“Bocah, susah banget dinasihati!” kata-kata itu sering sekali terlontar dari Bapak.

Iya, bapak kami yang sibuknya bukan main. Kata adik saya, ngalahin presiden jadwalnya. Bagaimana tidak, saat aku lahir, Bapak berangkat pukul 6 pagi. Lalu pulangnya? Jam 5 pagi! Hahaha. Hanya satu jam saja di rumah. Itu dulu, semakin ke sini jam kerjanya tidak sepadat dulu. Tapi tetap saja sering lembur.

Aku anak pertama Bapak. Bapak itu temperamen dan cepat sekali terpancing emosinya. Salah sedikit, kami pasti dimarahi. Terkadang disalah-salahkan. Kadang aku merasa sedih, sampai berpikir aku ini anak kandung Bapak bukan, ya? Hehehe.

Terkadang juga terselip pemikiran, sudah bapaknya jarang kelihatan di rumah, selagi di rumah eh beliau hanya memarahi kami.

Pernah suatu pagi, adikku paling kecil sudah dimarahi. Saat itu hujan deras dan cuacanya mendukung untuk lanjut tidur. Mungkin karena itu, adikku berlama-lama di kamar mandi. Bapak dari balik pintu berteriak kencang, “Kalau mandi tuh cepet! Mau berangkat enggak sih!”

Kami bertiga adalah saudara ‘gotong mayit’ (julukan tiga bersaudara perempuan dalam budaya Jawa). Dilahirkan dari bapak dan ibu yang bertetangga membuat kami menjadi keturunan asli desa tercinta. Bapak, begitu kami memanggilnya, adalah seorang lelaki yang sangat totalitas dalam pekerjaannya. Sayang, terkadang ada saja kelalaian beliau dalam memerhatikan keluarganya karena pekerjaan.

Dulu, saat aku sekolah, aku sudah biasa menjadi anaknya siapa saja. Maksudnya, saat masuk masa pengambilan rapor, siapa saja yang sempat bisa menjadi wali sementaraku saat pengambilan. Bapak tak mungkin karena beliau sibuk.

Kalau ibu sih, terkendala profesinya sebagai guru SD. Jadi beliau juga pas bagi rapor untuk para muridnya. Jadi, kadang ada Tante yang ambil, kadang Mbah Kakung, atau siapa saja yang bisa dimintai tolong. Bahkan yang jadi heboh dulu, aku sampai dijuluki anak pak penjaga sekolah.

“Lah, kamu anaknya Pak Karman?” olok teman sekelasku saat aku masuk ke kelas dengan Pak Karman, penjaga sekolah di SD tempat aku sekolah.

Hiks! Rasanya saat itu hatiku sakit sekali. Tiap 4 bulan atau dulu namanya caturwulan, orangtua mengambilkan rapor anak-anaknya. Tapi aku? Ya, tidak aku saja sih, adikku nomor dua juga sering diambilkan rapor oleh tetangga. Malah terkadang aku yang jadi walinya.

Selain rapor, Bapak sering sekali lupa hal-hal remeh dari kami bertiga. Aku seringkali nyengir saat Bapak ditanya tentang perkembangan anak-anaknya. Mungkin saking banyaknya pekerjaan, Bapak tidak ingat kalau putrinya saat itu sudah kelas lima SD.

“Anaknya sudah besar ya, Pak? Kelas berapa sekarang?” tanya seseorang nasabahnya saat berkunjung.

Errr, Eka kelas empat ya?” Bapak gantian menanyaiku.

“Lima, Pak. Limaaa.” jawabku sambil ngeloyor.

Yang paling menyakitkan itu, kadang Bapak tidak mau tahu alasanku berbuat sesuatu. Beliau tetap nyalahin apapun yang menurut beliau salah. Aku sering iri sama teman-teman lain yang akrab sekali sama bapaknya. Kapan ya aku bisa ngobrol dari hati ke hati sama Bapak?

***

Aku anak kedua Bapak, namaku Dewi. Dilahirkan zaman Bapak dan Ibu ekonominya melemah, aku pun terlahir lemah. Dulu, aku sering sakit asma, maka Bapak lebih perhatian sama aku ketimbang Kakak. Tapi, memang sih bener kata Kakak, Bapak jarang bisa ditemui. Dulu, saat bisa ketemu pun, aku sering banget nolak dicium. Hmm, pipinya kayak parutan kelapa. Kasar! Hahaha.

Bapak tuh orangnya baperan plus nangisan. Beda banget sama Ibu yang terlihat tegar. Masak nonton reality show ketemunya bapak sama anak yang lama pisah, beliau mewek. Enggak kentara sampai sesenggukan, tapi aku bisa lihat dari ekor mataku. Pengen rasanya aku ngolok-olok kayak Bapak ngolok-olok aku pas nilaiku jelek, tapi aku takut. Mending aku melipir aja dari ruang TV saat itu juga.

Kayak pas aku pulang sore, Bapak di depan rumah berdiri nungguin. Aku abis selesai ngerjain tugas, tapi Bapak enggak mau tau.

“Kamu dari tadi ditungguin ke mana aja!” Suara basnya menggelegar, ada nada kemarahan yang sangat di sana. Aku yang sudah terbiasa, ngeloyor masuk ke dalam kamar. Ini bukan saatnya aku meredakan amarah Bapak dulu, aku kudu cepet ganti baju. Kami sekeluarga akan pergi ke hajatannya saudara.

“Ke mana tadi?” selidik Bapak saat kami mau jalan.

“Rumah temen.”

“Main terus!”

“Lah, aku ada tugas kelom…”

“Alasan, kenapa ngerjainnya enggak dari tadi siang?”

“ … “

Aku mending diam kalau lagi gini. Bukan karena aku males nanggepin, tapi emang tipikal Bapak seperti itu dan akan salah besar kalau aku jawab lagi.

***

Aku namanya Iza, adik paling kecil. Walau aku si bungsu, perlakuan Bapak ke aku ya sama kayak Kakak-Kakakku ceritakan. Untungnya aku lahir mapan, eh Bapak Ibuku deng yang mapan. Hal-hal yang dulu Kakak-Kakakku jarang dapatkan, aku tuh dapat, yes!

Rumah nyaman (dulu katanya rumahku masih sering kebanjiran), TV LED, mau internetan aja tinggal ngaktifin wifi doang wkwkwk. Kakak sih pernah cerita kalau Bapak sibuk dulu. Kalau kuliat sih, masih aja sibuk, malah sekarang pulangnya hampir tengah malam. Bapak taun ini pindah ke pusat sih.

Bapak sering ngomel, malah kayak bukan Bapak kalau cuma diem. Kadang kesel sih, apa-apa dibikin masalah. Bangun kepagian dan berangkat pagi salah. Iya loh, kata beliau ngapain sih berangkat pagi bener. Busyet dah, kemarin pas berangkat telat, aku kena omel juga. Entah, yang bener yang mana. Huhuhu.

Bapak yang kadang ngeselin ini juga pernah bikin aku malu di pasar. Hari Senin aku kudu bawa topi upacara, sayang semakin lama dicari topinya enggak keliatan juga. Hari Minggunya, pagi-buta Bapak disuruh Ibu nemenin aku ke pasar buat beli topi. Bapak yang ogah-ogahan, cepat-cepat menyuruhku jalan. Karena pasar ada di seberang rumah, kami kudu nyebrang dulu tuh jalan raya besar. Di tepi jalan, Bapak kok ndorong aku pelan ke arah jalan. Oh, aku harus nyeberang nih, pikirku. Dengan pedenya, aku nyebrang, tapi …

Ciiiiittttt!!!

Ada mobil ngerem dadakan, persis di sebelah kananku! Kaget, lemes, berasa pengen pingsan aja. Bapak langsung nyeret aku ke tepian, terus naruh aku di depan toko gitu. Aku takut banget. Bukan, bukan karena aku bakal ditabrak mobil tapi karena Bapak sudah keluar tanduk merahnya!

“Kamu kalau nyebrang ati-ati! Orang ada mobil malah nyelonong!”

Lah, siapa tadi yang ngedorong aku pas nyebrang? Kok aku yang salah lagi?

***

Saat kami mulai besar, kami pernah sejenak berpikir tentang Bapak. Menurut kami …

Bapak yang jarang hadir, bapak yang selalu menang sendiri, bapak yang menakutkan ini ya Bapak kami. Dari mana kami lahir, kalau bukan dari kasih sayang beliau.

Iya, Bapak memang jarang sekali hadir saat pembagian rapor. Tapi, saat salah satu dari kami ulang tahun, Bapak hadir walau sebentar. Membawakan kresek plastik berisi kado. Datang saat jam makan siang untuk memberikan anaknya kebahagiaan.

Bapak yang bahkan tidak ingat kelas berapa anaknya ini, saat kami kecil akan menemani salah satu dari kami saat belum bisa tidur. Pernah baru pulang kerja dini hari, Bapak memanaskan mobil pick up hanya untuk membawa anaknya berputar-putar satu desa. Agar anaknya bisa tidur walaupun beliau ngantuk luar biasa. Atau memeluk sambil menjawab pertanyaan soal akhirat itu seperti apa.

Bapak yang kadang enggak mau disalahin ini, bapak kami juga yang pertama kali khawatir kalau anaknya sakit. Salah satu dari kami panas sedikit saja, Bapak langsung melarikan kami ke dokter terdekat. Tanpa melihat waktunya. Baru pulang kerja pun, saat capek-capeknya, Bapak akan menyiapkan kendaraannya untuk membawa kami, putrinya.

Bapak yang paling menakutkan kalau marah ini, bapak kami juga yang selalu membawa semua anak-anaknya saat pergi piknik. Saat adik terkecil kami belum lahir, Bapak membawa kedua putri dan istrinya memakai motor palang ke semua tempat wisata di kabupaten kami.

Bapak yang pelupa ini, bapak kami juga yang pernah menyelamatkan kaki adik terkecil kami. Kakinya saat itu masuk ke lubang kursi baso. Sayangnya, dia enggak bisa menariknya keluar. Jadilah Bapak kami ini yang menggergaji dengan hati-hati agar tidak kena kakinya.

Bapak kami yang baperan ini, bapak kami juga yang walaupun lelahnya sangat, pasti akan mengusahakan ke manapun istri dan anak-anaknya meminta pergi. Entah jam berapapun beliau pulang kerja.

Bapak yang pekerja keras dan totalitas ini, bapak kami juga yang marahnya sepersekian menit. Sekali marah, nakutin banget. Kadang sampai kami enggak berani lihat matanya, tapi setelah itu bisa ngobrol lagi. Ajaibnya, tanpa terlihat tadi habis marah.

Bapak yang pelupa ini, bapak kami juga yang sangat suka sama tanamannya. Tiap malam, beliau akan siram tanaman, seperti rasa sayangnya sama kami. Walau tengah malampun, tak akan menyurutkan langkahnya keluar demi melihat perkembangan tanaman.

Bapak kami yang unik ini, bapak kami juga. Bapak yang kelihatan sangat keras, namun di balik semua itu kasih sayangnya mengalir deras secara diam-diam. Kadang kami sampai tak memerhatikannya saat beliau kesepian.

Di balik semua kesibukan pekerjaannya, Bapak pastilah satu-satunya lelaki yang ingin kami bersekolah setinggi-tingginya agar tak perlu berjuang keras seperti beliau dulu.

Di balik semua rasa marahnya, Bapak pasti memedulikan kami walau yang terlontar bukan yang kami harapkan.

Di balik rasa menang sendirinya, Bapak pasti menginginkan kami menjadi putri-putrinya yang baik agar tidak salah melangkah dalam mengambil pilihan hidup.

Bapak, kami tahu, ini pastilah pertama kalinya Bapak menjadi bapak kami. Bapak belum pernah sekalipun berlatih menjadi bapak sesungguhnya sebelum kami akhirnya lahir. Bapak hanya berusaha yang terbaik, sesuai kemampuan Bapak.

Saat anak pertama Bapak lahir, Bapak pasti khawatir dan bingung bagaimana cara merawatnya. Lalu lahir anak kedua, Bapak bingung bagaimana mengajarinya kebaikan untuk kedua anaknya. Saat lahir anak ketiga, Bapak pasti berpikir bagaimana Bapak harus tetap survive memupuk semangat memberikan pendidikan terbaik bagi kami semua.

Pak, jika kau tahu, kau sudah mengajari banyak hal kepada kami. Penyesalan demi penyesalanmu dalam membersamai kami, tak perlu kau khawatirkan. Kami maklum, sungguh kami paham mengapa kau seperti itu. Doa-doa kami untukmu akan selalu kami panjatkan setiap waktu.

Pak, jangan bersedih. Kami anak-anakmu akan tetap memilih Bapak menjadi bapak kami jika memang ada beberapa opsi bapak saat kami akan lahir.

Pak, maafkan kami, para putri kesayanganmu ini. Kami yang sering kesal kepadamu, tanpa tahu beban Bapak di luar sana. Semoga Allah membalas semua kebaikan-kebaikan Bapak dengan surga sebagai hadiahnya karena telah menjadi bapak kami.

Tertanda: Kami, putri-putrimu, yang sayang kepada Bapak selalu.

Oleh: Dhita Erdittya.

Ilustrasi dari sini.

Facebook Comments

This is a demo store for testing purposes — no orders shall be fulfilled. Dismiss

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: