Ilustrasi dari hijabkekinian.

Beratnya Tidak Bersalaman dengan Mereka yang Bukan Mahramku

Bulan Ramadhan tinggal menghitung hari akan tiba. Banyak orang bersuka cita menyambutnya, tak terkecuali aku. Aku senang bulan suci yang penuh keramaian dan dielu-elukan orang akan menampakkan wujudnya. Belum juga aku membayangkan kenikmatan bulan suci itu, pikiranku sudah melompat jauh pada tiga puluh hari setelah bulan puasa. Ya, lebaran.

Bukan tentang baju baru, ketupat, atau pernak pernik lainnya. Tapi satu hal yang mungkin tidak dipikirkan oleh kebanyakan orang, bahkan terbesit pun tidak. Apakah itu? Beratnya menolak bersalaman dengan saudara laki-laki yang bukan mahramku saat silaturahmi lebaran. Tidak hanya saudara, namun juga semua laki-laki yang mengulurkan tangannya kepadaku.

Aku masih ingat setahun lalu menjalani lebaran pertama yang paling berat. Bagaimana aku dipandang aneh oleh semua orang dan ada orang yang melontarkan kalimat-kalimat yang menyayatkan luka dalam hati. Padahal aku tidak sedang menyakiti mereka, padahal aku juga tidak sedang merugikan mereka. Malahan aku sedang menjaga mereka dari sebuah dosa yang kebanyakan orang tidak menyadarinya.

Di lingkungan rumahku bersalaman dengan yang bukan mahram itu sudah membudaya biasa, seorang anak perempuan yang didatangi pacarnya akan lebih terlihat wow dibandingkan seorang perempuan yang sama sekali tidak ada yang mendekati. Jilbab hanya sebagai penghias saat ke kondangan atau acara penting lainnya, bukan sebagai kewajiban seorang muslimah yang harus dipakai keluar rumah.

Aku hidup di lingkungan yang sama sekali tidak mendukung hijrahku. Syukurnya, Allah menuntunku ke tempat perantauan yang jauh dari mereka. Tempat perantauanku berada di perkotaan yang penduduknya lebih terbuka pemikirannya dan tidak memandang aneh jalan hijrah yang kupilih. Berbeda jauh dengan desa kelahiranku yang kebanyakan orang di dalamnya mempunyai hobi mengurusi urusan orang lain. Apa yang kupakai dan apa yang kulakukan selalu menjadi sasaran empuk bahan ghibah mereka.

Dulu saat masih duduk di bangku sekolah, sebelum tiba bulan Ramadhan aku sudah sibuk meminta baju baru kepada ibu. Aku memikirkan kue-kue kesukaan untuk kusajikan saat lebaran. Bahkan, aku juga sibuk membayangkan makanan manis yang akan disajikan saat berbuka puasa.

Sekarang, bayangan itu telah mengabur. Tidak ada lagi hal-hal itu dalam pikiranku. Hal-hal kecil itu berubah menjadi pikiran lain. Dan rasanya aku begitu berat memikirkannya, apalagi aku ini adalah orang tipe pemikir. Sedikit saja masalah bisa aku pikirkan berhari-hari, bisa aku tangisi berjam-jam. Aku terlalu memikirkan ocehan orang.

Aku membayangkan betapa hari-hari lebaran akan berat lagi kulalui dengan banyak omongan tak mengenakkan untukku. Betapa banyak pasang mata yang memandang aneh kepadaku. Meski fisikku biasa saja, namun sungguh hatiku yang disakiti oleh mereka.

Aku berpikir keras bagaimana cara untuk menghadapinya. Pernah berpikiran untuk menggunakan kaos tangan, namun kurasa hal itu malah memancing kecurigaan mereka. Takutnya, mereka lebih tersinggung jika aku menggunakannya. Parahnya, keluarga juga tidak mendukungku. Mereka berhari-hari menyuruh untuk bersalaman dengan siapa pun, sayangnya tangan terlalu berat untuk aku ulurkan kepada apa yang bukan menjadi hakku.

Lalu baru-baru ini, ada dosen baru di jurusanku, sebut saja namanya Bu Lia. Aku melihat dosen baru itu adalah wanita anggun yang memakai jilbab panjang sampai lutut dan gamis yang selalu dengan warna gelap. Karena hal tak terduga, aku menyimpan nomor ponselnya begitu juga beliau. Awalnya kami tak akrab, lalu lama kelamaan kami kenal dekat karena kami datang di kajian yang sama.

Karena merasa sudah ada ikatan keakraban dengan beliau, aku berani menceritakan sesuatu kepada beliau tentang sebuah hal yang mengganjal dalam diriku yaitu bersalaman dengan dosen laki-laki. Jika dengan laki-laki lain aku bisa menolak, hanya kepada dosen aku tak bisa melakukannya. Aku sangat sungkan dan takut jika beliau mengira aku tak menghargainya.

Lalu Bu Lia ini menjawab curhatku seperti ini, “Kelak semua yang kita lakukan itu akan dipertanggungjawabkan kepada Allah. Dan itu semua yang menanggung konsekuensinya adalah kita sendiri. Yang menilai kita baik atau buruk itu Allah, bukan manusia. Lantas, tak perlu kita mengejar penilaian manusia.” Beliau menjelaskan panjang lebar melalui chatting Whatsapp yang kukirimkan. Pelan-pelan aku mencerna kalimatnya.

“Kadang, kita itu terlalu sungkan sama manusia sampai kita tak sungkan kepada Allah. Namun sayangnya, saya belum sebaik itu. Saya pun kadang masih ada rasa sungkan kepada bapak-bapak dosen. Saya juga pernah di posisi seperti itu mengingat semua dosen di sini bersalaman dengan yang bukan mahram itu adalah hal biasa. Ada dosen yang juga pernah menggoda kenapa kok saya tidak pernah bersalaman dengan laki-laki, tapi saya tanggapi dengan senyum saja. Jika sedang ada dosen yang mengulurkan tangan untuk bersalaman—apalagi dosen yang sudah sepuh (tua), saya sangat sungkan sekali untuk menolak sehingga saya menyalaminya dengan membalut tangan dengan jilbab. Namun ada juga dosen yang menghargai saya berpakaian seperti ini, sama sekali dosen itu tak pernah mengulurkan tangannya kepada saya.”

Dan kebetulan dosen sepuh yang beliau sebutkan adalah dosen pembimbing skripsiku. Hampir sering aku menemui dosen itu, tak enak juga jika tidak bersalaman.

“Apakah beliau tidak tersinggung kalau tangan kita berlapis jilbab?” tanyaku.

Beliau menjawab, “Tidak. Beliau tidak pernah mempertanyakannya dan sampai sekarang pun tetap mengulurkan tangannya kepada saya.”

Dari percakapan itu, ada kalimat yang masih membuatku terngiang-ngiang sampai sekarang yaitu kita itu terlalu sungkan sama manusia sampai kita tak sungkan kepada Allah.

Kadang kita lebih suka diwarnai daripada mewarnai. Kalau aku menginginkan orang-orang di sekitarku memiliki kesadaran tentang menjaga pergaulan dengan yang bukan mahram, seharusnya aku tegas untuk melakukannya. Perintah Allah tak bisa dilakukan dengan setengah-setengah. Kalau aku tetap mengikuti kebiasaan salah mereka, selamanya mereka akan tetap salah dan tak ada yang mengingatkan.

Aku berharap, ada orang yang terbuka hatinya untuk berubah, khususnya keluargaku sendiri. Namun, aku tak begitu memaksakan. Semua hidayah manusia adalah hak Allah. Meski masih berat dan kadang sungkan untuk melakukannya, aku masih memegang pilihanku tanpa ada yang bisa menghalangi.

Aku tak pernah menjelaskan kepada orang-orang kenapa aku melakukan ini atau itu jika mereka tidak bertanya. Pun kepada keponakanku yang masih duduk di kelas enam SD aku tak pernah mencekokinya atau menyuruhnya melakukan ini dan itu. Nyatanya, anak kecil lebih mudah peka dan menerima apa yang dicontohkan orang dewasa.

Beberapa hari lalu saat bertakziah ke rumah tetangga aku datang bersama ibu dan keponakanku. Ada laki-laki yang mengulurkan tangannya untuk bersalaman, aku menelungkupkan tangan. Saat laki-laki itu mengulurkan tangan ke keponakanku, dia mengikutiku menelungkupkan tangan. Mataku terbelalak melihatnya.

Setelah laki-laki itu pergi dengan tampang malu, dengan santainya sambil cengengesan, keponakanku berkata di depan banyak orang, “Dia bukan mahramku, Mbak.”

Aku kaget saat itu juga. Kali itu aku percaya, kelak Allah pasti membukakan pintu hati lebih banyak orang lagi. Hal paling penting adalah aku harus istiqomah dengan hal ini, tak perlu muluk-muluk mengubah banyak orang. Cara untuk mengubah lingkungan kita adalah dengan mengubah diri kita sendiri terlebih dahulu.

Oleh: Anik Cahyanik.

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan