Ilustrasi dari Hipwee.

Belajar Seni Mengkritik Agar Tak Menampar Muka Sendiri

Di era sekarang, mengkritik bukan lagi lewat mulut ke mulut. Tahukah kamu? Bahwa jari kita juga bisa mengkritik? Bingo! Media sosial menjadi ajang berburu bagi orang-orang yang hobi mengkritik.

Mengkritik adalah sebuah nasihat untuk kita agar memperbaiki diri dari kesalahan yang pernah kita lakukan. Seyogyanya memberikan kita cerminan diri untuk tidak melakukan kesalahan yang sama. Pengkritik yang bijak dan cerdas akan bersifat membangun, bukan menjatuhkan. Sayangnya, zaman sekarang kebanyakan memberi kritik, namun jauh dari memberi kesan yang baik.

Terkadang kita tidak bisa menerima kritikan dari orang lain yang bersifat menjatuhkan, karena tabiat manusia memang seperti itu tidak ingin direndahkan. Namun, tahukah kamu kritikan yang menyakitkan, pedas dan terkadang membuat hati kita terbakar emosi adalah sebuah kritikan yang paling jujur? Sebagian dari kita belum benar-benar memahaminya.

Lalu Apa yang harus kita lakukan? Mensyukurinya. Kenapa? Karena tanpa sadar mereka telah sudi memberi tahu letak kesalahan kita tanpa harus kita mencarinya.

Namun lagi-lagi Islam melarang mengkritik orang dengan menyakiti, mempermalukannya di depan umum dan melecehkannya.

Ada sebuah kisah datang dari para nabi, salah satunya nabi Ibrahim as. Beliau mengkritik ayahnya dengan cara yang lebih halus dan sopan seperti dikutip dalam al-Qur’an surat Maryam [19] ayat 42 yang artinya:

“Ingatlah ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya: Wahai ayahanda tercinta, mengapa kamu menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat dan tidak dapat menolong kamu sedikitpun?”

Perhatikan baik-baik ayat di atas, nabi Ibrahim as dengan gaya bahasa yang lembut dan sopan memanggil ayahnya “yaa Abatii” yang memiliki arti “wahai ayahanda tercinta”.  Beliau tidak memanggilnya dengan sebutan”yaa abii” artinya “wahai ayahku”. Karena nabi Ibrahim sadar betul bahwa ayahnya tengah keliru yakni menyembah berhala. Beliau memanggilnya dengan penuh kasih sayang dan berusaha untuk tidak membuat ayahnya tersinggung lebih lagi tersakiti.

Ini mengajarkan kepada kita bahwa menasihati atau mengkritik orang tidak harus dengan kalimat tajam agar orang yang dikritik sadar atas apa yang dilakukannya. Pilihlah kalimat yang baik dan santun agar dapat diterima oleh yang dikritiknya.

Berikut ini beberapa etika dalam mengkritik menurut pandangan Islam dan bagaimana kita menyikapi kritikan dengan terbuka dan lapang dada. Yuk, kita simak!

Ikhlas dalam mengkritik dan membantah

Seseorang mengkritik dan membantah tidak boleh dengan maksud menonjolkan diri dan membalas dendam. Jangan sampai kita mengkritik seseorang karena termotivasi oleh hasad (kedengkian) melainkan bermaksud untuk menunjukan jalan yang benar atau mengoreksi kesalahan dari yang diperbuatnya.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahumullah mengatakan “Wajib bagi seseorang memerintahkan kebaikan dan mengingkari kemungkaran berlaku ikhlas dalam tindakannya dan menyadari bahwa tindakannya tersebut adalah ketaatan kepada Allah. Dia berniat untuk memperbaiki kondisi orang lain dan menegakannya hujjah atasnya,bukan untuk mencari kedudukan bagi diri dan kelompok, tidak pula untuk melecehkan orang lain”

Bantahan harus ditopang dengan ilmu

Seorang kritikus harus mengetahui letak kesalahan pada pihak yang ingin dibantah. Dia harus tahu makna perkataan pihak yang dibantah apakah bertentangan dengan nash-nash syariat sehingga dirinya tak mengingkari sesuatu yang ma’aruf, tidak boleh membenarkan sesuatu yang salah dan menyalahkan sesuatu yang benar.

Dengan demikian kita tidak boleh membantah atau mengkritik tanpa dengan ilmu dan bashirah. Sebagaimana Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan, “Hendaknya seseorang yang melakukan amar ma’ruf nahi mungkar adalah seseorang yang ‘alim terhadap apa yang dia perintahkan dan dia larang.”

Berpikir dan bersikap adil

Seorang kritikus tidak boleh berbuat zhalim, menuduh sembarangan, menambah atau mengurangi perkataannya dengan makna yang tidak dimaksud oleh pihak yang dibantah.

Berkhusnuzhan (berprasangka baik), namun tetap kritis

Selalu berprasangka baik terhadap pihak yang dibantah namun jangan sampai berlebihan sehingga kita menganggap sebuah kebatilan diperbolehkan. Hal ini ditunjukan agar kita tak bersuudzhon terhadap pihak yang dibantah. Namun, sebaiknya bersikap moderat diantara keduanya. Apabila kita tidak bisa melakukan keduanya, hendaknya diserahkan kepada yang ahlinya.

Menyampaikan kritikan yang sopan dan santun

Seperti dijelaskan dibagian pertama pada artikel ini bahwa mengkritik seseorang tidak boleh menyakiti, memperlakukannya dengan kasar, mempermalukannya di depan umum dan melecehkannya. Cukup dengan berperilaku sopan dan lemah lembut, namun kadang dibeberapa kondisi kita harus bersikap tegas sebagaimana yang dipraktikkan ulama terdahulu. Akan tetapi bersikap lembut adalah hukum asal dalam mengkritik.

Lihat situasi dan kondisi

Sebagai seorang pengkritik hendaknya melihat situasi dan kondisi. Apabila kesalahan tersebut dipublikasikan secara luas, maka kita boleh memberi bantahan secara terang-terangan. Jika itu sebuah kesalahan bersifat personal, maka hendaknya pengkritik melakukannya dengan empat mata. Face to face.

Lantas, bagaimana jika kita yang dikritik?

Diam dan dengarkan

Ini adalah akhlak yang paling penting, jangan pernah bersikap defensif (membela diri) karena kita adalah makhluk yang mudah keliru. Lebih baik diam dan dengarkan. Jika seorang kritikus telah selesai berbicara, maka giliran kita menyampaikan klarifikasi tersebut.

Bersegera memperbaiki diri

Perbaiki apa yang salah, karena manusia tidak luput dari kesalahan. Yakinkan diri jika ada yang mengkritik selalu berfikir positif, hal ini demi kebaikan kita sendiri agar bersegera memperbaiki diri.

Bersyukurlah!

Jika ada yang mengkritik artinya dia sayang dan peduli dengan kita. Dia rela membagi waktunya untuk mengoreksi kesalahan kita. Jadi ucapkan terimakasih kepada orang yang mengkritik.

Nah, itulah beberapa etika mengkritik menurut pandangan Islam dan bagaimana kita menerima kritikan dengan terbuka dan lapang dada. Jika tulisan ini bermanfaat silakan share ke teman yang lain ya.

Oleh: Nuni Wahyuni, dilansir dari beberapa sumber.

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan