Cuaca tampak cerah, dengan warna biru menghampar memayungi jagat. Angin sepoi sesekali datang, mengusap gersang yang diciptakan matahari nan gagah yang bertengger di puncak bumi.

Aku dan putri kecil tengah asik bersendau gurau di samping rumah yang rimbun oleh beberapa pohon. Kuayun tubuhnya beberapa kali, membuat ia menjerit senang. Hingga seorang wanita berkerudung salem datang, menunjuk-nunjuk pergelangan tangannya yang tak mengenakkan arloji.

Bocah perempuan manis berusia enam tahun yang sedang bermain dalam gendongan, terpaksa kuturunkan. Rambut pendeknya berantakan, menutupi sebagian wajah. Kusibak perlahan dan kubenahi, agar tertata rapi kembali. Dia menatapku penuh sayang. Mata jernihnya bergerak-gerak, mengamati wajahku.

“Ka, sini! Biarkan Ayahmu berangkat,” ucap wanita berdaster merah muda motif bunga yang berdiri tak jauh dari kami. “Sebentar lagi keretanya datang. Nanti terlambat.”

Kulihat wajah ayu itu mendadak layu. Senyum ceria yang sedari tadi terpasang di bibir mungilnya, seketika sirna, berganti kerut yang mengerucut.

“Nggak mau! Ika masih pengen main sama Ayah!” Tangan mungil yang cenderung kurus milik putriku melingkar erat di perut, wajahnya menyuruk hingga tenggelam tertutup jaket hitam tebal yang kukenakan.

“Ayah harus kerja, Nduk. Cari uang yang banyak untuk Ika dan Adik. Ya?” Kurasakan tubuh kecil itu bergetar, pundaknya naik-turun. Kupegang pelan bahunya, sedikit menjauhkan dari persembunyian semula. Bibirnya bergetar, dan bola mata bulat itu mulai berkedut, mengumpulkan cairan yang kemudian tumpah menganak sungai, membuatku kelu untuk mengucap perpisahan.

“Pak, nanti terlambat!” Ika ditarik paksa oleh perempuan yang kini mendekati kami. Tubuh kecil itu meronta. Tangannya menggapai-gapai ke arahku. Cekalan wanita yang telah menjadi istriku selama tujuh tahun, mengerat di bahu mungil yang terus saja melakukan pemberontakan. Alot, dia menggeliat, hingga terlepas dari cengkraman. Tubuh kurus itu langsung menubrukku yang baru saja berdiri. Aku sedikit terhuyung menerima rengkuhan yang sangat erat di kaki kanan.

“Ayah jangan pergi!” Suaranya tersendat-sendat karena isakan, tampak kesulitan bernapas. Kucoba memberikan penjelasan sebaik mungkin bahwa aku harus berangkat bekerja. Janji-janji manis tentang hadiah yang nanti kubelikan di kota, tak diterimanya. Dia masih saja melarangku beranjak. Tangisnya semakin pecah. Telingaku sakit mendengar suaranya yang berubah menjadi jeritan histeris ketika istriku lagi-lagi menghalau tubuh mungil itu. Hatiku bertambah nyeri melihatnya memanggil-manggil namaku.

“Cepet, Pak, berangkat!” Kuanggukkan kepala, mengiyakan ucapan istri. Kuangkat tubuh mungil yang terus meronta, kunaikkan ke atas pohon jambu yang menurutku tak terlalu tinggi, tetapi akan sulit bagi Ika untuk turun. Dia tak pandai memanjat pohon. Sengaja kulakukan itu agar Ika tak mengejar dan menangkapku lagi. Tergesa kulangkahkan kaki, sedikit berlari. Kutolehkan kepala untuk terakhir kali sebelum menghilang di balik pagar. Hatiku remuk melihat wajah putriku merah padam; perpaduan antara marah dan sedih yang teramat sangat.

Duh, Gusti! Maafkan hamba-Mu yang telah berlaku kejam terhadap darah daging sendiri. Aku terpaksa! Aku harus kembali ke kota tetangga yang berjarak tujuh jam dari rumah, tempatku mengais rezeki.

Di desa tempatku tinggal, sangat sulit kudapatkan pekerjaan yang mampu mencukupi kebutuhan. Sementara menciptakan lahan usaha sendiri, aku tak punya modal. Bertahun-tahun lamanya aku bekerja di sana, sejak Ika masih bayi hingga kini memiliki seorang adik. Aku jarang sekali pulang ke rumah dengan alasan biaya perjalanan yang cukup menguras isi dompet. Uang hasil bekerja yang tak seberapa, tiap dua minggu sekali kukirimkan pada istri. Belum untuk biaya hidupku di tempat kerja, yang semaksimal mungkin kuirit.

Dalam setahun, pertemuan bersama anak dan istri, bisa dihitung dengan jari. Karena alasan itulah, Ika selalu memperberat langkahku saat harus kembali bekerja. Dia selalu bilang, “Masih kangen! Pengen manja-manja dan main yang lama sama Ayah.” Duh! Hatiku sungguh trenyuh sekaligus berdenyut pilu.

***

Kupacu langkah menyusuri lorong rumah sakit. Tergesa-gesa, hingga beberapa kali menabrak orang yang menghalangi jalan. Jantung berdetak beribu kali lebih cepat dari biasanya. Pikiranku kacau, panik, khawatir. Napas memburu, keringat bercucuran saat sampai di sebuah ruangan yang pintunya terbuka lebar. Kuterobos masuk, tak mempedulikan saudara yang berniat menyapa.

Kulihat putri cantikku tergeletak di atas bangsal. Mukanya pias. Kudekati, lalu mengusap keningnya—menyibak anak-anak rambut. Matanya terbuka perlahan, seulas senyum tercipta di bibirnya yang pucat. “Ayah sudah datang? Ika kangen.”

Kujaga baik-baik pelupuk mata agar jangan sampai digenangi air. Aku tak boleh menangis di depan gadis kecilku. “Maaf, ya? Ayah baru bisa datang. Maaf juga karena Ayah nggak bawa hadiah.”

“Ika nggak mau hadiah. Cuma mau dipeluk sama Ayah.” Lengan yang berbalut infus itu berusaha menggapaiku. Kudekatkan tubuh, mengusap-usap puncak kepalanya.

Aku menopangkan tubuh pada bangku plastik yang berada di samping ranjang. Tatapanku jatuh pada perut Ika yang tertutup selimut. Dua hari yang lalu dia baru saja menjalani operasi usus buntu. “Masih sakit, nggak?”

Ika menggeleng.

“Maaf, ya. Ayah nggak bisa nemenin Ika waktu mau operasi.”

Ika kembali menggerakkan kepalanya ke kanan dan ke kiri dengan lemah. “Gak apa-apa, Pak. Ika ngerti. Yang penting, doa Ayah menemani Ika selalu.”

Kuanggukan kepala. Tentu saja. Doa tak pernah luput kupanjatkan.

 “Pak, Ika ranking 4, loh!” Senyum lebar terkembang di bibir, mendapat berita bahagia dari putriku. “Harusnya bisa ranking 1 seperti biasanya. Berhubung kemarin perut Ika suka sakit, jadi nggak konsen ngerjain soal. Maaf, ya, Pak?”

“Nggak apa-apa. Ika sudah hebat, selalu juara bagi Ayah. Putri kebanggaan.” Kutepuk-tepuk ringan lengannya. Kini, usianya enam belas tahun, kelas dua SMK. Dia berhasil lolos seleksi sekolah negeri yang diimpikan, yang mematok nilai tinggi untuk hasil ijazah terakhir. Dia tumbuh menjadi anak yang pintar. Sedari SD, aku dibuat kagum saat menandatangani raport-nya. Nilai yang tertera, selalu memuaskan.

Sementara anak nomor duaku yang bernama Fajri, tak sepandai kakaknya dalam pelajaran akademik, tetapi, dia menuruni bakat seniku. Mahir dalam memainkan berbagai alat musik. Rasa syukurku sungguh tak terkira kuhaturkan pada Sang Pencipta. Dzat yang sangat berbaik hati padaku.

Dulu, aku sempat takut, membayangkan anak-anakku tumbuh tanpa adanya ayah di samping mereka. Bagaimana jika mereka salah pergaulan? Mengingat banyaknya berita buruk mengenai tingkah-polah anak-anak zaman sekarang.

Aku hanya bisa memanjatkan doa selama di perantauan, semoga kedua buah hatiku dijauhkan dari hal-hal buruk. Setiap saat, tak pernah putus, meminta pada Allah agar dijagakan iman-Islam keluargaku.

Ya, Allah. Pada-Mu kutitipkan anak-anak hamba. Jaga dan lindungilah mereka. Jadikan mereka anak yang soleh dan solehah, dan patuh pada perintah-Mu. Jauhkan mereka dari sifat dan sikap tak terpuji. Maafkan aku yang tak dapat mendampingi pertumbuhan mereka. Aamiin. Kuulang-ulang doa tersebut setiap selesai beribadah, juga ketika merasa rindu pada anak dan istri.

Meski kami berjauhan, komunikasi tak pernah alpa. Kubiasakan anak-anak curhat tentang kejadian yang dialami, agar aku dapat mengikuti perkembangan mereka. Alhamdulillah, buah hatiku tumbuh menjadi anak mandiri dan dapat menghargai uang. Mereka selalu bilang, “Kasihan, Ayah kerja jauh-jauh, capek. Kami harus hemat. Menghargai jerih payah Ayah.”

Alhamdulillah, Ya Allah. Telah Kau tiitpkan padaku keturunan yang soleh dan soleha. Semoga menjadi bekalku kelak saat menghadap-Mu. Rasanya, terbayar sudah, letih dan rindu yang menahun di dalam hati jika mendapati apa yang kuperjuangkan, bertumbuh begitu baik.

***

Oleh: Ranti Eka Ranti Kumala.

Facebook Comments
error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: