“The food you eat can either be the safest and most powerful form of medicine or the slowest form of poison. Makanan yang kau makan bisa jadi adalah obat paling aman dan paling ampuh, atau bisa jadi bentuk paling lambat dari racun.” –Ann Wigmore.

***

Duh, segar banget rasanya lihat sayuran hijau-hijau di kebun belakang rumah milik ayah mertua. Beliau sendiri yang menanam bibitnya, menyiraminya setiap pagi, tapi yang panen kami—anak-anaknya. He-he-he ….

Tak pernah terbayang sebelumnya kalau saya bakal punya mertua seorang petani. Secara saya lahir dari keluarga besar pedagang dan seringnya main di pasar. Pikir saya, bisa jadi saya nikah dengan cewek yang dibesarkan dari keluarga pedagang juga. Eh, jodoh siapa yang tahu ya?

Saya menikah dengan dia yang dibesarkan dari keluarga petani. Nah ini, ternyata kejutannya banyak sekali.

Salah satunya, betapa melimpahnya tanaman sayuran di kebun belakang rumah itu. Karena rumah orang tua saya di dekat kota dan sama sekali tidak punya halaman depan dan belakang, jadinya tidak pernah berkebun. Otomatis segala keperluan bahan makanan sehari-hari beli di Mbak Sayur yang tiap pagi datang ke rumah. Setelah beli sayur, lalu dimasak atau disimpan dulu di kulkas.

Tetapi beda sekali dengan mertua yang sangat asyik menanam sayuran yang dibutuhkan sehari-hari. Begitu pengin masak, tinggal petik dan diolah langsung. Segar sekali sayurnya. Beda kalau sayuran yang beli dari Mbak Sayur itu kadang sudah ada yang agak layu.

Bisa jadi karena itulah, meskipun sudah sepuh (tua), fisik mertua tetap terlihat segar dan geraknya masih sangat lincah. Tiap hari beliau masih mengurusi sawah dan kebun.

“Selain hemat,” kata beliau, “sayuran ini juga sehat.”

Karena saya lulusan fakultas ekonomi, jelas sekalilah terlihat kalau bisa menanam sayur sendiri itu jauh lebih hemat. Tetapi kalau untuk sehat atau tidaknya, saya sama sekali belum begitu paham. Karenanya, saya kemudian membaca bukunya Dr. Handrawan Nadesul, yang berjudul Sehat Itu Murah. Lagi-lagi saya memilih buku itu karena judulnya ada kata: murah.

Secara tegas, di halaman 119 di buku itu, Dr. Handrawan menyarankan agar kita menjauhi segala jenis makanan olahan pabrik, buah dan makanan impor, serta sumber makanan buatan, lebih-lebih bahan makanan yang sudah melalui rekayasa genetik.

Solusinya jelas, yakni kita disarankan memilih bahan makanan yang berasal dari alam langsung. Istilahnya produk lokal. Yakni tanaman yang dibudidaya tanpa diberi pupuk buatan (kimiawi), melainkan pupuk kandang dan tanpa insektisida.

Lalu yang paling dianjurkan—ini nilainya tertinggi—ialah bahan yang diperoleh dari pekarangan rumah sendiri. Cabe segar, kangkung segar, bayam segar, dan tomat segar. Itu semua ada di kebun belakang rumah! Semuanya dimasak dalam keadaan masih segar, atau bahkan dimakan saat masih mentah. Itu keren sekali.

Karena menurut Dr. Handrawan, sayur bayam akan rusak oleh proses oksidasi. Yakni rata-rata sayur mayur akan berubah sifat bila disiangi tidak dalam air, atau memasaknya dengan wadah metal alumunium dan dengan suhu terlampau panas.

Nah, ada satu kebiasaan saya sedari kecil yang sampai sekarang masih suka saya lakukan. Apa itu? Makan tomat bulat yang ukurannya kecil dan wortel. Tapi dulu, saya dapatkan tomat dan wortel itu bukan dari kebun, melainkan Simbah yang jualan di pasar—jualan sayuran—membawanya tiap hari.

Tomat dicuci bersih, lalu dimakan saja seperti sedang makan apel. Enak sekali. Ternyata oleh Dr. Handrawan, dituliskan di bukunya tersebut halaman 120, itu adalah cemilan sehat. Ketimbang makan snack yang hasil produk (olahan) pabrik.

Kebanyakan suku-suku yang tinggal di pedalaman—deket hutan dan berkebun—penduduknya banyak yang berusia sampai tua sekali dan tetap awet muda. Setidaknya, meskipun sudah tua, mereka masih kuat melakukan perjalanan jauh dan masih bisa memanjat pohon tinggi. Penyebabnya sudah jelas, mereka makan umbi-umbian, kacang-kacangan, padi-padian, dan buah-buahan yang masih segar. Kita bisa melihat pada mojang Sunda yang gemar sekali lalapan mentah, sungguh kulit mereka tampak segar.

Tapi apa yang terjadi kota, sungguh perlu kita waspadai. Di berita-berita, kita sudah mendapatkan banyak sekali informasi tentang munculnya produk makanan yang diberi bahan pengawet. Mulai dari saus tomat, kecap murah, sirop diberi pewarna dan pemanis berlebihan. Selain merusak badan, bahan-bahan berbahaya tersebut sama sekali tidak menyehatkan.

Bahkan Dr. Handrawan menuliskan, makanan seperti itu bisa menjadi pencetus kanker jika dikonsumsi untuk jangka waktu yang lama.

Orang-orang Barat sendiri, saat ini, sudah mulai menyadari kesalahan pola makan mereka. Mohon maaf, ini tidak menyebut merek, adanya makanan seperti burger, hot dog, kentang goreng, dan roti putih yang bersifat baratisasi itu malah kurang sehat.

Kenyataannya, semua makanan yang dianggap lebih modern itu telah mengalihkan perhatian kita dari makanan alami. Parahnya, seringkali makanan yang lebih alami dan segar malah disebut sebagai makanan orang kuno.

Tapi kabar baiknya, beberapa orang kota pun sudah menyadari hal tersebut, kemudian mereka memilih untuk kembali hidup sehat. Salah satunya mereka kembali mengonsumsi sayuran dan buah-buahan yang ditanam melalui sistem hydroponics. Setidaknya mereka lebih hemat lahan, karena memang tidak ada pekarangan yang luas, sehingga model menanamnya bertingkat (ke atas) melalui alat-alat khusus. Bahkan sekarang ada juga orang yang ternak lele memakai gentong bekas.

Kalau orang Barat harus menunggu panen nun jauh di pinggiran kota. Selain itu, mereka sangatlah sibuk dengan aktivitas (kerja) sehari-hari sehingga apa-apa inginnya serba instan. Buah impor yang dikonsumsi pun bisa jadi dipetik entah sudah berapa bulan berselang. Itu pun mereka harus membayar lebih mahal untuk mendapatkan buah impor. Sudah buahnya mahal, tak segar pula. Duh.

Karena itulah, sungguh apa yang dilakukan oleh bapak mertua saya tadi adalah langkah yang tepat untuk hidup sehat dan murah. Meski memang butuh susah payah di awal—karena harus menanam sendiri—setidaknya sudah punya tabungan sayuran ke depannya. Meski begitu, teman saya pun pernah memberi solusi kepada orang-orang yang sibuk.

Dia buka toko sayuran segar yang langsung diambilnya dari petani. Cara pemesanan melalui aplikasi (online). Jadi malam hari ia mendata siapa saja yang pesan, lalu paginya diantar kepada konsumen. Sayurnya benar-benar tampak segar dan dibungkus plastik bersih.

Nah, bagaimanapun caranya, yang penting kesadaran kita untuk hidup sehat—yang dimulai dari mengatur pola makan sehat—harus segera dijalani setiap hari. Bagi seorang muslim/ah sudah jelas, semua makanan dan minuman yang dikonsumsi haruslah memenuhi syarat halal dan tayib (baik, tidak merusak kesahatan tubuh).

Jadi impian kita untuk memiliki tubuh yang sehat tidak lagi sekadar isapan jempol.

Setuju?

Oleh: Dwi Suwiknyo.

Ilustrasi dari sini.

Facebook Comments
error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: