang sedang menuangkan teh hangat kedalam gelas yang tadinya sudah ia bawakan dari dapur.

“Oh, masih di kamar, katanya mau ngelanjutin desertasinya sebentar.” Jawab ibu.

Ayahku memang masih dalam proses penyelesaian program doktoralnyapada konsetrasi filsafat di Universitas Gajah Mada Yogyakarta.

“Hasan, panggilin ayahmu.” Pintaibu menoleh kepadaku yang duduk dekat paman.

Aku pun beranjak dari ruang tamu menuju kamar Ayah.

“Ayah, paman Syamsul  datang.” Tuturku kepada ayah yang sedang khusuk didepan laptopnya.

Sebelumnya ayah tidak memberi tahuku, kalau tamunya adalah paman Syamsul adeknya sendiri.Begitupun dengan ibu. Aku tidak tahu, apakah itu memang direncanakan sengaja tidak memberi tahu aku atau bagaimana.

“Oh, iya. Ayah tutup laptop dulu.” timpal ayah.

“Kamu, Dek Sul, maaf lama menunggunya.”Sapa ayah.

Ayah dan paman memang tidak pernah konflik sedari kecil, karena mereka ditinggal oleh orang tuanya ketika mereka masih kecil. Mereka selalu bersama kemana pun pergi. Kebetulan mereka dirawat oleh saudara kakek, Misnari. Dialah yang merawat dan memotivasi mereka untuk tekun belajar dan pantang menyerah sehingga meraka bisa sukses. Sehingg, ayah bisa sampai menempuh pendidikan strata tiga, kalaupun masih proses.

“Tidak begitu lama kok, Kak.” timpal paman.

“Mari tehnya diminum.”Ajak ayah sembari menyeruput teh yang masih hangat.

Pembicaraan berlangsung agak lama. Mereka berbicara dengan sangat serius. Tema pembicaraan mereka tidak lain adalah tentang hubungan Aku dan Ulfa. Aku diam seribu bahasa. Aku hanya mendengarkan apa yang mereka bicarakan. Ibu selalu memerhatikanku, seolah dia tahu apa yang sedang aku rasakan dan aku pikirkan.

“Kak, jadi kapan kita laksanakan pernikahan Ulfa sama Hasan.” tanya paman Syamsul ditengah-tengah obrolan.

Tanpa menjawab pertanyaan paman Syamsul, ayah lansung memegang pundakku dan menanyakan kesiapanku.

“San, bagaimana dengan kamu, kapan kamu siap?” tanya ayah kepadaku.

Pertanyaan yang membuat aku  gemetar melebihi gemetarku saat aku berda di depan tiga dosen penguji skripsiku waktu kuliah. Aku tidak mengeluarkan sepatah katapun untuk kujadikan jawaban. Mungkin ayah mulai mengerti dengan perasaanku, sehingga ayah mengatakan kepada paman bahwa dia masih mau membicarakan hal itu dengan aku tanpa harus di hadapan paman.

“Ya sudah, saya tunggu kepastiannya kak, aku pulang dulu.” kata paman Syamsul seraya berpamitan untuk pulang.

“Kenapa tidak nginap saja, Dek?” tanya ibu.

“Maaf, Mbak. kami harus pulang malam ini juga, soalnya kami besok akan kedatangan tamu dari Surabaya.” jelas Bibi Romlah.

“Iya, Mbak.Teman bisnis saya mau ke rumah untuk bermain ke rumah.”celetuk paman Syamsul.

“Ya sudah, hati-hati, Dek.” Pesan ayah kepada adeknya.

“Ya,Kak. Assalamualaikum.” pamit mereka.

“Waalaikumsalam.” Jawab ayah dan ibu tidak terkecuali dengan aku serentak.

Pagi itu Aku dan Ayah mencuci mobil didepan garasi. Aku dan Ayah memang tidak berbicara kecuali ada kepentingan yang sangat. Disela-sela mencuci mobil, ayah bertanya:

“San, kapan kamu siap untuk menikah dengan sepupumu, Ulfa?

“Ayah pikir, kamu sudah saatnya menikah karena kamu sudah sarjana. Dan keilmuanmu ayah pikir sudah matang. Masalah cinta atau tidaknya kamu sama Ulfa itu belakangan, ingat pesan ayah. Kamu pasti bisa mencintai dia ketika kamu sudah menikahinya. Ayah yakin lambat laun kamu pasti bisa mencintainya.” Bujuknya.

“Terserah Ayah saja.” jawabku dengan teramat singkat.

“Sebagai anak laki-laki yang memang menjadi harapan ayah, Aku tidak mau mengecewakan ayah.” Tambahku lirih.

Mendengar perkataan itu, dengan  spontan Ayah meletakkan pipa  yang sedang dipegangnya dan langsung memelukku.

“Subhanallah…, ternyata doa ayah terkabulkan, Nak.Ayah sering berdoa semoga kamu menjadi anak yang berbakti kepada orang tuamu.” Bisik Ayah kepadaku dan semakin mempererat pelukannya.

“Kalau begitu, silakan kamu segera urus surat undangannya, Nak.Lain-lainya, biar Ayah dan ibu yang menangani.” Janji Ayah.

Tanggal 23 September 2014  adalah hari pernikahanku dengan  gadis yang merupakan Hafidzah alumni Pondok Pesantren Al-Amin Prenduan Kabupaten Sumenep. Demi kepatuhanku kepada sang ayah, Aku mempersiapkan diri untuk menikah dengan gadis yang tidak pernah bertemu apa lagi berkenalan dengan aku. Kalaupun Ulfa adalah sepupuku sendiri, Aku tidak pernah bertemu dengannya. Karena sejak aku SD kelas lima, Aku di berangkatkan ke pondok pesantren Tegal Jadid Jawa Barat. Semenjak aku menimba ilmu dipondok, Aku pulang 3 kali sampai Aku selesai kuliah strata satu di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

Allahu Akbar. Inikah wanita yang  dijodokan dan akan menikah hari ini denganku? Tanyaku dalam gumam kala hari pernikahan.

Kulihat wanita yang tak lain adalah adik sepupuku sendiri, ternyata benar kata ibu dulu. Parasnyaelok dan sederhana. Kutatap dia yang sedang duduk didekat mamanya yang sudah siap untuk segera melaksanakan akad nikah.Diamnya yang penuh makna membuat aku bertanya. Mungkinkah kau wanita yang sempat datang dalam reoni mimpi saat aku berlayar dipulau kapuk? Atau bahkan kau  wanita yang sempat menunggang kuda cantik warna hitam denganku dalam mimpiku pada malam dua hari sebelum pernikahan berlangsung?

Mimpiku ternyata benar, Ulfa-lah yang sempat bersamaku dalam mimpi itu.

Pesta pernikahan berlangsung selama dua hari. Yang menikahkan kami adalah paman Syamsul, ayah Ulfa. Pukul 22:00 WIB malam kedua pernikahan, menujukkan acara pernikahan selesai. Pengajian sengaja dijadikan sebagai penutup pernikahan kami. Berharap dengan barokahnya pengajian, keluarga kami selalu dalam bingkai sakinah mawaddah warohma.

Sebelum mata terpejam, aku merenung. Aku baru sadar bahwa kepatuhan pada permintaan orang tua akan berbuah manis walapun awalnya dirasa pahit karena keberatan.

“Allahu Akbar” malam itu aku tak henti-hentinya membesarkan Allah. Lalu kupejamkan mata ini perlahan.

Satu tahun dari pernikahan, aku dan Ulfa resmi jadi seorang ayah dan ibu. Kami bahagia dengan pernikahan hasil perjodohan orang tua kami. Alhamdulillah.

Oleh: Gafur Abdullah.

Ilustrasi dari sini.

Facebook Comments
error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: