Saya harus banyak-banyak berterima kasih sama bapak, karena bapak lah yang membuat saya suka berbisnis. Meski sesungguhnya, bapak awalnya lebih suka kalau saya jadi orang kantoran.

Ya pernah sih saya jadi orang kantoran, tetapi tidak bisa bertahan lama. Masuk kantor, resign. Masuk kantor lagi, resign lagi. Gonta-ganti kantor sampai lima kali membuat saya semakin sadar, kalau saya lebih baik berbisnis seperti bapak.

Nah, meskipun saya sudah belajar enam tahun di fakultas ekonomi (S1 dan S2), tetap saja banyak hal tentang praktik bisnis yang saya pelajari dari bapak. Apa saja itu?

Pertama, mau untung, harus berani rugi.

Bapak pernah berjualan gula Jawa yang bapak datangkan dari luar kota. Jumlahnya sangat banyak dan bapak sebarkan ke pasar-pasar tradisional di beberapa kecamatan. Bapak menjadi distributor tunggal di wilayah kami.

Nah, karena ini produk baru bagi bapak, maka ada saja kerugian yang dialami. Salah satunya karena bapak kurang pandai menjaga persediaan barang.

Pernah saya melihat ada gula Jawa yang meleleh, spontan saya tanya, “Itu yang bagian bawah kok (gulanya) meleleh, Pak?”

“Itu di mobil kena panas (mesin),” jawab bapak singkat.

Jadi, bapak memakai mobil yang mesinnya ada di bawah mobil. Gula Jawa itu diletakkan di dalam mobil tanpa alas yang tebal. Akhirnya gula bagian bawah meleleh karena kepanasan. Dari situlah saya belajar, kalau mau untung ya berani rugi. Ada nilai belajarnya. Akhirnya gula yang meleleh itu dipakai ibu untuk memasak dan sebagian lagi dibagikan kepada tetangga.

Itulah biaya/kerugian yang harus ditanggung bila beradaptasi dengan barang baru. Selalu saja ada beberapa produk yang rusak dan bapak menilainya sebagai sesuatu yang wajar.

Besoknya, bapak memakai papan cukup tebal sebagai alas di dalam mobilnya, sehingga gula Jawa itu aman dan tidak meleleh lagi.

Kedua, utang dan piutang yang salah perhitungan, bisa bikin usaha bangkrut.

Sebenarnya yang biasa terjadi bukanlah salah perhitungan, melainkan meleset saja. Ketika bapak punya utang dagang, bapak harus bisa menjual barang secepatnya. Logis ya. Agar ketika utang jatuh tempo, bapak bisa melunasinya. Maka menjadi celaka bila barang belum berhasil dijual sampai batas waktu pembayaran utang.

Itu belum seberapa. Ada yang lebih parah lagi saat bapak punya utang dagang, tetapi bapak menjual barangnya tidak secara tunai (alias dijualnya juga ngasih tempo). Inilah yang pernah bikin bisnis bapak gulung tikar habis-habisan. Karena piutang yang bapak miliki di pembeli tidak bisa tertagih. Akhirnya bapak harus menjual aset keluarga demi menutup utang dagang.

Ketika saya tanya, “Kenapa kok bapak jual barangnya tidak tunai?”

Bapak menjawab, “Karena nilai pembeliannya cukup besar. Selain itu, ya karena persaingan di pasar sangat sengit. Kalau kita nggak berani ngasih barang dengan pembayaran tempo, pembeli bakal lari ke penjual lain yang berani ngasih kelonggaran dalam pembayaran.”

Saya paham, bapak terdesak persaingan. Sayangnya, modal bapak belum cukup besar, sehingga tidak mampu membayar utang saat pembeli belum melunasinya. Beda persoalan bagi penjual lain yang sudah besar bisnisnya. Mereka mampu memberikan tempo pembayaran karena masih punya persediaan modal di rekening tabungannya.

Memang untuk beberapa kali, bapak bisa mengatasi selisih waktu antara pembayaran utang dan piutang itu. Namun, rupanya pengalaman saja tidaklah cukup. Tetap saja bapak harus lebih jeli melihat karakter si pembelinya. Karena bisnis dengan model pembayaran tempo tetaplah membutuhkan komitmen serta kejujuran pembeli. Bila tidak, habislah bisnisnya.

Ketiga, aset terpaksa dijual demi menutup utang-utang.

Ini soal komitmen, dan saya belajar hal itu dari bapak. Bapak melepas aset keluarga agar bisa menepati janji: bayar utang-utang. Memang menyedihkan, tetapi itulah fakta dalam bisnis. Saat penjualan barang tidak bisa menghasilkan uang cash yang cukup, tentulah modal bakal semakin terkuras. Lama-lama, aset melayang karena modal habis dan nilai utang masih besar.

Kata Simbah, “Kamu bisa pelajari hal-hal buruk dari keluarga ini.”

Artinya, pelajaran bisnis dari bapak tidak melulu soal keberhasilan. Pastilah saya belajar juga dari melihat fakta pahit, bahwa kami harus pindah ke rumah Simbah lantaran rumah kami dijual.

Bagi saya, itu pelajaran yang luar biasa sekali. Karena ternyata, kepahitan itu tidak berhenti setelah penjualan rumah, karena setelah rumah dijual pun kehidupan kami semakin prihatin. Dari sinilah saya belajar soal komitmen dalam membayar utang, sekaligus lebih waspada ketika mau berutang—sekalipun itu utang untuk modal dagang.

Keempat, gonta-ganti barang dagangan, sesuai kondisi pasar.

Cara yang bapak lakukan ini memang ada plus dan minusnya. Bapak dari dulu selalu gonta-ganti barang dagangan. Mulai dari jualan sembako, ganti jualan gula Jawa, ganti lagi jualan plastik, dan ganti lagi jualan barang lainnya.

Saya coba tebak saja, barangkali karena bapak pengin menguasai pasar yang lebih luas, maka bapak harus mengganti barang dagangannya. Terutama jenis barang yang mudah diterima pasar tradisional dengan penjualan yang lumayan lebih cepat.

Memang kalau di teori manajemen keuangan, ada rumus perputaran/kecepatan barang menjadi uang. Tapi bapak rupanya pakai insting saja. Bapak mengandalkan kepekaan dengan cara melihat kondisi pasar, catatan keuangannya, dan obrolan orang-orang pasar. Intinya, apa saja yang bisa cepat jadi uang dan menghasilkan laba, itulah yang bapak jual.

Satu hal yang saya catat, meskipun bapak gonta-ganti produk, tetap saja bapak suka berdagang. Pernah bapak membuka bisnis jasa (bukan jualan barang), tetapi tidak bertahan lama. Akhirnya kembali lagi berdagang.

Saya memang tidak berani bertanya langsung kenapa bapak tidak langgeng dengan bisnis jasanya. Tebakan saya, bisnis jasa itu mudah bikin badan dan pikiran capek, juga tidak seleluasa/sebebas berdagang.

Kelima, ketika pusing mikirin bisnis, bapak pergi ke sungai untuk mancing.

Begitulah cara bapak menghilangkan penat kerja. Setelah pulang dari pasar dan memasukkan mobil ke garasi, bapak langsung ambil alat pancing dan sendirian pergi ke sungai. Saya tidak pernah ikut, karena memang bapak sedang butuh sendiri.

“Bapak mancing lagi ya, Bu?” tanya saya kepada ibu.

“Ya,” jawab Ibu, “biasa mancing, refreshing.”

Memang bapak mancing tidak lama, maksimal satu jam saja. Begitu selesai mancing dan terlihat membawa ikan tangkapan yang dimasukkan dalam ember kecil, bapak mandi, dan pergi ke masjid untuk shalat berjamaah Magrib dan Isya.

Nah, setelah saya berbisnis, saya meniru gaya bapak menghilangkan penat itu. Cuma saya tidak pergi ke sungai untuk mancing. Saya memilih bermain gitar atau nyuci motor. Intinya, kalau lagi penat dengan pekerjaan, tinggal refreshing sore hari, lalu pergi ke masjid. Alhasil, insyaallah malamnya sudah bisa tidur dengan nyenyak.

Keenam, bisnis itu untuk urip brayan (hidup bersama, saling hidup) antar rekanan bisnis.

Inilah yang paling saya dengarkan dari nasihat bapak. Karena malam itu kami mengobrol banyak hal soal bisnis dan kondisi pasar tradisional. Sebenarnya bapak lebih banyak bertanya bagaimana cara saya menggarap proyek pengadaan naskah dari penerbit.

Sampai akhirnya bapak menyampaikan, “Intinya bisa urip brayan (bisa sama-sama hidup) dan jalan semua (bisnisnya).”

Bagi saya pribadi, nasihat itu luar biasa sekali. Sampai sekarang, prinsip itu tetap saya pakai dan sampai kapan pun akan saya terapkan di setiap lini usaha. Karena dalam bisnis pastinya saya tidak bisa lepas dari bantuan semua rekan kerja dan sangat bergantung pada rekan lainnya. Bila semua rekanan dijaga dengan baik, tentulah bisnis pun akan berjalan dengan baik (sesuai harapan).

Salah satu caranya, jelas tidak menunda hak rekanan. Bila memang sudah saatnya dibayar, ya dibayar. Juga memberikan/menjaga kualitas barang sesuai yang bapak janjikan. Juga ketepatan waktu pengiriman, serta jaminan purna jual (garansi). Kalau memang harus mengganti barang yang sudah dijual dengan alasan logis, maka bapak pun akan menggantinya. Demi kepuasan pembeli.

Selain itu, bapak menjaga hubungan baik dengan rekanan di luar urusan bisnis. Seperti bapak tetap datang ke acara undangan pernikahan anak dari rekan bisnisnya, meskipun rumahnya sangat jauh. Memang keluar ongkos sih, tapi kan demi menjaga keakraban, maka silaturahmi tetaplah harus dilakukan.

Oh ya, bila ada uang yang cukup banyak dari laba, bapak tak eman-eman membelikan saya dan kakak makanan enak. Juga pernah saya dibelikan gitar baru, sepeda, atau apapun yang saya butuhkan untuk penunjang belajar dan hobi.

Memang ya, kalau bisnis ada untungnya, tentu yang pertama harus menikmati itu ya orang rumah (keluarga). Karena kalau bisnis lagi lesu pun yang pertama kali merasakan pahitnya ya orang rumah. Jangan sampai saya jago menjaga hubungan baik dengan rekan bisnis, tetapi kacau dalam menjaga keharmonisan keluarga. Begitu ya, Pak?

***

Oleh: Dwi Suwiknyo.

Ilustrasi dari sini.

Facebook Comments
error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: