Aku dan bapakku boleh dikatakan seperti air dan minyak. Karena perbedaan masa jenis mereka tak pernah bisa bersatu. Selalu saja ada hal yang membuat kami berseteru. Baik dan buruk pasti selalu ada pada diri seorang bapak. Bapak siapapun itu. Mungkin ada pengecualian, yaitu bapak dari Sayyidatina Fatimah, baginda Muhammad SAW maupun Lukman Al Hakim. Namun, bapakku bukanlah beliau berdua. Bapakku manusia biasa yang pasti ada kekurangannya.

***

“Pak, boleh aku lihat soal ujian besok?” Aku memberanikan diri bertanya pada bapak.

“Buat apa? Kamu itu Bapak didik untuk berlaku jujur dari dulu kan? Terus sekarang kamu mau minta soal ujian besok itu buat apa? Itu curang namanya? Siapa yang mengajari itu?” Kata-kata Bapak terdengar keras dan membuatku bergidik. Meski begitu, aku masih berani menjawabnya.

“Lha itu, Pak, Lia sering dapat bocoran soal dari bapak ibunya. Aku baru sekali ini mau minta mosok enggak boleh?”

“Enggak boleh ya enggak boleh. Titik. Enggak usah kepingin Lia, Mila, atau siapa pun teman-temanmu yang mendapat bocoran soal dari bapak ibunya. Tugasmu itu belajar. THB adalah cara menguji keberhasilan belajarmu. Kalau kamu mengerjakan ujian secara tidak jujur, artinya kamu gagal dalam belajar. Paham?”

Aku tak berani lagi menjawab kata-kata bapak. Berapa kali pun aku meminta, pasti bapak tak akan memberikannya. Aku tahu itu. Namun, aku iri pada teman-temanku yang dengan gampangnya mendapatkan bocoran soal ujian dari bapak atau ibunya. Meski sama-sama seorang guru, ternyata bapakku tetap tak mau membocorkannya.

Namun, tahukah kalian, bagaimana hasil belajarku? Biarlah jika dianggap sombong. Enam tahun di sekolah dasar aku tak pernah terlempar dari tiga besar. Posisi capolista sering aku dapatkan. Mungkin itu salah satu alasan bapak tak pernah memberikan bocoran soal kepadaku. Bapak mungkin sudah yakin akan kemampuanku. Beliau ingin potensiku berkembang maksimal dengan didikannya yang keras itu. Belakangan aku baru menyadarinya.

***

Masuk ke SMP favorit adalah cita-citaku. Belajar di sekolah yang sudah punya nama adalah impianku. Impian anak-anak kelas enam lain pula pastinya. Prestise dan memiliki masa depan yang cerah tentunya. Itu pikiranku menj elang ujian akhir kelas enam tiba.

“Pikirkan dulu ujianmu. Jangan terlalu bermimpi tinggi. Sibuk bermimpi lupa belajar kamu nanti. Tahu apa akibatnya kalau kebanyakan bermimpi?”

“Salah ya, Pak,  bercita-cita masuk ke SMP favorit di kabupaten itu?” tanyaku sinis kepada bapak.

“Enggak salah. Itu bagus untuk motivasimu. Tapi, jangan berangan-angan terlalu jauh. Angan-angan itu mendekatkan dirimu kepada setan. Jangan sampai karena angan-angan yang terus kamu pelihara itu membuatmu terjerumus dalam kecurangan. Misalnya ingin hasil ujian bagus lalu mencari bocoran soal atau mencontek saat ujian. Apalagi sampai mencari jimat segala. Haram itu. Mengerti kamu?”

Salah lagi. Kapan to, Pak, aku ini ada benarnya di hadapan Bapak?

Aku cuma diam waktu itu. Tak berani membantah barang satu kata pun. Selalu dengan nada yang keras, bahkan terkesan panas, sampai menandas di hati. Mimpi-mimpiku masih terpelihara. Namun, aku takut berangan-angan terlalu jauh. Akhirnya aku ikuti nasihat bapak.

Qodarullah, ketika hasil ujian diumumkan aku mendapat hasil yang sangat memuaskan. Dari lima mata pelajaran yang diujikan, aku memperoleh hasil dengan rata-rata 9,25. Tak hanya itu, nilai ujianku juga menjadi yang tertinggi  sekecamatan. Aku segera pulang, bermaksud mengabarkan berita gembira ini kepada bapak dan ibuku.

“Pak, Bu, aku rangking satu  sekecamatan.”

Belum sampai masuk rumah aku sudah berteriak kegirangan. Ibu menyambut dengan sukacita. Anak bungsu yang dibanggakannya berhasil membuat prestasi yang luar biasa. Bagaimana dengan bapakku?

“Jangan larut dalam kebahagiaan. Ini bukan akhir. Jalanmu masih panjang.”

Tahukah kalian bagaimana gesture bapakku kala itu? Bapak hanya duduk di kursi sambil menghisap lintingan tembakau yang telah dicampur cengkih. Berulang kali asap keluar dari mulut dan hidungnya. Tak ada senyum, tepukan ke bahu, apalagi pelukan maupun ciuman tanda sayang kepadaku. Padahal ibuku, waktu itu memelukku, menciumku, menyanjungku setinggi langit. Ah, bapak memang begitu. (Tak boleh meskipun sekadar berkata ah kepada bapak ibu kita!)

***

Masa pendaftaran ke jenjang SMP telah dibuka.  Beberapa hari sebelumnya aku telah meminta pendapat bapak ibuku ke mana sebaiknya aku melanjutkan. Ibu setuju dengan pilihanku. SMP favorit tentu adalah dambaan setiap anak dan orang tuanya. Bagaimana dengan bapakku? Sampai hari pertama pendaftaran dibuka beliau baru menyampaikan pendapatnya.

“Melanjutkan ke sekolah umum itu bagus. Apalagi kamu juga pintar. Bapak mengakuinya. Tapi jangan sombong. Ngaji-mu hingga kelas enam kemarin sampai mana? Khatam Al Quran saja baru dua kali kan? Kitab yang kamu pelajari baru pesholatan sama ‘aqidatul awwam. Itu saja kamu dapat dari ngaji di tempat Mbah Ma’ruf kan?”

Aku, ibu, dan kakak-kakakku masih terdiam. Kami penasaran dengan pendapat bapak selanjutnya. Tak sampai hitungan menit bapak melanjutkan kata-katanya.

“Kamu harus mondok. Nanti Bapak daftarkan kamu di pondok yang ada sekolah umumnya sekalian. Biar kamu bisa belajar ilmu umum, sekaligus memperdalam ilmu agama.”

“Tapi aku enggak mau tinggal di pesantren, Pak!” Aku terbayang hidup jauh dari keluarga.

“Pokoknya ini sudah jadi keputusan Bapak. Kamu ­ora usah mbantah.”

“Pak, Fadzil ini nilainya bagus. Apa tidak sayang jika dimasukkan ke pondok?” Ibu mencoba menggoyahkan pendirian bapak. Aku sendiri hanya bisa diam. Pasrah pada keputusan orang tua.

“Enggak Bu. Bapak sudah memikirkannya matang-matang. Hari ini juga Fadzil akan Bapak daftarkan ke pesantren sekaligus madrasahnya. Kalian jangan menawar lagi!”

Ibu tak membalas kata-kata bapak lagi. Apalagi kakak-kakakku. Aku diam, pasrah. Terbayang bagaimana nanti kehidupanku di pesantren. Jauh dari keluarga, aktivitas pasti padat merayap. Belajar ilmu umum sekaligus ilmu agama. Seperti apa kesibukanku nanti? Entahlah. Aku galau. Galau akut tepatnya.

***

Awal kehidupanku di pesantren terasa begitu berat. Di tahun keduabelas dari hidupku ini, aku harus hidup mandiri. Tidak ada ibu yang selalu menyediakan kebutuhanku. Tidak ada kakak-kakak yang memanjakanku. Tidak ada bapak yang selalu menegasiku. Kawan baru, lingkungan baru, dan pola hidup baru.

Pagi, pukul 03.00 aku harus sudah terjaga. Tahajud dilanjut salat subuh berjamaah tidak boleh terlewat. Sanksi adalah risikonya. Selepas salat subuh berjamaah aku tak boleh tidur lagi sebagaimana dulu saat masih di rumah. Tadarus minimal satu juz harus aku lakukan. Setelahnya barulah aku bisa mandi dan sarapan. Itu pun aku harus antre dan berbagi dengan teman.

Pukul 07.00 sampai pukul 13.30 kegiatan sekolah di madrasah berjalan. Meski terhitung sekolah umum, namun belajar di madrasah juga ada materi ilmu agama yang lebih banyak jika dibandingkan sekolah umum, SMP maksudku. Dari setengah dua hingga pukul 15.00 ada kegiatan diskusi. Baru pukul 16.00 aku beristirahat setelah melaksanakan salat ashar berjamaah.

Selepas salat magrib sorogan kitab riyadlus salihin. Masing-masing santri secara bergiliran membaca kitab dengan tulisan arab pegon kepada ustaz yang ditunjuk sebagai pengasuh. Baru setelah salat isya pengajian bandongan kami dapatkan. Biasanya dalam sesi ini langsung diampu oleh Pak Kiai.

Apa kabar bapak, ibu, dan keluargaku? Selama 40 hari pertama, mereka tidak bisa membesukku. Bertelepon pun tidak diperkenankan. Enjoykah aku? Aku berusaha, bahkan aku sedikit lupa kerasnya bapak seiring kehidupanku di pesantren ini.

***

Enam tahun aku belajar dalam lingkungan pesantren. Ta’lim muta’allim sampai Fatkhul Qorib sudah aku pelajari. Nahfu shorof sudah aku kuasai. Prestasi akademik baik saat tsanawiyah maupun aliyah tidak mengecewakan. Medali dan tropy selalu aku persembahakan untuk madrasahku. Ujian akhir saat tsanawiyah maupun aliyah aku selesaikan dengan baik. Meski tidak menjadi yang pertama tapi aku selalu masuk dalam lima besar. Berubahkah sikap bapak padaku? Jawabannya, tidak.

Selesai menempuh pendidikan di aliyah, selesai pula pendidikanku di pesantren. Ilmu agama, ilmu umum, bahkan ilmu tentang kehidupan telah banyak aku dapatkan. Aku bertekad untuk mengaplikasikan ilmuku itu di masyarakat. Bapak pasti bangga padaku. Aku sangat berharap bapak tak lagi memusuhiku. Aku mukim (pulang dari pondok) dengan kepala tegak.

***

Waktu seleksi penerimaan mahasiswa baru sudah dekat. Aku meminta pendapat bapak, ke mana baiknya aku melanjutkan studiku. Berharap kali ini bapak menyetujui keinginanku.

“Pak, kali ini izinkan aku meraih impianku. Mimpi terbesarku adalah membahagiakan Bapak dan Ibu. Aku merasa dengan pilihanku ini nanti, Bapak dan Ibu akan senang. Aku mohon izinkan aku, Pak.”

“Kamu mau kuliah?” tanya bapak dengan nada khasnya.

Inggih, Pak.”

“Ke mana keinginanmu?” Nada sinis bapak belum berubah.

“STAN, Pak. Jurusan Bea Cukai.”

Astagfirullahalazim. Enggak usah!”

“Kenapa, Pak? Masa depan di STAN cerah, Pak. Ikatan dinas itu. Lulus langsung kerja. Masalah risiko kerja di sana, justru itu misiku, Pak. Aku ingin menjadi bagian dari Dirjen Bea Cukai agar bisa berdakwah di sana, Pak. Aku yakin bisa. Bekalku banyak, Pak. Aku mohon restui Aku, Pak.”

“Omong kosong kamu itu. Sekarang kamu bisa berkata seperti itu. Setelah kamu masuk di sana, apa kamu masih bisa bertahan dengan tekanan dari lingkunganmu. Beruntung jika kamu bisa bertahan. Kalau sampai kamu stres karena dikucilkan atau bahkan kamu diancam karena dianggap tidak bisa bekerjasama, apa Kamu mau? Kamu daftar PGSD saja. Jadi guru akan membuka kesempatan bagimu mengaplikasikan ilmu-ilmumu. Percaya Bapak!”

***

Kucoba mendaftar STAN, tapi takdir tak berpihak kepadaku. Aku tidak lolos seleksi. Pengumumannya bersamaan dengan hari di mana aku harus registrasi di jurusan PGSD. Kembali, bapak menjerumuskanku dalam pilihannya. Aku tak pernah bisa menolaknya. Namun, setelah kurenungkan, ternyata akhir yang indah selalu kudapatkan.

Menjadi guru, awalnya bukan pilihanku. Bapak yang memaksaku. Kecewa adalah perasaan yang selalu menemaniku saat kuliah. Kadang aku mengutuk diri. Dengan bekal kepandaianku, aku ternyata gagal masuk sekolah yang aku impikan. Aku harus mengakui keunggulan bapakku lagi. Entah yang keberapa.

Seiring berjalannya waktu akhirnya aku bisa menikmati kehidupanku sebagai mahasiswa PGSD. Lebih terasa nikmatnya lagi, manakala aku resmi diterima sebagai pegawai negeri sipil. Sembari melaksanakan tugas sebagai guru, aku bisa mengaplikaskan ilmuku dari pesantren. Sore hari aku mengajar ngaji anak-anak sekitar rumahku. Malamnya, majelis ta’lim di kampung, bahkan beberapa desa tetangga sering memintaku mengisi pengajian ke sana. Bapak bangga, beliau berhasil memusuhiku. Kemenangannya adalah kemenangan bagiku. Berat memang awalnya ketika harus kalah dari bapak berkali-kali dalam hidupku. Namun, kemenangan yang sangat indah aku rasakan sebagai obat atas kekalahan-kekalahanku.

Oleh: Wawan Murwantara, anak yang masih terus belajar berbakti kepada ayah ibunya.

Ilustrasi dari sini.

Facebook Comments
error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: