Betapa Sangat Menentukannya Ucapan “Insya Allah”

Semakin ke sini semakin terasa biasalah ungkapan “Insya Allah” (artinya: jika Allah berkehendak) buat kebanyakan kita. Biasa dalam artian makin jarang dipakai atau kurang lagi bernilai besar saat dipakai.

Pada poin pertama (jarang dipakai), sesungguhnya ia menandakan keadaan di mana kita merasa dan makin merasa menjadi penentu dan pemutus atas suatu hal yang akan datang. Umpama janji.

Kalau kita berjanji bertemu seorang kawan besok siang, lalu kita tak mengiringinya dengan ucapan insya Allah, sebutlah karena kita merasa besok tak ada jadwal atau janjian lain, sehingga kita yakin akan sangat bisa memenuhinya, seharusnya sikap tersebut cukup membuat kita gelisah dan menyesal.

Kenapa?

Di sinilah letak betapa sangat mendasarnya makna ungkapan insya Allah bagi setiap mukmin yang sungguh-sungguh haqqa tuqatih.

Apalagi jika kita ternyata termasuk pelaku janji yang menggadaikan Allah sebagai penjamin “benarnya kita” dengan mengatakan insya Allah, tetapi aslinya kita menyimpan niat buruk untuk melanggarnya. Derajat pelaku ini sudah pasti telah pantas disebut munafik.

Tahu kan ancaman Allah pada kaum munafik?

“Sesungguhnya orang-orang munafik itu akan dilemparkan ke kerak neraka yang paling rendah dan mereka takkan mendapatkan suatu penolong pun,” begitu tutur al-Qur’an.

Kini mari renungkan mengapa kebiasaan kita mengiringi janji dengan ucapan insya Allah sangatlah mendasar bagi mutu keimanan kita.

Iman menjadi gerbang pertama bagi manusia untuk menjadi muslim dan mukmin. Janji-janji Allah kepada muslim dan mukmin telah terang kita tahu: dari nikmat duniawi hingga nikmat akhirat.

Iman hanya membutuhkan keyakinan dan kepercayaan. Pada fase awal ini, beriman sajalah. Lakukan saja. Yang penting sudah memasuki gerbang kemusliman tadi.

Berikutnya, iman harus dimatangkan melalui ibadah-ibadah dan pengetahuan-pengetahuan. Ikut pengajian-pengajian agama, misal, jelas merupakan kebutuhan utama kita untuk meneguhkan iman di hati. Berkumpul dengan orang-orang saleh dan ahlul ilmi menjadi medium bagi kita untuk makin memajukan mutu iman di hati.

“Tidaklah sama antara orang yang mengetahui (berilmu) dengan orang yang tak mengetahui,” kata al-Qur’an.

Makin menancap iman di relung hati niscaya akan makin memijarkan kesadaran-kesadaran ruhaniah (batiniah) bahwa kita ini tidaklah punya kuasa apa-apa di hadapan Allah; bahwa Allah lah Sang Maha Penentu dan Pemutus terhadap apa pun, yang terkait langsung atau tidak langsung dengan hidup kita; bahwa laa haula wa laa quwwata illa billaah, innallaha ‘ala kulli syai-in qadir, iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in, hingga hidup dan mati kita mutlak di tangan Allah.

Prinsip-prinsip kemahakuasaan Allah kepada seluruh aspek kehidupan kita yang luar biasa banyak ayatnya dalam al-Qur’an mestinya selalu dipegang semantap jiwa oleh setiap muslim dan mukmin. Tanpa kecuali. Ini tak bisa ditawar sama sekali hakikatnya.

Lalu, setelah kita sepenuh yakin bahwa Allah lah Yang Maha Segalanya, Maha Menentukan, apa alasannya kita berani mengatakan atau merasa besok, lusa, atau minggu depan kitalah yang menentukan suatu pertemuan, meeting, reuni, kopdar, dll.?

Apa alasan logisnya kita berani mengatakan bisa, pasti bisa, pasti terjadi, padahal kita sepenuhnya tahu bahwa Allah lah Sang Maha Penentu itu? Bagimana mungkin kita mengedepankan diri di hadapan kemahakuasaan Allah?

Allah lah yang memutuskan segalanya, termasuk janji-janji kita pada siapa pun, kendati secara teoritis kita merasa takkan ada kendala. Di atas kertas boleh saja kita besok merasa tak ada acara lain, tapi bagaimana mungkin kita berani menjamin pasti besok kita masih hidup, tak ada kendala macam kecelakaan atau ban bocor atau anak mendadak sakit, yang semua itu sangat tergantung pada Allah semata?

Maka mengucapkan insya Allah dalam setiap janji kita menjadi penanda prinsipil bagi mutu iman kita, keyakinan kita akan kemahakuasaan Allah, bahwa Allah lah yang akan menentukan terjadi atau tidak. Semakin lisan kita karib dengan ungkapan insya Allah, semakin tercerminlah mutu iman kita pada Allah.

Tentu saja, ini tak berlaku bagi kaum munafik itu. Ini hanya berlaku bagi orang mukmin yang haqqa tuqatih, yang takut pada Allah karena baginya Allah selalu mengetahui apa pun yang bahkan hanya terbetik di dalam hatinya yang paling dalam.

Mari lazimkan, biasakan. Insya Allah kebiasaan baik ini akan menolong proses peneguhan iman di hati kita.

Oleh: Edi AH Iyubenu.

Tinggalkan Balasan