Bilang ke Dilan, yang Berat Itu Bukan Rindu, Tapi Hijrah dan Istiqamah!

Kata hijrah memang sudah menjadi trend belakangan ini. Tapi yang terpenting bukan sedang trend atau tidak, sampai kapan pun hijrah tetap menjadi bagian dari kehidupan ruhani semua umat manusia.

Hijrah adalah proses yang dilakukan benar-benar karena Allah Ta’ala. Trend hijrah ini ditandai dengan banyaknya akun-akun dakwah dan olshop yang menjual aneka pakaian syar’i dan pelengkapnya. Tapi begitu miris, jika nantinya hijrah hanya sebuah musiman. Apabila sudah tidak lagi mood, maka segala tentang hijrah akan dilepas dan ditinggalkan.

Pengertian berhijrah itu bukan hanya tentang pakaian ketika seseorang yang tiba-tiba berpakaian syar’i atau seorang laki-laki yang memanjangkan jenggotnya. Namun semua manusia mengalami hijrah setiap harinya. Kalau dari kata hijrah sendiri artinya yaitu perpindahan. Setiap manusia mengalami perpindahan hidup yang lebih baik hari ini daripada kemarin dan esok hari daripada hari ini. 

Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan mengatakan: Kami telah beriman, sedang mereka belum diuji? (Qs. Al-Ankabut ayat 2-3)

Ayat tersebut menunjukkan bahwa hijrah itu penuh dengan ujian. Dan kita harus menemukan alasan yang kuat agar tetap bertahan dan istiqamah. Tidak asal ikut-ikutan saja.

Berikut ini saya mempunyai tips istiqamah berhijrah yang didapat dari pengalaman sendiri. Saya menulis ini bukan berarti sudah benar-benar baik atau sudah bisa istiqamah ya. Tidak, bukan seperti itu. Setiap manusia mempunyai masa naik-turunnya iman. Dan sebagai saudara seiman, tidak ada salahnya jika saya membagikan tips agar bisa sama-sama istiqamah:

Niatkan hijrah karena Allah Ta’ala

Pada dasarnya semua itu tergantung niat kita. Kalau niat hijrah hanya untuk seseorang, maka niat hijrah itu bisa luntur seiring lunturnya perasaan ke dia. Kalau hijrah hanya karena mengikuti trend, maka niat itu juga tergilas karena perubahan trend.

Kalau hanya karena mengikuti teman, maka kamu akan cepat bosan untuk bertahan. Hanya Allah satu-satunya alasan kita berhijrah untuk menjadi yang lebih baik, insya Allah bisa terjaga keistiqamahan itu.

Hilangkan merasa lebih baik dari teman yang lain

Berhati-hatilah, karena setan sangat halus memasuki hati manusia. Bisa jadi, di saat kita baru berhijrah dengan ibadah yang lebih tekun serta keimanan yang lebih baik, di situlah setan menggelincirkan hati manusia. Dimana manusia itu akan merasa lebih baik dari teman-temannya yang berbuat kemaksiatan.

Kita memang diwajibkan untuk memerangi kemungkaran, akan tetapi bencilah kemungkaran itu, jangan membenci orangnya karena merasa orang itu begitu hina daripada diri kita. Apalagi sampai membuka aib itu kepada orang lain.

Ketauhilah, apa pun yang kita ucapkan ke orang lain adalah doa untuk diri kita sendiri. Kalau pun mengucapkan hal buruk kepada orang lain, maka itu akan berbalik kepada diri kita sendiri. Perbanyaklah istighfar saat kita melihat teman melakukan kemaksiatan dan mohonkan ampunan untuk dia.

Bagi orang yang sudah bertaubat, hidayah itu datangnya begitu mudah. Tapi bagi orang di luaran sana yang masih bergelimang dosa dan belum mendapat hidayah, rasanya diri mereka terpontang-panting tanpa terasa. Dan hendaknya kita yang sudah bertaubat ini tidak merasa sombong karena sudah mendapat hidayah, toh pada awalnya sebenarnya dulu kita juga pernah berbuat dosa. Kalau bukan karena Allah, tidak akan mungkin kita bisa kembali ke jalan kebenaran-Nya.

Perbanyaklah teman hijrah

Berjuang hijrah sendiri itu tidak mudah. Kalau hijrah itu enak, pasti semua orang sudah berbondong-bondong untuk hijrah. Tapi ketahuilah, pada jalan hijrah ini banyak liku-liku yang akan kita temui. Dan kita membutuhkan teman yang bisa menguatkan. Dukungan dari teman dan lingkungan itu sangat penting untuk membantu kita bertahan di jalan hijrah.

Perbanyak komunitas, organisasi, atau perkumpulan yang mendukung hijrah. Entah itu dunia nyata maupun sosial media, karena keduanya amat mempengaruhi diri kita. Serta tidak sungkan untuk belajar dan sharing kepada mereka yang lebih banyak pengalamannya.

Mempelajari agama tidak hanya melalui medsos

Tidak ada salahnya jika kita belajar agama melalui medsos, toh sekarang sudah banyak akun dakwah bertebaran. Di akun-akun itu kita juga bisa mendapat motivasi untuk hijrah asalkan kita bisa selektif dengan dalil-dalil mereka yang bisa dipertanggunggjawabkan kesahihannya serta tidak menelan mentah-mentah apa yang mereka tuliskan.

Di sisi lain, belajar di medsos dengan datang ke kajian langsung itu amat berbeda rasanya. Nantinya dalam majlis ilmu itu akan ada malaikat yang senantiasa hadir memberkahi majelis tersebut. Di sisi lain, apabila kita rajin ikut kajian di masjid, kampus, atau lainnya, akan ada semangat baru yang tumbuh.

Seperti yang Ustadz Hanan Attaki pernah sampaikan dalam tausiyyahnya, “Jika pun dalam sebuah kajian ada tema materi yang sudah kalian pelajari, tetap datanglah tidak apa-apa. Mungkin pengetahuan kalian tidak akan bertambah, akan tetapi niatkan datang ke majlis ilmu untuk memperkuat keimanan kalian.”

Bersabar dan terus berdoa

Setiap orang yang mau naik kelas, maka harus mengikuti ujian. Begitu juga dengan setiap manusa yang mau naik level keimanan, maka harus lulus ujian hijrahnya. Hanya Allah yang Maha Kuat yang mampu memberi kekuatan dan menguatkan setiap hamba-Nya. Tidak ada tempat lain bergantung selain kepada-Nya. Kalau alasan kita adalah Allah untuk berhijrah, maka selemah apa pun keadaanmu, kembalilah kepada Allah. Percayalah, hanya kepada Allah tempat sebaik-baiknya mengembalikan hatimu.

Nah, itu tadi tips yang bisa saya bagikan. Sekali lagi, saya bukan apa-apa. Hanya perempuan yang baru berhijrah dan sedang serta selalu belajar untuk istiqamah. Yang terakhir, selalu doakan teman-teman kita di luar sana agar istiqamah dan segera mendapat hidayah bagi yang belum hijrah.

Karena bisa jadi, mereka belum mendapat hidayah bukan karena dosanya terlalu banyak, tetapi karena kita tidak pernah menyebut namanya dalam doa yang sering kita langitkan.

Oleh: Anik Cahyanik

1 thought on “Bilang ke Dilan, yang Berat Itu Bukan Rindu, Tapi Hijrah dan Istiqamah!”

  1. Dilan bilang emang jangan rindu, berat. Biar dia aja yang mikul hahahah… Hijrah itu bisa jadi mudah tapi yang sulit itu adalah konsisten. Semoga segala amal kebaikan kita diterima Allah dan kita senantiasa dilindungi oleh-Nya aamiin.

Tinggalkan Balasan