Bagaimana Cara Bertahan Hidup Tanpa Ayah Kandung?

Mungkin tidak semua remaja mengalami kisah hidup tanpa ayah kandung karena broken home. Tapi tidak sedikit pula remaja yang mengalami hal yang sama, mungkin jalannya saja yang berbeda. Sedikit cerita, saya mengalami hal seperti ini sejak usia 2 bulan di kandungan, ibu saya sudah mengalami perceraian.

Perjuangan ibu mengandung saya selama 9 bulan tak bisa terbayarkan dengan apa pun. Namanya seorang anak, 90% dari 100% anak pasti ingin sekali membahagiakan orangtua. Akan tetapi banyak juga anak rusak karena orangtuanya broken home. Di sini saya akan bahas bagaimana bisa hidup dengan baik walaupun tanpa ayah.

Pertama, melatih disiplin

Bagi kebanyakan remaja, jika dari pihak orangtua terjadi perceraian, mereka akan melakukan sesuatu yang menurut mereka dapat menghibur diri atau membuatnya tenang. Apa itu yang bisa membuatnya tenang atau menghibur? Tidak lain yang sangat marak ialah miras, pergaulan bebas.

Lalu apa gunanya melatih disiplin? Yaitu untuk mengurangi hal-hal negatif yang ada dipikiran kita. Pasti kebanyakan anak remaja yang orangtuanya mengalami broken home akan berpikir, ah ibuku cerai terserah aku mau ngapain, aku juga tidak terurus. Kemungkinan itu yang biasanya mereka pikirkan.

Kedua, menuruti aturan ibu

Setidaknya jangan pernah sesekali membantah omongan ibu. Karena tidak ada ibu atau orangtua yang akan menjerumuskan anaknya ke jalan yang salah. Walaupun ada, mungkin hanya beberapa saja.

Ketiga, mencari aktivitas (kesibukan)

Nah, usahakan kita punya kesibukan, kenapa harus punya kesibukan? Karena jika kita hanya melamun tanpa ada aktivitas, ke depan kita akan menjadi remaja yang nakal. Karena itu, paling tidak kita punya kesibukan entah itu membantu merawat anak kakak, atau hal-hal kecil lainnya seperti membantu belanja, membantu bersih-bersih rumah, dan lain-lain.

Keempat, semangat bersekolah

Untuk memperkuat diri kita hidup tanpa ayah, tanpa diurus ayah, setidaknya kita bisa menuruti keinginan ibu agar tetap sekolah. Carilah ilmu untuk masa yang akan datang. Apa tujuannya? Suatu saat kita akan butuh bahkan sangat butuh sekali (ijazah) dari kita SD sampai SMA.

Supaya nanti kita bisa membantu ibu, setidaknya kita lulus SMA. Tujuannya kita bisa bekerja paling tidak di perusahaan. Perusahaan itu akan membutuhkan ijazah terakhir untuk jaminan bekerja. Dan jika kita sudah bekerja, kita dapat meringankan beban ibu kita walaupun tanpa campur tangan seorang ayah sedikitpun, dan otomatis ibu kita akan bangga.

Kelima, melatih kemandirian

Untuk yang kelima ini, kita bisa cari pekerjaan atau apa pun yang sekiranya tidak merepotkan ibu. Kenapa saya bilang ibu, tidak orangtua? Kalian sudah tahu, karena sejak awal kita membahas soal hidup tanpa ayah. Oke, usahakan kita punya penghasilan agar kita terbiasa mandiri.

Mungkin salah satu dari kalian ada yang bertanya, “Di waktu SMA ini kita akan bekerja seperti apa?”

Kita nggak usah bingung untuk pekerjaan, saya mengalami sendiri, jika ada seseorang bilang cari kerja itu susah, maka itu salah besar bagi saya pribadi. Mungkin saja mereka yang mencari pekerjaan tidak mau berusaha lebih keras, melainkan hanya sebatas bertanya ke teman saja.

Kenapa saya bilang salah besar? Jika kita mau berusaha, mau capek, di mana pun kita berada, kita akan mendapat pekerjaan, cuma masih banyak orang yang mencari pekerjaannya langsung jalan-jalan panas-panasan, ya mungkin bagi dia itu usaha, tapi sebenarnya dengan duduk manis kita buka smart phone, masuk ke akun google dan masukan alamat portal loker, kita akan menemukan begitu banyak pekerjaan yang sesui dengan kemampuan kita.

Keenam, fokus ke depan (tujuan)

Sebelum saya bahas yang satu ini, mungkin kalian semua ada yang pernah mendengar pertanyaan kenapa kaca depan mobil dibuat lebih besar daripada kaca spion? Kenapa begitu? Karena saat berkendara kita selalu fokus ke depan dibandingkan melihat kaca spion. Mungkin hanya sesekali saja kita menengok kaca spion untuk melihat keeadaan belakang mobil. Itu artinya, jika kita sudah mempunyai perencanaan matang untuk masa depan, boleh sekali-kali saja kita menghadap ke belakang.

Bolehlah melihat ke belakang hanya untuk melihat kesalahan yang dulu, agar ke depannya kita tidak lagi mengulang kesalahan yang sama. Maka dari itu, walaupun tanpa ayah kandung kita harus bisa bangun dari keterpurukan karena perceraian mereka. Jangan dengarkan apa kata tetangga ataupun orang lain yang mencacat diri kita, terus memandang ke depan menggenggam erat prinsip, dan planning untuk kesuksesan di masa yang akan mendatang.

Jangan menunggu nanti, esok atau lusa, tetapi apa yang bisa kita kerjakan hari ini, waktu ini, kerjakanlah!  

Oleh: N. Yudhi S.

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan