“Mak, tamat SMA nanti aku kuliah ke Surabaya, ya?”

“Halah, dak usah!” celetuk Bapak.

Mendengar hal itu seperti ada yang tertancap di hatiku. Mamak langsung mengusap bahuku, memberi isyarat melalui tangannya untuk mengabaikan ucapan Bapak.

***

“Bangun! Bantuin ke pasar! Heh!”

Terasa tubuhku digoyang-goyangkan pakai kakinya. Aku sengaja tetap terpejam. Apa tidak bisa sekali saja Bapak menyebut namaku?

Aku Arman anak pertama. Jarak kelahiranku dan Boim—adikku—hanya terpaut satu tahun. Orang Jawa bilang ‘sundulan’. Ternyata lahir dengan jarak cukup dekat, tidak membuat perlakuan bapak kepadaku sama dengan perlakuannnya kepada Boim. Bapak kalau membangunkan Boim selalu dengan lembut, dan memanggil namanya. Sedangkan kepadaku, menyebut namaku saja Bapak tidak pernah.

 “Mas, bangunlah!” teriak Mamak dari dapur. Mendengar suara perempuan yang melahirkanku, seketika itu juga aku langsung bangkit. Sejenak kulihat wajah Bapak yang kaku, datar, kemudian aku melangkah ke luar. Jam di dinding menunjukkan pukul empat. Mataku masih terasa berat sekali.

“Bantuin buka toko ya, Mamak lagi dak biso,” ucap Mamak begitu aku sampai dapur.

“Tapi, ngapo Boim dak dibangunin?” protesku pelan, “Itu jugo, Bapak banguninnyo cak apo bae.” (Itu juga, Bapak banguninnya kayak apa aja.) Aku benar-benar kesal dengan perlakuan Bapak selama ini.

“Kamu kan yang paling besar.”

Selalu kalimat itu yang aku dengar ketika protes karena ketidakadilan yang kurasakan. Aku segera ke luar begitu mendengar suara klakson motor dibunyikan berkali-kali.

“Omongan Bapakmu dak usah didengar,” suara Mamak mengiringi langkahku keluar rumah. Mau tak mau aku harus naik motor hitam milik Bapak. Udara dingin mendekap tubuhku. Jalanan masih sangat sepi. Aku duduk di belakang, mematung.

Sudah sangat sering aku merasakan perbedaan dalam memperlakukan aku dan Boim. Seperti ketika aku dan Boim masih duduk di sekolah dasar. Aku sering melihat Bapak bercanda, bahkan tertawa bersama sambil menikmati acara kartun di televisi.

Aku pun mencoba untuk merasakan hal yang sama. Melihat Bapak sedang nonton televisi, aku langsung duduk di sampingnya. Namun, impian sederhana yang sangat kuharapkan tidak terwujud. Aku pengin sekali duduk bareng Bapak, nonton sambil berseda gurau. Tetapi Bapak justru berdiri, meninggalkanku sendirian, terdiam, dengan perasaan yang hancur. Kupikir Bapak ke kamar kecil sejenak, ternyata tidak. Bapak benar-benar tidak mau kembali di tempatnya semula.

***

Saking ngantuknya, aku sampai tertidur di motor, Aku terbangun karena motor digoyangkan dengan keras. Ternyata sudah sampai. Aku turun dengan dongkol, pengin sekali bilang, bisa enggak sih jadi Bapak yang baik? Jujur, aku terkadang iri melihat teman-teman yang punya bapak yang baik, bisa ngobrol seru sama bapaknya, atau bisa main badminton bareng di depan rumah.

Aku membuka toko sambil berharap cepat datang azan Subuh, supaya aku bisa istirahat sejenak dari ocehan Bapak. Karena semua yang Bapak ucap tidak pernah enak untuk didengar.

“Bisa cepat gak?!”

Klemar-klemer!

Azan terdengar begitu toko sudah siap. Seketika itu juga aku langsung memakai sandal, berjalan menjauh dari toko. Lega rasanya. Aku yang salat lebih dulu, nanti gantian. Aku sangat menikmati saat-saat seperti ini, langkah kuperlambat untuk sampai tujuan baik berangkat ke masjid, atau kembali ke toko. Begitu juga ketika jaga toko sendirian. Aku merasa lebih nyaman, dan damai.

***

Langit terlihat semakin terang, berwarna biru tua. Satu per satu orang-orang mulai berdatangan sehingga membuat keadaan toko lebih ramai. Aku melayani pembeli yang ada di sisi kanan, mencari barang yang mereka pinta, lalu menghitungnya. Kebanyakan harga barang aku sudah hafal. Kecuali kalau barang baru yang belum pernah aku tahu.

“Permen kaki masih?” Terpaksa aku bertanya sambil menoleh ke bapak.

“Tuh!” ucapnya dengan ketus sambil menujuk ke arah barang yang dimaksud.

Deg! Aku sudah merasa tidak nyaman.

“Punyo mato tuh dipakek!” celetuknya tajam.

Mendengar hal itu, aku langsung keluar toko.

“Asu koe yo!” teriak Bapak kasar.

Aku mengabaikan dengan terus berjalan lurus. Cak biso dewean bae, dem dibantu dak tau terimo kasih nian, (Kayak bisa sendirian aja, sudah dibantuin tidak tahu terima kasih banget,) gerutuku sambil berjalan cepat.

Aku pulang. Apa yang diharapkan Mamak supaya aku tidak mendengar ucapan Bapak tidak bisa kulakukan. Dari awal mengajak untuk ke pasar saja sudah bikin enggak enak hati.

***

 “Aku dak tahan Mak denger ocehan dio,” ucapku begitu masuk ke rumah.

Terlihat Mamak menghela napas dalam, sambil mengelus-elus dada. “Ya, bapakmu kan memang begitu?”

Idak, Mak. Sekalipun aku dak pernah denger Bapak ngomong keras ke Boim. Sebenarnyo aku ini anak siapo sih, Mak?” Pertanyaan yang selama ini ada di pikiranku keluar begitu saja.

“Astagfirullahalazim ….” Mamak menangis saat itu juga. Aku terdiam. “Kalau Mas nganggap dia bukan bapakmu, itu sama saja Mas menghina Mamak, Mas,” ucap Mamak di sela-sela tangisannya.

Aku masih terdiam. Tidak pernah terbayangkan kalau pertanyaan yang telah lama kupendam akan membuat Mamak terluka. Aku duduk di samping Mamak, lalu menyentuh punggungnya. “Mak …,” ucapku lirih, “Maaf.”

“Dengar ya, Mas,” mata Mamak menatapku tajam, “bapakmu itu cuma lulusan SD. Seharusnya kamu yang mau SMA ini bisa lebih pintar, bisa lebih memahami gimana Bapakmu. Coba pikir, selama ini apa pernah Bapakmu main tangan ke kamu, Mas?”

Aku masih terdiam. Jawaban dari pertanyaan itu tentu tidak. Tapi kenapa dia membedakan aku dan Boim? Pandanganku mendadak kabur, ada rasa panas hadir di bola mata ini.

“Selama ini juga kan Mamak sudah cerita, kalau Bapakmu itu selalu bangga-banggain kamu di depan teman-temannya. Kamu juara kelas, kamu bisa bikin undangan. Bapakmu itu sebenarnya sayang sama kamu, Mas.”

Aku mendongak, menahan sekuat tenaga supaya genangan di mata tidak tumpah. Entah kenapa, setiap aku mendengar cerita Mamak, bilang kalau Bapak sering menceritakan prestasiku ke teman-temannya di pasar antara percaya dan tidak. Nalarku sulit untuk menerimanya.

Aku berjanji tidak akan membuat Mamak menangis lagi. Wajar kan, kalau aku sampai nanya hal itu? Aku dengan Bapak tidak pernah akur. Tiada hari tanpa ribut. Entah apa salahku sehingga dia begitu membenciku.

Sejak saat itu aku benar-benar berpikir, bagaimana caranya supaya semua akan baik-baik saja. Seharusnya kamu yang mau SMA ini lebih pintar, bisa lebih memahami gimana Bapakmu. Ucapan Mamak terus terngiang di pikiranku.

***

Satu tahun kemudian aku masuk SMA. Bapak tidak juga berubah. Tetapi, watak Bapak yang keras itu memberikanku pelajaran hidup yang begitu terasa ketika MOS. Suara lantang kakak-kakak kelas tidak ada apa-apannya dibandingkan suara Bapak.

Dari MOS ‘ekstrem’ itu aku mulai berpikir, kalau diam saja dan mengganggap kakak kelas itu hanya angin lalu, maka aku tidak meresakan sakit hati sama sekali. Mulai saat itu juga aku lebih bersikap biasa saja, belajar untuk lebih cuek dari Bapak.

“Tahu malam dak? Lampu luar tuh hidupin!” ucap Bapak tanpa menyebut namaku, apalagi menoleh ke arahku.

Aku mendengar ucapan ketus itu. Kemudian mencoba menirukan apa yang diucapkan Bapak dengan lebih tenang, dan enak didengar. “Man, lampu di luar tuh dihidupin.”

Sesaat kemudian, aku juga merespon ucapanku barusan. “Siap, Pak.”

“Cerewet!” ucap Bapak sambil keluar rumah.                                                            

Haha …. Setelah aku melakukan hal itu, tidak terasa lagi sakit hati seperti biasanya. Ada perasaan lebih menerima apa yang diucapkan oleh Bapak, yang padahal tetap bernada ketus dan tidak enak didengar. Aku terus mengulang-ulang hal tersebut. Setiap Bapak ngomong apa, akan kurevisi sendiri dengan nada yang lebih tenang, kemudian kujawab sendiri.

Beberapa hari kemudian. Bapak teriak kesakitan pada pinggangnya. Mamak langsung menghampiri Bapak. “Mas, bapakmu.”

Aku bergeming. Tidak peduli. Malas rasanya untuk menengok ke kamarnya.

Makonyo, jadi manusio itu kudu sadar jugo, kalau hidup dak selamonyo kuat. Kalau begini siapa yang ngantar ke dokter, kalau bukan anak pertamamu?” Suara Mamak terdengar menasihati Bapak dari ruang tengah. Saat itu Boim belum bisa mengendarai sepeda motor.

Mendengar hal itu, ada perasaan sedih, bagaimana pun dia adalah bapakku. Aku langsung berdiri mengambil kunci motor. “Ayo, ke dokter,” ajakku begitu sampai di ambang pintu.

Ibu menepuk bahuku. Menegur untuk lebih sopan.

“Ayo, Pak, ke dokter …,” ucapku lalu balik badan menuju arah motor.

Terlihat Bapak jalan sambil meringis kesakitan, menahan rasa sakit pada pinggangnya. Selama di motor, kami saling diam, seperti biasa. Setelah dipikir-pikir, ternyata benar kata orang-orang, aku ini mirip Bapak. Terlihat kalau sakit pasti merengek, tidak bisa diam. Selain itu, Bapak orangnya iseng, meski tidak pernah melakukan keisengan itu padaku.

Aku juga pernah bertanya tentang masa kecilnya Bapak pada Mbah Putri. Ternyata selama Bapak kecil, sebagai anak pertama juga, selalu dimarahin oleh Mbah Kakung. Mendengar cerita itu justru aku menanamkan janji pada diriku sendiri, kelak ketika aku punya anak pertama laki-laki pula, aku akan berusaha menjadi sosok bapak yang dirindukan.

***

Aku memutuskan untuk kuliah jauh, alasan terbesarku bisa jauh dari Bapak. Ya, sebagai pelarian, karena hidup selama 17 tahun penuh dengan keributan itu tidak enak. Aku pergi dengan harapan, hubungan kami bisa membaik.

Tidak terasa waktu membawaku melewatkan masa ‘putih abu-abu’ begitu cepat. Aku lulus dengan nilai memuaskan. Bapak yang awalnya tidak mengizinkanku untuk kuliah di luar kota. Tidak bisa berbuat apa-apa, dia hanya pasrah melihat aku mempersiapkan semuanya sendiri. Perubahan dari keputusan Bapak mungkin karena selama dia sakit, aku yang lebih banyak bertugas mencarikannya tumbuhan kumis kucing, dan akar alang-alang untuk dibuat jamu.

Aku mantap untuk meninggalkan kota kelahiranku. Keluarga besar berkumpul di rumah, mereka mengantarkan dan menemaniku sampai di PO salah satu bus. Ada perasaan senang bercampur sedih, karena harus berpisah juga dengan Mamak dan Adik yang sangat kusayangi.

Bapak? Entahlah … bahkan dia tidak ikut untuk melepas kepergianku.

Bis sudah datang, artinya tidak lama lagi berangkat. Seketika itu juga aku terpaku melihat Bapak masuk ke halaman PO. Aku menyalami dan memeluk semua keluarga yang hadir, mereka melepasku dengan air mata. Apa yang harus ditangisi coba? Aku akan kembali.

Bapak masih berdiri di samping motor, seolah menungguku lewat. Aku menatap wajah datar itu, Bapak justru mendekat ke arahku lalu memeluk erat tubuh ini. Entah pada saat itu aku justru tidak bisa membalas pelukannya.

Semua dendam, amarah, dan kebencian pada Bapak luluh pada detik itu.

Jago diri baik-baik di sano,” ucapnya terbata, terdengar isakan yang membuat mataku memanas.

Aku pergi. Naik bis sambil menahan gejolak di dada. Aku memasuki bus, lalu tetap berdiri di balik jendela pintu melambaikan tangan ke rombongan, tidak sanggup untuk melihat ke arah Bapak.

JagodiribaikbaikdisanoMan.

Air mataku tumpah setelah membaca isi SMS tanpa spasi itu. Aku tahu ini dari siapa. Akhirnya namaku ‘disebutnya’ meski melalui SMS.

Oleh: Nurwa_R

Ilustrasi dari sini.

Facebook Comments
error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: