kisah konflik di instagram

Bila Hatimu Terlalu Gaduh, Kejarlah DIA Sedapat yang Kau Mampu

Dayu, kamu kok posting keluarga bahagiamu terus sih, kan bikin orang jadi baper.

Lho ini kenapa ya? Tiba-tiba masuk DM dari Nina, temanku yang lama nggak saling sapa. Tanpa prolog, tanpa basa-basi, dia bilang aku sudah membuatnya baper. Sebelum jariku bergerak menjawab pesannya, pikiranku lagsung lari ke postingan-postinganku di media sosial. Satu per satu kuperhatikan, kuhitung jumlahnya, kubaca lagi pesannya seakan bukan aku yang menulisnya. Kurasa memang tak ada yang berlebihan.

Pertama, cuma ada dua foto pernikahanku di wall FB, itu juga dengan pose yang sangat biasa, amat jauh dari gaya foto-foto pre wedding atau foto pasangan-pasangan muda masa kini. Bahkan tak ada satu kata ungkapan cinta pun yang berhasil terupload, seberapa besar pun keinginan yang pernah mendorongku membagikannya, saat aku merasa sangat dicintai oleh suamiku.

Kedua, foto-foto tentang anakku. Ini juga jumlahnya sangat terbatas. Setidaknya hingga Zubair berusia 1,5 tahun, hanya ada 4 foto yang terpajang di akun medsosku. Memang itu belum termasuk konten IG stories yang seingatku juga sangat minim. Bayangkan saja aku membesarkan Zubair sendiri tanpa asisten rumah tangga, bagaimana aku cukup sempat untuk mengurusi medsos?

Ketiga, isi postingan instagramku itu kebanyakan kalau nggak video potongan ceramah ustad, hadist, potongan ayat atau repost jadwal kajian-kajian yang kadang aku sendiri nggak bisa datangi.

Aku masih heran, benar-benar heran dengan apa yang terjadi pada kawanku itu. Kalau boleh dibilang siapa yang lebih baper, seharusnya aku yang lebih “berhak” menunjukkan kebaperanku. Temanku itu selalu memposting aktivitasnya jalan-jalan, baik di dalam maupun luar negeri. Setiap kali dia meeting atau sekedar hang out di kafe-kafe terkenal dan instagramable, instagramnya pun tak pernah berhenti bekerja, baik di kronologi atau pun IG storiesnya.

Karena aku jarang membuka Instagram, setiap kali aku mulai membukanya, seakan aku hanya disuguhi pemandangan kehidupannya yang begitu “glamor”. Dia lagi dia lagi, ujarku dalam hati. Meski aku sudah tahu jenis konten yang dia posting, tapi ternyata diam-diam kadang aku mencemburuinya. Walaupun itu hanya postingan segelas kopi berbungkus gelas plastik dari kafe ternama dengan caption quote berbahasa Inggris. Entah kenapa, aku merasa hidupnya lebih “berkelas” dari hidupku.

Tiba-tiba Zubair nangis sebelum aku sempat membalas pesan Nina yang juga belum kupikirkan apa jawaban terbaik untuknya. “Sebentar ya Nin,” ujarku sambil menaruh telepon genggam di meja makan.

***

Hari-hari berlalu, tak terasa sejak Nina mengirimkan pesan lewat Instagram, aku belum juga membalas pesannya.

“Dek, ini ada yang follow mas nama akunnya @justnina. Ini temenmu bukan?” Mas Kukuh memperlihatkan telepon genggamnya.

“Oiya mas, itu si Nina, temenku dari SMP. Astaghfirullah, aku lupa mas.”

“Kenapa dek?”

“Itu kemarin si Nina DM. Aku belum cerita ke mas, ya?”

Akhirnya kuceritakan semuanya ke suamiku. Setelah mendengarkan istrinya bercerita bak anak SD cerita tentang teman sekelasnya, dia memberikan saran yang “ajaib” bagiku. Mas Kukuh memintaku untuk meluangkan waktu ketemu sama Nina di salah satu kafe yang biasa menghiasi timeline sosial medianya.

Awalnya aku nggak yakin sama ide itu. Emangnya nggak cukup ya dibalas saja lewat DM? Dan banyak anak pertanyaan itu yang ujungnya meleleh dengan wajah Mas Kukuh yang tersenyum dan meyakinkan. Aku pun masih berusaha “mengagalkan” ide itu dengan menjadikan Zubair senjatanya.

“Nanti Zubair gimana mas?”

“Hari Rabu besok mas bisa masuk setengah hari kok. Tenang aja, mas yang jaga bocil nanti.”

“Akkkk … beneran mas? Ya udah deh, adek besok jalan yaa. Makasih maaaass ….”

***

Akhirnya hari Rabu yang dinantikan itu datang juga. Bismillah, aku berangkat diantar Mas Kukuh dan Zubair. Sepanjang perjalanan ada macam-macam perasaan dan prasangka yang berseliweran.

Pertama, aku akan menemui teman SMP yang terhitung bukan teman dekatku, bukan pula teman yang “sealiran” denganku. Nina ini dulunya bintang sekolah, cantik, pintar, tinggi. Lingkaran pertemanannya beda dengan lingkaran pertemananku.

Kedua, muncul sedikit “grogi”, rasanya kaya mau ketemu artis. Gimana ya nanti orang-orang melihat kami ketemu. Satunya berpenampilan charming, satunya lagi sudah terdeteksi sebagai emak-emak muda yang juga wajahnya baru akan terlihat kinclong kalau foto pake aplikasi kamera pemercantik wajah.

Ketiga, aku khawatir Nina ini akan marah-marah atau mengungkapkan kekecewaannya yang tidak aku mengerti. Bisakah aku menanggapinya dengan baik nanti?

Assalamu’alaikum Dayu.”

Sebelum sosok yang sudah kubayangkan itu mendekat, wanginya sudah lebih dulu menyalami hidungku

Wa’alaikumsalam Nina. MasyaAllah, apa kabar?” Kami pun bersalaman erat, runtuhlah sudah semua prasangkaku padanya.

Tak terasa tiga jam sudah kami duduk di tempat yang sama tanpa ada sedikit pun rasa ingin bergeser atau menyudahi pertemuan, kecuali pesan dari Mas Kukuh yang menandakan aku akan segera dijemput. Sebuah pelukan diselingi buliran air mata dari kedua pasang mata kami menyelimut hangat, sekaligus menandakan kami harus berpisah setelah hampir enam tahun tak berjumpa.

***

“Mas, makasih ya udah nyaranin aku ketemu Nina”

“Iya dek. Gimana tadi hasil ketemuannya?”

Sebelum berhasil cerita ke Mas Kukuh, air mataku kembali menetes. Mas Kukuh hanya senyum-senyum memperhatikan istrinya, mengusap kepalaku perlahan seperti kepala seekor kelinci.

Nina mengawali perbincangan kami dengan permohonan maaf yang tulus. Baginya, melemparkan keberatan kepadaku adalah efek gunung salju dari tumpukan kekecewaan yang tak bermuara.

“Aku baru saja gagal menikah Day. Mantan calon suamiku itu kukenal sangat baik, sholeh, bertanggungjawab. Karena dialah aku rajin sholat, sampai sholat tahajjud pun kulakukan. Saat tiba di penghujung keseriusanku, dia malah memilih wanita lain. Dia bilang itu hasil istikharahnya Day. Aku sangat hancur karenanya.”

Sejak kejadian itu, Nina merasa “muak” dengan gambaran keluarga bahagia di sosial media. Cerita-cerita tentang taaruf, istikharah, jodoh menjadi sulut kebenciannya. Puncaknya, saat dia melihat postingan foto Zubair digendong Mas Kukuh dengan senyum lebar, Nina merasa harusnya dialah yang lebih pantas memposting foto seperti itu. Dia merasa bisa melebihiku dari berbagai penjuru.

“Di antara semua temanku dan teman kita yang sudah menikah, kurasa kamulah yang paling bijak manfaatin sosial media Day, apalagi untuk mengumbar sisi kehidupanmu. Justru karena itulah aku berani menyerangmu. Hidupmu tampak sederhana Day. Aku merasa pantas “menegur”mu karena kamu satu-satunya teman yang tak kuanggap kompetitor di media sosial. Maafkan aku Dayu, maafkan kebodohanku. Sungguh sebenarnya postinganmulah yang sering membuatku termenung, bukan dikejar nafsu cemburu seperti postingan orang-orang lain.”

Oh Nina, terima kasih sudah mau berbagi cerita ini denganku.

Sebelum ini semua terjadi, aku bahkan hampir saja terjebak untuk mengikuti kegaduhan di sosial media. Aku hampir mau minta izin beli kamera canggih agar bisa sekedar upload foto-foto cantik di Instagram. Lalu Mas Kukuh mengingatkan tujuan membuat akun media sosial itu untuk apa?

Bahwa, meski itu hanya berselancar, melihat-lihat, sekelebat bahkan, ilmu tak boleh terlewat. Ada mata, hati dan pikiran yang harus dijaga, catatan amal juga tak akan melewatkan aktivitas digital meski secuil pun.

***

Aku percaya, sejak pertemuan itu Nina mulai merenungi dirinya. Meski kami tak begitu sering berkomunikasi, Nina mulai terlihat menahan diri mengunduh segala aktivitasnya di media sosial. Itu memang “janjinya” kala itu. Berhenti mencari perhatian dan mengusik ketenangan orang lain yang dianggapnya saingan.

Hingga akhirnya, sebuah postingan dari akun Nina muncul, menghentikan jariku cukup lama, menggerakan hatiku untuk tersenyum dan mengucap hamdallah. Di bawah foto situasi salah satu kajian yang pernah aku bagikan, dia menuliskan caption yang indah:

Bila hatimu terlalu gaduh, kejarlah DIA sedapat yang kau mampu.

Oleh: Mariana Suci Swasti.

Ilustrasi dari sini.

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan