Dua puluh satu tahun yang lalu, satu tahun pernikahan beliau.

Keresahan menyelimuti seorang wanita pendatang baru di salah satu desa yang berada di Kota Mojokerto. Awalnya beliau tak ingin tinggal di kota tersebut.  Sebab, beliau yang baru saja pulang dari pesantren, dan baru menikah, merasa cukup sulit beradaptasi di sebuah desa yang masyarakatnya awam perihal agama. Beliau menuruti kata suami, tanpa berani membantahnya, meski harus kesulitan beradaptasi dengan kehidupan baru.

“Mas, apa di desa ini tak ada sekelompok ibu yang mengadakan rutinan baca Qur’an?” tanya beliau kepada suaminya dengan hati-hati.

“Keinginan orang sini untuk membaca Qur’an itu masih kurang, Dek. Memang di sini awam banget dengan pengetahuan agamanya. Guru ngaji di desa ini pun enggak ada,” jelas suaminya.

Keinginan beliau untuk menyebarkan kalam Ilahi semakin tumbuh. Beliau mengadu keresahannya kepada pamannya yang tinggal di desa sebelah. Lalu, beliau ditemukan dengan kumpulan ibu-ibu ngaji antar desa untuk saling kenal. Beliau pun akhirnya sering ikut acara khotmil Qur’an di desa lainnya.

Mertua beliau yang rutin salat ke masjid, bercerita bahwa menantunya adalah seorang penghafal Qur’an, kepada mereka yang salat di masjid juga.

“Eh, Buk. Kalau mau belajar ngaji, datang saja ke rumahku. Menantuku hafal Qur’an, lho, insyaallah akan menetap di desa ini,” ucapnya penuh perasaan bangga.

“Beneran, Buk? Wah, alhamdulillah. Akhirnya ada yang pantas untuk jadi guru ngaji di desa ini,” sambung Bu Ripah, tetangga beliau.

“Aku juga mau ngaji sama menantu njenengan deh, Buk. Barangkali nanti aku diajak berjuang ngajar ngaji juga untuk anak-anak di desa ini. Kan lumayan kalau ada pemasukan kas, terus mendirikan lembaga pendidikan Qur’an gitu,” jelas Bu Lasmi, sahabat Bu Ripah.

“Ya niatnya gak kesitu dong, Buk. Emang kamu ngajinya sudah lancar? Dah siap saja mau ngajar ngaji,” seloroh Bu Ripah.

“Ya, belum lancar. Makanya besok mau belajar ngaji dari iqra’ sampai lancar bisa baca Qur’an ke menantu Bu Hida.”

“Sudah, sudah. Mau belajar ngaji tinggal datang saja ke rumah, temui menantuku. Gak usah debat-debat gini. Aku pamit pulang dulu. Asalamualaikum.”

“Waalaikumsalam,” jawab keduanya serempak.

Sepulang dari masjid. Esoknya, Bu Ripah dan Bu Lasmi datang ke rumah beliau. Keduanya langsung berterus terang minta diajari ngaji dari iqra’, tanpa ada rasa malu. Terkadang, sebagian orang—yang terlambat belajar ngaji hingga dewasa—cenderung malu untuk belajar iqra’ yang seolah khusus untuk bacaan anak-anak. Padahal, sebenarnya tidak begitu, harusnya siapa pun yang berniat ingin belajar, tak peduli tentang perbandingan umur dan apa yang dipelajarinya.

Ketiganya menjalin hubungan yang cukup baik hingga berbulan-bulan. Sayangnya, yang membuat gelisah beliau adalah progres ngaji Bu Lasmi yang selama ini yang masih terbata-bata. Karena Bu Lasmi langsung loncat ngaji Qur’an saat mengetahui Bu Ripah sudah bisa baca Qur’an. Maka, beliau kesulitan untuk mengajari Bu Lasmi, bahkan hampir nyerah tapi beliau tetap menjalani dengan penuh kesabaran demi mewujudkan impiannya.

Selain kedua ibu tersebut, ada beberapa ibu lain yang juga datang untuk belajar ngaji. Lalu disusul oleh beberapa remaja putri lainnya.

“Buk, lihat tuh Bu Ripah. Selalu boleh lanjut halaman seterusnya kalau ngaji, padahal aku selalu disuruh mengulang terus. Satu ayat, dua ayat, dihentikan, terus disuruh ngulang esoknya. Kan sebel, jadi enggak khatam-khatam,” ucap Bu Lasmi berbisik.

“Namanya belajar ya harus sabar, Buk. Saya juga belum berani malah kalau langsung baca Qur’an,” jelas Bu Sulis.

“Aku tahu, pasti gara-gara Bu Ripah selalu bawa snack untuk anaknya kali, ya. Makanya lanjut terus ngajinya, enggak pernah suruh ngulang.”

Hus, enggak boleh gitu! Mungkin karena Bu Ripah enggak mau diganggu anak beliau saat belajar ngaji, makanya dibawain snack. Wajar, kan?”

Bu Lasmi mendesis sebal, belum terima jika nyatanya memang baca Qur’annya kalah jauh dengan Bu Ripah.

Sebuah hal yang wajar, jika mendapatkan keberuntungan tidak sama di setiap manusia. Seperti progres cepat tidaknya belajar ngaji setiap orang. Sebab, semua itu adalah karunia-Nya. Beliau tahu desas-desus orang-orang yang ngaji bersamanya, pun mengenai fitnah kecil itu juga. Padahal sudah jelas, beliau tidak pernah berlaku tidak adil terhadap teman-teman yang belajar ngaji bersamanya.

Seiring waktu, aktivitas berjalan dengan baik. Hingga murid-murid remaja beranjak dewasa dan menikah, ngaji mereka juga sudah lancar. Tetangga desa terdekat bahkan mengantar anak-anaknya untuk mengaji pada mereka. Hingga di desa itu makin banyak yang belajar ngaji, meski dengan guru yang berbeda-beda.

Tiba-tiba saja terpikirkan ide untuk menyatukan semuanya. Beliau ingin menjalin hubungan antar dusun dan menggali informasi tentang pendirian lembaga pendidikan Qur’an. Beliau lalu mengajak bertemu dua muridnya yang kini sudah menjadi guru ngaji itu.

“Mbak, bagaimana kalau muridku, dan murid kalian berdua dijadikan satu? Supaya lebih ramai dan menarik perhatian mereka yang belum belajar ngaji. Kita mendirikan lembaga pendidikan resmi.”

“Ide bagus itu, Buk, tapi, untuk tempat ngajinya di mana? Kan kalau di rumah kita gak cukup. Muridnya banyak kalau disatukan,” ujar Mbak Diyah—murid beliau yang kini ngajar ngaji juga di dusunnya.

“Bagaimana kalau di masjid dusun saya? Nanti kita musyawarahkan bersama takmir, dan pengurus masjid lainnya.”

“Boleh, Buk, boleh. Aku setuju!” sambung Mbak Lina—murid beliau juga dan sekarang sudah ngajar ngaji.

Tak lama setelah itu, ketiganya mengajak takmir masjid dan pengurusnya untuk musyawarah mengenai ide itu. Tak perlu banyak syarat, tak perlu banyak perdebatan, mereka menyetujui ide tersebut. Fix! Semua anak berkumpul ke Masjid Al-Amin untuk ngaji Qur’an, yang mengajar beliau, Mbak Diyah dan Mbak Lina. Muridnya sudah lumayan banyak.

Tahun demi tahun terjalani, lembaga pendidikan itu berjalan lancar. Muridnya semakin membludak, sampai halaman masjid penuh, tidak cukup jika semua disatukan dengan waktu yang sama. Sedangkan, untuk ibu-ibu yang ngaji bersama beliau, sebagian masih ada yang ngaji setelah salat magrib.

Lembaga pendidikan itu makin berkembang pesat. Beliau pun sampai kewalahan. Akhirnya meminta bantuan sebagian temannya—muridnya dulu—yang dinilai sudah bagus bacaan Qur’annya untuk membantu mengajar ngaji. Beliau mengambil dua sampai tiga orang yang siap diajak berjuang tanpa bayaran. Muridnya sudah mencapai lebih dari dua ratus. Sedangkan, lembaga resmi tersebut baru berdiri dua tahun.

Tak hanya kegiatan baca Qur’an saja, tapi setiap murid juga diajari tajwid, salat dengan baik, wudu dengan baik, doa sehari-hari dan menghafal surat-surat pendek oleh beliau. Bahkan, lembaga pendidikan Qur’an sudah meluluskan santri dengan adanya ujian lalu wisuda. Tentu, setiap murid yang diwisuda sudah khatam bacaan Qur’annya, lulus tajwidnya, lulus praktik salat, wudu, dan hafal doa sehari-hari serta surat-surat pendek.

Sebelum mengadakan wisuda, beliau sempat memikirkan tentang kebutuhan dana yang cukup besar. Jika kebutuhan lembaga yang tak seberapa, beliau rela mengeluarkan uang pribadinya. Namun, jika perlu banyak, maka membutuhkan cara lain. Akhirnya, beliau meminta bantuan suaminya untuk mencari donatur.

Suami beliau termasuk salah satu takmir masjid. Lalu, suami beliau dan temannya mencari donatur ke perangkat desa yang terkenal kaya. Mereka tidak meminta donatur ke masyarakat biasa, kecuali mereka yang bersedia iuran sendiri tanpa diminta.

Selain lembaga pendidikan Qur’an yang sudah berkembang pesat, kini ibu-ibu murid beliau dulu sudah berani mengadakan khotmil Qur’an setiap satu minggu sekali di desanya. Semua berkat beliau yang berjuang tanpa kenal putus asa.

Waktu masih berjalan seperti biasanya. Tanpa diduga, sebuah kejutan besar datang untuk beliau dan lembaga pendidikan Qur’an. Lahan kosong di depan Masjid Al-Amin yang sudah dibersihkan rumputnya, pernah menjadi angan beliau untuk membangun lembaganya di sana. Namun, beliau masih fokus untuk mengajarkan bacaan Qur’an terlebih dahulu.

Setelah adanya wisuda pertama kali, ada orang dermawan dan memiliki kekayaan mewariskan hartanya untuk pembangunan lembaga pendidikan Qur’an di desa beliau. Orang tersebut menyerahkan semuanya ke beliau. Dari urusan pengembangan pendidikan, dan apa saja yang dibutuhkan oleh lembaga. Kini, tugas beliau semakin fokus dan nyata, yaitu terus mengamalkan ilmu yang dimilikinya. Serta berusaha membuat masyarakat semakin tertarik untuk belajar ngaji Qur’an.

Mendengar kabar itu, beliau langsung sujud syukur. Kebahagiaan tak terkira, ternyata kalam Ilahi begitu cepat membentangkan sayapnya. Selagi ada niat, pasti ada jalan untuk setiap kebaikan.

Beliau adalah, Bu Isti.

***

Oleh: Sayyidatina Az-Zahra.

Ilustrasi dari sini.

Facebook Comments
error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: