Bagaimana Caraku Bisa Benar-Benar Mencintaimu, Ya Rasul?

Setelah beberapa waktu tak muncul karena sakit, Rasulullah saw menaiki mimbar di masjidnya. Di ujung ceramahnya, beliau bertanya, “Adakah aku masih punya utang kepada siapa di antara kalian? Sesungguhnya aku takkan lama lagi akan menghadap Allah dan tak ingin ada tanggungan utang ….”

Para sahabat terdiam, menekur, terisak menangis. Hari perpisahan itu semakin dekat.

Di tengah kesunyian nan murung itu, terdengar suara Ukasyah bin Muhsin. Ia berkata, “Saat Perang Uhud, Rasulullah saw mencambuk kuda yang ditunggangi, tetapi saya yang berada di belakang persislah yang kena cambuk itu. Apakah itu bisa dianggap utang?”

Rasulullah saw mengangguk. “Lalu bagaimana caraku membayarnya?”

“Aku ingin memberikan cambukan yang sama padamu, wahai Rasul ….”

Para sahabat tersentak. Rasulullah saw meminta Bilal bin Rabah mengambil cambuk di rumah Fathimah. Kepada Fathimah diceritakan perihal tuntutan cambukan itu kepada Rasulullah saw. Fathimah menangis dan berkata, “Biar aku saja yang menggantikan ayahku untuk dicambuk ….”

Bilal tiba kembali di masjid. Rasulullah Saw meminta Ukasyah mendekat padanya di mimbar. Pada langkah kesekian Ukasyah mendekati Rasulullah Saw, berdirilah Abu Bakar Ash-Shiddiq. Mencegat langkahnya.

“Cambuklah aku sesukamu, wahai Ukasyah ….”

Rasulullah Saw mencegahnya, “Ini urusanku sama Ukasyah, jangan halangi ….”

Ukasyah kembali maju. Lalu berdirlah Umar bin Khattab. Mencegat langkahnya dengan tubuh besarnya.

“Cambuklah aku saja sesukamu, Ukasyah ….”

Rasulullah Saw mencegahnya, “Ini urusanku sama Ukasyah, jangan halangi ….”

Ukasyah maju lagi. Menegaklah Ali bin Abi Thalib menghalangi laju Ukasyah.

“Cambuklah aku sesukamu, Ukasyah ….”

Rasulullah saw mencegahnya, “Ini urusanku sama Ukasyah, jangan halangi ….”

Ukasyah kembali maju. Kali ini ia dihalangi Hasan dan Husein. “Kasihanilah kakek kami, Wahai Ukasyah, cambuklah kami sepuasmu ….”

Rasulullah Saw menghalanginya.

Ukasyah pun kini telah berhadapan dengan Rasulullah Saw. Cambuk digenggamnya erat-erat dengan gemetar. Ia berkata, “Wahai Rasul, dulu saya kena cambuk dalam keadaan tidak pakai baju atas. Agar adil, mohonlah buka baju atasmu ….”

Para sahabat sungguhlah gemas kepada sikap Ukasyah, tetapi mereka sepenuhnya patuh pada Rasulullah Saw. Rasul pun membuka baju atasnya.

Tepat saat bajunya terbuka, Ukasyah menghambur memeluk erat tubuh Rasulullah Saw dengan air mata deras berjatuhan. Ia menangis sejadi-jadinya.

“Ya Rasulullah, maafkan aku. Aku tahu tubuhmu takkan tersentuh api neraka dan aku menginginkan hal yang sama dengan tubuhku. Sebelum tubuhmu pergi, aku ingin menyentuhkan tubuhku pada tubuhmu. Maafkanlah sikapku ….”

Rasulullah Saw menangis, para sahabat semasjid pun menangis. Lalu bergiliran mereka memeluk tubuh Rasulullah Saw.

Rasul Saw kemudian berkata, “Jika kalian ingin tahu calon ahli surga, Ukasyah bin Muhsin inilah orangnya, karena saking cintanya ia kepada Rasulullah Saw ….”

***

Orang-orang, para sahabat, yang cinta sepenuh cinta kepada Rasulullah Saw, ajaran-ajarannya, menyediakan diri untuk mengambil posisi tanggung jawab atas risiko dicambuki Ukasyah. Sebegitu agungnya rasa cinta yang berkobar di hati meraka kepada junjungannya.

Kita yang muslim-muslim akhir zaman ini tak lagi sezaman dengan Rasulullah Saw. Lantas, bagaimana cara kita menunjukkan cinta yang sebenarnya cinta kepadanya?

Tak mungkin lagi saya meniru cara Ukasyah untuk memeluk tubuhnya, menyentuhkan kulit saya dengan kulitnya.

Lalu bagaimana?

Hanya ada satu jalan yang tersedia kini: menjalankan ajaran-ajarannya, meneladani akhlaknya, dalam keadaan lapang dan sempit, suka dan duka.

Akhlak, ya, akhlak karimah. Inilah praktik hidup muslim yang makin ke sini terasa making langka. Padahal semua kita tahu bahwa hanya akhlak karimah warisannya lah yang bisa kita teladani, tiru, dan serap semaksimal mungkin kini–selain ajaran-ajarannya terkait ‘ubudiyah.

Saya nukilkan satu saja riwayat tentang keagungan akhlak Rasulullah saw, yakni ketika Rasulullah Saw diludahi oleh seorang Yahudi yang membencinya dan beliau tidak membalasnya sama sekali. Beliau yang punya kekuatan, tentara, para panglima perang, memilih diam. Tak membalas.

Padahal andai mau, lumatlah si Yahudi itu.

Ketika suatu hari beliau mendengar si Yahudi itu sakit, dan tak ada seorang pun sekaumnya yang menjenguk, Rasulullah Saw lah yang menjenguknya, menyentuhnya, menghiburnya.

Allah karim….

Allahumma shalli wa sallim ‘ala sayyidina wa maulana Muhammad ….

Bagaimana akhlak seluhung itu bisa dilakukannya di tengah kekuatannya sebagai pemimpin umat Islam?

Tertaklukkannya hawa nafsu. Ya, hawa nafsu.

Inilah persoalan terbesar kita hari ini: begitu mudahnya kita, bahkan iman kita, diberangus oleh gejolak bara hawa nafsu. Segala bentuk hawa nafsu, seperti kesombongan, kemarahan, kebencian, sentimen, hasud, iri, dengki, agitasi, hingga keputusasaan.

Kita sejatinya sangat mengerti bahwa hawa nafsu senantiasa menyuruh dan mendorong kepada keburukan, kekejian, dan kemungkaran. Ayatnya jelas: innan nafsa la-ammaratun bis su’, sesungguhnya hawa nafsu mendorong kita kepada keburukan.

Haditsnya juga jelas: perang paling besar yang akan kalian hadapi setelah besarnya perang Badar adalah memerangi hawa nafsu.

Secara logika paling dangkal pun kita semuanya mafhum bahwa (umpama) dalam berbisnis (kerjasama) pantanglah hukumnya untuk menempatkan diri lebih tinggi ketimbang mitranya, siapa pun dan apa pun. Berapa banyak di antara kita yang merendahkan pundak dan kepala dan suara untuk mempraktikkan konsep kesetaraan dan keadilan kerjasama itu?

Dalam berdagang, amanah amatlah utama, misal lainnya. Mau bagaimanapun dan apa pun, harus selalu mengedapankan keamanahan. Amanah jelas adalah kemampuan memikul kepercayaan, komitmen, dan etika. Siapa yang melanggar suatu amanah, sekecil apa pun, itu dapat dimasukkan ke dalam golongan munafik.

Orang-orang kampung yang mengumpulkan uang dengan susah payah demi bisa berangkat umrah, mencium baitullah, shalat di Masjidil Haram, dan ziarah ke Raudhah, bagaimana bisa begitu mudahnya ditikung, dikadali, dikhianati. Di kemanakan ajaran amanah itu? Di kemanakan ayat-ayat Allah yang secara tegas melarang dharar dan gharar dalan suatu kerjasama?

Lalu, dengan seabrek perbuatan nyata yang sangat bisa dipanjangkan dengan luar biasa, ya kelakuan-kelakuan kita sehari-hari, apa lagi gerangan yang tersisa sebagai bukti nyata cinta kita kepada Rasulullah Saw?

Apa coba?

Tak ada. Bahkan dapat diklaim demikian adanya.

Sebentar-sebentar kita menyindir, menghina, menghujat, menjatuhkan, atas nama apa-apa yang kadang kala celakanya kita tak benar-benar mengerti sesuatu di balik suatu hal yang kita komentari itu.

Sebentar-sebentar kita curhat ke Fesbuk tentang suami/istri, anak, orang tua, saudara, teman, tetangga, dan bahkan orang-orang yang tak secuil pun kita kenal dan punya urusan dengan kita. Atas nama apa semua itu?

Apa pun atas namanya, dan halimun-halimun itu selalu menyelubungi akal sehat dan apalagi rohani kita, apakah Rasulullah Saw pernah memperlihatkan akhlak demikian? Tidak. Sama sekali tidak.

“Apakah kau akan membelah dadanya untuk mengetahui adakah iman di hatinya?” begitu ujaran Rasulullah Saw kepada sahabatnya yang hendak membunuh seseorang yang bersyahadat di kala nyaris dipancung kepalanya.

Shallu ‘alan nabi, sosok yang kita dambakan syafaatnya kelak di yaumul hisab, tetapi, ya Allah, ya Ilahi, astaghfirullah–nyaris sama sekali kita tak mencintainya dengan tulus dalam bentuk meneladani akhlak-akhlak karimahnya.

Oleh: Edi AH Iyubenu.

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan