“Kamu tidak akan jadi orang, kalau kamu nekat keluar kerja sekarang!”

Deg. Hatiku bagai disambar petir malam itu. Sederet kata yang meluncur begitu keras dari bibir Bapak menghentakkan sisi sensitifku. Aku tak menyangka beliau sangat marah mendengar keputusan itu. Bapak yang biasanya tidak banyak berbicara dan lebih sering berkata ‘terserah’ kalau kumintai pendapat, tiba-tiba bereaksi sebaliknya. Kulihat sekilas muka Bapak merah padam, menahan gemuruh di dadanya.

Pandangan Bapak yang tajam makin menyiutkan nyali. Sementara buliran bening di sudut mataku mulai menggenang. Aku terdiam lama dan terbenam dalam kebimbanganku sendiri. Aku tak bisa terus bertahan, tapi juga tak mau terkena sumpah Bapak yang akan menjadi bayangan hitam bagi masa depanku.

Awalnya aku memang sengaja mengutarakan keinginan untuk mengundurkan diri dari perusahaan tempatku mengais rezeki. Memang baru sebulan aku diterima kerja, tapi rasanya sudah tidak betah. Hampir tiap hari selalu ada saja kejadian yang kurang menyenangkan dari rekan-rekan kerjaku, bahkan sejak masuk pada hari pertama di perusahaan ekspor impor kayu itu. Aku dituntut harus bisa menguasai dengan cepat semua detil pekerjaan sesuai dengan job description yang kuemban. Padahal sebagai karyawan baru, tentu saja aku butuh proses yang tidak sebentar.

Namun para senior itu tidak mau tahu, mereka ingin semua pekerjaanku benar dan selesai tepat waktu. Sehingga saat aku melakukan kesalahan sedikit saja, detik itu juga aku kena marah. Kata-kata yang mereka lontarkan sangat menyakitkan dan membuatku merasa terpojok. Entah mengapa mereka bersikap seperti itu. Belakangan baru kutahu, bahwa mereka memang tidak menghendaki aku yang diterima di perusahaan ini, karena mereka sudah memiliki kandidat yang lebih tepat dibanding aku. Namun sayangnya, berdasar hasil tes memang aku yang terpilih sebagai staf baru di bagian ekspor impor, menggantikan staf lama yang resign karena alasan melahirkan.

“Kamu ngadepi gitu aja kok nyerah, cengeng sekali kamu ini. Baru sebulan kerja udah mau keluar. Nyari kerja itu susah, sekarang udah dapet malah mau keluar. Udahlah, anggep aja ini gemblengan mental supaya kamu itu jadi orang kuat!”

Aku makin terisak, merasa tidak ada yang mau mengerti keadaanku saat itu. Bapak memang benar, setelah lulus kuliah aku sempat begitu lama menanti panggilan kerja. Walau selama menunggu aku punya kesibukan memberikan les privat untuk anak-anak tetangga, tapi Bapak ingin aku memiliki status jelas sebagai seorang yang bekerja di instansi atau perusahaan.

Karena itulah Bapak benar-benar tidak ridho atas keputusanku untuk keluar kerja dan tetap memaksaku bertahan. Beliau tidak ingin melihat anaknya yang sarjana kembali bertopang dagu, hanya karena terlalu cengeng menghadapi kerasnya dunia kerja. Aku tersudut dan tak mempunyai pilihan lain. Demi baktiku pada Bapak, akhirnya aku mengurungkan niat untuk resign. Walau berat sekali rasanya membayangkan berada dalam lingkungan kerja yang sudah tidak nyaman.

Namun Bapak berusaha memberikan support agar aku tetap sabar. Satu yang masih selalu kuingat adalah saran Bapak untuk melafazkan doa Nabi Yunus ketika berada dalam perut ikan hiu. Bapak bilang kalau aku mengamalkan doa itu, maka insyaallah berbagai kesulitan dan kesedihan akan dapat terlewati dengan mudah.

Alhamdulillah, benar saja, melalui doa itu Allah kemudian memberikan berbagai kelancaran dan kemudahan dalam setiap langkahku. Ajaibnya mereka yang semula begitu sinis juga berubah menjadi sangat manis. Aku bersyukur bisa tetap bekerja di perusahaan tersebut sampai hampir dua tahun. Dan itu semua karena Bapak.

***

Dulu, jujur aku suka sekali mengeluh. Capek karena sekolah, komplain. Mengerjakan PR yang sulit, protes. Ulangan dapat nilai jelek, mengomel menyalahkan guru. Ah, kayaknya segala bentuk keluhan itu cara paling gampang untuk menumpahkan kekesalan pada sesuatu yang tidak sesuai dengan kehendakku. Tapi tidak, ketika aku menumpahkan keluhan di depan Bapak, karena beliau akan langsung menegur dengan nada keras.

Seperti saat aku pertama kali menjadi mahasiswi baru di sebuah jurusan yang sebenarnya bukan pilihanku, tapi pilihan Bapak. Ya, dulu aku memang meminta saran Bapak untuk menentukan pilihan yang kedua pada UMPTN (Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri). Sebenarnya itu terjadi karena aku bingung harus memilih jurusan apa sebagai pilihan yang kedua, setelah jurusan teknik kimia yang menjadi pilihanku sendiri.

Awalnya aku yakin akan diterima di jurusan yang menurutku mengasyikkan itu, tapi Allah berkehendak lain. Tak kunyana tak kuduga, aku diterima di fakultas pilihan Bapak–fakultas peternakan. Sungguh saat itu aku belum mempersiapkan mental sedikit pun untuk kuliah di fakultas yang bukan menjadi passion-ku. Jadi wajar kalau di masa-masa awal perkuliahan, aku sempat ogah-ogahan dan mengalami kesulitan dalam belajar, karena memang tak ada minat sama sekali.

Aku sempat berniat akan mengundurkan diri saja, tapi kemudian urung karena tak mau menambah beban pikiran orang tua. Jadilah masa awal kuliah itu penuh dengan komplain yang kubuat-buat sendiri. Kampusnya jauhlah, dosennya nggak asiklah dan sebagainya.

“Jadi anak itu jangan gampang ngeluh. Emangnya kalau kamu ngeluh, semua masalahmu akan selesai? Tidak. Justru kamu akan makin menderita karena keluhan itu. Hadapi aja semua yang ada di depanmu. Jangan pernah mengeluh pada manusia, karena sejatinya mereka lemah. Mengadulah hanya pada Allah, maka kamu akan diberi jalan keluar yang terbaik.”

Teguran Bapak kala itu menyadarkanku. Itu jadi nasihat beliau yang kusimpan sebagai bekal hidup. Bapak memang tidak banyak memberi nasihat. Tapi yang sedikit itu jadi membuatku terkenang sampai kapanpun. Akhirnya di semester kedua, aku mulai bisa menikmati kuliah di kampus ungu itu, bahkan aku bertemu jodohku di sana.

Bapak adalah pribadi yang jarang, bahkan hampir tidak pernah mengeluh. Beliau itu sosok yang kuat dan tahan banting. Setiap ada permasalahan, beliau selalu berusaha tenang menghadapinya. Walau dalam diamnya pasti juga berkecamuk berbagai macam konflik batin, namun Bapak tidak pernah mengungkapkannya.

Pernah suatu hari, sepulang mengajar, Bapak mengalami kecelakaan tunggal di jalan. Beliau terjatuh dari vespa kesayangannya, hingga menyebabkan tangan dan kakinya retak. Dokter menyarankan untuk operasi. Tapi beliau menolaknya, karena tidak mau merepotkan keluarga. Padahal kami sedikit pun tidak merasa direpotkan. Saat itu tak kudengar sekali pun keluhan dari bibir Bapak. Bahkan dua hari setelah kecelakaan itu, beliau kembali bekerja dengan langkahnya yang masih tertatih.  

“Pak, mbok ya sudah istirahat dulu, wong Bapak juga tangannya masih sakit gitu, kok. Gimana kalau mau nerangin anak-anak atau nulis di papan tulis, kalau sakit gitu?”

Wes to, aku ki ra popo, wes mari. Nek aku ning omah terus malah ra mari-mari!” (Udahlah, aku ini tidak apa-apa, sudah sembuh. Kalau aku di rumah terus malah nggak akan sembuh!)

Itu jawab Bapak setiap kali Ibu dan aku atau adik-adik memintanya untuk lebih banyak istirahat di rumah. Yah, begitulah Bapak selalu berusaha kuat di depan siapa pun, walau aku tahu beliau menahan sakit yang luar biasa. Dan kejadian seperti itu tidak hanya satu atau dua kali saja terjadi dalam hidupnya.

Bapak sering berpesan padaku, bahwa rasa sakit itu datang dari pikiran kita sendiri. Kalau pikiran kita bilang bahwa kita sehat dan kuat, maka kita juga akan seperti itu. Jadi kita harus selalu berpikiran lurus dan positif. Dan sampai saat ini Bapak selalu bisa membuktikan padaku bahwa ucapannya itu memang benar.

***

Tapi ….

Sekuat apa pun Bapak, beliau juga memiliki satu sisi sensitif di hatinya. Ini terlihat ketika aku akan mengayuh biduk rumah tangga bersama lelaki pilihanku. Bapak dan aku sempat salah paham satu sama lain. Entah mengapa Bapak jadi tak acuh padaku, seperti menyembunyikan rasa yang tak terungkap.

“Emang Bapak kenapa, Bu, kok sekarang jadi lebih cuek sama aku?” tanyaku pada Ibu.

“Ya, biasa Bapakmu, kan emang gitu, nggak mau terbuka. Bapak itu lagi mikirin kamu, kan sebentar lagi kamu mau menikah,” kata ibu dengan suara tertahan, takut menyinggung perasaanku.

“Mikirin kenapa, Bu? Bapak nggak setuju sama pilihanku?” tanyaku lagi.

“Nggak gitu. Ibu lihat Bapak itu sepertinya terkena sindrom cemburu sama anak perempuannya yang mau menikah, makanya jadi bersikap aneh gitu sama kamu.” Ibu berusaha menenangkanku.

Aku kaget mendengar penuturan Ibu tentang Bapak yang katanya cemburu. Pun tak mengira sama sekali Bapak yang bagiku bermental baja, ternyata begitu rapuh saat harus menerima kenyataan bahwa anak perempuan satu-satunya akan menempuh hidup baru bersama laki-laki pilihannya. Untuk urusan jodoh, aku memang tidak pernah sekali pun berdiskusi dengan Bapak. Aku lebih nyaman curhat dengan Ibu. Karena itu Bapak juga tak pernah bisa berbicara langsung padaku tentang kegelisahannya kala itu. Ibulah yang jadi jembatan bagi kami untuk saling bertukar pendapat dan kesan.

Beberapa bulan lamanya Bapak menjalani sindrom itu sendiri tanpa sedikit pun mengungkapkannya padaku. Sebenarnya aku kasihan, tapi aku memilih diam, daripada harus berkonflik dengan Bapak. Namun seiring berjalannya waktu, akhirnya Bapak makin mengenal calon menantunya. Perlahan dialah yang berusaha meyakinkan Bapak, bahwa putri kesayangannya telah menaruh hati pada laki-laki yang tepat.

“Jadilah seorang istri yang bisa mengerti suami ya, Wuk. Bagaimanapun keadaan suamimu, kamu harus bisa menerimanya dan musti sabar … selalu sabar. Ingat, surgamu kini ada padanya. Bapak selalu mendoakan kalian.”

Aku masih ingat, nasihat itu disampaikan Bapak beberapa hari menjelang pernikahanku. Bapak mengatakannya dengan nada berat, seperti menahan rasa sedih dan bahagia yang menyatu di dadanya. Aku hanya mengangguk terharu tak kuasa mengungkapkan betapa perasaanku juga campur aduk kala itu.

***

Kini di masa pensiunnya, aku bersyukur Bapak senantiasa masih diberi kesehatan. Meski secara fisik tidak sekuat dulu, tapi beliau masih beraktivitas dengan baik. Beliau masih senang naik motor ke mana-mana, bahkan sampai ke luar kota. Kata Bapak, kalau naik motor itu anti macet dan anti stres. Jadi beliau lebih senang berpanas-panasan atau basah oleh hujan ketimbang duduk manis di belakang setir. Ah, Bapakku memang tidak suka dilarang-larang dan diatur-atur.

Semoga Allah memberi umur yang panjang dan barokah padamu ya, Pak. Seberat apapun hidupku nanti, aku ingin sekuat dirimu, yang tak pernah mengeluh dan mengaduh pada siapa pun, kecuali pada-Nya. Maafkan, jika aku belum bisa membuatmu bahagia.

***

Oleh: Nailuss Sa’adah.

Ilustrasi dari sini.

Facebook Comments

This is a demo store for testing purposes — no orders shall be fulfilled. Dismiss

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: