Kelelahan kita adalah kumpulan-kumpulan energi untuk melintasi kelelahan berikutnya. Hingga kita tidak pernah lelah, bahkan lelah telah lelah mengejar kita.—Setia  Furqon Kholid.

***

Banyak di antara kita yang bermimpi untuk meraih gelar mahasiswa. Namun, banyak pula di antara kita yang belum totalitas mengemban amanah sebagai mahasiswa. Lantas, seperti apa langkah terbaik yang harus dijalani seorang mahasiswa?

Saya punya tetangga, beliau adalah putri dari seorang ibu yang biasa jualan sayur keliling setiap pagi. Ayahnya sudah meninggal cukup lama. Dia memiliki satu adik yang umurnya tidak terpaut jauh darinya.

Meski keadaan yang dianggap tidak mungkin untuk kuliah—menurut kebanyakan orang, dia telah berhasil menunjukkan kepada masyarakat, bahwa dengan tangan Allah siapa pun bisa mewujudkan impiannya. Karena impian besar itu pasti akan beriringan dengan usaha kerasnya.

Sebab itulah, dengan percepatan, usaha keras, totalitas mengemban amanah sebagai mahasiswa, kini dia sudah menjadi dosen dan mendapatkan beasiswa kuliah S3 di Amerika. Semua kuliahnya mendapat beasiswa sejak S1. Mengagumkan bukan? Dia yang dulunya dikenal sebagai anak tukang sayur, sekarang telah berhasil mengangkat nilai kedudukan dan derajat orangtuanya. Baik di dunia mau pun di akhirat nanti.

Pernah kita dengar dalam pelajaran Fisika tentang Hukum Newton I, kurang lebih seperti ini,

Sebuah benda yang diam cenderung untuk terus diam. Sebaliknya, sebuah benda yang bergerak cenderung terus bergerak.—Hukum Newton I.

Maka, Hukum tersebut sangat berhubungan dengan kehidupan mahasiswa. Coba kita renungkan, ketika kita sebagai mahasiswa yang lebih suka berdiam diri, kita akan cenderung malas untuk melakukan aktivitas. Lalu, cobalah kita melihat para mahasiswa yang begitu aktif setiap harinya. Seolah tak ada sedetik pun yang tidak bermanfaat. Dan ia akan selalu terus mencari kesibukan untuknya.

Sebagai mahasiswa, kita tidak baik melakukan apa pun seenaknya dan semaunya. Tetap punya batasan. Ingat tujuan awal, luruskan niat, dan terus belajar supaya bisa bermanfaat untuk orang lain.

Menyepelekan tugas, menunda-nunda pekerjaan ringan, seperti menyapu, mencuci, dan merapikan kamarnya, sangatlah berpengaruh dalam membentuk karakter diri sebagai mahasiswa. Bagaimana bisa menjadi mahasiswa sukses jika semua amanah dan tanggung jawab ringan saja masih sering diremehkan.

Saya menemukan kata-kata bijak dari buku yang ditulis oleh Setia Furqon Kholid, halaman 10. Judulnya “Jangan Kuliah Kalau Gak Sukses”. Seperti ini,

Bertekadlah untuk berlelah-lelah selagi muda untuk terus belajar, bekerja dan memperbanyak silaturrahim. Karena jika tidak hari ini, maka suatu saat nanti kondisilah yang menuntut kita untuk berlelah-lelah belajar dan bekerja. Selagi masih ada waktu, selagi otak masih mudah menyerap ilmu, tubuh masih kuat untuk memikul beban serta tangan yang masih dapat bekerja. Maka optimalkan semuanya untuk menuntut ilmu, berkarya dan berusaha.

Marilah kita coba untuk mengatur waktu sebaik mungkin. Waktu untuk ibadah,  belajar, organisasi, hiburan dan lain sebagainya. Sebab, ketika kita sedang berlayar di lautan, jangan jalani dengan setengah hati. Bisa jadi kita tenggelam dan tak sampai ke tepian.

Sama halnya dengan mahasiswa. Ketika kita sudah berada di lingkungan kampus, jangan jalani setengah hati. Berjuanglah dengan tangguh, berusahalah sedikit lebih keras dari pada yang lainnya. Insyaallah kesuksesan akan segera menjemput kita.

Ada kalanya mahasiswa itu tergolong menjadi dua jenis, mahasiswa akademis dan aktivis. Namun, setiap dari mereka hanyalah satu tujuannya, yakni menjadi mahasiswa yang sukses. Lantas dari sisi mana kesuksesan tersebut?

Kak Setia Furqon Kholid menuliskan lagi dalam bukunya halaman 17, Kesuksesan sejati adalah saat kita dekat dengan sumber kesuksesan hakiki, Dialah Allahu Rabbi.

Memang benar ungkapan tersebut. Ketika seorang hamba telah dekat dengan Rabb-Nya, dari situlah hadir kesuksesan sejati. Lalu, dengan cara apa mewujudkannya?

Ibadah!

Ketika kita sebagai mahasiswa memiliki spiritualitas yang tinggi, atau minimal tingkat spiritualitas yang baik, tentu semua tujuan yang ingin kita capai akan dipermudah oleh Allah. setinggi apa pun impian, sesulit apa pun langkah yang dijalani, selalu minta kemudahan sama Allah, selalu minta petunjuk, tuntunan, dan arahan sama Allah. Jangan bosan-bosan. Begitu pun dengan ibadah harian, dahulukan yang wajib, dan istiqomahkan yang sunnah.

Selanjutnya, sukses akademis. Terkadang sebagian kita menganggap sepele mengenai nilai IP (Index prestasi). Lalu tidak memedulikannya. Kuliah sering nitip absen, tugas seadanya yang dikumpulkan, presentasi tak pernah berusaha maksimal. Apalagi mengejar prestasi, he-he-he ….

Nah, harusnya dengan hal yang dianggap sepele itu kita harus berhasil menaklukkannya. Kalau bisa kuliah rajin, tidak sering bolos, tugas dikerjakan maksimal, presentasi maksimal, eh masih sering mengejar prestasi juga. Alhamdulillah.

Karena dengan menghargai hal sepele itu pasti sangat berpengaruh saat kita dihadapkan dengan hal yang lebih penting. Dari sinilah jiwa tanggung jawab penuh itu hadir. Bukannya semua dimulai dari hal yang kecil? Termasuk bertanggung jawab dengan dirinya sendiri, kan?

Marilah kita mulai menulis target harian, bulanan dan tahunan. Yakinlah bahwa apa yang akan kita tulis itu memberi dampak positif yang besar, lalu tercapai tidaknya? Tawakkalna ‘alaih.

Mulai menentukan goal kedepannya. Coba kita kembali ke tujuan kuliah sesungguhnya. Tidak jauh jawaban para mahasiswa ialah ingin mengembangkan study, ingin membahagiakan orangtua, atau bahkan hanya sekadar mengisi waktu luang saja.

Namun, banyak juga mahasiswa yang sudah merangkai secara jelas tujuan kuliahnya. Ada yang untuk mempersiapkan study S2, ada yang ingin mengembangkan usaha sesuai prodi yang dipilih, memperluas jaringan dan lain sebagainya. Maka, marilah kita ciptakan tujuan tersebut secara jelas!

Ada hal penting lagi yang mempengaruhi kesuksesan akademis mahasiswa. Yakni lingkungan. Setiap dari manusia itu bisa berubah baik buruknya karena lingkungan sekitar. Mudah sekali sebenarnya kita mendapat pengaruh buruk, sebab godaan setan sangatlah kuat. Namun sebaliknya, agaknya cukup sulit untuk mempengaruhi kebaikan. Maka, ciptakanlah lingkungan yang positif. Cari sahabat yang positif.

Sahabat yang berkarakter, tentu akan menyemangati kita ketika kita sedang lemah. Mereka akan membangunkan mimpi kita yang sedang tertidur, juga mereka tidak akan pernah membiarkan kita berlarut-larut dalam kegalauan dunia. Mereka akan selalu memberi motivasi dan mengajak kita untuk terus berlomba-lomba dalam kebaikan.

Kesuksesan terakhir, ialah sukses dalam berorganisasi. Banyak juga diantara kita yang menganggap organisasi itu sebagai jalan mencari kesenangan yang tidak ada manfaatnya. Kita kuliah untuk belajar dan belajar, lalu apa untungnya berorganisasi?

Banyak sekali keuntungan dan manfaat berorganisasi. Dengan aktif di dunia organisasi, kita akan dipertemukan dengan orang-orang yang berbeda suku, ras, bahkan bisa jadi beda bahasa sebab beda negara juga. Banyak juga kan mahasiswa asing yang kuliah di Indonesia? Nah, dari situ kita banyak belajar. Memperluas wawasan, mengajak supaya kita lebih bijaksana dengan adanya perbedaan dan bisa juga sebagai jalan datangnya rizki loh!

Dalam berorganisasi kita juga belajar menjadi seorang pemimpin yang tegas. Dengan berorganisasi pula dapat mengasah kemampuan kita untuk bersosialisasi di masyarakat kelak.

Namun, kita harus pandai memilih mana organisasi yang baik, atau intinya lebih cocok untuk diri kita. Maka, perlu kita cari tahu kepada kakak kelas yang berpengalaman, lalu pikirkan lagi dengan tegas, apakah organisasi tersebut mendatangkan banyak manfaat atau sebaliknya?

Karena sejatinya hidup itu memilih, tapi jangan asal pilih. Semua dicoba, tak ada yang difokuskan, lalu perlahan mundur teratur dari semua organisasi yang sudah dipilih. Jangan!

Minimal organisasi yang kita pilih itu sesuai dengan target hidup kita. Misal kita yang ingin menjadi penulis, apa salahnya gabung ke organisasi Lembaga Pres Mahasiswa? Lalu kita yang tidak suka bahasa. Namun ingin terlihat keren saat gabung organisasi bahasa, diikuti deh. Nanti akhirnya numpang gabung anggota saja, tidak pernah ikut kegiatannya. Yah, sayang dong.

Ketika kita ingin menjadi orang yang bermanfaat untuk orang lain dalam berorganisasi, maka berilah yang terbaik dalam posisi apa pun. Berilah pengaruh positif untuk lingkungan organisasi kita. Jadilah aktivis yang memotivasi tim yang lemah, lalu jauhkan energi negatif yang selalu berusaha mendekati kita.

Bayangkan, rencanakan, lalu praktikan target seperti ini. Misalnya, tahun pertama kuliah fokus belajar, meraih IP tinggi sambil mencoba mengenal organisasi yang sesuai dengan hobi kita.

Tahun kedua kuliah, mulai fokus dan serius dalam berorganisasi. Sembari mendalami ilmu lain yang berhubungan dengan prodi yang dipilih. Boleh juga sambil mencoba ikut berbagai lomba yang diminati.

Tahun ketiga kuliah, mulai fokus terhadap satu bidang yang benar-benar sesuai sekali dengan diri kita. Tingkatkan kualitas potensi tersebut, namun masih tetap bertahan untuk mendapatkan nilai IP yang bagus.

Tahun terakhir kuliah, mulai membuka bisnis, atau membuka pintu lapangan pekerjaan yang sesuai dengan ilmu yang sudah dipelajari selama kuliah. Sambil menyusun skripsi, miliki jaringan luas, relasi bagus, organisasi sukses, lulus Cumlaude. Alhamdulillah semua itu adalah karunia Allah. Bismillah, yaa.

Maka, apakah masih ragu untuk berusaha menjadi mahasiswa seutuhnya? Sukses spiritualis, sukses akademis, juga aktivis!

Perlahan semua itu pasti bisa dijalani. Jika kita melihat orang lain bisa, seperti tetangga saya tadi, mengapa kita tidak? Kita kan sama-sama manusia. Luruskan niat, bulatkan tekad, realisasikan dengan mantap.

Apalagi, jika kita sudah sukses spiritualis, akademis, aktivis, eh kuliahnya dapat beasiswa. Tambah lagi bisa sambil mencari rupiah untuk tambahan uang saku sehari-hari. Asyik, kan? Bisa merasakan perjuangan kuliah dengan meringankan beban orangtua?

Ada orang yang terus bekerja namun tidak ada sedikit pun yang ia dapatkan. Ia berkata ‘LELAH’. Di saat yang sama, ada orang yang terus berkarya, banyak yang telah ia berikan untuk Allah, ia berkata ‘LILLAH.—Setia Furqon Kholid.

Jadi, tidak sulit lagi kan untuk berusaha menjadi mahasiswa yang sukses?

Mahasiswa sukses itu bukanlah pemimpi. Namun pemimpin. Meski setidaknya ia telah berhasil memimpin dirinya sendiri.

***

Oleh: Sayyidatina Az-Zahra.

Ilustrasi dari sini.

Facebook Comments
error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: