Hai sahabat Trenlis.co, ada buku terbitan Noktah, sayap dari penerbit Diva Press. Judul bukunya Jalani Nikmati Syukuri, karya Dwi Suwiknyo. Ketika saya membaca buku ini, ternyata ngejalani hidup ini santai nan simpel. Ya, sesuai judulnya Jalani Nikamti Syukuri. Banyak pelajaran yang dapat kita petik di dalamnya. Sebagai pembaca, saya mencoba menjaring beberapa poin penting untuk berbagi dengan kamu yang belum sempat baca buku ini. Kita mulai, ya!

Belajar Menerima

Terkadang kita dihadapkan pada sebuah peristiwa pahit. Saat itu merasa bahwa kita sudah gagal. Parahnya, kegagalan itu membuat kita berpikir Allah Swt tidak mengabulkan usaha dan usaha kita. Amsal nih. Dipecat dari pekerjaan yang sudah lama kita geluti. Tidak lulus ujian CPNS, padahal sudah mengikuti beberapa seleksi yang ketatnya minta ampun. Bisnis bangkrut, padahal sudah menghabiskan dana yang tak terbilang banyak. Kalau dihadapkan dengan kondisi seperti itu, apa yang ada dipikiran dan apa yang akan kita lakukan? Prasangka buruk, menyalahkan diri sendiri, orang lain bahkan Allah? Astaghfirullah.

Ups. Jangan terburu-buru. Cobalah kita belajar menerima kenyataan itu. Bisa jadi, kamu dipecat lalu diganti dengan pekerjaan lain yang lebih baik. Bisa jadi kamu gagal jadi PNS kemudian diganti dengan jabatan atau usaha lain lancar dalam waktu yang tak bisa kita tebak. Bisa jadi bisnis bangkrut lalu diganti dengan kebahagiaan lain.

Mengeluh boleh-boleh saja. Tapi kudu ingat, mengeluh bukan malah menggerutu apa lagi su’udzon kepada-Nya. Sadari bahwa semua yang terjadi pasti dan mutlak ada pada kehendak Allah. Bukankah alam dan semua isinya ada pada kendali-Nya? Astaghfirullah. Istighfar dan tetap husnudzon saja.   

Bukan Hanya Ilmu untuk Pandai, untuk Bahagia pun Perlu Belajar

Melihat orang lain sukses, kaya, poluler dan semua kebutuhannya selalu terpenuhi tentu pernah kita alami. Dari melihat suasana seperti itu, kadang muncul pertanyaan dan penuh pengandaian. Andai saya punya uang, saya ingin beli mobil ini dan itu. Andai saya punya uang, sayang ingin pergi jalan-jalan ke luar negeri. Andai saya punya saya punya ilmu, saya pasti sudah jadi dosen, ilmuwan, dan profesor sehingga bisa terkenal. Andai saya ganteng atau cantik saya akan jadi artis terkenal. Banyak pengemar, dirundang sana sini.

Jleb. Stop berandai-andai. Jangan sampai kita lupa untuk belajar bahagia dari apa yang sudah kita miliki. Cukuplah nikmati apa yang kamu miliki hari ini. Masih punya rumah, keluarga, bisa makan enak, bisa berjalan, bisa menghirup oksigen dengan lega. Banyak toh, orang kaya kadang tidak bisa makan enak karena penyakit kronis yang menemani tubuhnya. Banyak toh, memiliki mobil ke sana kemari tapi sering bertengkar dengan istri atau juga tidak akur dengan tetanganya.

Jalani saja hidup ini sesuia porsi yang sudah ada. Syukuri semua yang sudah ada pada kita. Karena kebahagiaan sejatinya ada pada apa yang kita miliki hari ini. Bukan apa-apa yang masih ada pada angan-angan apalagi belum tentu akan tiba ditangan kita. Betapa tenangnya kalau kita hidup penuh rasa syukur.

Ternyata Benar, Kaya Belum Tentu Enak

Mayoritas orang memandang, ukuran kaya adalah banyak uang. Mau beli ini itu bisa langsung terlaksana. Bisa angapan itu benar, bisa jadi salah. Nah, ngomongin kaya tentu semua orang menganggap memiliki harta berupa uang berlimpah. Padahal, harta menurut Rasulullah Saw sangat simpel dan sangat sederhana sekali. Menurut beliau, harta kita adalah apa yang kita makan dan disedekahkan. Jelas toh?

Kaya harta berupa uang belum tentu enak. Apalagi untuk terlihat kaya sebenarnya tidak harus bilang “saya kaya”. Tidak harus membeli barang mewah. Tidak harus menghamburkan uang hanya untuk ngoleksi barang-barang yang tidak begitu bermanfaat. Misal, beli barang seperti barang antik seharga ratusan bahkan milyaran hanya untuk dipajang di ruang tamu. Tujuannya agar dibilang kaya. Fungsi barang tersebut hanya untuk diperlihatkan. Dimakan tidak, dijadikan bantal untuk tidur juga tidak.

Kata mas Dwi dalam buku ini, banyak orang kaya yang justru memilih hidup sederhana tanpa pakaian mewah. Contoh sederhananya begini. Jangan memaksa beli mobil seharga 1 milyar kalau hanya mampu beli seharga 150 juta—hanya untuk terlihat kaya. Apalagi sampai berutang yang kemudian masih pusing tujuh keliling untuk membayarnya nanti. Maaf, jangan kaya karena keterpaksaan, sakit tahu! Cukuplah kaya dengan kesederhanaan.

Pikiran Kita Aja Berbeda, Apalagi Kesuksesan

Adanya perbedaan suku, kulit, jenis, bahasa, dan agama dalam penciptannya sudah sunnatullah. Ini sudah jelas dalam surat hujarat ayat 13. Mau tahu? Silakan buka al-Quran. Masa cari satu ayat aja malas? Hehe. Yang ingin penulis ungkap bukan soal beda agama, suku, kulit, jenis kelamin. Tapi lebih kepada kesuksesan kita. Beda kepala tentu beda pikiran. Beda pola pikir, tentu beda cara pandang akan suatu hal. Beda cara pandang, tentu beda jalan yang ditempuh menuju kesuksesan.

Sederhana saja. Suka akan kedisiplinan. Maka orang tersebut akan berpikir untuk selalu disiplin dan tegas. Dari situlah berangkat menuju cita-citanya menjadi polisi, tentara atau penegak displin. Pun dengan mereka yang jadi dokter. Berangkat dari pola pikir suka akan suatu pengobatan, ingin menyembuhkan orang lain dari sakit. Begitupun kesuksesan profesi lainnya.

Lalu, apakah anak negeri ini semuanya harus satu profesi? Tidak. Ada yang jadi dokter, polisi, penulis, wartawan, pengusaha, politis dan lainnya.

Nah, dalam hal ini penulis mencoba memberikan kesadaran bahwa, kesuksesan semua orang pasti berbeda antara satu dengan lainya. Jadi apapun, yang terpenting adalah jalani, nikmati, dan syukuri profesi itu. Bukan saling iri dan dengki dengan kesuksesan orang lain, ya.

Jangan Minder dan Tampillah Lebih Kreatif

Jangan menyesali dengan apa yang sudah kita miliki. Misal postur tubuh kita kecil. Jangan minder dengan kondisi serti itu. Cobalah berkaca pada Ucok Baba. Artis yang postur tubuhnya kecil mungil. Dengan rasa percaya diri sebagai bentuk syukurnya, dia bisa jadi aktor di berbagai film pada masanya.

Dalam suatu kesempatan, Ucok pernah berkata, “Tubuh saya memang kecil, tapi tubuh kecil ini yang mengantarkan saya menjadi seperti ini (artis).”

Coba perlahan kita pikirkan dari apa yang dikatakan Ucok. Secara tidak langsung, Ucok percaya diri sekaligus menampilkan kreativitas melalui actingnya di berbagai film yang diikutinya. Tidak ada yang sia-sia dalam tiap penciptaan. Masyaallah.

Memandang Haters Sebagai Anugrah

Manusia mana yang selalu banjir akan pujian dan penghargaan. Banyak orang terkenal masih saja ada yang membencinya. Pun dengan kita. Jangankan kita. Sekaliber Rasulullah Saw yang berjuluk Uswatun Hasanah, Khiyarun min Khikyar makhluk Allah saja ada Hatersnya.

Tapi nih, ngomongin Haters. Coba kita ambil sisi positifnya saja. Anggap saja haters itu sebagai marketing keterkenalan kita. Disadari atau tidak, Haters kita akan membicarakan tentang kita ke sana sini. Ya, walaupun itu misalkan bicara kejelekan kita. Tapi kalau dilihat dari kacamata positif, justru ia memperkenalkan nama kita.

Beda lagi kalau diambil dari sisi agama. Secara tidak langsung, mereka yeng membenci lalu membicarakan kita. Dengan begitu, mereka menghapus dosa kita. Bukankah orang yang menggunjing bin ghibah ibnu gosip, dapat menghapus objek yang sedang bicarakan? Jleb. Selesai, kan?

Kalau poin penting yang saya tuliskan ini bisa diterima dan masuk hati kamu, insyaallah ngejalani hidup akan tenang. Bahagia. Gimana pun kondisi hidup kita, kudu tetap dinikmati, dijalani, dan disyukuri. Ya, kan?

Untuk lebih lengkapnya, silakan baca buku dengan sampul warna merah itu. Dijamin pikiran jadi fresh, segeeerrr ….

Oleh: Gafur Abdullah.

Ilustrasi dari sini.

Facebook Comments
error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: