Siapa yang tidak ingin mendapatkan pasangan yang baik, soleh, pintar mengaji dan paham ilmu agama. Aku rasa itu menjadi idaman para kaum hawa, tentu saja tidak akan ada yang menolak jika didatangkan jodoh seperti itu. Semua orang menginginkan pasangan hidup yang baik, baik menjalani kehidupan bersama hingga menuju jannah-Nya.

Namun apakah diri ini sudah sepantasnya mendapatkan kriteria jodoh yang seperti itu?

Perlu aku pahami, bahwa sebelum aku lahir di bumi masalah rezeki, jodoh dan maut sudah ditentukan oleh Allah swt. Tergantung dengan bagaimana cara aku untuk mendapatkan semua itu agar Allah memberikan segala keinginan hambanya. Dan yang menjadi tanda tanya dalam pikiranku saat ini ialah siapa jodohku? Saat teman-teman seusiaku sudah menemukan pujaan hatinya dan memutuskan untuk bersanding di pelaminan, saat itu pula deretan pertanyaan mulai bermunculan.

Menghadiri pernikahan teman-teman tanpa pasangan menimbulkan pertanyaan baru setelah “kapan menyusul?”

Aku pun hanya menjawab dengan senyuman yang berusaha semanis mungkin di depan pasangan yang sedang berbahagia dan berkata, “Insya Allah, tahun ini akan segera menyusul ke pelaminan.”

Dengan sangat percaya diri aku memastikan untuk menikah tahun ini, padahal aku tidak memiliki pasangan (kekasih) bahkan calon suamipun tidak ada. Pertanyaan barupun mulai muncul setelah aku memberikan kepastian untuk menikah tahun ini.

“Calonnya orang mana?”

“Siapa calonnya?”

“Kok, calonnya enggak diajak?”

Lagi-lagi aku hanya menjawab dengan imajinasiku sendiri, “Ada, calonnya masih dirahasiakan. Tunggu saja undangannya.”

Kali ini aku berhasil menjawab pertanyaan teman-temanku hingga tidak menimbulkan pertanyaan baru. Ketika teman-temanku datang bersama pasangannya, aku sama sekali tidak memiliki rasa cemburu karena datang dengan seorang diri. Cemburu terhadap apa yang aku lihat, cemburu terhadap keromantisan mereka, cemburu terhadap kelanggengan hubungan yang terjalin sekian lama hingga saat ini masih saling percaya untuk menjaga cintanya.

Aku memiliki prinsip yang berbeda di antara teman-temanku yang lain, di saat mereka sibuk pacaran, sibuk mencari calon pacar dan sibuk mencocokan hati dengan berganti pacar. Namun, aku tidak ingin melakukan suatu kegiatan yang dinamakan pacaran, yah pacaran sebelum dihalalkan.

Aku percaya bahwa pacaran merupakan suatu kegiatan yang sangat merugi, mereka yang sibuk pacaran susah payah membangun kepercayaan untuk menjaga cintanya, cinta yang belum tentu membawanya ke ikatan halal. Begitu susahnya menjaga kepercayaan Allah untuk tidak pacaran, betapa susahnya menjaga hati dari godaan-godaan nafsu perasaan, betapa susahnya menahan diri untuk tidak terjebak ke dalam rayuan-rayuan gombal lelaki di luaran.

Betapa susahnya memantapkan hati untuk menjadi taat di hadapan sang Illahi, mentaati perintah-Nya bahwa dalam islam pacaran itu dilarang. Pacaran merupakan jalan menuju zina, walaupun kita mengaku bahwa ketika pacaran tidak melakukan hal-hal yang dilarang. Lalu menurutmu bermesraan lewat sms, telepon dengan lawan jenis yang bukan mahram itu tidak dilarang?

Bermesraan dengan yang bukan mahram itu bukan zina? Kebanyakan orang yang melakukan zina pada awalnya hanya “sakadar”

“Sakadar sms dan teleponan setiap hari.”

“Sakadar jalan-jalan, nonton lalu makan tidak lebih.”

“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.” (Surat Al-Isro ayat 32)

Dalam surat tersebut Allah memerintahkan kepada umatnya untuk tidak mendekati zina, mendekati zinanya saja sudah dosa apalagi langsung melakukan zina. Itu sebabnya aku selalu menolak untuk melakukan kegiatan pacaran atau hanya sakadar jalan dengan yang bukan mahram.

***

Aku bukan tidak ingin menikah diusiaku saat ini yaitu dua puluh tiga tahun. Orang tua yang selama ini menanyaka kesiapanku, orang tua yang selalu menanyakan waktu bahagia itu kapan akan tiba. bukankah, waktu dan segala ketentuan sudah diatur sedemikian rupa oleh Sang Maha Pencipta.

“Sabar bu, nanti juga ada waktunya aku nikah.”

“Tapi kapan? Kamu tidak pernah memikirkan hal itu.”

“Memikirkan Bu, sambil memperbiaki diri juga.”

Kesalahan yang tidak pernah disadari diri sendiri adalah memaksa. Memaksa Allah untuk segera menjawab doa-doa hambanya, memaksa Allah untuk segera mendatangkan apa yang hambanya inginkan. Tanpa perlu memaksa Allah akan memberikan yang terbaik selagi hambanya berusaha untuk menjadi lebih baik di mata Tuhannya.

Aku meminta kepada Allah jodoh seorang lelaki yang baik agamanya, selalu melakukan perintah-Nya, menjauhi larangan-Nya, menjaga pandangannya, dan tidak lupa menjaga ketetapan imannya.

Pokoknya yang salih (menetapkan dalam hati). Setelah menentukan kriteria jodohku, aku pun tidak tergesa-gesa mencari ke sana kemari untuk mencari jodoh atau bahkan minta untuk dicarikan kepada Ustadzah atau orang tua sekali pun. Menurutku, itu semua tidak perlu dilakukan.

Aku yakin kalau jodohku adalah “dia”, dia yang saat ini menjadi cermin pribadi diriku sendiri.

Karena jodoh merupakan cerminan diri, maka aku selalu berusaha untuk menjadikan diri ini lebih baik. Agar jodohku kelak mendapatkan yang baik, aamiin.

Namun aku menyadari bahwa diri ini bukanlah orang yang telah baik, bahkan jauh dari kata baik. Aku hanya seorang wanita yang sedang berusaha memperbaiki diri sendiri,  bukankah tidak ada kata terlambat untuk memperbaiki diri, tidak ada kata terlambat untuk terus belajar menuju ridho-Nya.

***

Bulan ke empat di tahun 2018, seperti biasanya rabu adalah jadwal kajian rutin khusus akhwat di kampungku. Hampir setiap rabu aku hadir di kajian tersebut, insya Allah langkah kakiku semata hanya untuk mencari ilmu dan keridhoan Allah semata. Tidak ada niat apapun selain untuk belajar agar diri ini menjadi pribadi yang lebih baik di mata Allah.

Tidak disangka sama sekali, selepas acara selesai Ustadzah memberikan lembaran kertas ukuran A4 yang dilapisi oleh amplop berwarna coklat. Saat itu aku masih belum mengerti maksud Ustadzah memberikan amplop tersebut.

“Ini apa Ustadzah?”

“Ini ada profile ta’aruf Ikhawan, baca saja dulu. Nanti kabari Ana yah, Ukh.”

“Duh, kenapa harus ke Ana Ustadzah?”

“Umurmu kan udah cukup, lagian enggak baik kalau kelamaan. Keburu layu duluan.”

Layu? Ada pisau yang mencoba menggoreskan luka saat mendengar kata “Layu”. Kata tersebut membuat aku menerima amplop itu. Sesampainya di rumah, aku mulai membuka amplop tersebut dan membaca lembar demi lembar. Isi yang tertulis pada kertas tersebut lebih menceritakan tetang kepribadian secara spesifik, mulai dari pengenalan nama, tanggal dan tahun lahir, riwayat pendidikan, riwayat keluarga,dan visi misi ke depannya.

Sebagian besar yang dijelaskan dalam profile tersebut memang sudah memasuki kriteriaku, terutama latar belakang agama yang satu akidah (manhaj). Pekan berikutnya, aku kembali hadir dalam kajian rutin, lalu tanpa ragu aku katakan kepada Ustadzah  bahwa boleh untuk memulainya. Tentu saja untuk menghilangkan keraguan tersebut sudah karena Allah lewat shalat istiqarah.

Tiga hari setelah memberikan keputusan tersebut kepada Ustadzah, Ustadzah memberi kabar bahwa laki-laki itu ingin datang menemui kedua orang tuaku, didampingi dengan Ustadzah dan suaminya serta kedua orang tuanya juga.

Tentu, sejak saat menerima profile laki-laki itu aku sudah menceritakan hal tersebut kepada kedua orang tuaku. Mereka sangat berharap banyak tentang hal ini, berharap bahwa Allah dapat meridhoi segala keputusan yang akan diambil dan diterima.

Saat laki-laki itu datang ke rumah, keluargaku dan keluarganya berkumpul menjadi satu, membicarakan banyak hal mengenai kebiasaan, aktivitas dan segala macam yang memang seharusnya diketahui satu sama lain. Tidak lupa aku pun memberikan pertanyaan kepada laki-laki tersebut, namun biasa saja sekadar ngobrol santai agar tidak terkesan introgasi.

Setelah pertemuan tersebut, aku kembali meminta pendapat kepada kedua orang tuaku. Pendapat mengenai dirinya, agar dapat melanjutkan untuk ta’aruf atapun tidak. Karena bagaimanapun restu orang tua, Ridho Allah juga.

Jadi untuk masalah seperti ini harapan dan keputusanku berada di tangan orang tua, Alhamdulliah orang tuaku menyukai segala tata cara yang laki-laki itu sampaikan,mulai dari pola pikir, cara bicara, dan tidak lupa mengenai pemahaman agama yang baik.

Setelah mendapatkan restu orang tua, aku pun terus meminta kepada Allah untuk meyakinkan diri. Keyakinan bahwa laki-laki tersebut merupakan utusan Allah untuk membimbing, menjaga dan mengajakku kejalan-Nya. Aku pun tidak berhenti sampai di sini, bagaimanapun rasa ingin tahu ini selalu muncul.

Rasa ingin tahu tentang bagaimana lingkungannya, bagaimana pergaulan di luar keluarganya. Bagiku masalah mencari informasi di zaman sekarang itu bukan hal yang sulit, apalagi seorang wanita kalau sudah kepo sangat teliti.

Seteleh Allah menetapkan keyakinan pada hati masing-masing untuk saling memiliki, tidak perlu waktu lama untuk melangsungkan pernikahan. Terhitung masa ta’aruf yang hanya berlangsung tiga minggu lalu kami memutuskan untuk menikah dua bulan kemudian. Tujuan kami memang dari awal hanya mencari Ridho Allah untuk melengkapi ibadah kami, maka kami pun takut jika terlalu lama dan syaiton akan masuk di antara kita lalu menggoyahkan niat baik ini.

Apa yang aku yakini terjawab sudah, bahwa jodoh adalah cerminan diri sendiri. Aku dan dia memiliki banyak kesamaan dalam berbagai hal, seperti halnya aku dan dia yang sama-sama sedang berusah memperbaiki diri, belajar untuk lebih taat kepada Allah.

Jodoh tidak akan salah menetap kepada hati siapa akan singgah, tidak perlu memaksa untuk di datangkan segera. Tidak perlu juga berkelana dengan cara yang salah, cukuplah dengan memperbaiki diri sendiri untuk menjemputnya, memohon dengan lirih kepada sang illahi. Sebab, Allah telah mengatur kapan tibanya masa indah ini.

Oleh: Santi Nindi Asih.

Ilustrasi dari sini.

Facebook Comments
error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: