kado untuk ayah di hari ayah sedunia

Bapak, Aku Tak Keberatan Menggendongmu

Bapak, masih ingatkah saat kau menggendongku menuju kamar operasi?

Aku takut sekali. Sangat takut, saat itu. Perawat datang membawa brankard (tempat tidur beroda). “Sudah siap, Pak. Mari ikut kami ke ruang operasi.”

Aku berontak. Menjerit, menangis, dan memeluk erat-erat tubuhmu yang kurus. Kau sejenak mematung, sebelum membisikkan, “Ndhak apa-apa, Le. Biar sakitmu cepat sembuh.”

Kauusap kepalaku. Kemudian menepuk-nepuk punggungku. Seolah kau adalah lelaki paling kuat yang mampu menghadapi risiko kehilangan anak akibat gagal operasi. Iya, waktu itu orang-orang menganggap sakit paling berat itu jika sudah dianjurkan untuk dioperasi. Mungkin juga sampai sekarang ketakutan itu masih sama. Apalagi kalau penyakit itu menimpa anak umur lima tahun, seperti usiaku.

Aku tak bisa apa-apa. Bahkan aku baru paham kalau saat itu aku hanya korban salah diagnosa. Itupun setelah kaupaksa aku kuliah di jurusan kesehatan, dan sekarang bekerja di rumah sakit. Aku kagum denganmu yang lapang dada dan memaafkan mereka. Bahkan sama sekali tak menaruh dendam pada mereka.

Kau bangkit dari duduk, lalu merebahkanku di atas brankard. Perawat-perawat itu memaksaku melepas pelukan atas tubuhmu. Aku semakin kencang mengerang, pun semakin berontak menangis. Sekuat tenaga kulingkarkan lengan ke tubuhmu, kucengkeram bajumu. Semakin mereka paksa, aku semakin menggila. Hingga kemudian kulihat embun mengisi sudut matamu.

“Bapak! Gendong, Bapak!”

Aku benar-benar tak mau lepas darimu, Pak. Kuyakin kau pun inginkan itu. Aku masih belum mampu menghadapi dunia sendirian.

Tak ada kereta ternyaman selain dalam gendonganmu, Pak. Maka aku pasrah ketika kaubawa tubuh kecilku menembus lorong rumah sakit, mengekor langkah perawat itu, menuju ruang operasi. Aku masih ketakutan, tapi tak lagi meraung kesetanan. Aku masih menangis, tapi tak lagi berontak dalam dekapan tubuhmu yang kurus.

Masih dalam gendonganmu: seorang perawat membekapku dengan sebuah sapu tangan. Baunya menyengat sekali. Bukan seperti wewangian yang biasa kutemui. Aku hampir tak bisa bernapas.

Aku mencoba berontak lagi. Melepaskan diri dari bekapan perawat itu, tapi kau justru membantu perawat dengan menahan tanganku. Aku kecewa, Pak. Kukira kau akan membantuku, tapi ternyata sebaliknya.

Aku merasa mengantuk dan hilang tenaga. Nyawaku seperti tercerabut pelan, dan kupikir aku sedang menuju kematian. Aku … tak ingat apa-apa setelah pandanganku mengabur, pelan-pelan kelopak mataku mengatup, lalu seperti berada dalam ruang gelap yang tak terdeskripsikan.

***

Bapak, aku pernah tertidur di punggungmu. Ketika kaugendong, sepulang menonton wayang.

“Itu kamu, Le.” Kau menunjuk satu wayang berperawakan tinggi besar.

“Kok warna kulitnya hitam?”

“Iya, tapi dia hebat.” Kau menatapku bangga. “Dulu saat kamu masih di perut ibumu, bapak sudah siapkan nama untukmu. Nama Seno, seperti nama tokoh wayang itu.”

Kau kemudian menceritakan betapa hebatnya tokoh wayang itu. Tentang kesaktian, tekad, dan segala budi luhur yang melekat pada sosok Seno (nama lain Bima Sena atau Werkudara). “Dia kalau sudah punya keinginan, ndhak akan nyerah sebelum tercapai. Wataknya keras, tapi hatinya bersih. Ucapannya tak pernah lepas dari nilai kejujuran. Dia juga akan selalu menepati janjinya.”

Betapa bangganya aku yang menyandang nama tokoh besar itu. Sosok istimewa yang membuatmu bermimpi memiliki anak sehebat itu. Bahkan kau tak ragu lagi menyiapkan nama jauh hari sebelum tahu anakmu ini akan terlahir laki-laki atau perempuan. Darimu aku belajar meyakini impian dan harapan.

Tapi maafkan aku, Pak. Aku belum mampu menjadi sehebat Bima Sena. Tubuhku kecil, ringkih, bahkan melawan kantuk pun kalah. Apalagi melawan barisan prajurit dari Kurawa.

Maaf, aku tertidur di punggungmu. Ketika kaugendong, sepulang menonton wayang malam itu. Seharusnya aku berjalan menemanimu, atau justru berada di depan. Memastikan kau aman dan tahu betapa hebatnya anakmu ini.

***

Bapak, saat tak kuat lagi menggendongku, kau tetap memberiku kebahagiaan dan jalan meraih masa depan.

Dua kebahagiaan dalam dua hari yang berdekatan. Tentu kau tak lupa hari itu kan, Pak?

Kau duduk di sampingku, mengenakan setelan beskap hijau khas Jogja. Gagah dan ganteng. Apalagi dengan senyum wibawa yang melekat dalam jenaka pribadimu. Aku kadang berpikir ingin menjadi sepertimu. Memandang hidup sebagai jalan membahagiakan orang-orang.

“Apa kamu yakin dengan pilihanmu?”

“Yakin, Pak.”

“Kalau itu sudah jadi pilihanmu, bapak berpesan: Berumah tangga itu ndhak mudah, karena harus bisa menyatukan dua keluarga. Setelah menikah, kamu harus siap meninggalkan kebiasaan masa mudamu. Karena sebentar lagi kamu akan berperan sebagai kepala rumah tangga. Jangan dengarkan omongan tetangga, karena godaan terberatnya ada di sana. Jangan sepelekan orang yang ndhak punya harta, karena kita dulunya orang ndhak punya. Justru banyak-banyaklah berbagi untuk membahagiakan mereka.”

Tentu aku tak akan melupakan pesanmu. Maka hari Jumat, tanggal 29 Januari 2010 aku mengikat hati seorang gadis. Otomatis sepaket dengan ikatan atas keluarga gadis itu. Alhamdulillah, “Sah! ….”

Tak ada seorang pun yang tak tersenyum kala itu. Bangga, haru, bahagia, bercampur jadi satu. Aku suka melihat senyum gadis itu. Yang kelak akan membantuku menjadi hebat dan membanggakanmu.

Jujur, kupilih gadis itu karena ingin membahagiakanmu. Aku tahu kau suka wayang. Bahkan kau pernah bercerita bahwa, banyak pelajaran tentang kehidupan kau dapat dari nilai adi luhung pewayangan. Memang aku melihat ada budi pekerti luhur dalam dirimu. Maka dari itu aku yakin memilih keluarga seniman karawitan sebagai besanmu.

Tepat sekali, kau menikmati lakon pewayangan yang digelar setelah resepsi pernikahanku. Sampai-sampai tak semenit pun kau memejamkan mata malam itu. Padahal pagi harinya kau harus menemaniku yang hendak menjalani sumpah profesi di kampus Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.

Iya, kau mendapatkan dua kebahagiaan dalam dua hari yang berdekatan. Pernikahan anak lelaki kesayanganmu, dan kelulusan kuliah anak kebanggaanmu. Alhamdulillah.

***

Bapak, izinkan aku menggendongmu. Aku sama sekali tak keberatan membersamai hingga akhir hayatmu.

Janggal hidupku jika jauh darimu, Pak. Sungguh kering bahagiaku jika hanya mampu membayangkan senyummu. Aku di Jogja, tak benar-benar tahu kondisimu di sana. Kau tahu? Tanpa kau bersamaku, masa depanku bisa suram.

Bapak …. Mari tinggal bersamaku.

Tolong jangan kutuk aku, jika kau merasa terlalu lama menunggu. Bukannya aku enggan segera membersamaimu, tapi keadaan memaksaku membuatmu menunggu. Masih banyak yang menyayangimu, Pak. Sehingga aku harus benar-benar memastikan mereka pun kebagian secuil waktu membersamaimu.

Bapak, maaf jika perjalananmu ke rumah baru terasa kurang nyaman. Memang rumah itu bukan milikku, tapi kuharap kau betah tinggal bersamaku. Bukannya aku tak ingin memanjakanmu dengan kendaraan termewah dan nyaman, atau tempat tinggal tanpa angsuran, tapi kau pasti paham bagaimana keadaanku. Meski aku tak pernah berkeluh soal itu, kuyakin nalurimu jitu.

Dan, kita pun melibas ratusan kilometer dengan mobil kesayanganmu. Bukan aku atau kau yang duduk di belakang kemudi. Karena kita sama-sama tak mampu mengemudi. Kau mampu beli, tapi tak mampu mengendarai. Ketika kau sehat pun lebih suka meminta orang lain yang mengemudi. Apalagi saat ini kau hanya mampu berbaring, tak sanggup bergerak mandiri.

Kau tahu? Mereka sempat ragu. Mereka pikir kau tak akan mampu bertahan dalam 16 jam perjalanan. Mereka sempat menyamakanmu dengan kerabatnya yang pernah berhenti di tengah jalan, di rawat karena tak sanggup bertahan. Akhirnya semakin drop dan ….

Aku tahu mereka pun ingin merawatmu, Pak. Namun, sebagai anak lelaki satu-satunya di rumahmu, aku punya hak untuk memintamu tinggal bersamaku. Apalagi kau sendiri sangat ingin menghabiskan sisa umur bersamaku, di Jogja. Maka untukmu aku meyakinkan mereka bahwa, tidak akan terjadi apa-apa denganmu.

Aku terkesan denganmu, Pak. Dalam kondisi yang demikian, kau sanggup melewati perjalanan dari Banyuwangi hingga Jogja dengan selamat. Meski sempat beberapa kali berhenti di masjid dan rest area, tapi kita berhasil. Akhirnya sampai juga di Jogja.

Bapak, tentu kau masih ingat gadis cantik yang dulu kaulamar untukku. Sekarang dialah kesayanganku, yang akan membantu merawatmu. Iya, dia pintar mencurahkan sayang pada suami, pun orangtua. Karena dia pula, aku tak ragu untuk membawamu ke Jogja.

Saat aku kesulitan membujukmu untuk makan dan minum obat, gadis itu yang turut menyuapi dan meminumkan obatmu. Saat kamarmu kotor dan berantakan, gadis itu dengan sigap membersihkan dan merapikan. Ketika badanmu lusuh dan berkeringat, dia yang membantu memandikan.

Maafkan aku, Pak. Kalau kau merasa kurang nyaman saat aku menggendongmu. Menaik-turunkan tubuhmu dari kursi roda. Memaksa sendi-sendimu bergerak, atau sesekali mengabaikan panggilanmu. Bukan karena aku keberatan membersamaimu, tapi itu demi kebutuhanmu. Kau harus terus berjuang, jangan menyerah tanpa meraih apa yang kau harapkan.

Bapak, semoga aku tak salah pilih teman hidup. Aku … sempat berpikir, mungkin kelak keadaanku bisa lebih parah darimu. Renta dan sakit-sakitan. Maka aku meniru langkahmu. Mencari sosok pendamping setia seperti ibu. Sosok yang mampu melahirkan putra sehebat tokoh wayang idolamu. Itulah kenapa cucu pertamamu kuberi nama Wijasena. Nama lain dari kesatria Bima Sena.

Bapak … Aku sangat rindu melihat senyummu.

Ditulis oleh: Seno Ns.

Ilustrasi dari sini.

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan