Bagaimana Sih Menyikapi Tetangga yang Suka Gosipin Kamu?

Apa yang kamu pikirkan mengenai diri kamu jauh lebih penting daripada apa yang orang lain pikirkan mengenai kamu.” (Seneca)

***

Hidup dengan tetangga memang punya tantangan tersendiri. Karena di kehidupan bertetangga, masing-masing tetangga memiliki watak yang berbeda. Ada yang ramah, cuek, keras kepala, dan lain sebagainya. Apakah ada tetanggamu yang tidak suka atau bahkan malah usil atas kehidupanmu?

Kamu pasti pernah mengalaminya, kan? Hidup di desa yang tetangganya sangat cerewet. Apakah tetanggamu tidak punya pekerjaan yang labih penting? Kok setiap hari selalu ngerumpiin tetangga lainnya? Ya … kemungkinan juga dia iri dengan keluarga kita.

Jika kamu juga mengalaminya, apa yang kamu rasakan saat menjadi buah bibir yang tidak enak di mata tetangga kamu. Mangkel, jengkel, tapi apakah kamu ingin marah-marah sama tetanggamu?

Nah, berikut ini ada beberapa kiat dari aku untuk menghindari omongan miring dari tetangga:

Cuek dengan apa yang dia omongkan.

Sering kali aku dan keluarga dijadikan bahan omongan (rumpi) oleh tetanggaku. Apa lagi kalau aku habis pulang main, kamu bisa bayangin? Betapa semangatnya tetangga mendongengkanku. Tapi aku tidak pernah mau membahasnya atau membalas omongannya. Abaikan aja omongan tetangga nggak penting juga kan?

Seperti yang kerap aku rasakan, setiap kali aku main udah disindir aku pulang diomongin. Apakah kamu juga mengalaminya juga? Alhamdulillah ya kalau tidak, hehehe. Tidak ada kata bosan tetanggaku ngomongin aku, entah apa yang mereka omongin aku juga nggak paham. Tapi kayaknya aku sangat buruk di mata tetanggaku.

Yang kedua, pura-pura tidak tahu.

Kebiasaanku jika udah melihat tetangga berkumpul jika aku lewat di depan mereka pasti akan dijadikan bahan obrolan yang sangat hangat. Tapi aku ya lewat-lewat ajah tanpa menghiraukan tetanggaku. Jika mau ditanggapi juga hal yang nggak penting kan?

Pada suatu hari aku sedang ada acara nari di kabupaten Batang, pada saat aku mau keluar rumah ternyata sudah banyak tetangga yang pada kumpul. Dan aku sempat mendengar kata-kata dari tetangga aku seperti ini: orang kok kerjaannya ngeluyur (main), buat apa sekolahnya?

Kira-kira seperti itulah yang tetanggaku ucapkan. Tapi di dalam hati, aku hanya bilang: lihat ajah ke depannya.

Yang ketiga, harus ekstra sabar.

Aku hidup di dalam keluarga yang tidak utuh, tapi alhamdulillah simbah perempuan masih sangat sayang kepadaku. Masih soal rumpi ya, semua keluargaku tidak ada yang luput dari perbincangan tetanggaku, ada ajah yang diomongin. Akan tetapi mereka yang selalu ngomongin aku dan keluargaku malah tidak lebih baik dari keluargaku sendiri.

Memang susah menjadi baik di mata masyarakat, walaupun aku berbuat baik seakan-akan sifat baikku tanpa arti sama sekali di mata orang lain. Tapi Allah swt Maha Adil. Simbahku pernah disindir dengan ucapan: semakin tua kok semakin banyak pomongan (ngasuh cucu).

Kalau Simbahku sih hanya dekat jalan kaki ajah tidak sampai 5 menit sampai ke rumah cucunya. Lha sedangkan tetangga yang berkata seperti itu sekarang malah dikasih pomongan juga dari anaknya. Jika tetanggaku diminta tolong sama anaknya untuk ngasuh cucunya itu, dia harus naik bis selama kurang lebihnya 1 jam!

Jadi ya bener kata orang dulu: Wong moyok bakal mondok (orang yang meledek orang lain  bakal kembali pada dirinya sendiri), dan itu terjadi padanya.

Yang keempat, jangan nongkrong di depan rumah tetangga.

Carilah tempat nongkrong untuk menghindari tetangga, misalnya dibelakang rumah, di kamar atau di depan TV. Tapi jika tetanggamu sangat usil dengan kehidupanmu, maka dia tetap punya cara untuk melakukan kebiasaannya itu.

Jika kamu menghindar atas omongan tetangga, maka seolah-olah hidupmu dikuasai olehnya. Kamu akan merasa sangat terganggu akan adanya tetangga. Tidak ada salahnya juga kalau kamu beranikan diri untuk mengajak ngobrol secara langsung sama tetangga yang sering ngomongin kamu. Berani?

Yang kelima, jujur.

Terkadang meraka tidak sadar dengan kode-kode yang kamu berikan agar mereka menjauh. Kode apa yang dimaksud? Ya seperti kamu mengabaikan mereka, kamu cuek dan sebagainya.

Jika sikap tetanggamu masih sama juga, ya kamu jujur saja pada mereka. Katakan kepada mereka hal apa yang membuat mereka tidak suka kamu, dan jika perlu katakan juga jika kamu tidak mau menghabiskan banyak waktu untuk membahas hal yang tidak penting seperti itu.

Keenam, tanyakan kepada tetangga lainnya.

Kamu bisa silaturahim ke rumah tetanggamu yang baik denganmu dan kamu bisa tanyakan kepadanya mengapa tetangga yang lain suka ngomongin kamu. Secara otomatis kamu akan mengetahui jawabannya dari tetangga yang baik denganmu itu.

Lalu, jika semua usahamu tidak ada efeknya sama sekali, kamu bisa langsung meluangkan waktu untuk mengklarifikasi. Sebenarnya ada masalah apa dengan tetangga yang tidak suka dengan kehidupanmu? Agar kamu juga bisa mengevaluasi secara pribadi. Siap?

Oleh: N. Yudhi S.

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan