Benarkah Cinta Itu Deritanya Tiada Akhir?

Sungguh, aku tak mengerti perkara cinta. Dia hadir begitu saja, menyiksa saudaraku, kemudian menyembuhkan dari penyakit yang tak ada obatnya. Tersebab cinta pula kemudian kujatuhkan talak 3 kepada istriku, lalu menikahkan dia dengan saudaraku.

“Mengapa engkau bisa seperti ini?” tanyaku pada saudaraku yang kulihat sedang kesakitan. Itu terjadi sebelum kujatuhkan talak 3 untuk istriku.

Dia bercerita tentang apa yang sedang dirasakan. Aku pikir itu hanya sakit perut seperti yang biasa dialami oleh orang-orang.

“Barangkali kamu sedang sakit perut yang sangat parah. Seperti penyakit yang biasa disebut al-lawa oleh orang-orang Arab.”

Mendengar hal itu, keponakanku seperti tak sepaham. “Kamu jangan suka asal menebak. Sebaiknya kita bawa saja dia ke seorang tabib. Agar jelas apa penyakit yang sedang dideritanya.”

Atas saran keponakanku itu, kemudian kami bawa saudaraku ke seorang tabib yang bernama Al-Harits bin Kildah. Dia kemudian diperiksa sedemikian rupa dengan memperhatikan keringat yang keluar dari badan saudaraku.

Tabib itu kemudian menyampaikan diagnosa yang membuatku agak kaget. Kata tabib itu saudaraku sakit karena dimabuk cinta yang tak kesampaian.

Siapa perempuan yang membuatnya seperti ini? batinku.

Selama ini dia tak pernah bercerita tentang gadis yang dia cintai. Padahal kami tinggal bersama dalam satu rumah. Tetapi dalam persoalan cinta, memang aku tak pernah bertanya. Aku pun tak pernah tahu kenapa sampai sekarang dia masih juga membujang.

Di sebuah perkampungan bernama Bani Kunnah, kami tinggal. Sebuah rumah sederhana yang cukup nyaman untuk kami bertiga. Aku, istriku, dan saudaraku yang masih membujang itu.

“Apakah engkau mempunyai sedikit air minum?” tanya tabib membangunkanku dari lamunan.

“Iya, akan saya ambilkan.”

Aku bergegas mengambilkan segelas air. Lalu kuberikan air itu kepada tabib. Tabib itu menaruh air tersebut dalam sebuah wadah obat sedemikian rupa.

Dengan wadah itu biasanya tabib mengobati pasiennya dengan cara mengalirkan obat melewati hidung.

Air itu pun kemudian tabib alirkan ke dalam hidung saudaraku. Waktu itu kulihat saudaraku masih terbaring tak sadarkan diri. Tabib itu mengulang-ulang pengobatan beberapa kali.

Dia mengalirkan air menggunakan wadah itu ke hidung saudaraku. Hingga beberapa saat kemudian saudaraku siuman.

Dalam kondisi setengah sadar, saudaraku menyenandungkan bait-bait syair. Sangat indah. Syair tentang cinta yang terdengar seperti penggambaran dari yang dia rasakan. Syair itu jelas sekali menggambarkan betapa cintanya dia dengan seorang perempuan.

Ternyata dia sedang jatuh cinta dengan perempuan dari Bani Kunnah, dari desa tempat tinggal kami sendiri.

Demi kesembuhan saudaraku, aku pun mencari tahu sosok perempuan itu. Aku bertanya ke sana kemari, tapi belum juga kutemukan sosok perempuan itu. Hingga pada suatu ketika aku tahu, ternyata sosok perempuan itu adalah istriku sendiri.

Bagaimana bisa saudaraku jatuh cinta dengan istriku? tanyaku dalam hati.

Ternyata aku baru tahu, jika kejadiannya bermula ketika aku sedang ada keperluan. Sehingga harus pergi meninggalkan istri di rumah. Memang tidak seharusnya aku meninggalkan istri di rumah sendirian ditemani seorang lelaki yang belum menikah. Meskipun dia adalah saudara kandungku.

Pada suatu ketika saudaraku tidak sengaja berpapasan dengan istriku yang sedang tidak mengenakan cadar penutup wajah. Tentu saja saudaraku melihat wajah dan juga rambut istriku.

Istriku mengatakan dia langsung berlari sambil menjerit ketika sadar telah diperhatikan adik iparnya. Dia langsung menutup wajahnya.

Saudaraku sepertinya jatuh sakit karena memikirkan hal itu. Kejadian itu telah menjadikan fitnah yang membuat hati saudaraku tidak tenang.

Setelah memastikan semua itu, aku kemudian mengatakan kepada orang-orang yang ada di sekeliling kami.

“Aku bersaksi kepada kalian semua bahwa sejak hari ini, aku mentalak tiga istriku agar ia bisa menikah dengan saudaraku. Sesungguhnya masih banyak perempuan lain yang bisa kujadikan istri. Sedangkan saudaraku hanya dia seorang.”

Maka, aku pun merelakan istriku untuk dinikahi saudaraku. Memang terasa berat bagiku, tapi akan lebih berat jika melihat saudaraku hidup tersiksa karena cinta.

***

Kisah di atas saya adopsi, kemudian saya ceritakan kembali dengan sudut pandang orang pertama. Saya mendapatkan kisah itu dari buku Tadabbur Cinta karya H. Ahmad Zacky El-Syafa terbitan Genta Group Production.

Dari catatan kaki di buku tersebut dituliskan bahwa kisah itu dikutip dari Ibnu Jauzi, Dzam al-Hawa (terjemahan) yang diterbitkan oleh Penerbit Pustaka Azzam tahun 1993.

Saya tertarik untuk menulis ulang kisah ini karena di dalamnya ada pesan tentang cinta. Barangkali pesan itu bisa jadi nasihat buat saya pribadi khususnya untuk merenungkan betapa cinta itu butuh pengorbanan. Atau mungkin juga malah cinta itu sebenarnya menyimpan derita yang tiada akhir.

Lihat saja sosok “aku” dalam kisah tersebut. Demi menjaga cinta terhadap saudaranya, dia merelakan istrinya. Memang kedengarannya konyol kalau dihubungkan dengan zaman sekarang. Yang ada malah saling bunuh ketika ada lelaki lain yang naksir istri seseorang. Sedangkan kisah itu terjadi di zaman jahiliyah. Jadi, sebaiknya kita ambil hikmahnya saja.

Apakah setelah mengikhlaskan istrinya menikah dengan saudara, lantas tokoh “aku” dalam kisah itu menjadi bahagia?

Belum tentu. Bisa jadi hidupnya akan terus berlalu dengan siksaan batin yang tiada pernah berakhir. Setiap kali bertemu mantan istri, pasti teringat masa lalu. Setiap kali bersua dengan saudara, pasti ingat luka lama. Itulah konsekuensinya.

Tentu saja hal itu terjadi kalau yang jadi tokoh “aku” adalah orang yang level makrifatnya seperti kita ini. Yang sebatas memahami cinta sebatas hubungan antar manusia saja.

Atau sebatas cinta dalam lingkup hablum minannas. Sehingga tuntutan yang ada ya, sebatas kesenangan duniawi saja.

Berbeda halnya dengan orang-orang yang pemahaman mengenai cinta sudah erat kaitannya dengan Allah. Bagi mereka penderitaan di dunia ini terasa manis ketika meniatkan semua yang dilakukan hanya tertuju untuk Allah.

Bagi mereka tidak ada waktu sedetik pun yang berlalu selain untuk mendekatkan diri kepada Allah. Bagi mereka tidak ada secuil pengorbanan pun selain untuk merindukan Allah.

Bahkan dalam otak mereka setiap saat selalu berdoa, “Semoga Allah ridha dengan yang aku lakukan.”

Sehingga pengorbanan di dunia yang terasa menyiksa bagi kita, terasa indah bagi mereka. Apa kita bisa mencapai level kecintaan seperti mereka? Tentu saja bisa.

Allah saja sangat total mencintai kita, kenapa kita tidak mencintai-Nya dengan total juga?

Bagaimana menurut kalian?

Oleh: Seno Ners.

Referensi: H. Ahmad Zacky El-Syafa, Tadabbur Cinta, Genta Group Production, 2016.

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan