perjuangan menjadi seorang guru

Berjuang Jadi Guru Itu Sungguh Tak Mudah

Wisuda adalah akhir yang dinanti setiap mahasiswa. Bekerja, adalah cita-cita yang kemudian menjadi harapannya. Apa guna wisuda cepat dengan nilai tinggi, jika setelahnya tidak segera bekerja. Isi kepalaku penuh dengan dogma seperti itu. Sebagai mahasiswa jebolan fakultas pendidikan, impianku adalah menjadi guru. Tentu saja dengan status pegawai negeri. Mudahkah? Tidak jawabannya.

Beruntung bagiku, kuliah dengan sistem paket. Semua sudah diatur kampus. Tidak kurang dari 800 mahasiswa kala itu diwisuda dan berhak menyandang gelar Ahli Muda. Ya, aku hanya bermodal ijazah DII. IPK-ku termasuk tinggi, meski bukan yang terbaik. Bangga tentunya. Namun, ternyata tahap mencari pekerjaan tidak semudah yang aku bayangkan. Mencari tempat untuk sekadar mengabdikan diri saja sulitnya minta ampun. Tidak kurang dari 3 sekolah sudah menolak lamaran pekerjaanku.

Berbagai alasan penolakan aku terima. Mulai dari tidak adanya lowongan hingga alasan yang terkesan mengada-ada. Ijazahku tidak sesuai dengan formasi guru kelas di Sekolah Dasar. Menyebalkan memang, namun aku harus menerima keputusan penolakan itu.  

Menyerahkah aku? Tentu tidak.

Aku mencoba peruntungan dengan memasukkan lamaran ke sekolahku dulu. Sebuah SD yang telah membesarkanku, bahkan membekaliku sehingga aku bisa menjadi seorang calon guru. Pengabdian adalah niatku. Tidak mencari honor atau upah tujuanku. Mendapatkan sarana mengaplikasikan ilmu, sekaligus membantu bapak ibu guruku dahulu. Luar biasa, aku diterima, bahkan aku diberi honor.

Bapak Ibu guruku sangat luar biasa. Beliau berpatungan untuk memberi honor kepadaku. Hutang budiku terlalu besar kepada beliau-beliau ini. Sebagai rasa terima kasihku, aku mengabdi sepenuh hati, sekuat tenaga. Meski aku seorang guru, namun pekerjaan di luar tupoksi tetap aku lakukan. Membuatkan minum untuk bapak ibu guru, berbelanja nasi dan sayur untuk makan siang, bahkan mencangkul lapangan untuk lompat jauh aku lakukan. Semua demi usahaku membalas kebaikan bapak ibu guruku.

Perubahan Nasib

Iklan koran menjadi perantara-Nya membuka lembaran baru hidupku. Berbekal sebuah iklan di koran, aku mulai mengejar impian. Iklan tersebut menawarkan lowongan guru di pedalaman Pulau Kalimantan. Disebutkan nama sebuah kota yang dahulu terjadi konflik. Aku sempat ragu dan melewatkan iklan koran tersebut. Sesampai di rumah, aku bercerita kepada Bapak tentang lowongan tersebut.

“Pak, tadi ada iklan lowongan menjadi guru di pedalaman Kalimantan Tengah.”

“Wah bagus itu. Ambil saja. Kesempatan emas untukmu itu!”

Aku terkejut. Tidak menyangka candaanku ditanggapi serius oleh Bapak.

“Jika kamu serius, ambilah kesempatan itu. Bapak sangat mendukungmu. Meski bukan sebagai PNS, tetapi pengalaman akan menempamu Le. Percayalah.”

 Aku masih belum percaya bapak menanggapi serius candaanku. Bahkan, tampak sekali Bapak serius menasihatiku. Aku malah merasa aneh dengan sikap Bapak. Belum genap setahun aku mendapatkan tempat mengabdi, Bapak malah mendorongku untuk merantau. Padahal belum sekalipun aku yang anak bungsu ini hidup jauh dari orang tua.

“Bapak mengusirku kah?” pikiran kotor mulai menjalariku.

Setelah aku menimbang untung ruginya, aku putuskan untuk mencoba peruntunganku. Iklan koran kembali aku cari setelah pagi sebelumnya aku campakkan begitu saja. Koran yang memuat iklan tersebut aku dapatkan dari rumah tetanggaku yang berlangganan. Aku catat syarat-syarat pendaftarannya, termasuk alamat pengiriman syarat-syarat tersebut.

“Kamu yakin berani ke Kalimantan sendirian nanti kalau diterima?” tanya Mbak Wulan tetanggaku pemilik koran itu.

“Beranilah, Mbak. Cowok masak ya nggak berani,” jawabku penuh semangat.

Malam harinya aku mulai menyiapkan seluruh persyaratan untuk mendaftarkan diri. Ijazah, transkrip nilai, fotokopi identitas diri, pas foto dan lain-lain sudah siap. Pagi harinya aku menuju sebuah kampus di sebelah barat Yogyakarta untuk memasukkan lamaran pekerjaan itu. Aku tidak berharap banyak untuk dapat diterima. Ijazahku hanya DII, belum lagi pengalamanku yang masih nol besar. Aku pasrah saja akan seperti apa nasibku nanti.

Seminggu setelah aku memasukkan lamaran ada sebuah pesan masuk ke telepon genggamku. Inti pesan tersebut adalah undangan untukku agar mengikuti tes tertulis pada lowongan guru yang aku lamar kemarin. Entah harus bagaimana aku menyikapinya. Di tengah belum yakinnya diriku akan lowongan pekerjaan itu, ada kabar gembira bahwa aku lolos seleksi administrasi dan berhak ikut tes tertulis.

Di hari yang sudah ditentukan aku datang untuk mengikuti tes tertulis. Tidak kusangka materi tes ternyata adalah tes psikologi. Aku belum pernah mengikuti tes semacam itu. Aku pasrah saja bagaimana nanti hasilnya. Takdir Allah akhirnya menghendaki aku untuk lolos tes tertulis dan berhak mengikuti tes wawancara.

Tes wawancara sebelumnya pernah aku ikuti ketika aku hendak masuk kuliah. Itu saja modalku. Tes wawancara kala itu ternyata berbeda dengan yang aku alami ketika hendak masuk kuliah. Aku hanya disuruh berdiskusi membahas sebuah permasalahan yang disampaikan oleh salah seorang moderator. Aku dan peserta lain hanya diminta berpendapat mengenai permasalahan yang disampaikan.

“Tes model apa ini? Aneh banget!” gerutuku dalam hati.

Baru kurang lebih 2 tahun ini aku mengetahui kalau tes semacam itu disebut FGD (Forum Group Discussion). Selesai FGD aku diwawancarai oleh dua orang Bapak-bapak yang aku tidak mengenal keduanya sama sekali. Aku ditanya hal-hal simpel, seperti motivasiku mendaftar lowongan ini. Apakah orangtuaku tahu aku mendafatar lowongan ini atau tidak?

Pertanyaan-pertanyaan yang tidak lebih dari sekadar obrolan biasa. Entah bagaimana kemudian mereka menilainya. Aku tidak paham. Pokoknya mereka bertanya, aku menjawab, jujur, tidak aku buat-buat. Oh iya, aku berusaha sopan saja pokoknya. (Di Kalimantan nanti, baru aku tahu kalau dua bapak ini adalah General Manager dan Manager Estate).

Di luar ruang tunggu, aku sempat berbincang dengan peserta tes lainnya. Dari obrolan-obrolan tersebut aku tahu ada beberapa yang sudah berpengalaman dalam tes seperti yang aku alami ini. Aku minder. Ada yang dengan sangat percaya diri menyatakan bahwa saat wawancara ia langsung menantang penguji akan berani membayarnya dengan gaji berapa. Luar biasa, pikirku kala itu. Baru dites sudah menantang perihal gaji. Sungguh aku tidak berani melakukannya.

Kurang dari tiga hari setelah tes, kembali ada pesan masuk di telepon genggamku. Aku diterima. Luar biasa, aku diterima menjadi guru di sebuah perusahaan kelapa sawit yang berlokasi di pedalaman Kalimantan Tengah. Aku sangat bahagia.

***

Ada 11 orang yang yang diterima akhirnya berkumpul di kampus tempatku melakukan tes. Aku terkejut, seorang yang mengatakan berani meminta gaji kepada para penguji ternyata tidak lolos seleksi. Bahkan malah seorang kawanku yang mengaku bisa bermain sulap ikut diterima.

Aku bersyukur, ketika tes tidak terlalu sok-sokan berani. Merasa pintar dan berpengalaman ternyata adalah bumerang. Mungkin ini keberuntungan bagiku yang masih lugu ini.

Kurang dari satu bulan aku dan teman-temanku harus segera berangkat ke Kalimantan. Segala persiapan baik materi maupun rohani aku lakukan. Dengan menumpang kapal Pelni, aku dan teman-temanku sebanyak 11 orang diangkut menuju tanah rantau, Pulau Borneo. Sebuah kehidupan baru, jauh dari keluarga, dengan lingkungan baru tentunya.

Menjadi Guru

Di tengah hutan produksi ini aku mengabdikan diri. Menjadi pendidik bagi tunas bangsa yang datang dari seluruh penjuru nusantara. Siswaku berasal dari berbagai suku. Ibaratnya, miniatur Indonesia ada di sekolahku. Aku bahagia menjalani profesiku.

Selain fasilitas gaji yang jauh lebih besar dari PNS dengan ijazah sepertiku, tempat tinggal dan fasilitas di dalamnya aku dapatkan. Perabot rumah tangga sudah tersedia, aku tinggal menempatinya. Sungguh kebahagiaan dan kenyamanan aku dapatkan.

Jalan 4 bulan di perantauan aku sempat shock. Beberapa kawan mengabarkan bahwa ada penerimaan CPNS besar-besaran di DIY. Aku sangat risau dengan kabar itu. Ijazahku “ditahan” oleh perusahaan. Dengan apa aku akan mendaftar nanti. Belum lagi masa kerjaku yang baru 4 bulan, akankah diizinkan. Atau haruskah aku membayar ganti rugi? Berbagai ketakutan sudah memenuhi kepalaku. Aku pasrah. Aku harus rela melihat teman-temanku berubah status dari guru honorer menjadi seorang abdi negara.

Untuk menghibur diri, sering aku memotivasi dengan gaji. Gajiku dua kali lipat dari PNS golongan IIa kala itu. Aku patut berbangga diri. Namun, ketika ingat bagaimana enaknya menjadi PNS di rumah sendiri, belum lagi jaminan pensiun kelak, ditambah karier yang terjamin juga, aku kembali risau.

Tahun kedua menjadi guru di perantauan sudah tidak sesemangat tahun pertama. Aku menunggu penerimaan CPNS di tahun kedua ini. Benar, kala itu dibuka kembali penerimaan CPNS bahkan dengan formasi yang lebih besar.

Aku bertekad untuk mendaftar pada kesempatan ini. Jika untuk izin tidak diperkenankan, aku akan keluar dari pekerjaanku. Itu adalah tekadku. Gaji besar dan fasilitas lainnya siap aku tinggalkan. Risiko menjadi pengangguran jika tidak diterima adalah hal terpenting yang sudah aku siapkan.

Takdir Allah menuntunku pulang. Izin tidak bisa aku dapatkan. Mengundurkan diri adalah keputusan yang aku ambil. Sebuah pekerjaan dengan gaji besar dan fasilitas memadai aku tinggalkan. Demi mengejar kesempatan menjadi guru abdi negeri. Sesampai di rumah, segala persiapan aku lakukan. Berkas-berkas yang dibutuhkan aku siapkan. Tidak lupa aku belajar materi yang akan diujikan.

Pada saat yang sudah ditentukan aku mengikuti seleksi CPNS di kabupatenku. Allah sangat sayang kepadaku. Aku diterima, bahkan aku ditempatkan di sekolah yang tidak jauh dari rumahku. Sungguh nikmat Tuhan tiada terkira.

Kehidupan Sebagai PNS

Kekhawatiranku menjadi penganggur tidak terjadi. Aku sangat bersyukur. Impianku menjadi PNS terkabul, aku sangat bahagia. Berapa lama euforia itu bertahan? Tidak sampai setengah tahun.

Pada ketiga bulan pertama aku bekerja belum mendapatkan gaji. Bulan keempat barulah aku peroleh hakku. Itu pun baru 75% dari gaji pokokku. Ternyata benar, gaji sebagai PNS dengan ijazah diploma tidak lebih dari separuh gajku di tanah rantau dulu.

Aku terpuruk. Kebutuhan hidup semakin bertambah, gaji malah berkurang. Aku sering mengeluh, aku sering menyesal. Bahkan aku sering berandai-andai.

“Idealnya, aku bekerja di sini, tetapi gajiku seperti di Kalimantan. Jadi, aku bekerja di rumah sendiri, tetapi besaran gajiku seperti di perantauan dulu. Enaknya!”

Betapa aku sangat tidak bersyukur dengan keadaanku kala itu. Padahal Allah seperti telah menuruti segala keinginanku. Ikut tes menjadi guru di Kalimantan, diijabah-Nya. Ingin pulang mendaftar CPNS, dikabulkan. Ingin bekerja di tempat yang dekat, sudah aku dapatkan. Ketika gaji lebih kecil daripada saat di perantauan, aku mengeluh.

Sungguh, nikmat Tuhan kamu manakah yang aku dustakan? Semoga aku termasuk orang yang qonaah dan senantiasa bersyukur.

Oleh: Wawan Murwantara.

Ilustrasi dari sini.

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan