“Maka, sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.” (QS. Al-Insyirah: 5-6)

Saya sering mengulang-ulang dua nukilan firman Allah itu, terutama ketika merasa terhimpit kesulitan. Atau saat dihadapkan pada hal yang saya merasa mustahil melakukannya. Janji Allah itu, saya anggap sebagai rumus baku hidup yang mesti saya percayai; kesulitan itu selalu datang satu paket dengan kemudahan. Bahkan, Allah sampai mengulang janji itu di dalam satu surat.

Tapi, namanya iman itu kan naik-turun, ya. Kadang kita bisa yakin seyakin-yakinnya, sesekali—kalau lagi apes atau lagi ngerasa usaha kita belum membuahkan hasil—kita jadi ragu sama datangnya kemudahan yang Allah janjikan. Ada satu kisah dalam hidup saya yang sering saya putar ulang kalau iman lagi tipis. Bagi saya, ini bisa jadi bukti. Barangkali, kamu juga bisa belajar dari cerita ini.

Belasan tahun yang lalu, saya pernah ikut kursus renang bareng-bareng sama teman tiga angkatan di SD—kelas 3,4 dan 5. Dulu, saya termasuk murid yang ketinggalan jauh karena sering absen pertemuan. Kebetulan, beberapa kali saya sakit dan absen ikut kursus. Sampai akhirnya, pas saya mulai bisa renang, saya sok-sokan ikut renang di kolam yang dalam bareng sama teman lain yang sudah jago—wakil sekolah untuk lomba POPDA (Pekan Olahraga Pelajar Daerah).

Apa yang terjadi selanjutnya? Saya tenggelam dan panik. Jadi, karena belum lincah berenang, saya pakai swim board—pelampung berbentuk papan. Di tengah jalan, saya tabrakan dengan teman lain dan swim board yang saya pakai lepas. Cukup lama saya timbul-tenggelam di kolam, minum air kolam, teriak-teriak bahkan nangis. Bahkan satu teman saya juga ikut tenggelam karena saya tarik dan pegang. Malangnya, karena jumlah murid yang terlampau banyak, guru kursus kami telat kasih bantuan.

Alhamdulillah, saya masih selamat setelah seorang teman melempar swim board miliknya ke arah saya. Tapi, sejak saat itu pikiran saya cuma menanamkan satu pernyataan: renang itu susah dan saya tidak berbakat. Tahun-tahun selanjutnya, sampai saya beranjak remaja, kolam renang adalah tempat yang saya hindari.

Tahun 2011, Allah kasih saya kejutan. Saya diterima di jurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro. Kala itu, yang saya rasakan adalah bingung. Galau, saya harus senang atau sedih, dua perasaan itu bercampur. Setelah saya diterima, saya mencari tahu mata kuliah apa saja yang mesti saya tempuh untuk lulus dari jurusan tersebut.

Saya, dihadapkan pada kesulitan—yang saya pikir—terbesar dalam hidup saya: renang. Ya, untuk bisa meraih gelar sarjana kelautan, saya harus lulus mata kuliah selam. Sebelum mengambil mata kuliah selam, saya harus lulus di mata kuliah renang lebih dulu. Kriteria kelulusan minimal untuk mata kuliah renang adalah berenang sepanjang 50 meter non-stop di kolam olimpyc. Minimal. Iya, saya baru dapat nilai C kalau bisa melakukan itu.

Belum lagi di kuliah selam nanti, untuk lulus saya harus berenang sepanjang 200 meter tanpa jeda dan harus melakukan water trap di kolam sedalam 5 meter selama 15 menit. Bagi saya, itu kesulitan yang maha-sulit. Jangankan berenang sejauh 50 meter, memasukkan seluruh bagian kepada ke dalam air saja sudah menakutkan bagi saya. Bagaimana kesulitan itu jadi mudah? Saya baru tahu jawabannya, setelah melaluinya.

Mudah, dalam KKBI V diartikan dengan tidak memerlukan banyak tenaga atau pikiran dalam mengerjakan; tidak sukar; tidak berat; gampang. Oke, barangkali yang jadi sulit adalah karena kita terus memikirkan kesulitan itu, ya? Jadi, saya cuma perlu melakukan hal yang sulit itu tanpa mikir. Beres. Itu sudah jadi mudah.

Dulu, saya cuma punya pilihan untuk menghadapinya. Bagaimana pun, saya harus coba dulu, kalau tidak kuat ya … pikir nanti saja. Toh, semua orang selalu berawal dari tidak bisa ketika melakukan apa saja, kan? Tapi, kenapa bisa segala sesuatu jadi begitu mudah untuk sebagian yang lain? Pasti ada cara untuk mengubah kesulitan itu menjadi kemudahan. Yajelas, kuncinya memang satu: lakukan tanpa perlu mikir.

Ustaz Felix Siauw, dalam bukunya berjudul How To Master Your Habits (2013) pernah menuliskan tentang ‘Conditioning Habits.’ Di halaman 75-77 ada penjelasan mengenai percobaan Pavlov, melatih seekor anjing dengan metode pengondisian. Pavlov membaca kecenderungan anjing yang mengeluarkan liur ketika lidahnya menyentuh makanan. Lebih jauh, Pavlov meneliti dengan memberi stimulus berupa bunyi bel sebelum memberikan makan kepada anjing. Itu berlakukan secara berulang, hingga beberapa lama setelahnya, anjing itu mengeluarkan liur ketika bel dibunyikan.

Tak berhenti sampai di situ, Pavlov mengganti stimulus bunyi bel dengan musik dan lampu. Ternyata hasilnya juga sama. Percobaan ini pun sebetulnya juga bisa berlaku bagi hewan lain. Bukankah kita juga pernah melihat bagaimana gajah bisa melompat pendek, burung bisa berhitung atau lumba-lumba yang melompati lingkaran api? Iya, itu semua metode pengondisian.

Setelah baca itu, saya berpikir, kalau hewan yang tidak memiliki kecerdasan setajam manusia saja bisa memiliki kebiasaan—melakukan hal sulit dengan mudah—seharusnya saya juga bisa melakukan hal yang saya anggap sulit. Yang saya perlu, hanya melakukannya berulang-ulang saja. Jadi, bukan soal saya tidak berbakat atau paten tidak bisa melakukannya, hanya saya masih perlu waktu untuk melakukannya.

Dengan kemampuan renang nol besar, saya mencoba masuk kolam lagi. Awalnya, saya hanya berusaha mencelupkan kepala sampai saya merasa nyaman ada di dalam air. Hal itu terus saya ulang sebelum saya berenang di kolam. Lama-lama saya terus meningkatkan tantangan untuk diri saya, mulai dari belajar mengapung sampai belajar berenang hingga mampu menempuh jarak 50 meter.

Saya mendapat nilai A di mata kuliah selam dengan berenang sejauh 200 meter dan melakukan water trap—terapung di permukaan dengan gerakan menginjak-injak air—selama 15 menit. Ini bukan tanpa pembiasaan alias conditioning habits, karena sebelumnya, di kuliah renang saya mendapat nilai C. Itu pun sudah bikin dua lutut saya gemetar setelah naik ke kolam. Lalu, butuh lebih dari setahun untuk saya bisa berenang tanpa mikir.

Kini, yang saya lakukan cuma masuk ke kolam dan berenang. Pikiran saya tidak lagi bekerja dan mereka-reka bagaimana saya mesti bernafas ketika berenang. Tidak lagi memilih teori terapung yang seperti apa supaya bisa tetap ada di permukaan kolam sedalam 2 meter. Tapi, untuk bisa sampai di situ, saya tidak pernah absen kuliah renang dan selam selama dua semester. Plus, meluangkan waktu tambahan ketika senggang untuk berlatih.

Inilah, kesulitan selalu butuh proses untuk berubah menjadi kemudahan. Meski Allah menjanjikan kedatangannya satu paket, tapi kita harus tahu bahwa perjuangan kitalah yang membuat batas antara keduanya menjadi dekat. Masih dalam buku Ustaz Felix Siauw, How To Master Your Habits menerangkan bahwa proses membiasakan sesuatu juga perlu kesabaran. Keahlian kita mengerjakan sesuatu akan meningkat jika kita konsisten melakukannya.

Begini, misal saja dalam rentang waktu tertentu di awal kita mencoba, keahlian kita hanya bertambah sebanyak 1%. Lanjut kita biasakan lagi, kenaikan itu akan menjadi 2%, 3%, dan seterusnya. Dan itu yang terjadi pada saya, di semester awal, saya hanya mampu menyentuh batas minimal (berenang 50 meter). Tapi konsistensi dan repetisi itu yang akan membuat kita melakukan suatu aktivitas tanpa berpikir.

Penjelasannya begini, manusia mempunyai 1.000.000.000.000 sel syaraf yang saling terhubung. Syaraf ini akan membentuk sebuah pola setiap kali kita melakukan aktivitas baru. Nah, ketika kita mengulang kegiatan atau aktivitas yang kita anggap sulit, pola yang sudah terbentuk ini akan menebal. Itulah alasan kenapa ketika kita sudah terbiasa melakukan sesuatu, kita tidak lagi perlu berpikir. Pola-pola yang tebal tadi itu sudah secara otomatis menjadi sebuah informasi di otak kita.

Sekarang, saya bisa bercerita dengan mudah. Tapi, jauh-jauh hari sebelum saat ini, saya merasa mustahil semua bisa terlewati. Kesulitan itu terasa lama saya pecahkan, butuh tekad dan kesabaran untuk mengulang apa yang tidak saya sukai. Saya kemudian sadar, bahwa ada usaha memangkas jarak antara kesulitan dan kemudahan itu panjang. Sudah hukum alamnya begitu, hidup manusia diisi dengan 10% pencapaian dan 90% adalah usaha. Itu kata saya aja, sih.

Nyatanya, untuk wisuda setelah lulus sidang atau tesis—yang ujiannya hanya berlangsung dalam hitungan jam—kita mesti bimbingan dulu, berbulan-bulan bahkan ada yang sampai hitungan tahun. Sama, dengan perjuangan-perjuangan kita yang lain, usaha kita memang butuh waktu yang tidak sebentar. Kesulitan perlu dipecah menjadi bagian-bagian kecil dan kita mengubahnya menjadi kemudahan secara bertahap.

Maka, jangan sedih kalau kesulitan terasa lama membayangi hidup kita. Kita cuma butuh sabar dan melangkah satu pijakan demi pijakan. Karena apapun jua bisa terbukti, andai langkahmu tidak terhenti. Eh, udah, jangan lanjutin nyanyi. Hehe. 

Ditulis oleh: Hapsari T. M.

Ilustrasi dari sini.

Facebook Comments

This is a demo store for testing purposes — no orders shall be fulfilled. Dismiss

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: