cara mengubah lelah jadi lillah

Belajar Lillah dari Buku Ubah Lelah Jadi Lillah

Apa kabar sahabat Trenlis.co? Bahagia, galau, atau lagi stres? Hehe. Moga-moga tetap dalam naungan rahmat Allah ya. Nah, kali ini penulis akan mengupas buku yang Best Seller. Buku apa, ya? Judul bukunya, Ubah Lelah Jadi Lillah.

Kalau pernah jumpa pembaca buku tersebut di medsos, tak jarang mereka memberikan respon positif. Lebih-lebih mereka yang merasa ditampar dengan isinya yang menyadarkan pembaca dari ketidaksadarannya dalam melakakukan sesuatu. Nggak cuma itu, lho. Saking Best Sellernya, buku ini sudah cetakan ke-5 per Agustus 2018.

Buku ini tidak hanya beredar di dalam negeri, tapi juga di luar negeri. Duh, seperti apa sih menggugahnya buku ini? Kok sampe segitunya? Baiklah, sepintas nan moga tepat, penulis akan coba menyajikan pelajaran apa sebenanrnya yang bisa kita dapat dari buku terbitan Genta Hidayah ini.

Kita Lelah Bukan Karena Pekerjaan Saja.

Lho, kalau bekerja jelas melelahkan. Ssstt. Sabar dulu atuh. Hehe. Ok, secara fisik, kita lelah karena bekerja. Amsal, bekerja sebagai Cleening Service di kantor. Pontang-panting, ngepel lantai, ngelap kaca, bersiin meja pegawai sana sini. Tapi, kita kudu sadar bahwa ternyata ada faktor lain yang bisa membuat kita mudah lelah. Bekerja sebagai direktur saja yang kerjaannya hanya duduk dan perintah sini perintah sana, bisa jadi lebih lelah dari cleening service. Mau tahu kenapa?

Semua itu bisa terjadi karena kita Terlalu Emosional (mudah tersinggung, terlalu trauma, sering khawatir). Lebih dratmatis dari drama korea kalau mendapat masalah (terlalu membesar-besarkan masalah kecil atau berandai-andai masalah akan besar padahal masalah yang ada saat ini kecil).

Terlalu banyak ngeluarkan energi sehingga tak sadar itu perbuatan setan alias melakukan kemubadziran (membuang waktu hanya untuk berdebat yang tak ada ujungnya, masih saja melakukan kesalahan yang sama, terobsesi pada popularitas, memikirkan urusan di luar kepantasan dan bukan urusan kita). Ambisius dan rakus (ingin dunia ada genggamanya, ingin ini ingin itu). Sering berpikir negatif (sering menyalahkan diri sendiri bahkan orang lain jadi pelampiasan, nol semangat alias pesimis).

Pentingya Lillah-kan Semua Kelelahan

Bekerja tidak sekadar bemodal niat ingin uang. Kita perlu niatkan semua pekerjaan kita karena ibadah kepada Allah. Berarti harus berniat “saya berniat bekerja ini karena Allah ta’ala dong?” Hehe. Bukan begitu maksudnya. Tapi, libatkan Allah dalam pekerjaan kita.

Caranya bisa begini. Luruskan niat (luruskan prosesnya, karena tidak ada niat baik yang bisa dicapai dengan cara yang buruk. Lebih tepatnya, tidak menghalalkan segala cara). Awali iktiar pekerjaan dengan Bismillah (dengan ini, secara tidak langsung kita meyakini Allah selalu ada untuk kita. Sehingga kita berdoa dan meyakini Allah akan mempermudah urusan kita karena memang semua sesuatu akan mudah bila dikehendaki-Nya).

Bulatkan tekad (opitimis dalam berikhtiar dengan cara berani bertindak dan antusias). Perlunya menyempurnakan ikhtiar (fokus, komitmen dan totalitas pada ikhtiar). Meluruskan niat, membulatkan tekat dan menyempurnakan ikhtiar tidaklah cukup lalu berhasil mengubah lelah jadi lillah. Perlu juga kita menghapus dosa dan menambah pahala kita dengan cara memperbanyak istrighfar, wudhu, shalat taubat, dan seringlah berdzikir.

Ternyata Kita Bisa Online dengan Allah

Percaya nggak, kalau kita sebenanrya bisa aktif online sepuasanya tanpa harus beli kuota hanya seukuran GB? Percaya atau tidak, ternyata kita bisa melakukannya dengan cara aktifkan god spot bukan host spot, ya. Hehe.

Disadari atau tidak, kita sudah jelas hamba Allah yang diciptakan-Nya. Sebagai hamba-Nya, kita harus mengimani-Nya. Ya, kadang sih kita tidak begitu memikirkan niat dan perbuatan sudah sejalan dengan petunjuknya atau tidak. Amsal, mau kaya dengan menempuh cara riba, menipu, merampok dan lainnya. Tapi pas menemukan jalan buntu, kita malah berkeluh kepada-Nya. Setidaknya berkata ‘Ya Allah, hamba harus gimana ini?’.

Ah, tabiat manusia memang gitu. Kalau senang lupa kampung halaman, kalau susah datangi kampung halaman. Artinya, ketika senang lupa Tuhan. Saat susah, Tuhan disebut-sebut seraya mengiba.

Nah, kembali pada aktifkan god spot. Coba kita hubungkan antara kesadaran kita sebagai makhluk Allah dengan penelitian yang dilakukan ahli neurolog, Michael Persinger pada tahun 1990-an. Nyatanya, ingatnya manusia kepada tuhannya saat ada pada jalan buntu sebagai bukti bahwa ada sinyal ketuhanan pada otak manusia. Nah, inilah yang disebut god spot. Bukan host spot, ya. Koneksinya tidak perlu beli ke conter terdekat apalagi terjauh. Cara mengaktifkannya cukup bersujud pada waktu shalat yang notabene sudah ditentukan.

Tidak hanya itu, fisik, pikiran dan jiwa kita bisa terkoneksi dengan Allah. Fisik dapat terkoneksi dengan Allah dengan cara menggunakannya pada jalan kebenaran. Sederhana sekali. Melihat dengan mata Allah (tidak melihat aurat dan hal yang dlilarang), bercakap dengan lisan Allah (tidak berkata kasar, menghina, menfitnah, menggunjing dan berbohong), mendengar dengan telinga Allah (hanya mendengarkan sesuatu yang diperbolehkan), berjalan dengan kaki Allah (tidak dalam rangka maksiat kepada Allah), menyentuh dengan tangan Allah (sentuhan kasih sanyang nan lembut, murah tangan dan tidak memukul tanpa alasan yan tepat).

Perihal tubuh kita, kita bahkan diajarkan untuk berdoa agar Allah memberikan cahaya pada setiap tubuh kita. Allahumma fi qolbi nurun, wa fi aini nurun, wa fi yadi nurun dan seterusnya.

Untuk pikiran, kita juga perlu mengoneksikan dengan Allah. Hal itu bisa dilakukan dengan cara sederhana: tidak berprasangka buruk dan tidak menyepelelkan kuasa Allah. Bagaimana dengan berpikir bebas atas dasar ingin kreatif? Boleh-boleh saja. Asal tidak keluar dari sunnatullah.

Setelah fisik dan pikiran, ada jiwa yang harus dikoneksikan dengan Allah. Caranya gampang. Cukup ihsan tanamkan dalam diri kita. Bagaimana ihsan? Ketika kita mengerjakan sesuatu harus sadar bahwa ‘Seakan kita melihat Allah dalam setiap ingin dan melakukan sesuatu. Sekalipun kita tidak menyadari itu, Allah tetap melihat kita’.

Kalau sudah demikian, kita tidak akan mudah meliarkan jiwa kita untuk kemaksiatan. Entah itu tidak khusuk dalam shalat, bangga dengan maksiat yang dilakukan, bahkan kadang remeh dengan hal-hal yang berujung menyekutukan-Nya. Naudzubillah.

Selain di atas, untuk tetap menjaga koneksi dngan Allah kita harus mengikuti ajaran Rasulullah Saw yang notanene uswatun hasanan  (teladan terbaik) dalam segala aspek kehidupan, bergabung bersama grup dan berjejaring dengan orang-orang shaleh.

Masih merasa lelah?

Sudahlah, mulai hari ini, ubahlah pola pikir kita yang hanya sibuk dan memikirkan pekerjaan menjadi menikmati dan mendapat keberkahan darinya. Semoga bermanfaat. Kalau mau jelas dan tuntas, silakan baca buku karya Dwi Suwiknyo ini. Karena tulisan ini hanya bagian penting versi penulis artikel ini. Lagian, ini bukan resensi, hanya ulasan penting saja dari saya yang sudah membacanya. Hehe. Semoga lelahnya kita berubah jadi lillah dan menjadi berkah.

Oleh: Gafur Abdullah.

Ilustrasi dari sini.

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan