Ayah, Sungguh Aku Pun Begitu Rindu Ingin Pulang

Malam itu terasa sepekat kenanganku bersama Bapak yang kututup rapat di sebuah tempat gelap dan berlembab di sudut hatiku agar tak mudah kutemukan. Lelaki yang pernah kudapati dengan mata kepalaku sendiri sedang berdiri dengan mata nyalang dengan tangannya yang ringan baru saja mendarat pada pipi Ibu—yang sedang mengandung adikku yang menginjak usia sembilan bulan kala itu. Tubuhnya limbung hingga Ibu kehilangan kesadaran. Ia rubuh dalam kondisi lemah yang bertambah-tambah.

“Bagaimana nikmat iman dapat Adek cecap dengan sesempurnanya nikmat jika dalam hati masih ada sebersit kebencian sekecil apapun itu, Dek?” Pertanyaan suamiku seperti terus menggema dalam kepalaku.

“Hukum berbakti pada orang tua, birul walidayn, selamanya tak akan pernah bergeser.” Lagi-lagi nasihat suamiku menelusuk relungku.

Ada rindu yang sebenarnya tak ingin kubiarkan muncul ke permukaan. Aku masih ingat sekali bahwa dulu ketika keadaan memaksa Ibu untuk merantau ke negeri tetangga dan menyebabkan Bapak mengambil alih semua tugas rumah, termasuk merawatku yang kala itu masih duduk di bangku kelas satu Madrasah Ibtidaiyah.

Namun seiring waktu Bapak berubah, ia bukan bapakku lagi. Ia menjelma menjadi monster kecil dalam keluarga kami. Kasar, bengis, suka teriak-teriak marah dan semua yang kulakukan dan dilakukan Ibu selalu salah di mata yang sudah tak pernah menampakkan kasih sayang itu.

“Bapak sudah berubah, Bapak sudah tidak seperti dulu lagi. Pulanglah, Ibu rindu.” Suara Ibu di seberang telepon bergema di gendang telingaku. Membuat benteng pertahanan yang susah payah kubangun agar tidak roboh runtuh seketika saat itu.

Beberapa hari yang lalu suamiku untuk kesekian kalinya membujukku agar mau mengunjungi Bapak dan Ibu di kampung halamanku. Jika ada yang bertanya apa aku tidak rindu mereka, dusta besar jika aku menjawab tidak merindukan mereka. Ya, termasuk rindu Bapak. Tapi sepertinya perasaan rindu itu belum sebesar kebencian yang masih  bersarang di lubuk hatiku.

Aku mencoba lebih mendekat pada Rabb-ku, dengan bimbingan suamiku, untuk meminta petunjuk dan memohon agar hatiku dilapangkan. Agar aku belajar bagaimana memaafkan. Bagaimana mungkin aku mengharap ridha Allah sementara ada kebencian dalam diriku yang masih menyelimut.

Hijrah bukan hanya sebatas bermakna berpindah dari tempat satu ke tempat yang lain, tapi menurutku ia lebih luas lagi. Termasuk perjalanan hati dari kekeruhan jiwa menuju kelapangan. Itu definisi hijrah yang sedang kucoba untuk selami. Bukankah tak ada sesuatu yang terjadi tanpa membawa tangkupan hikmah, semenyakitkan apapun kejadian tersebut.

Apa Bapak pernah merasa menyesal dengan apa yang telah ia lakukan seperti sesalku karena belum bisa memaafkannya? Tunggu, Bapak tidak pernah meminta maaf padaku maupun pada Ibu selama ini. Sesungguhnya aku ingin memaafkan Bapak semata untuk kedamaian hatiku. Untuk nikmat iman yang selama ini masih mengambang. Tak peduli Bapak meminta maaf atau tidak, bukankah ia tetap Bapak yang dulu pernah memperjuangkanku dengan kucuran keringat? Bukankah ia tetap Bapak yang pernah begitu memanjakanku? Ya Rabb, ke mana aku selama ini?

Kugapai laci di sebelah tempatku menekuri Rabb-ku pada sepertiga malam. Tak lama isinya telah berserak di lantai, sampai kudapati selembar potret yang terbungkus plastik laminating. Aku masih sangat ingat, ketika Bapak mengatakan bahwa plastik laminating itu akan menjaganya dari air ataupun kotoran yang dapat meleburkan warnanya. Dan benar saja, benda ini tak berubah sama sekali setelah bertahun-tahun kusimpan. Dengan kaos putih yang dimasukkan ke celana hitam sama persis dengan penampilanku yang saat itu berambut pendek seperti anak laki-laki, potret Bapak terlihat tegas sedang merangkulku yang berdiri sigap di sampingnya.

Orang-orang selalu mengatakan bahwa kedua manik mataku adalah warisan dari Bapak. Kami mirip sekali.

Kubalik lembaran potret lama itu dan mendapati kalimat-kalimat indah yang ditulis oleh tangan Bapak teruntuk Ibu. Aku juga masih ingat bahwa lembaran foto itu dulunya dikirimkan Bapak lewat pos menuju tempat kerja Ibu di negeri tetangga sebagai obat kerinduan Ibu pada kami. Jangan tanyakan kenapa tak pakai sosial media, pada masa itu belum ada istilah sosial media. Pemilik ponsel yang bisa untuk mengirim pesan gambar atau foto sangatlah terbatas. Ponsel berkamera menjadi barang teramat mewah saat itu.

Isakanku membangunkan seseorang yang juga telah berusaha keras meyakinkanku untuk memeluk segala pesakitan yang pernah kurasakan dahulu. Terbukti kini ia yang tadinya masih terlelap dalam tidurnya, kini merengkuh kepalaku dan meletakkannya di dada. Ia memelukku erat, tanpa kata namun menyiratkan bahwa ia menyayangiku dan akan terus selalu membimbingku tak hanya menjadi istri shalehah tetapi juga anak yang tetap berbakti kepada orang tua.

InsyaAllah minggu depan kita pulang, ya, Dek,” ucapnya lembut setelah kami larut dalam keheningan beberapa saat.

Pada akhirnya aku mengangguk.

Suamiku kembali mengingatkan bahwa kepulangan kami adalah sebuah usaha untuk perdamaian hati, mengendalikan emosi dan membuka pintu maaf atas apa yang telah terjadi. Ia mengatakan bahwa ketika aku membenci masa laluku, itu berarti aku juga telah membenci takdir yang Allah buat. Karena tak ada setitik hal pun yang luput dari rencana-Nya, bahkan daun yang jatuh sekalipun.

Dua belas jam perjalanan terasa sangat lambat. Semalam tidurku di pangkuan suamiku tak senyenyak biasanya.

“Adek hanya gugup saja. Istighfar, Dek. InsyaAllah semua akan baik-baik saja.” Suamiku tak bosan menguatkanku.

Kicauan burung di pepohonan sekitar peron kereta terdengar riuh. Terpampang papan nama stasiun kota kelahiranku. Aku masih belum percaya bahwa aku telah pulang. Kuhirup napas dalam-dalam lalu menjajari langkah suamiku yang menarik koper dan berjalan melewati peron menuju pintu ke luar. Keadaan cukup ramai dengan riuh penumpang dan penjemput serta orang-orang yang menawarkan jasa angkut barang.

Senyum Ibu yang pertama kali kulihat begitu melewati pintu ke luar, kucium tangan malaikat tanpa sayapku kemudian memeluknya erat. Aku tak mampu membendung lagi kerinduanku. Ialah sesosok paling hebat di hidupku yang telah melewati banyak sekali hal pahit dan tetap terlihat tegar di hadapanku. Kutolehkan pandangan dan mendapati suamiku telah lebih dulu menyalami Bapak dan sekarang mereka berdua mendekat ke arahku dan Ibu.

Keriput di wajah Bapak menyiratkan lelah yang ia rasakan. Aku segera meraih tangan Bapak dan mencium punggung tangannya. Ia memelukku. Ya, Bapak memelukku setelah sekian lama—aku bahkan lupa kapan terakhir kali Bapak memelukku. Tak ada kalimat yang terucap di antara kami, tapi butir-butir bening yang menggenang di pipi kami bersamaan menyiratkan betapa kami sebenarnya selama ini teramat saling merindukan melebihi kerinduan seorang pujangga pada sajak-sajaknya.

Oleh: Ummu Ayyash.

Facebook Comments

1 thought on “Ayah, Sungguh Aku Pun Begitu Rindu Ingin Pulang”

  1. Semoga Alloh SWT selalu menjaga bapak serta memberi jalan terbaik buat bapak aamiin😥😥😥

Tinggalkan Balasan