Begitu Dekat Ketika Melarat, Lalu Jauh Ketika Tangguh

Akal menjadi “pintu gerbang” bagi pencapaian-pencapaian sains dan teknologi spektakuler yang tentunya sangat banyak manfaatnya bagi kehidupan kita. Manusia “mampu” mencapai apa pun dengan bekal eksplorasi akal dan capaian ilmu pengetahuannya. Bukti-buktinya telah benderang membanjar di depan mata kita.

Akal sebagai anugerah Allah kepada manusia, yang menjadikannya berbeda dengan makhluk-makhluk lainnya, misal binatang dan malaikat, seyogianya menjadi modal plus untuk membuat kita bisa lebih dalam dan besar dalam bersyukur padaNya. Sayangnya, sungguh amat disayangkan, jauh lebih sering kita menjadikan modal besar itu untuk kufur dan membangkangi perintah-perintahNya. Tepatnya, bahkan, mengakal-akaliNya.

Tabiat negatif manusia ini telah diterakan oleh Allah dalam surat az-Zumar ayat 49, “Apabila manusia ditimpa bencana, dia memohon pertolongan pada Kami, kemudian apabila Kami limpahkan nikmat kepadanya, dia berkata, ‘Sesungguhnya ini semua berhasil aku capai karena kepintaranku.’ Sunguh itu adalah ujian tetapi kebanyakan manusia tak mengetahuinya.”

Kelakuan ingkar nikmat manusia sama sekali bukanlah hal baru. Di masa Rasulullah Saw, tersebutlah sahabat yang amat salih, rajin ibadah, namun miskin luar biasa, namanya Tsa’labah. Saking miskinnya, Tsa’labah harus pulang cepat seusai shalat jamaah bersama Nabi agar istrinya di rumah bisa segera menunaikam shalat karena menunggu gantian baju yang dikenakannya. Bayangkan, betapa fakirnya dia.

Tsa’labah memohon Rasulullah Saw. berkenan mendoakannya kepada Allah agar diberi harta. Umpama aku memohon pada Allah agar gunung Uhud itu diubah jadi emas, niscaya Allah akan mengabulkan, tutur Rasulullah saw., tetapi sungguh manusia akan kufur kepadaNya, masjid akan sepi karena sibuk sama harta emas itu.

Pendek hikayat, Tsa’labah diberi seekor kambing betina yang sedang hamil. Ia pun merawatnya dengan tekun dan gigih. Ia tetap rajin ibadah. Lama-kelamaan Tsa’labah makin banyak memiliki kambing, makin berharta, makin kaya, dan makin alpalah ia pada ibadahnya. Alpalah ia pada imannya. Tsa’labah yang mulanya sahabat dekat Rasulullah Saw, ahli ibadah, berubah sedemikian rupa dihempaskan kemilau nikmatNya yang lalai ia syukuri.

Kekayaan—bersama kecerdasan—memang acap betul menjadi pintu hancur bagi kedalaman iman di hati, amaliah setiap hari, dan akhlak karimah kepada sesama.

Hari ini, di depan mata, berjubel benar perilaku-perilaku ingkar nikmat sejenis itu. Atau, hei, jangan-jangan kita pun pelakunya, ya?

Aura negatif terbesar kecerdasan di kepala kita ialah berkuarnya sikap “kritis berlebihan (buta)” atau “anarkis radikal” yang pastilah bersumber dari golakan kecongkakan di dalam hati. Sampai-sampai menerabas habis iman di dada dan gugusan etika.

Apa-apa digugat, dipertanyakan, diragukan, dengan seliar-liarnya tanpa kendali iman lagi, itulah tanda-tanda kritis buta yang berlebihan. Atas nama kritisisme ilmu pengetahuan dan logika.

Apa-apa diserang, dinyatakan kooptatif dan hegemonik, memandulkan kemajuan dan peradaban, termasuk tatanan iman, amaliah, dan akhlak yang telah diwariskan Nabi Saw dan para alim ulama pendahulu kita, itulah ciri-ciri anarkis radikal. Atas nama gelora logika dan kemajuan ilmu pengetahuan kontemporer.

Di hadapan dua sikap yang asalinya logis belaka sebagai buah meluas dan mendalamnya ilmu pengetahuan yang merasuki kepala kita tersebut, mari diingat selalu bahwa bukan capaian ilmu itu yang salah, eksplorasi logika itu yang berbahaya, atau temuan-temuan sains dan riset itu yang harus ditinggalkan, melainkan tergerusnya iman di dalam hatilah biang keroknya.

Sejarah Islam telah mencatat nama-nama besar pesohor ilmu pengetahuan yang luar biasa mewariskan capain-capaian ilmu pengetahuan yang menakjubkan tetapi tak pernah kehilangan marwah iman dan amaliahnya sebagai muslim, mukmin, dan ‘abdullah. Ada Ibnu Sina, Ibnu Khaldun, Al-Kindi, Ibnu Bajjah, Al-Khaitam, Al-Khazini, hingga Al-Khawarizmi.

Bradley Steffens, misal, memberikan pujian sangat tinggi kepada Kitab al-Manazhir karya Ibnu al-Khaitam sebagai karya pertama dalam sejarah dunia yang berhasil menjelaskan prinsip kerja kamera obscura dan sekaligus menciptakannya. Apresiasi serupa diungkapkan oleh Nicholas J. Wade, dan itulah yang kini terus dielaborasi sebagai teknologi optik. Tanpa temuan dasar saintifik optik al-Khaitam, hari ini boleh jadi kita belum bisa merasakan kecanggihan teknologi optik kamera.

Surat ar-Rahman ayat 19-20, saya tambahkan satu bukti lainnya, juga mendorong kita untuk meneliti secara ilmiah bagaimana maksud dari, “Dia membiarkan dua lautan mengalir yang keduanya kemudian bertemu (tetapi) antara keduanya ada batas yang tidak dilampaui oleh masing-masingnya.”

Kini kita telah memahami bagaimana hal itu benar adanya, nyata, dan bekerja: bahwa perbedaan massa jenis kedua aliran lautan yang dipengaruhi oleh gaya Fisika bernama “tegangan permukaan” itu mencegah lautan bercampur satu sama lainnya seolah ada dinding yang memisahkan.

Tak ada landasan logisnya sama sekali untuk memicingkan mata kepada ajaran-ajaran Islam sebagai penghambat eksplorasi akal, logika, filsafat, ilmu pengetahuan, sains, dan teknologi. Tetapi memang buahnya akan telak berbeda antara pemuka ilmu pengetahuan yang bersyukur kepada Allah dibanding pengingkarNya. Dan tepat di titik inilah seyogianya kita senantiasa eling pada peringatan yang dideraikan surat az-Zumar ayat 49 tersebut.

Orang yang hatinya diselubungi iman akan berdecak kagum sembari bergumam, “Masyaallah ….” tetapi orang yang terampas imannya oleh capaian akal, pengetahuan, dan teknologi (al-Qur’an mengistilahkannya ‘zaigh’) akan menjadi makin jauh dariNya.

Situasi serupa juga potensial benar terjadi pada orang yang diuji dengan keterbatasan dan kelimpahan harta. Di masa melarat, dekat ia kepadaNya. Bersimpuh dia dalam sujud panjangnya. Mengulur tangan dia memohon pertolonganNya. Tetapi tatkala ia diberi keluasan dan keberlimpahan harta, sangat amat rawanlah ia terjungkal pada kelalaian dariNya, jauh dari masjidNya, dan bahkan tenggelam dalam kemaksiatan-kemaksiatan yang sangat dilarangNya.

Adakah di antara kita yang berperilaku demikian?

Al-Qur’an niscaya selalu benar tuturannya, nyata fakta-faktanya, dan terus berlangsung sepanjang masa. Jika dulu ada Tsa’labah yang beternak kambing, sudah pasti hari ini sangat luar biasa banyaknya Tsa’labah-Tsa’labah lain yang tenggelam dalam pelbagai jenis kegiatan, bisnis, dan perhiasan dunia lainnya.

Semoga Allah Swt senantiasa melindungi kita semua. Aamiin.

Oleh: Edi AH Iyubenu.

Tinggalkan Balasan