kisah anak yang buta ditinggal ayahnya

Ayah, Jangan Pergi, Tetaplah Bersama Kami

“Mas, bagaimana keadaan anak kita?” Tanya Sumi kepada suaminya, Rusdi di ruang bersalin pasca melahirkan anak pertamanya.

Ruangan mendadak sunyi. Bibir Rusdi tidak bergerak sama sekali. Ia hanya menampakkan rupa kecewa di depan istrinya. Sang istri pun heran dengan sikap suaminya. Pertanyaan itu tidak mendapat respon apapun.

“Ada apa, Mas? Kenapa wajahmu tidak terlihat bahagia? Bukankah keinginanmu menjadi seorang ayah sudah tercapai?”

“Ya, aku memang sudah menjadi ayah dari anak kita. Tapi aku tidak mau menjadi ayah dari anak yang tidak bisa melihat ayahnya” Tiba-tiba Rusdi berkata kasar.

“Maksud kamu anak kita buta?” Rusdi pun hanya menjawab dengan anggukan kekecewaan.

Perlahan, mata Sumi menteskan air mata kesedihan di hari bahagianya. Tanpa berkata apalagi, Rusdi keluar dari ruangan itu. Sumi terus menangis tanpa henti. Lalu berteriak memanggil dokter. Tak lama kemudian, suster membawa anak gadisnya yang masih tanpa nama.

***

Dua hari kemudian, Sumi sudah dizinkan untuk pulang ke rumahanya. Ia mencoba menghubungi sumninya via telepon. Dengan nada parau, Sumi pun berkata “Mas, biar bagaimanapun, ini darah daging kita. Aku yakin, anak ini akan membawa kebahagiaan. Sampai saat ini, anak ini tidak dikasih nama. Aku mau kamu yang memberikan nama untuk anak pertama kita.” Tiba-tiba telepon terputus.

Dikecupnya kening anak itu. Ponsel ditangan Sumi terlepas dan jatuh ke lantai. Ia minta bantuan dokter untuk mengantarkan dirinya pulang ke rumahnya.  

Dibukanya pintu ruangan itu oleh suster yang berbeda. Suster itu bilang, ada laki-laki yang hendak menjemput Sumi. Mendengar penuturan suster, bibir Sumi pun tersenyum. Ia mengira, laki-laki yang dimaksud suster adalah suaminya. Ia bergegas karena tidak sabar ingin melihat suaminya dan pulang ke rumah yang ia bangun beberapa waktu lalu.

Kebagiaan Sumi berubah kesedihan lagi. Tatkala ia melihat rupa suaminya yang tidak sama sekali menerima kenyataan itu. Di dalam mobil, Sumi tidak berkata sepatah kata pun. Tidak terdengar suara apapun diperjalanan kecuali bunyi kendaraan yang berlalu lalang.

Di rumah, Sumi meminta suaminya untuk memberikan nama untuk bayi yang masih hangat dalam pelukannya. Namun permintaan itu tidak mendapat respon positif dari Rusdi. Ia terus mengiba kepada suaminya untuk memberikan sebuah nama. Sejauh ini, tidak ada permintaan Sumi yang tidak dikabulkan oleh suaminya. Tapi kali ini Rusdi menjawabnya hanya dengan geleng-geleng kepala.

“Baiklah, kalau kamu tidak mau memberikan nama untuk anak kita, biar aku saja yang memberikan nama. Aku beri nama ia Syakira. Ya, Syakira.”

“Sampai kapanpun, aku tidak mau mengakui ia sebagai anakku. Aku tidak mau punya anak buta.” Rusdi angkat bicara dengan nada membentak.

***

Seiringa perjalanan hari menjadi minggu, minggu menjadi bulan, bulan menjadi tahun, Syakira sudah berumur lima tahun. Selama itu pula, Rusdi jarang pulang ke rumahnya selain dini hari. Saban ia sekan tidak menunjukkan kepedulian sama sekali kepada anak istrinya. Jangankan memberikan kebutuhan mereka, menanyakan pun tidak pernah. Untuk memenuhi kebutuhannya, Sumi harus memutar otak dan membagi waktu untuk bekerja dan mengasuh anak semata wayangnya. Selama itu pula, Rusdi tidak pernah bekerja.

Untuk Kebutuhan rumah tangganya, Sumi tanggung sendiri. Sementara Rusdi menghabiskan waktu untuk hidup melanglang buana tanpa tujuan yang jelas. Bahkan, pernah suatu hari Rusdi terkapar di belakang rumah salah satu warga dalam keadaan tidak sadarkan diri.

***

Dulu, sebelum Syakira lahir, Rusdi bekerja sebagaimana warga lainnya. Ia bekerja sebagai buruh pabrik di desanya. Pendapatan tiap bulan cukup untuk memenuhi kebutuhan rumah tangganya. Namun, semangat bekerja untuk mencari nafkah luntur perlahan karena ia putus asa, kecewa dan depresi dengan kenyataan yang menimpanya. Sumi tidak bisa memaksanya. Ia takut dimarahi oleh lelaki yang menikahinya belasan tahun silam.

Dengan kenyataan itu, Sumi terpaksa harus menggantikan pekerjaan suaminya di pabrik. Selain itu, Sumi tidak lupa memberikan pendidikan kepada ankanya. Ia mendidiknya seorang diri di rumah. Itu pun harus malam. Siang ia habiskan waktu di tempat kerjanya. Biasanya, ia mengajari Syakira shalat dan mengaji. Syakira memang buta. Tapi kebutaan Syakira tidak menjadikan ia putus asa dalam belajar. Lebih-lebih belajar al-Quran.

“Nak, kamu memamg buta. Tapi kamu harus bersyukur, hati kamu masih bisa melihat. Telingamu masih bisa mendengar. Tubuhmu masih sehat. Makanya, kamu harus rajin, ya sayang.” Kalimat itulah yang terus memupuk benih semangat yang ada dalam diri Syakira untuk bangkit.

***

Syakira tidak mengeyam pendidikan formal. Hari itu genap umurnya menginjak sepuluh tahun. Secara usia, ia sudah layak duduk di pertengahan sekolah dasar. Mungkin kelas tiga atau 4 SD. Suatu hari ia bertemu dengan sepupunya, Desi. Pertemuan antara mereka menyisakan kisah Desi yang sudah mengenyam pendidikan formal.

“Syakira, sebenatar lagi aku udah mau naik kelas.” Sepintas dialog ihwal sekolah Desi saat bermain ke rumah Syakira.

“Oh iya, aku juga pengen sekolah, Bu.” Tutur Syakira kepada ibunya beberapa hari setelah mendengar cerita Desi.

Mendengar perkataan Syakira, air mata Sumi membelah benua pipinya perlahan. Bersamaan dengan air mata itu, Sumi memeluk Syakira erat penuh kasih. Sumi pun berkata, “Cukup kamu belajar di rumah saja, nak. Ibu akan terus bimbing kamu. Bukan ibu tidak mau menyekolahkan kamu. Bukan pula karena biaya. Tapi ibu tidak ingin terjadi apa-apa sama kamu, nak.”

“Tapi aku bosan hanya mengahafal al-Quran di rumah. Itu pun hanya sendiri.”

“Lho, kamu tidak sendiri. Kan ada ibu.” Sumi mencoba menyemangati.

“Maksud aku bukan itu. Tapi aku pengin belajar sama teman-teman di luar.”

“Oh, begitu. Begini, kamu fokus saja dengan hafalan al-Qurannya. Ibu yakin, suatu saat kamu akan bisa belajar bersama teman-teman di luar rumah. Bahkan luar daerah.”

“Benar begitu, Bu?”

Tanpa menjawab pertanyaan polos itu, Sumi lagi-lagi memeluk Syakira dengan erat. Diusaplah kening Syakira dengan lembut. Syakira pun membaca hafalan al-Qurannya. Diumurnya yang sepuluh tahun, Syakira sudah hafal tiga puluh jus. Namun prestasi hafalnnya itu tidak diketahui oleh Rusdi, ayahnya.

Saban hari ia mengahafal al-Quran lewat bacaan yang perdengarkan oleh ibunya. Kebiasaan yang dilakukan ba’da magrib dan subuh itulah yang membuat Syakira lancar membacakan al-Quran tanpa memeganya.

***

Adzan subuh berkumandang. Syakira dengan diantar ibunya mengambil wudu’ dilanjutkan shalat subuh. Syakira menjadi imam shalat subuh waktu itu. Bacaan surat di dalam shalatnya semakin indah dengan suaranya yang merdu. Bersamaan dengan shalat berjemaah dilakukan mereka, Rusdi baru pulang dari rutunitas yang tidak jelasnya. Begadang di warung kopi semalaman. Dibukanya pintu rumah yang tidak dikunci oleh Rusdi. Dengan tubuh lemas, Rusdi mengampiri mereka.

Ia terkejut dengan kejadian yang selama ini ia tidak ketahui. Sebelumnya, ia pulang dini hari dan bangun kesiangan. Jangankan shalat sunnah, shalat subuh yang wajib pun tidak pernah ia lakukan sejak ia terjerumus dalam jurang kekecewaan sepuluh tahun silam.

Kekecewaan Rusdi bukan hanya pada Syakira. Bahkan juga menyalahkan Sang Pencipta. Karena diberikan anak dengan mata dalam kondisi buta. Dari kekecewaan itu, ia tidak percaya lagi pada-Nya. Kewajiban ia tinggalkan. Larangan pun ia lakukan. Rusdi tidak percaya dengan lancarnya Syakira membacakan al-Quran bahkan bisa memimpin shalat berjemaah.

Matanya yang memanja untuk terkatub melek seketika. Dalam batinnya berkata, Aku sedang mimpi atau tidak?

Ditaboknya pipi Rusdi dengan tangannya sendiri. Ia tetap tidak percaya dengan kejadian itu. Syakira dan Sumi sudah selesai dari menyembah-Nya dengan shalat. Rusdi mengampiri mereka.

“Benarkah Syakira yang memimpin dan membaca ayat dengan merdu tadi?”

“Ya, ayah. Ini aku Syakira anak ayah yang membaca dan jadi imam shalat tadi. Ini semua karena kesabaran ibu mengajariku.” Dengan nada rindu Syakira menjawab pertanyaan itu. Tangannya meraba-raba mencari sosok ayah yang selama ini ia rindukan.

“Iya, Mas. Ini anak kita, Syakira. Dia sudah hafal 30 Juz.” Sumi mencoba membenarkan perkataan Syakira.

Suasana sunyi seketika. Nyanyian burung yang bangun dari tidurnya mulai menghiasai sunyinya pagi buta kala itu. Dengan reflek Rusdi meraih tangan Syakira dan memeluknya erat. Sumi dibuat heran dengan kejadian yang tidak pernah ia lihat sebelumnya.

“Syakira, Anakku. Maafkan ayah yang selama ini tidak penduli. Ayah sudah menelantarkan kamu, nak. Ayah tidak menyangka kamu akan bisa seperti ini. Pikir ayah, kamu hanya akan menyusahkan keluarga ini.” Melihat suasana itu, air mata kebahagiaan Sumi tidak terbendung mengalir.

Syakira tidak bisa berkata apa-apa dengan pelukan ayahnya yang tidak pernah ia rasakan selama ini. Sesekali, kening Syakira dikecup lembut. Sesekali, pelukan itu semakin erat. Sumi hanya bisa beryukur dengan kesadaran suaminya. Mereka pun saling berpelukan.

Datangya Rusdi yang sebelumnya membawa tangis sedih, pagi itu berubah. Berubah menjadi tangisan kebahagiaan yang sebelumnya tidak pernah ada dalam praduga Syakira dan Sumi.

“Ayah, kata ibu, aku memang buta. Tapi aku harus bersyukur dengan tubuh yang sehat, mata hati yang tidak buta.” Tiba-tiba Syakira mengulang kata-kata yang pernah Sumi nasihatkan kepadanya.  

Allahu Akbar …. Rusdi bersujud.

Oleh: Gafur Abdullah.

Ilustrasi dari sini.

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan