Urusan menyembunyikan perasaan, juaranya tentu saja perempuan. Kalau diibaratkan, hati wanita itu seperti langit. Kamu tidak pernah bisa menebak bagaimana cuacanya. Warnanya bisa berubah-ubah. Kadang biru seperti rindu, atau keunguan—seperi luka memar—menahan sakit yang tak berdarah semisal rasa cemburu atau diabaikan.

Aku perempuan. Meski tak diabaikan, aku memendam perasaan. Hari ini, warna langitku keunguan.

“Kamu setuju enggak sama perjodohan?” tanya Hilda di suatu pagi, sesaat sebelum kami masuk kelas.

Aku berpikir sejenak. “Buatku itu masih wajar. Bukankah jodoh itu udah digariskan? Dengan cara apa pun bertemu, itulah jodoh.” Hilda mengangguk. Ia kembali memainkan ponselnya.

“Kamu dijodohkan?” tanyaku sambil menatapnya tajam.

Hilda melempar senyum, “Bukan aku yang dijodohkan.” ia mengambil napas panjang sebelum melanjutkan jawabannya, “Bang Syahid. Ibunya sudah menemukan seorang perempuan yang mau dinikahkan dengannya.”

“Jadi, itu alasan kenapa selama ini ibunya belum menerima perempuan yang dikenalkan Bang Syahid?” tanyaku.

“Kayaknya gitu. Tapi, kali ini Bang Syahid masih harus nunggu. Perempuan itu bersedia menikah setelah lulus sarjana.”

“Oh, gitu,” jawabku singkat. Mataku memandang jauh, pikiranku melayang jauh. Aku berusaha mengatur napas. Sekeruh apapun desir di hatiku saat ini, aku harus tetap berpikir jernih.

“Maafkan aku ya, Sar. Sampai sejauh ini, aku enggak bisa bantu kamu.” Hilda memegang pundakku.

Aku tersenyum. “Aku hanya butuh seseorang yang bisa dengerin ceritaku. Kamu udah seratus persen memenuhi syarat itu.”

***

Kuliah pagi ini dimulai dengan pembentukan kelompok diskusi. Ya … seperti biasa, perkuliahanku memang dipenuhi dengan diskusi dan presentasi. Padahal kupikir kuliah S2 itu akan lebih banyak bikin esai atau tugas-tugas menulis ilmiah. Ternyata, dugaanku salah. Lagi-lagi diskusi, membuat laporan dan presentasi.

Setelah kelompok dibagi, kami duduk sesuai urutan kelompok. Aku bersama lima orang lain, duduk berjajar di sisi kanan kelas. Salah seorang dari kami berlima, mengajukan diri menjadi ketua kelompok.

“Aku aja ya, yang jadi ketua,” ujar Radit. Laki-laki ini memang doyan banget memimpin. Dia selalu menawarkan diri sebelum ditunjuk. “Langsung aku bagi aja ya, tugasnya. Jadi habis ini kita bisa langsung mulai diskusi.”

Semua anggota kelompok menganggukkan kepala, hanya Bagas yang menambahkan dengan celetukkan, “Ahelah … lo mulu jadi ketua. Bosen gue. Hahaha ….”

Radit cuma cengengesan.

“Ya udah ya, aku tunjuk notulennya dulu, nih. Sarah ya, yang tulisannya rapi.” Ia mengarahkan telunjuk ke arahku.

“Oke, boleh.” Aku menyetujui.

“Sengaja banget deh, nunjuk Sarah. Gue tahu deh, lo mau deket-deket ama dia, kan?” Bagas meledek Radit. Teman kelompok hanya menyambut guyonan ini dengan tawa. Entahlah apa maksud Bagas.

Sengaja atau tidak, aku merasa tugas sebagai notulen jadi lebih berat dari yang lain. Setelah aku menyetujuinya, Bagas memberitahuku kalau nantinya aku yang harus mengumpulkan semua bahan dari teman-teman dan menyajikannya dalam power point. Tapi, dia bilang sih, dia akan mengawalku, bahkan turut mengambil bagian jika aku keteteran.

Sebelum diskusi di mulai, Pak Agus memberi sedikit materi kuliah—terutama bab yang hendak kami diskusikan di pertemuan depan. Aku mulai mengerjakan tugasku sebagai notulen, mencatat hal penting yang disampaikan Pak Agus. Setelah itu, tiap kelompok memulai mencari kasus dan berdiskusi mencari penyelesaian hingga berakhir jam kuliah Pak Agus hari itu.

***

Sar, besok berangkat lebih pagi ya? Aku udah nemu materi yang bagianku, nih.

Pesan itu masuk ketika aku sedang berada di kamar Hilda—Aku dan Hilda tinggal di indekos yang sama, tidak jarang kami saling bergantian main ke kamar. Sementara, masih kubaca chat itu karena di layar, nama pengirim terlihat masih mengetik.

Kamu enggak usah ngerjain bagianmu, ini udah kucarikan. Besok kita mulai masukin ke ppt yang punya kita.

Aku langsung mengarahkan layar ponsel ke hadapan Hilda. “Kayaknya, besok kita enggak bisa berangkat bareng.”

“Enggak masalah itu mah. Tapi yang aneh tuh si Radit, masak kamu enggak nyadar juga sih, kalau dia tuh berusaha deketin kamu?” ucap Hilda. “Dia selalu spesial memperlakukan kamu di kelas.”

“Emang gitu?” Aku pura-pura cuek—lebih tepatnya, tidak ingin membenarkan apa yang Hilda sangka kepada Radit. Dia bukan tipeku, aku tidak ingin dia menyukaiku. Pokoknya jangan sampai.

“Kamu enggak mau nanyain keseriusannya, Sar? Siapa tahu dia udah siap nikah, lho,” ujar Hilda. “Lebih baik kamu tanya kan, daripada dia PDKT ke kamu macam itu. Cuma kode-kode mulu. Harusnya kan dia tahu, kamu bukan perempuan yang mau pacaran.”

“Ah, enggak tahu, tiba-tiba aku belum siap nikah …. “ Aku menjawab sekenanya.

Memang sih, sudah dua bulan ini aku mencium gelagat yang berbeda dari Radit. Dia sering berusaha untuk mencari topik ngobrol denganku, tidak cuma di kelas bahkan lewat whatsapp. Kadang, dia juga berusaha untuk menawarkan bantuan bahkan ketika aku bisa melakukan sesuatu sendirian.

Contohnya, tempo hari, di tempat parkir, dia dengan semangat 45 membantuku mengeluarkan motor. Padahal, tempat parkir sedang lapang dan aku tidak perlu bantuannya.

Hilda juga merasakan hal yang sama, beberapa kali dia memperingatkanku untuk lebih tegas memberi batas. Ya begitu, dengan menanyakan apakah dia berniat baik padaku dan siap menikah? Ah, Hilda … kamu tahu persis kan, perasaanku? Aku merasa tidak perlu mencari kejelasan atas perasaan Radit, batinku.

***

Ruang pojok diskusi di lantai dua, masih terlihat sepi. Hanya ada aku, Radit dan laptop kami berdua. Duh, aku sungguh tidak nyaman dengan situasi seperti ini. Ke mana perginya orang-orang pagi ini? Kenapa seolah semesta mendukung Radit. Aku membatin.

Radit mengeluarkan dua bendel kertas yang tak begitu tebal. Dia menerangkan padaku, apa saja yang perlu kusalin dari sekumpulan materi itu. Ketika kubuka lembar-lembarnya, terlihat beberapa coretan pulpen dan stabilo. Sepertinya dia lembur semalaman untuk menyusun dan merevisi hasil kerjanya.

“Terus, aku cuma perlu salin pokok-pokoknya aja, kan?” tanyaku.

“Iya, yang sudah aku tandai dulu aja ya. Sisanya kamu bisa baca yang materi kedua, itu kan bagian kamu. Pastikan kamu kuasai kasusnya,” jawab Radit, tentu dia sambil senyum-senyum. Entahlah, aku sulit mengartikan senyumnya.

Tanpa kuduga, ia mengeluarkan dua buah buku dari tasnya. Satu buku bersampul merah jambu dan satu buku berjudul Wanita Berkarir Surga. “Ini hadiah buat kamu, makasih ya, sudah kerja keras.”

Aku cuma melongo. Kerja keras? Hadiah? Kok rasanya tidak sesuai. Aku merasa justru dia yang bekerja sendirian, aku hanya melaksanakan apa yang dia katakan. Tapi … apakah dengan menerima hadiah darinya berarti aku memberikan kesempatan padanya?

“Tapi, Dit—” Aku sedikit mendorong buku ke arah Radit. Semoga terbaca maksudku menolaknya.

“Sarah, aku serius mau kasih ini ke kamu. Please terima, ya. Tapi, jangan bilang ke siapa-siapa ya kalau aku kasih buku buat kamu.”

Aku menerima dua buku dari Radit, sedikit terpaksa. Tanpa berterima kasih, aku pamit menuju kelas. Kubilang bahwa Hilda sudah menungguku. Aku ada janji dengannya.

***

Seperti biasa, apapun masalahku, Hilda lah yang pertama tahu. Kuceritakan kejadian tadi dengan memperlihatkan dua buku pemberiannya. Hilda sudah hafal betul bahwa kelakuan Radit memang begitu ke aku. Dia yakin sekali, Radit punya perasaan padaku. Lalu, tidak ada nasihat lain darinya, “Sar, udah deh, akhiri semua ini dengan menanyakan kepastiannya. Bukan apa-apa sih, kamu kan memang sudah siap nikah. Takutnya, kalau tidak diakhiri malah dia semakin berusaha karena dia pikir kamu kasih harapan,” ujar Hilda.

Aku diam, memainkan gantungan kunci di tas yang kupangku.

“Kamu juga enggak tahu loh, bisa jadi dia memang jodoh kamu.” Hilda menambahkan.

Aku masih diam, kali ini aku mulai merenung. Barangkali memang betul aku terlalu menutup diri untuk kemungkinan lain. Bisa jadi … sangat mungkin jodohku adalah orang yang tidak aku sukai. Ya Allah. Harusnya, aku belajar mengosongkan hati dulu.

Seiring bergantinya hari, aku berusaha mengosongkan hati. Sudah lebih dari seminggu, kuadukan gelisahku pada-Nya. Dua rakaat khusus setiap hari, kuminta kebaikan dari arah yang Dia kehendaki. Jika memang itu Radit, semoga Allah mudahkan hati ini melepas apa yang selama ini kusimpan. Aku segera ingin mewujudkan cita-cita menikah sebelum lulus S2.

Aku sudah membulatkan tekad, selain pelan-pelan menata hati. Besok, aku akan mencari kesempatan untuk berbincang serius dengan Radit. Berulang kali aku menasihati diriku, Radit adalah pria baik. Dia rajin salat di masjid. Hanya, caranya mendekatiku saja yang kurang pas, mungkin hanya butuh ketegasanku saja.

Satu jam sebelum kelas di mulai, aku keluar dari toko buku. Jarak toko buku dan kampus, cukup ditempuh dengan dua puluh menit saja. Lumayan, aku masih punya sisa waktu untuk belajar sebelum presentasi.

Tiba-tiba ponselku bergetar, sebuah chat whatsapp masuk:

Saraaaah, kamu di mana? Ada kabar mengejutkan buat kamu. Calonnya Bang Syahid, tiba-tiba nerima lamaran orang lain. Sini buruan ke kantin, aku certain selengkap-lengkapnya.

Pesan dari Hilda membuat degub di dadaku bergemuruh. Dia tahu persis, aku telah lama mengagumi sepupunya itu. Aku tidak sabar untuk segera sampai di kampus. Ya Allah, apakah aku masih punya kesempatan? []

Ditulis oleh: Hapsari T. M.

Ilustrasi dari sini.

Facebook Comments
error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: