Sudah waktu zuhur, aku dan Dian—teman kuliahku—berjalan menuju musala. Pandanganku terhenti pada sosok laki-laki berkacamata yang asyik bercerita dengan Pak Anwar—Ka Prodi kami. Dia tampak tak asing buatku. Aku mengucek mata berkali-kali. Ya Rabb … itu benar Mas Rayhan. Pria yang telah mematahkan hatiku, dua tahu lalu. Ternyata memang dia dosen yang akan menggantikan Pak Joko mengajar mata kuliah Psikologi Kreativitas. Apa dia kembali ke Indonesia bersama istrinya? Hiks … kenapa hatiku masih terasa ngilu? Mungkinkah luka itu belum mengering?

Kepalaku tertunduk. Kuharap, Dian tak sempat melihat buliran bening yang hampir tumpah dari mataku. Jamaah zuhur terlihat penuh. Beruntungnya antrean wudu sedikit lengang. Kubasuh wajah dengan segera agar tak ada yang sadar akan isakanku. Bayangan tentang kenangan bersama Mas Rayhan berkelebatan di pikiran.

***

Aku bertaaruf dengan Mas Rayhan dua setengah tahun yang lalu. Dia merupakan Adik dari Mbak Nia—ustazahku. Kala itu, Mas Rayhan masih menjadi salah satu mahasiswa Magister Psikologi di Monash University of Malaysia. Sedangkan aku, baru saja merampungkan kuliah S1 dengan jurusan yang sama di Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta.

Kami tak berlama-lama melalui proses taaruf. Selain tak ingin terjerumus pada maksiat, Mas Rayhan hanya mendapat jatah libur satu bulan dari kampusnya. Meski singkat, kami sama-sama mantap ingin melanjutkan ke jenjang yang lebih serius. Bahkan Mas Rayhan sempat bersilaturahmi ke rumah walaupun belum membawa rombongan. Rencananya tiga bulan setelah balik ke Malaysia dia akan pulang lagi, lalu datang bersama orangtuanya untuk mengkhitbahku.

Mas Rayhan: Assalamu’alaikum, Dik Ana. Saya pamit berangkat dulu, ya. Mohon doanya semoga Allah melancarkan dan meridai semua urusan di sana.

Aku: Wa’alaikumussalam warahmatullah. Iya, hati-hati Mas. Aamiin semoga Allah meridai, segera selesai dan secepatnya kembali.

Itu kali pertama dia menghubungiku secara pribadi. Sebelumnya, kami biasa mengobrol di grup ditemani Mbak Nia. Semenjak itu, Mas Rayhan jadi sering mengirimiku pesan. Bahkan dia tak segan-segan menceritakan bagaimana Malaysia melalui pesan suara. Aku pun menanggapinya dengan senang hati. Satu bulan pertama, semua aman. Aku masih dilambungkannya ke awang-awang. Virus merah jambu yang seharusnya belum boleh menjangkitku, telah merasuk jauh meracuni hatiku.

Bulan kedua, dia mulai menjaga jarak. Entah apa sebabnya. Dia jarang sekali menghubungiku dan menjawab pesan hanya seperlunya. Aku masih berusaha berprasangka baik. Mungkin dia sibuk. Hingga tibalah malam itu. Malam yang membuat duniaku seakan berhenti karena membaca pesan-pesan darinya.

Assalamu’alaikum, Dik. Maaf mengganggu. Setelah berpikir cukup dalam, maaf, ternyata saya tidak bisa melanjutkan proses ta’aruf kita. Saya berencana akan menikah dengan mahasiswi dari Indonesia yang juga kuliah di Malaysia. Dik Ana seorang wanita salihah, insyaallah, tentu akan mendapatkan jodoh yang salih. Aamiin.

Maaf, Dik Ana tidak perlu menghubungi saya lagi. Kemungkinan besar saya akan mengganti nomor saya. Terima kasih untuk kesabaran prosesnya selama ini. Sekali lagi saya mohon maaf yang sebesar-besarnya.

Wassalamu’alaikum, Muhammad Rayhan.

WhatsApp dari Mas Rayhan seketika membuat tubuhku gemetar. Apa yang terjadi? Aku mencoba menghubunginya, tidak tersambung. Aku menelepon Mbak Nia, mengadu tentang Mas Rayhan yang mendadak membatalkan rencana pernikahan kami. Namun yang kudapat hanya ucapan maaf yang justru membuatku semakin sesak. Ya Allah … aku tak kuasa menahan tangis. Kutumpahkan airmata sejadi-jadinya. Aku tak ingin mempercayai apa yang baru saja terjadi, tetapi pesan itu masih ada dan benar-benar nyata.

Bulan demi bulan berlalu, hingga tahun pun berganti. Aku berusaha menyembuhkan luka meski nyatanya sungguh tak mudah. Kututup semua media sosial yang kumiliki. Aku tak ingin memberikan kesempatan pada diriku untuk mencari tau mengenai kehidupan Mas Rayhan selanjutnya. Fokus perhatianku hanya berusaha mencegah hati agar tak larut pada luka yang ditinggalkan Mas Rayhan. Aku mengisi waktu dengan mengajar Bimbingan Konseling di sebuah SMA swasta di Jogja. Namun ternyata masih belum cukup disebut sibuk. Akhirnya satu tahun kemudian, aku memutuskan untuk melanjutkan kuliah. Sesuai harapan, nama itu kian memudar dalam ingatan. Aku tak lagi suka mengeluh tentang dia di hadapan-Nya. Alhamdulillah.

***

Kini setelah aku berhasil merangkai dunia baru dan mengubur masalalu, tiba-tiba dia muncul di depanku. Apa yang harus kulakukan? Bersikap biasa layaknya tak saling mengenal? HuftYa Allah tolong beri aku kekuatan.

Setelah zuhur, aku masih terdiam di musala. Kusandarkan tubuh di dinding dan menatap layu karpet merah yang kududuki. Dian mengajakku ke kantin, tetapi aku menolak. Aku tak bernafsu makan. Patah hati itu seakan terulang. Sedihnya, sekarang aku harus bertemu dengannya langsung. Laki-laki yang begitu tega mengatakan akan menikahi wanita lain setelah melambungkanku setinggi langit. Dapatkah aku berhadapan dengannya? Setengah jam berlalu, aku tetap belum beranjak.

Astaghfirullah … kamu masih di sini, An? Kamu enggak lapar? Ngapain melamun di sini?” Dian datang mengomeliku, “Nih aku belikan jus buat mengisi perut! Baik kan, aku?” Dia menyodorkan jus alpukat di tangannya.

Aku cuma membalas ocehannya dengan sebuah senyuman. Kuraih jus yang dia berikan dan bangkit meletakkan mukena di tempatnya. Kami bergegas kembali ke kelas. Sudah banyak teman-teman yang ngobrol seru di pojokan, sebagian asyik dengan HPnya dan beberapa sibuk mengotak-atik laptop. Aku memilih pindah tempat duduk ke kursi paling belakang. Bersembunyi. Ingin sekali bolos kuliah. Tetapi kuurungkan karena hari ini jadwalku presentasi. Akan sangat tak bertanggung jawab jika aku tak masuk.

Sepuluh menit kemudian, dosen kami—Mas Rayhan—memasuki ruangan. Dia meletakkan ransel hitamnya, lalu melangkah ke tengah-tengah kelas.

Assalamu’alaikum, teman-teman,” dia menyapa kami.

Wa’alaikumussalam, Pak,” kami serentak menjawab.

“Ini pertemuan pertama kita, ya? Ada yang sudah kenal dengan saya?”

“Beluuuum, kenalan dulu, Pak!” celetuk salah satu mahasiswa.

Dia menyeringai, “Oke, kita kenalan. Nama saya Muhammad Rayhan, saya baru saja pulang dari Malaysia, alamat rumah di Pleret Bantul, boleh main kapan-kapan, ada yang ditanyakan?”

“Statusnya masih single atau sudah menikah nih, Pak?” Dian berteriak dan disambut gelak tawa seisi kelas.

“Kelihatannya gimana? Single atau double? Hehe … baik, saya sudah, ya! Sekarang giliran kalian. Kita mulai dari sebelah sana!” tangannya menunjuk ke arahku.

Meski berdebar, aku mencoba berdiri,”Assalamu’alaikum,”

“Tunggu sebentar!” dia mendekatiku, “Kalau ini, saya kenal. Ana Asyifa, bagaimana kabarnya?”

“Cieeeee ….” Ledek teman-teman.

Seluruh kelas memandang kami. Dia masih menatapku lembut. Aku hanya tersenyum getir. Memilih diam tak menjawab pertanyaan basa-basi yang baru saja dia lontarkan. Kenapa dia mesti mengumumkan ke teman-teman kami saling mengenal? Apa dia juga akan mengatakan kalau dia pernah mencampakkanku demi wanita lain? Sepanjang perkuliahan yang hanya diisi perkenalan itu aku menahan marah dan sedih yang meluap-luap. Untungnya, dia membubarkan kelas lebih awal, jadi aku tidak semakin tersiksa melihatnya.

***

Aku secepatnya kabur dari kelas setelah kuliah selesai. Tak kuhiraukan pertanyaan teman-teman tentang bagaimana aku bisa mengenal Mas Rayhan. Sampai di rumah, aku langsung mengunci kamar. Kebetulan Bapak dan Ibu sedang berkunjung ke rumah Nenek di Solo. Jadi aku bebas melepaskan kesedihan. Beberapa saat kemudian azan asar berkumandang, Aku segera wudu dan salat. Aku mengadu pada-Nya. Tangisku pecah, tubuhku lemas dan tanpa sadar tertidur. Aku terbangun setelah ada panggilan masuk ke HPku. Mbak Nia? Allahu akbar … apa lagi ini?

Assalamu’alaikum, Mbak, ada apa ya?” kataku to the point.

Wa’alaikumussalam warahmatullah, alhamdulillah kamu masih menyimpan nomor Mbak, Dik,” Mbak Nia terdengar senang dengan responku, “Langsung saja ya, maaf nanti bakda isya Dik Ana ada waktu? Saya dan Rayhan pengin bertemu,” lanjutnya.

Apa maksud Mbak Nia ingin bertemu denganku bersama Mas Rayhan? Untuk apa? Minta maaf? Bukankah sekarang sudah sangat terlambat? Bermacam-macam pertanyaan melayang-layang di pikiran.

Sedikit ragu-ragu kujawab, “insyaallah bisa, Mbak. Maaf, mau ketemu dimana?”

“Biar kami jemput, Dik!”

“Tidak perlu, Mbak. Saya berangkat sendiri saja.” Aku menolak untuk dijemput karena tak sanggup berada satu mobil dengan Mas Rayhan.

Selepas isya, aku men-starter motor menuju sebuah rumah makan di kawasan Taman Siswa. Setibanya di sana, kulihat Mbak Nia dan Mas Rayhan telah menunggu di meja paling pojok. Pengunjung sedikit sepi. Mungkin karena sudah bukan jam makan.

Assalamu’alaikum, semakin cantik kamu, Dik?” sambut Mbak Nia dengan senyum teduhnya.

Wa’alaikumussalam,”

Aku mencium tangan Mbak Nia, lalu kami berpelukan. Kusatukan telapak tangan menunduk santun pada Mas Rayhan. Dia pun melakukan hal yang sama. Desiran halus masih menyelusup di hati saat tak sengaja kami bertemu pandang. Aku berusaha biasa walau mungkin mataku tampak sendu dan sembab.

“Silakan duduk, Dik! Dik Ana mau pesan apa?” tanya Mbak Nia.

 “Terima kasih, Mbak. Saya masih kenyang,”

“Gimana kabarnya, Dik? Orangtua sehat?”

“Alhamdulillah saya dan orangtua sehat, Mbak,” jawabku singkat.

Mbak Nia menangkap ketidaknyamananku. Dia melirik sekilas ke Mas Rayhan lalu menarik nafas panjang.

“Maaf, Dik, mungkin langsung saja biar nanti obrolan lebih santai. Sudah ada yang khitbah Ana?” tanya Mbak Nia.

Aku mengernyitkan dahi heran, tapi tetap kujawab “Belum, Mbak. Kenapa ya?”

Kali ini Mas Rayhan sedikit membenahi posisi duduknya lalu ikut membuka suara, “Alhamdulillah, kalau Dik Ana mengizinkan, besok malam, saya dan keluarga akan datang ke rumah untuk melamar Dik Ana,” dia tersenyum manis.

Karena kaget, aku hampir menumpahkan gelas minum Mbak Nia yang berada di depanku.

“Apa maksud Mas Rayhan? Maaf, saya memang belum menikah, tetapi saya tidak berniat untuk menjadi yang kedua,” suaraku sedikit meninggi.

“Maaf, Dik, saya juga belum menikah. Waktu itu, karena harus segera menyelesaikan tesis dan melengkapi berkas S3, ternyata saya benar-benar tak bisa pulang. Jadi pilihan satu-satunya, saya harus melepaskan Dik Ana. Saya khawatir Dik Ana akan menunggu saya jika saya katakan yang sebenarnya. Akhirnya saya terpaksa mengatakan akan menikah dengan orang lain.”

Aku tersentak mendengar penjelasannya, “Jadi Mas Rayhan berbohong agar saya tak mengharapkan Mas Rayhan lagi?” tak terasa airmata mengalir di pipiku.

“Sekali lagi, maaf telah menyakiti Dik Ana. Saya hanya ingin hati kita terjaga.” Dia menunduk lesu.

Aku semakin terisak mendengar ucapan-ucapannya. Rasa haru, marah dan sedih bercampur jadi satu. Mbak Nia berusaha menenangkan dengan memelukku. Setelah sedikit lebih tenang, beliau bertanya, “Jadi gimana, Dik? Kami boleh datang?”

Aku mengangguk pelan. Bukankah, ketulusan tidak diucapkan tetapi dilakukan? Dan dia melakukannya dua tahun ini. Dia tulus menjagaku karena Allah. Diam-diam aku berdoa, semoga benar kamu, jodohku yang tertunda dua tahun yang lalu.

Karya: Fitri Ayu Mustika.

Ilustrasi dari sini.

Facebook Comments
error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: