Benarkah Aku Lebih Cantik Tanpa Berjilbab?

“Pakai jilbab?”

Tentu. Sebab aurat harus ditutupi, bukan? Lagipula itu kan perintah Allah dalam Qur’an. Aku tahu itu. Mana berani aku menyelisihi kalam Ilahi. Tapi pada kenyataannya, ‘pengetahuan’ itu tak lantas membuatku mudah untuk mengaplikasikannya.

Ada saja alasan untuk menunda memakai jilbab. Gerah, nggak gaul, kurang keren, kayak ibu-ibu, hingga yang paling klasik adalah ingin menjilbabi hati dulu. Aneh memang. Hati dijilbabi? Mana ada perintahnya.

Oleh karenanya, meskipun terbilang terlambat, toh aku pakai jilbab juga. Malu. Aku sudah baligh. Bahkan balighnya lewat 3 tahun baru mendapat hidayah.

Ya, aku memakai jilbab saat masuk SMA. Berawal dari sedikit keterpaksaan. Ehm, tepatnya rasa sungkan terhadap seseorang yang begitu kusayangi: Kakakku. Sosok ikhwan cakep berjenggot tipis itu asli seorang roker alias rohis keren. Plus primus—pria mushola—yang demen ke masjid.

Dia juga aktif berdakwah di kampus dan mengisi pengajian untuk remaja di sekitar rumah. Ironis ya. Kakaknya alim dan pinter agama, adiknya tomboy begini. Perbedaan itu serupa langit dan bumi. Perbedaan yang lambat laun membuatku tak nyaman. Setidaknya, aku ingin berproses menjadi Lily yang lebih baik.

Maka dengan niat sami’na waato’na dan sedikit agak jaim, aku pun belajar memakai jilbab. Belajarnya benar-benar dari nol. Jujur, aku masih sayang meninggalkan pakaian lamaku yang modis. Jeans, kaos pendek, rok selutut, dan baju-baju untuk manggung (hey, aku ini seorang penyanyi dan keyboardist).

Walhasil, aku memodifikasi baju-bajuku itu dengan tambahan kaos ketat atau legging dengan jilbab yang kulilitkan leher. Mau tahu reaksi kakakku dengan penampilan baruku itu? Dia mengucap hamdalah dan mengucapkan ‘barakallah’ dengan tulus.

Beberapa hari setelahnya, tiga buah gamis warna cerah plus jilbabnya menjadi penghuni baru lemariku. Masih ditambah buku-buku tentang jilbab, muslimah, pergaulan, dan so on deh.

Olala … ada udang di balik rempeyek nih.

Yah, terkadang aku memakai gamis kalau ada pengajian di rumah. Aku nggak pede memakai gamis di luar lingkungan rumah. Bisa-bisa aku ditertawakan oleh teman segeng. Atau yang lebih parah lagi, Eksa—cowokku—tak mengenaliku lagi. Tapi aku berusaha mencintai jilbab dan menganggapnya seumpama mahkota yang menjadi bagian tak terpisahkan dari hidupku. Semoga.

Lulus SMA, tantangan untuk setia kepada jilbab benar-benar diuji. Apalagi posisiku jauh di luar kota. Terpisah ratusan kilometer dengan rumah dan kampus kakakku. Lingkungan kos yang permisif, jauh dari pantauan orangtua, jauh dari kakak tersayang, membuatku gagap pada awalnya.

Aku merasa seperti katak dalam tempurung yang kebingungan melihat dunia luar. Aku pun serupa air di atas daun talas yang hendak jatuh ke sana-ke mari. Labil dan tak punya pendirian. Aku mengikuti arus yang entah akan membawaku ke mana bermuara.

Aku adalah hasil didikan lingkungan dan teman-teman sepergaulan yang bersemboyan ‘kecil dimanja, muda foya-foya, tua kaya raya, mati masuk surga’. Generasi instan yang ingin serba cepat, serba enak. Termasuk dalam memiliki prinsip hidup. Apalagi hidupku tak jauh-jauh dari Eksa yang kuliah di kota yang sama denganku.

Ya, lambat laun jilbab mulai kutanggalkan saat keluar kos dengan dalih ‘alah, cuma ke warteg doang’. Lantas pengabaian itu semakin naik level yaitu saat hang out bareng Eksa atau teman-teman di kafe. Eksa terlihat excited melihatku ‘kembali seperti Lily yang dulu’.

“Lo tampak cute kalau kayak gini. Gue suka,” jujurnya diselingi isapan batang rokok. Asapnya mengepul terbawa angin.

“Alesannya?” tanyaku penasaran.

“Kalau pake kerudung, jadi rada eksklusif gitu deh. Nggak asyik,” ujarnya sambil tertawa.

Menyimak kata-kata Eksa, aku tiba pada satu kesimpulan bahwa dunia mengakui dengan paten: aku lebih cantik tanpa jilbab. Aih, kesimpulan versi orang kegeeran, tentu saja.

Lantas bulan demi bulan berlalu secepat malam berganti siang. Aku semakin sibuk, semakin gaul, semakin pede. Prestasi akademikku jauh di atas rata-rata. Karierku semakin memuncak. Jaringan pertemananku kian meluas. Jilbab masih kupakai meski bongkar pasang sesuka hati dan mood-ku. Tak kupedulikan sms-sms dari orangtua dan kakakku yang berisi nasihat dan motivasi terutama agar aku istiqomah menutup aurat. Kutepiskan rasa bersalah ketika aku mendapat undangan manggung di café, bilyard, hotel, ataupun pub. Ada Eksa yang mendukung karierku 100% .

Satu hal yang tak terlupakan adalah saat aku lolos audisi menyanyi di event bergengsi antar kampus. Meski hanya runner up, pencapaian itu benar-benar kusyukuri. Jarang ada peserta dari daerah yang bisa memikat hati juri, mengingat pesaingku adalah penyanyi yang jam terbangnya sudah tinggi.

Aku bertekad akan mengenakan jilbab saat malam penganugerahan nanti sebab orangtua dan kakakku akan hadir menyaksikan penampilanku. Namun, pada kenyataannya aku harus menanggalkan jilbab. Mau tak mau. Aku harus mengenakan gaun yang sudah dipersiapkan oleh panitia.

Tak ada pilihan lain, kecuali aku akan didiskualifikasi—itulah ancaman Sang EO.

Dan mataku terbelalak ketika melihat gaun itu. Bagian lengan terbuka. Pun bagian dada. Meski gaun itu panjang sampai kaki, tetap saja ada bagian yang terbuka yang menampilkan bentuk kaki.

Gaun itu penuh kerlip yang akan semakin indah bila terkena cahaya lampu atau blitz kamera. Pantas saja panitia keberatan kalau aku nekat berjilbab. Gaun seperti itu sama sekali tidak merepresentasikan keanggunan seorang muslimah. Malah sangat aneh dan memalukan bila tetap dipadupadankan dengan jilbab yang lebar sekalipun. Ya Allah, ketika aku memakainya, aku serasa mau pingsan.

Aku hanya bisa pasrah saat panitia memanggil namaku untuk tampil. Tepuk tangan membahana. Lampu-lampu panggung menyorot ke arahku. Blitz kamera bertubi-tubi menghujaniku. Hatiku benar-benar kacau sehingga tak bisa berkonsentrasi penuh. Di barisan penonton, aku melihat wajah ayah ibuku yang kecewa.

Tak kulihat kakakku sematawayang di sana. Mungkin dia batal datang. Kulihat Eksa yang tersenyum bangga. Kulihat teman-temanku yang berteriak riuh rendah menyemangatiku. Sungguh! Aku tidak demam panggung. Aku merasakan penyesalan yang pekat. Lebih pekat dari awan hitam yang hendak mengguyurkan hujan. Aku pun menangis usai menyanyikan lagu sendu itu. Sesendu hatiku yang sesak oleh rasa bersalah.

Astaghfirullah … ampuni aku ya Allah.

Betapa mahal harga kesetiaan kepada pacar hingga aku berani menukarnya dengan murah meriah. Betapa agung esensi jilbab hingga aku berani mencampakkannya hanya demi karier dunia yang sementara. Segala hingar bingar, materi, dan kesenangan itu tak membawaku ke mana-mana. Malah akan menjerumuskanku ke dalam jurang kehinaan yang semakin dalam.

Ya Allah … ya Rahman … ya Rahim

Hati nuraniku telah bicara. Dia telah menampakkan diri sesuai fitrahnya. Fitrah manusia tempat salah dan lupa, tetapi selalu ada kesempatan untuk menyucikan diri dan berbuat kebaikan sebanyak-banyaknya.

Ah, betapa tak nyamannya ketika tubuh menjadi sasaran pandang laki-laki. Betapa risihnya ketika aurat terbuka dan jilbab hanya menempel sekenanya di kepala. Betapa malunya saat menggadaikan iman dengan silau dunia.

Kutemukan secarik kertas berisi tulisan tangan kakakku yang terselip di buku harianku. Dia menulis ‘Berjilbab, tanda engkau taat. Bertahanlah, sebab panas dunia tak seberapa dibanding panas api neraka. Dan aku yang kan bersaksi, bahwa engkaulah bidadari bermata jeli.’

Alhamdulillah, Allah mudahkan proses hijrahku yang kedua kali. Aku telah putus dengan Eksa baik-baik. Kusibukkan diri dengan kegiatan positif. Kubenahi cara berjilbabku. Si tomboy ini belajar memakai rok panjang, gamis, dan jilbab menutup dada. Menghindari baju ketat dan terawang. Bahkan kaos kaki menjadi teman sehari-hari.

Kusempurnakan ketaatan dengan mempelajari al-Quran meski terbata-bata. Aku hendak bermetamorfosis dari ulat gendut menjadi kupu-kupu lincah yang bisa terbang menebar manfaat.

Kupertahankan jilbab meski berat. Kupertahankan jilbab meski secara kasat mata hanyalah selembar kain hijab. Kupertahankan jilbab agar terjaga pandangan kaum Adam. Kupertahankan jilbab serupa Asiyah yang mempertahankan iman hingga menjemput syahid. Kupertahankan jilbab sebagai bukti bahwa aku taat. Maka, maafkanlah aku yang dulu.

Oleh: Arinda Shafa—based on true story dari seorang sahabat.

1 thought on “Benarkah Aku Lebih Cantik Tanpa Berjilbab?”

Tinggalkan Balasan