Ingatanku akan Bapak seketika terangkat kembali, ketika pada suatu malam, di tengah kerja lembur, aku menyimak kisah curhat dari salah satu pemirsa di radio. Sebut saja namanya Ayuk. Dia mengirim email yang penuh berisi pergolakan batin. Mbak Ayuk menyesal tidak menyempatkan untuk menemui ayahnya saat sang ayah sangat merindukannya.

Ayuk tinggal di satu kota besar, sementara ayahnya sendirian berada di kampung, jauh dari tempat tinggal Ayuk. Tahun-tahun belakangan Ayuk tidak pernah pulang. Telepon dari ayahnya juga tidak pernah dia jawab. Dia tenggelam oleh kesibukan pekerjaan juga rumah tangganya. Dia pikir, uang bulanan yang rutin dia kirim sudah sangat lebih dari cukup.

Tapi, penyesalannya makin membuncah, saat ayahnya meninggal dan kemudian Ayuk tahu bahwa uang yang rutin dia kirimkan selama ini ternyata utuh. Ayahnya tidak pernah mengambil, karena hidupnya sudah cukup. Beliau tidak membutuhkan uang Ayuk. Ayah mbak Ayuk itu hanya ingin bertemu dengan putrinya. Astaghfirullahaladzim…. Seketika sosok Bapak bermain-main di ruang memoriku.

Bapak sudah 16 tahun lebih meninggalkan kami. Selama itu aku masih tekun merawat semua kenangan tentang beliau. Kenangan itulah yang ingin aku bagi saat ini. Apakah itu bagian kenangan sedihnya? Bukan, jangan lagi. Semuanya telah tumpah ruah dalam buku antologi true story Kado Terakhir untuk Ayah dan Ibu.

Kali ini aku tidak ingin bercerita tentang 14 tahun perjuangan bapak melawan sakitnya, tapi tentang sisi lain yang sama sekali berbeda.

Sosok Bapak itu tinggi besar, gagah. Kesan sangar makin kental karena Bapak tidak pernah mengurangi kumis, jenggot dan jambangnya. Ya, wajah Bapak betul-betul dibingkai sempurna oleh rambut yang lebat. Tapi meski geli, aku selalu suka diciumnya setiap saat. Terutama saat berpamitan hendak berangkat sekolah.

Lalu, dengan perawakan semacam itu apa teman-temanku takut? Tadinya memang menimbulkan rasa segan. Tapi, setelah tahu kalau bapakku bicaranya kalem, mereka pun bisa santai. Malah tanpa malu bilang di depan Bapak, “Bapakmu koyo Alex Komang!” Bapak tersenyum lebar, dan membalas, “Ya … gantengan saya, lah!”

Sejak aku kecil, Bapak suka sekali memelihara burung. Hmmm, tidak hanya lazimnya burung-burung dalam sangkar itu ya, tapi ini burung puyuh yang jumlahnya berkandang-kandang! Itu sih beternak namanya. Memang, haha. Ada satu kamar di bagian belakang rumah kami dulu, yang dipakai khusus untuk meletakkan beberapa kotak dari triplek, berbentuk semacam oven, yang di dalamnya dipasangi lampu.

Di dalam kotak-kotak itulah telur-telur puyuh itu ditetaskan. Jangan ditanya seperti apa wujud makhluk-makhluk kecil itu ketika menggeliat uget-uget dari dalam cangkangnya. Hiii …, geli.

Peternakan puyuh itu tidak berumur lama. Bapak dipindah tugaskan ke kota lain, dan kami juga menempati rumah yang halamannya tak seberapa luas. Jadi episode hobi beternak puyuh selesai sudah. Hanya burung-burung yang ada di sangkar yang kami bawa pindah.

Ada satu burung yang antik. Dia burung Jalak. Entah kenapa bulu di bagian belakang kepalanya nyaris habis, jadi tampilannya mirip ‘punk’. Botak, tapi ada bulu di puncak kepala yang memanjang ke belakang, menjadi tirai untuk bagian kepala yang gundul. Teman-temanku dulu menyebutnya ‘si burung mafia’.

Lucunya, Bapak diam-diam menggerundel di belakang. Rupanya Bapak nggak terima, peliharaan kesayangannya di sebut mafia. Bhaaa, bisa sensi juga ya, Pak?

Untuk yang mengenal Bapak dengan baik, di balik pembawaannya yang berwibawa dan tenang, sebenarnya beliau orang yang suka bercanda. Hatinya yang hangat bisa tersampaikan ke orang-orang, hingga tak membuat takut untuk mendekat. Anak-anak kecil di sekitar rumah juga senang mengerumuni Bapak, kalau beliau sedang berada di halaman atau teras warung kelontong milik Ibu.

Bapak memang tidak bisa diam, meski tubuhnya sudah meminta banyak waktu untuk istirahat. Seperti hari itu. Bapak memilih menghabiskan sore dengan duduk di teras warung, sambil meluruskan paku-paku bekas.

Rumah kami memang beberapa kali harus direnovasi karena berkala harus dinaikkan. Lingkungan kami langganan dikunjungi banjir, jadi posisi rumah berkejaran dengan ketinggian jalan. Banyak sisa-sisa paku dari kusen bekas yang masih Bapak simpan.

Melihat Bapak sedang asyik melakukan sesuatu, anak-anak tetangga mendekat karena tertarik. Beberapa mulai berceloteh bergantian.

“Lagi apa, to, Pak?”

“Kok pakunya dipukul-pukul?”

“Mau dipakai buat apa?”

Tiba-tiba …, “PAK! KOK KETEKNYA ADA KUMISNYA?”

Satu anak, seorang gadis kecil, namanya Tinah, menunjuk lengan Bapak yang terbuka. Karena cuaca panas, jadi Bapak hanya memakai kaos dalam dan sarung saja ketika itu.

Perhatian anak-anak lain terpecah. Mereka ikut memerhatikan lengan Bapak. Sebagian tertawa kecil. Sebagian menyuruh diam.

“Ssst! Nanti Pak Djoen marah, loh!”

Tentu saja Bapak tidak marah. Beliau terkekeh keras sampai wajahnya terangkat.

Saat itu si kecil Tinah nyeletuk lagi dengan setengah berteriak, “LOH! HIDUNGNYA JUGA KELUAR KUMIS!”

Bapak meraba lubang hidungnya. “Oh, iya! Lupa belum dicukur!”

Haaa, anak kecil, cerdas dan polos. Makin riuhlah rumah kami di sore itu. Bapak melanjutkan pekerjaannya, masih sambil meladeni celoteh anak-anak itu.

Kejadian kocak itu ternyata berlanjut. Beberapa waktu berselang, setelah peristiwa ‘kumis’, Tinah datang berdua dengan ibunya. Si ibu menyapa ibuku yang waktu itu sedang jaga warung, kebetulan ada aku juga di sana.

Ibu Tinah berkata dengan nada biasa, wajah pun ramah ceria seperti sewajarnya. “Bu, kemarin Tinah saya suruh beli kapur semut di sini. Katanya yang njualin Pak Djoen.” Telunjuk si ibu menunjuk ke arah kepala Tinah, yang … ya ampun! Kepala Tinah berhiaskan coret-coretan kapur.
“Itu kapur semut?” tanyaku.

“Iya, kata Tinah, biar rambutnya jadi banyak,” jawab ibunya.

Memang, rambut Tinah bisa dibilang sangat tipis, dan merah pula.

“Kata Tinah, yang kasih tahu Pak Djoen,” kata ibunya Tinah lagi.

Hah?! Ya ampun, Bapaaak. Iseng banget. Anak orang dikerjain.

Ibu sampai berulang kali menyampaikan maaf. Sedangkan ibu Tinah malah tertawa, karena dia menganggap hal itu lucu saja. Rupanya Tinah sebelumnya sudah dilarang oleh ibunya, tapi tetap berkeras, katanya ‘Pak Djoen yang bilang! Kapur semut bisa numbuhin rambut.’

Bapak hanya tertawa kecil waktu Ibu menegur. “Lha anaknya lucu. Cah cilik kok, serius. Jadi pengin ngisengin.”

Cerita lucu itu masih terus diingat, sampai si kecil Tinah tumbuh jadi gadis remaja dengan rambut panjang diekor kuda. Sayang Bapak tidak sempat melihatnya.

Mau tahu keisengan bapakku yang lain? Kali ini cukup bikin tegang.

Jadi, di depan warung Ibu, di sudut halaman, ada pohon mangga yang ketika itu sedang berbuah lumayan banyak. Bapak, sebagai petugas pertamanan di rumah, rajin memeriksa apakah ada penyakitnya atau tidak. Termasuk menandai, yang ada buahnya di sebelah mana saja.

Suatu pagi Bapak bilang kalau mangganya ada yang ambil. “Sayang, padahal belum matang.” Kejadian itu berulang hingga tiga kali. Akhirnya, Bapak berinisiatif untuk ‘mbrongsong’ (membungkus) buah-buah mangga itu dengan kertas koran. Aku sempat heran juga, apa maksudnya untuk menyembunyikan buahnya dari pencuri? Bukannya malah kentara, ya? Tapi bisa saja itu untuk menghalangi serangan codot.

Suatu hari, tiba-tiba saja, pintu warung ibu ada yang melempari dengan batu. Untung saja waktu itu  warung sedang tutup untuk istirahat siang. Biasanya akan buka lagi selepas Asar. Terang saja kami semua kaget. Tidak ada yang berani menengok ke luar. Kami hanya berani mengintip dari balik kaca jendela. Hanya ada beberapa orang yang sedang berbicara dengan nada sedikit ribut. Setelah keadaan tenang selama beberapa saat, barulah kami berani keluar.

Rupanya, tadi ada orang mabuk, yang mau mengambil mangga. Tapi ternyata, dia hanya mendapat ‘zonk’ (kosong). Tidak ada buah mangga di balik kertas koran itu, melainkan butiran batu kecil yang diikatkan ke ranting pohon. Ide siapa lagi kalau bukan Bapak?

“Cuma mau ngerjain malingnya. Jadi ketahuan, kan, siapa yang suka ngambilin mangga?” kata Bapak membela diri, waktu Ibu ngomel panjang lebar. Macam-macam saja Bapak ini.

Allah …, jadi makin kangen. Kangen saling ganti kaset yang sedang diputar karena selera kami bertolak belakang.  Ya, telingaku kurang bisa akrab dengan musik dangdut. Sementara Bapak? Koleksi kaset Evi Tamala-nya berseri. Kangen menghabiskan malam Minggu dengan tekun bekerjasama mengisi TTS dari Majalah Intisari. Ada yang punya hobi sama? Sungguh, masa-masa bersama Bapak yang tidak akan pernah bisa aku lupakan.

Sekarang ini, di waktu rindu datang, menjadi semacam pengingat, bahwa Bapak sedang menunggu. Menunggu kiriman doa yang tak pernah putus dari anak-anaknya, yang … insyaAllah, saleh dan salehah. []

Oleh: Okie Noor.

Ilustrasi dari sini.  

Facebook Comments
error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: