Dulu saya target menikah di usia 25 tahun, alhamdulillah maju sedikit jadi 24 tahun. Istri saya—dalam biografinya—malah pengen nikah muda, dan terwujud di usia 21 tahun. Hem, cukup ideal. Boleh saja menargetkan kapan akan menikah tetapi keyakinan bahwa manusia hanya berencana itu harus diimani.

Berapa usia yang ideal untuk menikah? Apakah usia 25 tahun—seperti Rasulullah saw—bagi laki-laki bisa dikatakan berusia cukup? Ataukah menikah muda lebih baik daripada menikah tua? Dan banyak pertanyaan tentang usia pernikahan yang jawabannya bisa beragam. Ada yang setuju nikah muda ada yang harus cukup usia dulu. Ada yang harus kerja dan berpenghasilan.

Sepanjang pembacaan saya, tidak ada batasan usia yang saklek dalam Islam. Tetapi Islam memberikan rambu-rambu yang harus dipersiapkan. Islam juga menghukumi nikah menjadi empat ketentuan yang sangat bergantung pada setiap individu. Nikah bisa saja menjadi sunah, wajib, dan bisa pula berubah menjadi makruh bahkan haram.

Konon katanya, kebiasaan generasi awal umat ini menikahkan putra-putri mereka di usia muda, bisa dikatakan masih belia. Bahkan sejak ihtilam pertama (mimpi basah) atau baligh.

Di masa Imam Malik, Imam asy Syafi’i, Imam Ahmad tidak ada (jarang) dijumpai kenakalan remaja. Karena remajanya fokus belajar dan bekerja untuk belahan hati yang halal. Ciie …. Jarang-jarang tuh ada yang galau, nangis-nangis di medsos.

Beberapa ulama kontemporer juga menjalani pernikahan muda, misal, Syaikh Yusuf Al-Qaradlawi menikah di usia belasan tahun, Syaikh Ali Ath-Thanthawi juga sama. Beliau sempat melakukan riset, kebanyakan bujang dan lajang menyebabkan banyaknya kerusakan moral di tengah masyarakat. Nah.

Kenal dengan sosok Sally Geovani? Silakan tanya biografinya sama Mbah Google atau kamu bisa buka Youtube di sebuah acara Talk show, Hitam Putih. Gadis cantik kelahiran 1988 ini (usia adik kelas), di usia yang ke-18 tahun, berani mengambil keputusan untuk menikah. Menikah dengan pria yang juga masih muda, teman kelas. Dan, keduanya bukan dari keturunan konglomerat. Semuanya dimulai dari melarat.

Salah satu jawabnya gadis muallaf ini perlu sekali-kali direnungkan anak-anak ABG zaman now. “Kenapa menikah muda?” Kejar sang host.

“Daripada saya pacaran nggak jelas mending segera menghalalkan.” Jawabnya mantap. 
“Kan bisa cari kerja dulu?” 
“Hem, kerja juga dapatnya nggak banyak-banyak amat. Belum lagi fitnah yang akan terjadi.”

Banyak dong yang nyinyir dan meragukan keputusannya. Apalagi setelah menikah mereka betul-betul mengawali dari nol. Modal amplop untuk usaha. Perjuangan siang dan malam, suka-duka dan berdarah-darah itu ternyata menghasilkan. Karena keringat tidak akan pernah mengkhianati hasil.

Tidak lama kemudian, dari pasangan nikah muda ini lahir branding batik Trusmi. Ada satu mall di Cirebon yang menjadi sentra batik Trusmi. Nah, mereka pemiliknya, sekarang jumlah karyawan lebih dari 1000 orang! Wow.

Iya kan. Tidak otomatis yang sudah berumur, nikah langsung sukses. Tidak juga yang nikah muda, lebih mudah gagalnya. Lebih pada persiapannya. Jangan menikah tanpa persiapan, bunuh diri namanya.

Kita dikatakan siap untuk menikah tentunya ada parameter yang bisa diukur. Apa parameter? Herlini Amran, MA menyebutkan tujuh item yang diringkas menjadi lima item oleh Salim A. Fillah (dalam buku Bahagia Merayakan Cinta). Apa saja?

  1. Persiapan Ruhiyah (spiritual) 
    Kedekatan kepada Allah, menjalankan ibadah dengan baik dan disiplin. Minimal yang wajib-wajib beres. Shalat Subuh saja masih keteteran bagaimana bisa mengurus rumah tangga. Mental siap menerima segala ketentuan Allah, nikmat disyukuri, musibah disabari.
  2. Persiapan Ilmu dan intelektual.
    Tidak sedikit pasangan pengantin yang tidak berbekal ilmu yang cukup. Bagaikan berjalan tanpa penerangan. Belajar ilmu rumah tangga, ilmu komunikasi yang ma’ruf dengan pasangan, ilmu parenting, ilmu mengolah ekonomi, dll.
  3. Persiapan jasadiyah.
    Jika memiliki penyakit-penyakit segera sembuhkan! Apalagi jika itu penyakit pada reproduksi. Panu, kadas, kurap juga penyakit, meski tidak bahaya tapi sangat menggangu. Bau mulut dan badan. Wes bersih-bersih!
  4. Persiapan Maaliyah material.
    Berkomitmenlah untuk segera mandiri dengan bekerja serius dan sungguh-sungguh. Allah sudah janji kok, “Jika engkau miskin, dia yang akan mengayakanmu.”
  5. Persiapan Ijtima’iyyah sosial 
    Memiliki kesiapan untuk hidup bermasyarakat. Paham bagaiman bertetangga, bersosialisasi dan mengambil peran dakwah.

Persiapan itu disiapkan. Umur tua belum tentu baik persiapannya. Yang muda belum tentu tidak siap.

Bagaimana kesiapan menikah menurut hadis. Rasulullah saw menggunakan kata al-ba’ah, “Wahai para pemuda, barangsiapa yang al-ba’ah maka hendaklah menikah ….”

Ulama berbeda memahami arti Al ba’ah, tapi ada satu yang disepakati yaitu sudah memiliki kemampuan biologis, kemampuan berjima’. Imam Asy Syaukani menambahkan mahar dan nafkah ada juga tempat tinggal. Kalau saya sendiri cenderung mengartikan kesiapan lahir batin. Lahirnya memiliki komitmen bekerja dan menafkahi, batinnya berjima’. Nah, kamu?

Terakhir untukmu yang masih Istiqamah menjomblo padahal mampu, dengarkan nasihat Umar bin Al Khattab ini, “Pemuda yang tidak berkeinginan segera menikah itu ada dua kemungkinannya. Kalau tidak banyak maksiat, pasti diragukan kejantanannya.” Ups, maaf.

Oleh: Ustaz Syahrul.

Facebook Comments
error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: