kisah naik haji gratis

Berangkat Haji Gratis Hanya Bermodalkan Kejujuran

Deru suara burung besi siap memecah keheningan malam di Terminal 3 Bandara Internasional Soekarno-Hatta di malam itu. Keberangkatan salah satu kloter jamaah haji khusus ke Tanah Suci di tahun 2018 ini diiringi kalimat talbiyah mengiringi rombongan yang akan menaiki pesawat:

“Labbaikallahumma labbaik, laa syariikalaka labbaik, Innal hamda wanni’mata laka walmulk, laa syariikalak.”

Momen ini merupakan momen yang sangat dirindukan oleh setiap muslim di tanah air.

Tampak salah satu jamaah yang masih usia muda turut serta di antara rombongan itu. Sekilas dari aura wajah dan sorot matanya tampak wajah bahagia yang membuncah bercampur haru terlihat dari sosok pemuda itu. Ternyata dia adalah Asep Kusnandar, salah satu jamaah yang berasal dari Kota Bandung yang tergabung dalam kloter ini.

Air mata Asep pun menetes secara perlahan membasahi mukanya sembari dia berjalan mengikuti rombongan. Rombongan pun secara perlahan-lahan mulai memasuki pesawat. Begitu pula Asep beserta beberapa jamaah mulai duduk di kursi pesawat. Pesawat pun secara perlahan mulai take off tinggalkan negeri tercinta menuju Baitullah.

Dalam perjalanan yang berlangsung cukup lama selama 9 jam itu pun mengingatkan Asep akan kisah yang menghantarkannya untuk mendapatkan undangan dari Baitullah.

***

Siang itu Asep yang dalam keseharian beraktivitas sebagai karyawan di salah satu perusahaan tour and travel yang bergerak dalam layanan umrah dan haji khusus membantu mengangkatkan koper-koper jamaah yang akan digunakan untuk berangkat umrah. Koper-koper itu diangkat dan diaturnya dengan cekatan dan dimasukannya dalam mobil box pengangkut koper jamaah.

Sementara itu mobil pengangkut jamaah menggunakan mobil travel berjumlah 25 kursi di dalamnya pun telah siap untuk digunakan.

Jamaah pun satu persatu mulai hadir di kantor travel yang terletak di kawasan Bandung Utara. Jamaah berjumlah 25 orang itu pun sesuai dengan kursi mobil travel jamaah telah lengkap hadir menjelang azan asar berkumandang. Sebelum berangkat ke bandara para jamaah sholat asar di masjid terdekat kantor itu.

Lepas setelah sholat asar diadakan upacara pemberangkatan dan doa yang dipimpin oleh salah satu ustad pemimpin rombongan umrah. Kemudian rombongan pun berangkat menggunakan mobil yang telah disiapkan. Keluarga jamaah yang mengantar di sekitar kantor itu pun mendoakan semoga ibadah umrah ini diberikan kelancaran dalam perjalanannya.

***

Prediksi keberangkatan mobil jamaah itu menuju bandara berkisar antara empat jam hingga lima jam dari Bandung menuju bandara. Hal ini telah diprediksi oleh pimpinan ustad rombongan pembimbing jamaah itu sebab kemacetan pasti akan ditemui di perjalanan melewati jalan tol Karawang, Bekasi, Jakarta hingga Cengkareng.

Pesawat siap take off pukul 24.00 WIB malam menuju Tanah Suci. Menjelang azan magrib rombongan itu berhenti di rest area tol di Karawang. Para jamaah pun turun satu persatu untuk melaksanakan sholat magrib di masjid di rest area itu untuk sholat jama magrib dengan isya.

Sewaktu hendak berwudlu, ada juga jamaah yang hendak berhajat buang air kecil di toilet yang tempatnya berada di ujung masjid dengan posisi penerangan listrik yang agak berkurang. Ternyata ia seorang jamaah yang berusia enampuluh tahunan. Tiba-tiba ia berteriak-teriak minta tolong. Laki-laki berusia senja itu pun terus berteriak minta pertolongan karena tas bawaanya yang akan untuk berumrah berusaha direnggut oleh seorang pencopet di lokasi itu.

Asep yang mendengar suara itu pun segera berlari menuju lokasi kejadian. Dia pun terkejut ternyata selain seorang pencopet yang berusaha menarik tas jamaah itu ada tiga orang yang menghalangi Asep untuk memberikan pertolongan.

Dengan pengalaman Asep yang pernah berlatih beladiri pencak silat, ia pun melawan tiga pencopet itu. Namun musibah tak dapat dicegah ternyata ada dua orang pencopet yang membawa pisau lipat yang tajam sehingga lengan Asep terkena tikaman. Darah pun mengalir deras dari tangannya. Kemudian ia berteriak sekencang-kencangnya meminta petolongan ke sekitarnya.

Ternyata kegaduhan itu pun memberikan respek ke pihak keamanan dan warga yang beristirahat di rest area untuk berlarian memberikan bantuan ke lokasi kejadian. Adapun para pencopet malah memilih kabur meninggalkan lokasi untuk mengamankan diri.

Tas bawaan jamaah pun masih aman dipegang oleh jamaah tersebut. Sementara Asep dilarikan ke rumah sakit terdekat oleh pihak keamanan dengan menggunakan mobil seadanya agar segera mendapatkan rujukan perawatan lengan tangannya.

***   

Pada lain waktu Asep pun pernah mendampingi para jamaah umrah ketika penjemputan sepulang dari umrah di tengah malam di Bandara Soekarno Hatta. Setelah pesawat landing dan jamaah telah terkumpul di salah satu lounge bandara kemudian diadakan upacara perpisahan dan ucapan doa oleh salah satu ustad pimpinan rombongan. Selanjutnya para jamaah pun menuju mobil penjemputan dan bersiap-siap kembali ke Bandung. Setiba di kantor travel para jamaah ternyata telah dijemput oleh keluarganya, sehingga satu persatu mereka kembali ke rumah masing-masing dengan selamat dan aman.

Sewaktu Asep membersihkan mobil penjemputan jamaah dia menemukan tas jamaah yang tertinggal. Ia pun memeriksa isi tas itu ternyata ditemukan sebuah dompet yang berisi uang maupun surat-surat berharga di dalamnya. Ada beberapa uang riyal maupun rupiah juga oleh-oleh yang berada di tas itu.

Hati nurani Asep pun tetap terketuk dan mengingatkannya agar ia jujur dan amanah untuk mengembalikan tas itu pada pemiliknya. Karena nama baik perusahaanya juga akan tetap terjaga jika ia jujur. Tas pun tetap ia bawa karena kantor telah sepi, dia pun berkeinginan untuk mengembalikan tas itu pada jamaah pemiliknya di keesokan hari.

Setiap tas jamaah selalu ada nama jamaah, alamat asal juga nomer hp maupun WhatsAppnya sehingga memudahkan untuk menemui jamaahnya. Tepat keesokan harinya Asep pun langsung menuju rumah jamaah itu. Bapak Harun namanya. Ia seorang pengusaha pakaian muslim yang terkenal dan usaha bisnisnya telah sukses di Kota Bandung.

Ia pun terkejut ketika Asep datang di pagi itu di rumahnya dan menyerahkan tas umrahnya yang disangkanya tertinggal di Tanah Suci atau di pesawat atau pun di bandara. Kebetulan memang Pak Harun pada malam harinya telah pasrah sewaktu dicek ternyata ada yang ketinggalan barang bawaanya sewaktu umrah.

Berkat kejujuran Asep, pak Harun pun meniatkan untuk menghajikan Asep di tahun 2018 ini bahkan tak tanggung-tanggung dengan program haji khusus yang diselenggarakan juga oleh travel Asep bekerja. Pak Harun pun mengucapkan terima kasih kepada Asep selain tas yang hilang dapat kembali, Asep pun pernah menyelamatkan kakak Pak Harun sewaktu tasnya akan dicopet di toilet sewaktu akan berumrah sebulan sebelum kejadian ini.

***

Dalam perjalanan panjang menuju tanah suci dengan pesawat itu pun Asep teringat bahwa, “Keberanian dan kejujuran memberangkatkannya ke Baitullah.”

Ia pun bersyukur pada Allah Swt dapat dimampukan-Nya hingga diberi kesempatan berkunjung ke Masjid Nabawi di Madinah maupun dapat singgah di Tanah Suci Kota Mekah maupun kota lainnya untuk melaksanakan umrah dan haji.

Kembali Asep pun tak lupa mengucapkan kalimat talbiyah, “Labbaikallahumma labbaik, laa syariikalaka labbaik, Innal hamda wanni’mata laka walmulk, laa syariikalak.

Aku memenuhi panggilan-Mu, ya Allah aku memenuhi panggilan-Mu. Aku memenuhi panggilan-Mu, tiada sekutu bagi-Mu, aku memenuhi panggilan-Mu. Sesungguhnya pujaan dan nikmat adalah milik-Mu, begitu juga kerajaan, tiada sekutu bagi-Mu.”

Oleh: Indriyatna Sugiyarta.

Ilustrasi dari sini.

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan