Bagaimana Mungkin Kita Bisa Menipu Diri Sendiri dan Menipu Allah?

Dalamnya lautan siapa yang tahu, dalamnya hati siapa yang tahu.

Yang tahu jelas hanyalah pemilik hati itu dan Allah. Itu pun jika kamu beriman dengan sebenar-benarnya iman, menjadikannya prinsip agung dalam kehidupanmu, bahwa Allah Maha Mengetahui segala apa yang terbetik di dalam hati. Apalagi yang dituliskan, yang diucapkan, yang dijanjikan, diproklamirkan.

Begitu.

Jika hari ini makin sulit buat kita untuk membedakan suatu ucapan itu benar, abu-abu, dan dusta, itu sudah pasti diakibatkan oleh makin memar-bulirnya mutu iman di hati setiap kita.

Begini misal sederhananya. Ucapan “insya Allah” dalam suatu janji, kita tahu, menunjukkan dua hal: pertama, ia berazzam untuk menepati janjinya sekuat tenaga tetapi ia pun menyadari bahwa Allah lah yang menjadi penentu final apakah ia akan mampu mewujudkannya ataukah ada halangan kemudian.

Kedua, ia menjadikan Allah sebagai kamuflase ketidaksungguhan, bahkan dusta, yang sedari diucapkan telah nyata di dalam hatinya.

Yang manakah yang paling banyak kita lakukan sendiri atau kita saksikan diperagakan oleh orang-orang di sekitar kita?

Jawab sendiri, yes.

Baiknya kita bertanya pada diri sendiri kini dengan cara begini:

Bagaimana mungkin ya kita (atau kalian) sanggup mengusung dusta, kepalsuan, atau kamuflase yang nyata bersemayam di hati dan kita kemas ia dengan sedemikian molek dan indahnya?

Frasa “bagaimana mungkin” saya maksudkan untuk menghadirkan kesan impresif di dalam hati kita soal “kok bisa terjadi”, lalu diolah oleh nalar logis kita untuk mendapatkan “analisis anomalinya” alias kejanggalannya, ketidaklogisannya.

Begini maksud saya.

Nyata kita iman pada Allah, kan. Insya Allah. Kita semua berazzam dengan sepenuh jiwa pada hal tersebut.

Iman tersebut jelas menghantar kita untuk tunduk mutlak kepadaNya. Di antara peringatannya dalam al-Qur’an, sebagaimana dituturkan surat al-Baqarah ayat 8-10, ialah:

Di antara manusia ada yang mengatakan, ‘Kami beriman kepada Allah dan hari akhir, padahal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman.

Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka justru hanya menipu dirinya sendiri tetapi mereka tak menyadarinya.

Dalam hati mereka ada penyakit, lalu oleh Allah ditambahkanlah sekalian penyakitnya, dan bagi mereka disiapkan siksa yang pedih, diakibatkan oleh kedustaan mereka.”

Sang mukmin tentu saja takut pada peringatan dan ancaman Allah Swt di ayat tersebut. Masih segambreng banget banyaknya ayat-ayat sejenis dalam al-Qur’an.

Tapi, faktanya, kita ini masih saja melakukannya ya, dalam pelbagai bentuk dan modus dan tujuannya. Iya, kita! Semua kita!

Kok bisa, ya?

Bagaimana mungkin, ya?

Jawabannya adalah adanya penyakit di dalam hati kita, yang menggerogoti iman kita. Penyakit itu bisa beragam bentuknya: dari wahm (cinta dunia yang berlebihan), sombong macam iblis, hingga putus asa pada ujian Allah.

Apa pun bentuk penyakit yang diembuskan oleh hawa nafsu (setan) ke dalam hati kita, ya apa pun, jika terus kita lanturkan, ntar-ntarkan, misal karena memilih percaya akan hidup panjang dan nantilah bisa bertaubat, justru Allah akan menambahkan serangan penyakitnya.

Sehingga, yang terjadi kemudian bukanlah pertobatan, tapi makin lesaknya terjerumus ke dalam kafasikan, kemaksiatan, dan kemungkaran.

“Jika saya dapat rezeki bulan ini, akan saya sedekahkan sebagiannya.” Misal begitu azzam kita.

Lalu datang benarlah rezeki itu.

Kita tak mengeksekusinya, menundanya, dengan dalih: nanti saya wujudkan, Ya Allah, sekarang masih banyak kebutuhan mendesak.

Datang lagi rezekiNya.

Tunda lagi.

Terus begitu. Jadilah kita bakhil, medit, ingkar janji kepada bahkan Allah. Seolah-olah Allah tak tahu isi hati kita yang sejatinya, seolah-olah kita yang lebih tahu kapan umur kita akan berakhir, seolah-olah kita lebih mengerti rezeki kita akan berlimpah tahun depan.

Allah pun kita tipu ….

Model yang sama juga kerap kita praktikkan pada sesama. Sesama manusia, baik itu yang berbentuk hak atau kewajiban.

Bila kepada Allah Swt saja kita bisa dan sanggup menipu, apalagi kepada sesama manusia? Sudah pasti akan lebih legam! Kelam! Kejam!

Ini adalah zaman di mana kita bahkan sangat sanggup tega menjadikan label-label agama, ayat-ayat suci, hadits-hadits Rasulullah Saw untuk mendustai Allah dan Rasulullah Saw!

Ini adalah hari di mana kita punya kehebatan paripurna dalam menggadaikan nama agung Allah dan Rasulullah Saw untuk memuluskan kepentingan hawa nafsu kita sendiri (dari nafsu harta, kekuasaan, hingga syahwat)!

Ini adalah waktu di mana Allah dan Rasululah Saw kita jadikan olok-olok dan permainan sepanjang kepentingan dan tujuan duniawi kita terjalankan.

Kepada orang-orang demikian, ayat 10 dari al-Baqarah itu tandas mengancam: “… disiapkan siksa yang pedih, diakibatkan oleh kedustaan mereka.”

Tidak takutkah kita?

Tidak gemetarkah hati kita?

Fantahidir innakal muntadhirun, tunggulah sesungguhnya kalian benar-benar telah ditunggu….

Allah, Allah, Allah, ampuni durja kami ….

Oleh: Edi AH Iyubenu.

Tinggalkan Balasan