Pak Giyar (panggilan akrab Pak Giyarno) tinggal di Dusun Banombo, Desa Pucanganom, Kecamatan Rongkop, Gunungkidul. Untuk sampai ke sana, aku harus melewati jalan cor sejauh dua kilometer. Itu pun setelah menerabas jalan aspal yang menghubungkan jalan utama dengan desa-desa. Sepanjang jalan, di kiri dan kanan berjajar perbukitan batu kapur yang hanya tampak hijau saat musim hujan.

Rumah-rumah penduduk di sana tidak serapat pemukiman di kota. Seolah memanfaatkan lereng-lereng bukit untuk menanam pondasi. Rumah-rumah bercokol di atas bebatuan kapur yang terjal, memisahkan diri dengan desa lainnya di balik bukit. Banyak pekarangan rumah yang juga berfungsi sebagai kebun mini dengan berbagai macam sayuran. Tinggal petik saja sayur di pekarangan itu jika hendak memasak.

Jangan tanya soal gaya hidup, ya? Jelas sangat berbeda dengan gaya hidup di kota. Kalau di kota, seseorang bisa sangat mudah mendapatkan akses informasi dan fasilitas umum, tapi di tempat beliau masih sulit. Jauh dari kampus, sekolah-sekolah masih sederhana, akses internet juga hanya tersedia dari satu atau dua provider telekomunikasi saja.

“Ya, sehari-hari berkebun, ternak, buruh, hasilnya buat makan. Ada juga yang mendapatkan penghasilan sebagai pekerja seni, seperti saya. Kalau pemuda sih, banyak yang merantau,” penjelasan Pak Giyar mengenai kehidupan masyarakat di sana.

Bisa dikatakan bahwa, watak masyarakat di sana tuh nerima (menerima apa adanya). Jika mendapat rezeki hari ini dan hanya cukup untuk dimakan sehari, ya tidak apa-apa. Kalau bisa mendapat rezeki lebih dan cukup untuk makan beberapa hari, ya alhamdulillah. Barangkali karena budaya gotong royong yang masih kental sekali, sehingga ketika satu keluarga dirundung susah, banyak tetangga yang suka rela membantu.

Nilai gotong royong itulah yang kemudian membentuk karakter Pak Giyar sebagai sosok yang tanpa pamrih. Mendedikasikan diri untuk memberikan apa yang beliau mampu kepada orang-orang yang membutuhkan.

Pak Giyar sadar betul bahwa beliau bukan orang kaya, tidak punya banyak harta. Sehingga kecil kemungkinan bisa membantu orang lain dengan cara derma, memberi dalam bentuk uang. Namun, beliau tetap berusaha untuk menebar manfaat bagi orang lain. Maka, beliau berkomitmen membagi keterampilan yang beliau kuasai kepada orang-orang.

Pak Giyar adalah sosok yang cinta dan peduli dengan budaya dan kesenian Jawa. Karena lahir dan dibesarkan di tanah Jawa, beliau memandang nilai-nilai adiluhung budaya Jawa memiliki karakter yang kuat. Bahkan mampu memberi kesan santun pada siapa pun yang menerapkannya. Pak Giyar menyebutnya sebagai orang yang paham unggah-ungguh. Sebagaimana yang turun temurun selalu diajarkan oleh nenek moyang orang Jawa.

Kecintaan beliau itu kemudian diwujudkan dengan cara menekuni seni karawitan. Apa pun yang ada hubungannya dengan gamelan, wayang, beliau uri-uri (lestarikan) dengan sepenuh hati. Hal itu dilakukan karena beliau tidak ingin orang Jawa kehilangan karakter ke-Jawa-annya. Apalagi setelah melihat karakter generasi milenial seperti sekarang ini. Beliau sangat prihatin.

Awalnya aku juga bingung, apa hubungannya seni karawitan dengan nilai-nilai adiluhung yang menjadi karakter orang Jawa tadi itu. Kalau memang ingin memperbaiki karakter, sebenarnya cukup dengan belajar di sekolah atau pendidikan moral secara langsung, bukan?

Ternyata Pak Giyar punya pandangan berbeda. Justru dengan mendalami seni karawitan itulah cara paling efektif memahami nilai-nilai adiluhung. Kok, bisa? batinku.

“Memainkan gamelan itu harus dengan perasaan. Ndhak bisa asal thuthuk (pukul), atau gesek saja. Irama, suara, dan nada harus diselaraskan dengan cara olah rasa. Proses inilah yang secara ndhak langsung membuat perasaan seseorang lebih peka, kemudian terbawa dalam kehidupan sehari-hari.”

Oke, aku sepakat saja soal itu, tapi bukan berarti orang-orang yang tidak pernah main gamelan adalah tipikal orang yang tidak peka, bukan? Ah, tentu saja Pak Giyar mengiyakan. Karena bermain gamelan hanya salah satu sarana saja untuk olah rasa, untuk jadi lebih peka.

Jadi, kalau punya calon yang tidak peka, suka PHP, kirim aja buat latihan gamelan, beres kali ya?

Selain itu, bermain gamelan juga butuh beberapa orang. Harus dimainkan secara berkelompok. Dalam hal ini, nilai-nilai kebersamaan juga terasah. Guyub rukun, kompak, dan saling mengisi untuk menghasilkan harmoni musik yang selaras. Ada gendang sebagai pengatur irama, begitu juga dengan instrumen lainnya yang memiliki peran masing-masing.

Melalui musik karawitan inilah Pak Giyar ingin memasukkan nilai-nilai adiluhung ke dalam diri orang-orang. Tanpa pamrih meluangkan waktunya berkelana dari desa ke desa untuk mengajar karawitan. Hingga sekarang di usianya yang lebih dari 65 tahun masih tetap semangat menjalani passion-nya itu.

***

Sebuah sekolah dasar di Dusun Tejo, Pucanganom adalah salah satu tempat Pak Giyar mengajar karawitan. Bukan sebagai guru tetap, maupun honorer. Hanya sebagai guru ekstrakurikuler yang diberdayakan tanpa ikatan kontrak resmi. Iya, karena Pak Giyar tidak memiliki kualifikasi sebagai staf guru.

Kualifikasi dalam arti dibuktikan dengan ijazah pendidikan terakhir dan sertifikat kompetensi. Beliau tidak punya berkas-berkas tersebut layaknya yang biasa disyaratkan sebagai standar kualifikasi staf pengajar. Iya, keterampilan dan dedikasi Pak Giyar-lah yang membuat pihak sekolah meminta beliau mengajar karawitan.

Mengajar karawitan pada anak-anak sekolah dasar bukanlah perkara mudah. Butuh kesabaran yang tinggi. Hal paling sulit menurut beliau adalah ketika mengajarkan olah vokal. Selain itu juga sifat anak-anak yang lebih suka bermain ketimbang ikut ekstrakurikuler, juga menjadi hambatan. Sebagai pengajar, Pak Giyar berusaha agar anak-anak bisa belajar dengan senang.

Biasanya Pak Giyar meluangkan waktu antara pagi hingga sore hari untuk mengajar di sekolah-sekolah. Sedangkan malam harinya digunakan untuk mengajar kelompok PKK dan yang lainnya. Menurut beliau, pembagian waktu itu disesuaikan dengan aktivitas warga.

“Biasanya kalau siang orang-orang pada kerja. Ada yang di kebun, buruh, dan karyawan. Mereka punya waktu luangnya ya malam hari.”

Sudah biasa bagi Pak Giyar jika setiap hari harus pulang tengah malam, bahkan dini hari untuk mengajar karawitan. Beliau sudah tidak kaget lagi jika dalam sehari hanya bisa tidur selama satu atau dua jam.

Pernah suatu malam ketika beliau pulang mengajar, ban motornya bocor. Posisi sedang di jalan, di tengah bulakan. Jauh dari kampung, dan hanya hamparan persawahan. Apalagi tukang tambal ban, jelas tidak ada yang buka.

Jika tetap memaksa berjalan menuntun motor, jelas akan sangat menguras tenaga. Jalanan di pedalaman Gunungkidul sangat berbeda dengan di kota. Banyak jalan desa yang masih belum di cor, masih terjal.

Pak Giyar berhenti, kemudian mengumpulkan jerami yang ada di sekitarnya. Beliau kemudian mengisi ban motor dengan jerami. Beliau memanfaatkan peralatan seadanya yang tersimpan di jok motor untuk membuka ban.

Entah mendapat ide dari mana. Beliau berpikir harus bisa pulang dan menjaga kondisi badan agar bisa mengajar di sekolah siang harinya. Alhamdulillah, beliau bersyukur malam itu bisa sampai di rumah menjelang subuh.

Sebenarnya masih banyak lagi cerita-cerita pahit Pak Giyar tentang kehidupannya. Namun, beliau lebih memilih untuk menyimpannya. Apalagi cerita yang melibatkan orang-orang yang iri dengan beliau. Pak Giyar tidak mau menceritakan itu karena tidak mau mengungkap kejelekan orang. Beliau memilih untuk mengalah dan mengambil hikmah.

***

Apa hasil dari kerja keras beliau? Jelas, Pak Giyar mendapatkan kepuasan batin karena masih diberi kemampuan untuk menjalani passion-nya. Menekuni seni karawitan, juga mengajarkannya kepada orang-orang.

Memang beliau tidak bisa memastikan sudah sejauh mana orang-orang yang belajar karawitan itu mampu memahami nilai adiluhung budaya Jawa. Namun, setidaknya hingga saat ini niat beliau untuk hal itu masih tetap sama. Kalaupun nanti ada kebaikan-kebaikan yang bisa didapatkan dari proses mempelajari karawitan, biarlah tercatat sebagai pahala.

Selama mampu memberikan manfaat buat orang lain, beliau sudah sangat bersyukur. Apalagi melihat prestasi dan kiprah anak-anak yang pernah belajar karawitan dengan beliau.

“Siti dulu siswa SDN Tejo yang saya ajari karawitan. Sekarang dia kuliah di jurusan sastra Jawa UNY. Alhamdulillah di sela-sela kuliah dia masih sering ikut pentas wayang. Sesekali dia sering main ke rumah, meskipun sekadar sowan dan menanyakan kabar.”

Pak Giyar menceritakan salah satu muridnya yang masih ikut nguri-uri budaya Jawa. Meskipun dia hidup di era milenial, tapi tetap peduli dengan budaya nenek moyangnya.

Lain cerita dengan kelompok karawitan anak-anak SD Girisubo yang mampu menyabet juara harapan 2 tingkat Kabupaten Gunungkidul dalam lomba Langen Carita. Satu kelompok yang terdiri dari 35 anak itu menyajikan tarian dan instrumen gamelan yang dikemas dalam pentas pertunjukan.

Pak Giyar berperan sebagai perancang iringan dan pelatih anak-anak tersebut. Keberhasilan itu telah mencatat prestasi untuk sekolah, daerah, juga menumbuhkan kebanggaan orangtua atas prestasi anak-anaknya. Sedangkan Pak Giyar bisa tersenyum di balik layar karena telah mampu menunaikan tugasnya.

Apa yang ditunjukkan Pak Giyar ini sungguh membuat nuraniku tertampar. Bagaimana beliau menjalani passion, dedikasi terhadap tugas, dan persoalan tuntutan imbalan yang sama sekali tidak beliau permasalahkan. Berbeda denganku yang kadang masih memikirkan berapa keuntungan material yang bisa kudapatkan dari sebuah pekerjaan.

Astagfirullah. Semoga Allah menjaga niat dan usahaku agar tetap berada di jalan yang lurus. Memberi kemudahan dan kemampuan untuk menebar kebaikan seperti yang dilakukan oleh Pak Giyar dan orang-orang baik lainnya. Aamiin.

***

Ditulis oleh: Seno Ns.

Ilustrasinya dari sini.

Facebook Comments
error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: