kisah magang di luar negeri

Berharap kepada Manusia, Hanya Kepalsuan yang Ada

Peluh deras membasahi mukenahku, kedua tangan yang menengadah terlihat pucat dan basah karenanya. Aku sampai lupa waktu dan suasana, tak peduli orang sekitar yang menganggapku aneh, karena aku berada di masjid kampus yang cukup ramai, hanya saja hati dan jiwaku merasakan sepi, seolah hanya ada Allah yang sedang menyimak khusyu’ pengaduanku.

Ah, apalah ini.

Ya Allah, bila aku bukanlah seorang ahli untuk mencapai kasih sayang-Mu, semoga kasih sayang-Mu adalah ahli untuk menyampaikan aku pada keridhaan-Mu (halaman 65).

Beberapa hari yang menegangkan, beberapa episode yang tidak bisa dipastikan, beberapa rencana mendebarkan, buku Allah, Jangan Biarkan Aku Sendiri, menjadi sahabat sekaligus pelipur lara dalam penyembuhan jiwa. Dulu, aku pernah bermimpi dan berani menuliskannya di dinding kamarku: 2018 go aboard twice! Sesuatu yang mustahil bagi manusia biasa sepertiku, tapi nyatanya Allah mengamini dan memberikan kunci-Nya.

Beberapa kali mencoba daftar short chourse, ada yang nggak jadi daftar karena berkas kurang, atau bahkan gagal diterima, pernah juga. Sampai detik tahun akan berganti, aku pasrah dan tak memikirkan mimpi itu lagi. Pada akhirnya, Allah melarangku untuk berhenti berjuang, Allah memberiku kesempatan dengan mendatangkan beberapa orang baru yang memiliki jaringan luas, aku daftar program yang dimilikinya, sudah tiga tahun program tersebut berjalan lancar. Akhirnya aku diterima program magang mengajar bahasa Arab di Thailand!

Begitulah Allah menguji hamba-Nya, seberapa tangguh dan sabar untuk memperjuangkan impiannya. Yang sedikit disayangkan, program tersebut sifatnya partially funded, dari sinilah uji mental dan kesabaran dimulai. Aku mencoba menyerahkan proposal ke institut.

Assalamualaikum, Pak. Boleh saya bicara?”

Waalaikumsalam. Anda siapa? Ada keperluan apa?”

“Saya mahasiswa BIDIKMISI tahun 2015 dari Jurusan Bahasa dan Sastra Arab. Saya ingin mengajukan proposal ini,” aku menyerahkan beberapa berkas, surat dan proposal.

“Baik silakan kita bicarakan ke ruang saya.”

Begitulah perintah salah satu Wakil Rektor kampusku, dan inilah perjumpaan pertama menghadap beliau. Sungguh, hati merasa tak karuan, gerogi, takut dan sebagainya. Duh, kok masih begini ya.

Dengan hati sangat berdebar, aku hanya bisa merapal surat Al-Insyirah dan shalawat, supaya Allah memberi kelapangan hati untuk menghadapi siapapun. Aku masuk ke ruangannya, dia duduk dan membaca proposalku.

“Mbak dari Jurusan Bahasa dan Sastra Arab? Ikut program mengajar? Ke luar negeri? Memang bisa?” (Jleb sekali, tenang, sabar)

Insyaallah pasti bisa, Pak.”

“Sudah berpengalaman?”

“Pengalaman mengajar di sekolah, alhamdulillah pernah. Alhamdulillah juga pernah diberi amanah terpilih sebagai delegasi mengajar bahasa Arab di Malaysia.”

Ia mulai menegakkan punggungnya. “Hah, pernah? Kapan?”

“Bulan April tahun ini, Pak.”

Beberapa pertanyaan banyak sekali yang menyudutkanku, maklum saja dia pasti ragu dengan perempuan bersuara kecil dan suka gerogi ini. Mana mungkin bisa berprestasi apalagi mengajar di luar negeri. Tapi tak apa, meski begitu aku tetap berusaha tenang menjawab semua pertanyaannya.

Akhir yang membuat lega, ia menerima proposalku dan segera mengurus dananya ke humas. Syaratnya, aku harus mengajukan proposal ke fakultas juga, agar dana lumayan bisa didanai oleh dua pihak.

When I’m alone and need someone to support me, no one comes to help me except Allah (halaman 23).

***

“Sudah berapa lama Anda tidak kembali menemui saya?”

“Maaf, Pak. Urusan proposal ke fakultas baru selesai, dan tidak bisa diproses.”

“Anda ini mahasiswanya siapa? Kok fakultas tidak mau membiayai Anda.”

“Dana fakultas sudah dibersihkan, Pak. Mohon maaf.”

“Kalau begitu ya institut tidak bisa membiayai.” (Jleb! Mulai terlihat ada cermin di mataku, aku hanya menunduk.)

“Baik, jadi begini, misal kami hanya bisa mendanai tiket ke Jakarta saja, apa langkah yang akan Anda lakukan?”

Insyaallah ada jalan, bismillah,” jawabku pura-pura yakin. Ada Allah, ada Allah, ada Allah.

“Tapi, saya minta Anda mengubah format proposal dan surat ini. Salah kaprah ketentuannya. Mau saya sobek, tapi gak tega.”

Duh, salah lagi. Kenapa dulu enggak dipermasalahkan waktu pertama kali menghadap, dan baru sekarang dipermasalahkan.

“Nanti akan saya cek dana ke humas, besok silakan bertemu saya lagi untuk menyerahkan hasil revisinya,” lanjutnya.

“Baik, Pak. Terimakasih.” Rasanya lega, tapi tidak sepenuhnya, karena masih ada hari esok harus menemui orang yang sama. Penundaan kedua.

Bahkan, hampir saja aku putus asa dan tak mau lagi membuka hati untuk memaafkan orang lain, sebab begitu banyak dari ucapan mereka yang menyakiti hatiku. Sebab pula mereka selalu merendahkan dan suka sekali memandangku sebelah mata. Allah, kuatkanlah aku (halaman 15).

Sejak itu, panas dingin menyelimuti tubuhku, enggan keluar dari rumah. Aku hanya mengunci diri di kamar, lupa makan dan minum. Speaker murottal tak pernah sepi menemani. Jejeran buku terpampang rapi, itulah obatku ketika sakit. Dari kitab tafsir, dan buku-buku Islam lainnya kujelajahi, salah satunya buku karya Pak Dwi Suwiknyo, Allah, Jangan Biarkan Aku Sendiri.

Aku mencoba mencari obat rohani di sana. Dan berhasil, beberapa kali aku mengutuki diri yang penuh dosa, menyesal ketika putus asa hanya karena perjuangan tak begitu berarti.

Allah, kesedihanku selalu saja menyeretku menuju jalan yang sunyi, sepi, dan jauh dari-Mu. Aku menyendiri, tapi tak pernah bisa menemukan-Mu (halaman 40).

Sifat menyerah, putus asa, dan merasa tak ada satupun orang yang menemani ialah salah satu sifat tak percaya akan adanya Allah. Semalam aku merasa bahwa ruhku sedang pulang kampung, kedua orangtuaku terkejut. Aku hanya ingin bertemu dengannya, tak ingin kesepian. Aku berjanji esok hari harus kembali ke perantauan.

Ternyata benar, pagi sekali aku terbangun dari tempat tidurku, alhamdulillah ruhku sudah pulang. Aku bangkit merapikan kamarku, buku-bukuku, lalu pergi di siang yang mendung untuk menemui Ketua BIDIKMISI, meminta tanda tangan. Aku harus mencoba bertemu Wakil Rektor lagi, tak boleh menyerah dan putus asa.

“Kamu menghadap siapa untuk mengurus semua ini?” tanya Ahmad setelah selesai memberi tanda tangan di suratku.

“Bapak Wakil Rektor.”

“Hah? Serius? Beliau itu sulit. Banyak yang tidak berani menghadapnya. Tapi tenang, aku yakin kamu bisa menghadapinya dengan baik.”

Ternyata benar dugaanku selama ini, kukira hanya aku saja yang merasa takut menghadapnya, tepatnya bukan takut, tetapi enggan mendapat banyak nanya ini-itu, dan dipersulit prosesnya.

Tanpa acara penundaan, siang itu aku langsung menuju ruangan Bapak Wakil Rektor, sialnya beliau sedang tidak ada. Alhasil, proposal tidak ada kepastian hari ini. Padahal pemberangkatan ke Thailand kurang empat hari. Semua tiket belum terpesan. Abi, Ummi, beberapa kali menanyakan perihal proses proposalku. Termasuk teman seperjuangan dari kampus lain yang juga mengajukan proposal sepertiku.

Ukhti, bagaimana kabar proposalmu? Aku besok tinggal ambil dananya ke humas.

Aku belum ada kepastian, Ti. Besok disuruh menghadap beliau lagi. Kalau memang tidak ada dana, kemungkinan aku undur diri saja. Percuma kan, bisa berangkat tapi gak bisa pulang? Waktu sudah dekat.

Yaaah, tinggal perlu uang untuk pesan tiket Bangkok-Jakarta, kan? Ukhti ada jalan? Bagaimana kalau bilang orangtua Ukhti?

Entahlah, lihat esok saja. Aku tidak berani cerita sama orangtua.

Walah, kalau pinjam teman gitu?

Aku pun tidak berani pinjam uang, Ti. Sudahlah, aku pasrah, lihat besok saja.

Ukhti, jangan begitu. Pokoknya kamu harus tetap ikut.

Ya Allah, kuatkan aku. Karena perjalanan yang paling berat ialah melawan hawa nafsuku sendiri. Jangan sampai aku hanyut dalam nafsu dan menikmati dunia ini tanpa batas (halaman 100).

Nduk, bagaimana kabar proposal? Sudah pasti dapat dana berapa? Sebentar lagi mau berangkat, loh! Tiket belum pesan, kan?

Tak lama kemudian, Abi mengirim pesan tersebut. Ya Allah, rasanya aku dihantu-hantui proposal.

Belum ada kepastian, Bi. Besok mencoba menemuinya lagi. Mohon doanya.

Tak ada balasan dari Abi. Hanya dibaca saja, beberapa menit beliau mengirim pesan lagi.

Sudah aku transfer sore ini, segera pesan tiket saja, ya. Semoga cukup.

Aaah, jika seperti ini aku tak kuasa apa-apa lagi. Lelaki pendiam dengan sejuta kasih sayang itu, selalu membuatku ingin menangis. Bukan karena sedih, tetapi terharu karenanya. Aku tak ingin merepoti Abi. Tapi, ia selalu memberi tanpa aku meminta. Bahkan, hampir aku tak pernah meminta apapun padanya.

Selanjutnya aku tidak langsung memesan tiket, entah sisa-sisa galau masih terasa janggal. Masih ada janji yang belum tuntas, menyelesaikan urusan proposal. Aku ingin lebih dekat dengan-Nya. Rasanya diri yang penuh dosa ini sangat rapuh jika jauh dari-Nya. Malam semakin larut, aku tertidur dengan memeluk tafsirku.

Apa? Ditunda lagi? Sumpah, gua mau undur diri saja. Enggak pakek acara ikut tahun depan, meskipun fully funded untuk kita. Ah, bikin kesel orang. Mana harus berhubungan dengan banyak orang penting lagi. Duh, Ukhti. Bagaimana caraku mengembalikan dana kampus ini? Uang masih utuh, tapi malu sekali jika seperti ini. Dana baru cair, dan esok harus kukembalikan?

Astaga … gua sudah bela-belain pinjam uang ke pacar gua untuk ngurus passpor karena terburu-buru, eh, malah gak jadi berangkat tahun ini. Sumpah gua malu banget, harus ditaruh mana nih muka?

Tenang teman-teman, kita tunggu kepastian tahun depan saja. Sebagai obat kecewa kita malah dapat gratis, kan? Kita bebas pilih program ke negara mana saja, yang jelas negara ASEAN.

Bangun tidur aku terkejut melihat ratusan chat dari beberapa grup penting. Terutama yang berhubungan dengan program ke Thailand itu. Jelas saja teman-teman kesel, ingin marah dan sebagainya. Bagaimana bisa, acara sudah dekat dan tiba-tiba diundur? Apalagi mereka yang sudah dapat dana dari kampus.

Seketika itu aku bersyukur. Allah, begitu indah rencana-Mu. Andai saja aku sudah mendapatkan uang dari kampus, pasti bakal mampus lebih dari ini. Menanggung malu yang luar biasa, dan pasti mendapat marah juga. Aku bersyukur, tak ada sepeserpun dana kampus yang berada di tanganku.

Esok aku harus mengembalikan semua uang Abi untuk program ini. Aku bersyukur, meski hati sedikit teriris. Ternyata inilah rahasia Allah, aku sadar dan aku lebih malu dengan-Nya. Allah bukan tidak mewujudkan mimpiku, hanya saja ia menundanya karena itu lebih baik.

Menyerahkan urusan kepada Allah, bertawakkal kepada-Nya, percaya terhadap janji-Nya, dan menunggu jalan keluar dengan sabar, dari-Nya merupakan buah iman yang terbesar, dan sifat mukmin yang paling luhur (‘Aidh al-Qarni, dalam buku berjudul Allah Jangan Biarkan Aku Sendiri, halaman 124).

Thanks, Allah. Engkau menitipkan nutrisi rohani melalui buku ini.

Judul Buku: Allah, Jangan Biarkan Aku Sendiri

Penulis : Dwi Suwiknyo

Penerbit: Trenlis

Cetakan: Pertama, November 2018

Tebal: 168 halaman

ISBN: 978-602-52799-1-1

***

Oleh: Sayyidatina Az-Zahra.

Ilustrasi dari sini. 

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan