Bantu Orangtua, Jalan Rezeki Terbuka Lebar

Kondisi ekonomi keluarga yang tidak memungkinkan untuk melanjutkan kuliah, membuat saya melupakan mimpi untuk menjadi guru. Saya berpikir keras, bagaimana caranya agar lulus SMK tidak menjadi seorang pengangguran. Saya harus bekerja. Saya ingin membantu Bapak yang bekerja sebagai buruh serabutan, dan melepaskan predikat babu pada Mama yang setiap hari bekerja di rumah tetangga yang kaya raya. Bahkan Kakak saya rela menjadi TKW ke Malaysia hanya untuk menyekolahkan adik-adiknya.

Sebelum ijazah SMK diterima, saya sudah menyiapkan beberapa surat lamaran yang ditulis tangan. Persyaratan administrasi seperti Kartu Kuning, SKCK (Surat Keterangan Catatan Kepolisian) dan sebagainya telah selesai dilengkapi. Tibalah saatnya beraksi menenteng amplop coklat menuju perusahaan yang tengah membuka lowongan pekerjaan dari informasi dari surat kabar dan radio.

Ternyata banyak diantaranya perusahaan yang tidak menerima karyawan dengan penampilan yang kurang menarik, tinggi badan yang kurang memenuhi syarat serta berkaca mata minus. Penolakan demi penolakan saya terima. Saya tidak ingin menyia-nyiakan pengorbanan Bapak, Mama, juga Kakak. Saya harus terus mencari kerja.

Untuk beberapa saat, ambisi saya untuk bekerja di perusahaan swasta terhenti. Pak ustaz yang pernah menjadi guru ngaji, meminta saya untuk membantu beliau mengajar di madrasah diniyah yang dikelolanya. Santri madrasah semakin banyak, sementara pengajar di sana hanya ada 2 (dua) orang saja, dia dan istrinya.

Ya Allah, jika saya menerima tawaran untuk mengajar anak-anak madrasah, sudah pasti saya tidak digaji. Hanya imbalan pahala yang akan saya dapatkan. Itupun jika ikhlas. Tapi jika saya menolaknya, saya gak enak hati sama mereka. Lagian saya masih nganggur. Ah, betapa susahnya mencari kerja. Saya tidak langsung mengiyakan ajakan Pak Ustaz, begitu banyak pertimbangan saat itu.

Dengan ilmu agama seadanya, saya putuskan membantu Pak Ustaz mengurus anak-anak Madrasah Dinniyah Awaliyah. Sebab panggilan kerja tak kunjung tiba, panggilan wawancara pun tak pernah saya dapatkan.

Beberapa bulan berlalu, saya merasa benar-benar membutuhkan pekerjaan yang menghasilkan rupiah. Namun hati kecil saya masih betah untuk tetap mengamalkan sedikit ilmu di tempat yang pernah menjadi awal perkenalan saya dengan kitab kuning.

“Pak, mohon maaf saya libur dulu seminggu. Mau ngurus persyaratan melamar kerja.” Saya minta izin sama Pak Ustaz karena ada banyak kelengkapan administrasi yang harus saya benahi untuk melamar pekerjaan pada Instansi Pemerintahan. Berkas lama harus diperpanjang kembali.

Bapak sedang menganggur, sementara gaji Mama yang hanya sebagai Asisten Rumah Tangga tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, termasuk biaya sekolah anak-anaknya. Dibesarkan dalam keterbatasan dan kekurangan tidak membuat saya berkecil hati. Saya yakin, Allah akan memberikan pekerjaan yang tepat untuk saya.

“Ma, Pak doain ya, mudah-mudahan betah.” Saya berpamitan untuk pergi bekerja sebagai sales kompor di daerah Tasikmalaya. Mungkin itulah saatnya saya belajar mandiri, jauh dari keluarga dan mengenal dunia kerja. Tak lupa pula berpamitan ke Pak Ustaz, Bu Ustaz serta anak-anak madrasah yang akan saya tinggalkan dengan berat hati tentunya.

Pekerjaan sebagai sales itu tidak mudah. Diperlukan mental baja ketika menawarkan produk dari rumah ke rumah yang tidak jarang mendapat penolakan bahkan cibiran dan senyum sinis. Saya sempat menangis ketika tidak juga mendapat orderan. Semua orang yang saya datangi menatap saya sebelah mata.

Perjuangan seorang sales itu berat. Harus kuat terhadap panas dan hujan. Bahkan harus kuat menahan lapar ketika belum bisa menjual 1 (satu) pun barang yang dijajakan. Tidak sepeser pun uang yang saya miliki waktu itu. Beruntung Allah mengirimkan orang yang begitu baik, menerima saya dengan menyuguhkan minuman dan makanan yang mengganjal perut. Bahkan bukan hanya itu, orang tersebut membeli 2 (dua) unit kompor sekaligus, yang membuat saya girang tak terkira.

Alhamdulillah ya Allah, uang komisi itu akan saya berikan untuk Mama, agar Mama bisa membeli daster baru. Saya bergumam dalam hati, bahagia sekali. Ingin segera bertemu dengan orang yang saya sayangi.

Mobil Carry Ekstra warna kuning yang kami tumpangi, berhenti di SPBU Singaparna, Tasikmalaya. Saya dan beberapa sales lainnya membuka jendela kaca mobil. Penasaran terhadap teriakkan heboh para penjual koran yang diserbu pembeli. Ternyata hari itu, pengumuman kelulusan seleksi CPNS. Saya pun membeli 1 (satu) eksemplar surat kabar.

“Koran, koran, penguman CPNS dibuka, korannya Pak, Bu.”

“Ah hari gini, jangan mimpi jadi Pegawai Negeri kalau gak punya uang jutaan, mah. Gak bakal bisa lolos kalo modal dengkul mah, harus nyogok Mang.” Celetuk Pak Sopir dengan spontan ketika melihat para penjual koran berseliweran.

Saya tak bisa berkata banyak saat membaca nama saya tertera di surat kabar sebagai peserta yang lulus seleksi CPNS, kategori SMK Jurusan Sekretaris. Teman-teman sesama sales memberi selamat. Mereka menyarankan agar saya pulang secepatnya dan berpamitan pada majikan.

Sesampainya di rumah, Mama menyambut saya dengan tangis bahagia. Ternyata Mama sudah mengetahui kabar mengejutkan itu dari banyak orang. Kami mengucap syukur yang tak terhingga, akhirnya Allah menjawab setiap doa yang selama ini kami mohonkan.

Oleh: Yeni Iyenx.

Tinggalkan Balasan