Betapa Berharganya Teman dalam Hijrah

Beberapa bulan lalu, ada seorang teman lama yang mengirimkan Whatsapp kepadaku. Dia bilang mendapat nomorku dari sebuah grup kajian Islami. Setelah mengeceknya, ternyata memang benar dia berada di grup yang sama denganku tanpa aku sadari sebelumnya.

Entah kapan dia masuk dan siapa yang memasukkannya, aku tak tahu. Karena lalu lintas grup yang begitu ramai dan aku tak meneliti satu per satu chat di sana. Hanya chat yang berisi materi agama, info kajian, dan hal penting lain yang aku baca.

Sebenarnya aku penasaran bagaimana dia bisa masuk ke dalam grup tersebut. Karena orang-orang di dalam adalah ukhti-ukhti. Sedangkan temanku ini bukan orang yang termasuk seperti itu. Bukan bermaksud membeda-bedakan, tapi memang tidak semua orang mau masuk dalam grup yang isinya hanya tentang agama saja.

Lalu tanpa kuminta, temanku bercerita sendiri bahwa dia mengaku ingin hijrah. Aku menyambutnya dengan sukacita serta menemani langkahnya yang katanya tak mudah. Ada banyak halangan di depan sana dan sebagai orang yang juga baru hijrah, aku hanya bisa menguatkannya melalui ucapan penyemangat.

Beberapa kali dia mengajakku ke kajian. Aku senang sekarang temanku ngaji bertambah batinku. Kami hampir sering menghabiskan waktu bersama. Karena katanya, hanya sedikit teman-teman yang sejalan dengan jalan hijrahnya. Aku mengiyakan, karena memang kebanyakan di luar sana banyak orang yang menghujat seseorang yang tiba-tiba berubah dengan jilbab lebarnya.

Suatu waktu di sebuah kajian yang kami datangi, ada seorang ustadz yang menjadi pemateri. Bagiku, tak ada yang masalah dengannya. Akan tetapi, temanku yang baru hijrah ini tiba-tiba membisikiku dengan lirih, “Celana ustadznya kok masih isbal ya?”

Seketika itu aku diam lalu mengedarkan pandangan memperhatikan objek yang dimaksudnya. “Iyakah?” Hanya itulah yang mampu kuucapkan karena aku kaget saat itu juga.

“Iya, coba lihat deh.”

Aku sudah melihatnya, dan sebenarnya dalam hatiku juga membenarkan ucapan temanku. Tapi menurutku, hal seperti ini tidak patut untuk diperbincangkan. Aku memilih diam dan tidak menanggapi apa pun. Aku pura-pura sibuk mendengarkan materi ustadz tersebut, padahal sebenarnya aku sedang sibuk menata pikiranku yang berkecamuk karena ucapannya.

Setelah pulang kajian, aku dibonceng temanku itu untuk pulang ke kos. Di tengah perjalanan, dia membuka pembicaraan seperti ini, “Aku nggak nyangka, kemarin ketemu sama cewek cadaran, tapi kakinya nggak pakai kaos kaki.”

Jantungku serasa melompat saat itu juga. Aku benar-benar kaget dengan yang diucapkannya. Lagi-lagi, aku memang orang yang pengecut. Aku tidak terlalu berani mengucapkan sesuatu untuk menegurnya.

Kuakui, aku memang belum menjadi sahabat yang baik untuknya. Hanya bertanya, “Iyakah?” atau “Masa sih?” yang mampu keluar dari lisanku. Padahal sebenarnya, banyak hal yang ingin kusampaikan kepadanya.

Lalu setelah kejadian itu berlalu, tiba-tiba temanku yang satu ini lama tak terdengar kabarnya. Aku juga tak menanyakan bagaimana keadaannya. Karena kami sama-sama sibuk melaksanakan PPL di sekolah masing-masing.

Ada hal yang kukhawatirkan ketika aku melihat beberapa foto yang diunggahnya atau kalimat status yang dipostingnya.

Dia banyak berubah sekarang. Namun aku terlalu lemah, aku tak mempunyai cukup keberanian untuk menanyakan suatu hal kepadanya. Hanya banyak pertanyaan yang memenuhi benakku, namun aku tak mencoba mencari jawabannya.

Berbulan-bulan kemudian saat musim liburan, aku pulang ke kampung halaman. Segala hal tentang temanku itu tak lagi memenuhi benak. Aku melupakannya tanpa sengaja. Namun, lagi-lagi aku diingatkan oleh seseorang tentang temanku itu melalui foto yang dia kirimkan.

Kali ini hatiku hancur, tubuhku lemas, dan bibirku kelu untuk mengucapkan sesuatu. Bahkan, jari-jariku kaku untuk membalas pesan seorang kawan tersebut.

Tahukah apa yang aku lihat? Di foto itu adalah foto seorang temanku yang hijrah tadi dengan mengenakan pakaian yang minim. Dia kembali seperti dulu saat belum hijrah. Ingin marah, tapi aku tidak berhak untuk melakukan itu. Jika pun boleh marah, seharusnya aku marah pada diriku sendiri yang tidak bisa menemani hijrah temanku ini.

Aku lemah dan tak bisa melakukan apa pun sampai detik aku mengetik ini. Tak semuanya salah dia, aku juga salah. Aku salah karena tidak pernah menyebut namanya dalam rapalan doa yang aku langitkan. Aku selama ini omong kosong, hanya memberikan ucapan penyemangat tanpa memberikan seuntai doa agar dia diberikan istiqamah dalam berhijrah.

Lalu apa hubungannya dengan dua peristiwa yang aku ceritakan di awal?

Menurutku, saat seseorang hijrah, keimanannya masih lemah dan labil, serta pengetahuan agamanya masih minim. Tidak patut rasanya jika orang yang baru kemarin mengenal agama Islam dengan kaffah menilai penampilan orang lain.

Hijrah bukan ajang untuk mencari ilmu agama lalu membandingkan sikap atau pakaian orang lain dengan secuil ilmu yang baru kita dapatkan. Bagaimana pun cara seseorang berpakaian untuk melaksanakan perintah agama, semua itu ada dasarnya.

Aku ingat dengan ucapan Ustadz Hanan yang mengatakan, “Ada orang yang berpendapat isbal itu untuk celana, tapi saya menganut pendapat bahwa isbal itu diterapkan dalam sikap yaitu tidak menyombongkan diri dengan pakaian yang dikenakannya.

Ada orang yang berpendapat wajah adalah aurat, sedangkan saya menganut pendapat cadar itu sunah. Meskipun begitu, saya tetap mengapresiasi wanita yang bercadar dan laki-laki yang celananya tidak isbal.”

Setiap manusia pasti mempunyai dasar yang dianutnya. Perbedaan seperti ini bukan untuk diperdebatkan, tapi cukup menjadi pengetahuan dan kita hargai.

Kalau kita sibuk menilai orang lain, nyatanya nanti kita malah lupa untuk memperbaiki diri dan istiqamah di jalan hijrah kita. Semoga kita menjadi orang-orang bisa istiqamah dalam kebaikan.

Oleh: Anik Cahyanik.

Tinggalkan Balasan