kisah sepatu baru

Bocah Penjual Telur dan Dua Pasang Sepatu

“Satu lagi To dibalik pohon!” kataku setengah berteriak kepada Pito. Sahabatku itu hanya diam. Dia memang begitu, jika asik bermain game, aku hanya dicuekin.

Aku pun berlalu, berniat keluar sebentar untuk mencari angin.

“Yahh!” teriak Pito keras sekali dari dalam kamar.

Aku yang penasaran masuk lagi dan bertanya, “Apaan sih?”

“Mati lampu!”

Melihat ekspresi Pito yang kesal aku tertawa dan kembali keluar, duduk di teras mengamati pemandangan sekitar.

Sudah sekitar dua minggu kami di desa ini, desa Ciloa kecamatan Lembang. Udara yang dingin, ditambah suasana sepi khas pedesaan, serta intensitas curah hujan yang tinggi membuat aku dan Pito betah malas-malasan di kontrakan. Bagiku yang sudah berkeluarga, sering waktu kugunakan untuk vidia call dengan istri dan anak. Lain dengan Pito, dia lebih sering main game.

Keberdaanku dan Pito di desa Ciloa ini dalam rangka OJT (On Job Training) sebuah proses yang harus dilewati oleh setiap karyawan yang akan naik grade di perusahaan tempat kami bekerja, perusahaan pegadaian. Dulu aku ragu saat masuk ke perusahaan ini, takut terjerat penghasilan tidak halal. Tapi, salah seorang menasihatiku: Rasul dulu juga pernah bertransaksi dengan orang yahudi secara tidak tunai dan beliau menitipkan barang untuk digadai. Alhamdulillah aku pun mantap bekerja di sini dan bertemu dengan Puspito yang sering dipanggil Pito.

“Besok kita kemana Lung?” tanya Pito yang menyusulku ke teras sambil membawakan dua gelas kopi

“Ke Cimahi mungkin, tadi pagi gue denger Pak Muntaqi bilang ada sedikit masalah di tiga unit deket sana,” jawabku sambil menyeruput kopi buatan Pito. Pak Muntaqi adalah pimpinan kantor cabang di Lembang.

***

Hari ini jadwalku mengontrol ke beberapa nasabah. Dalam perjalanan, sayup-sayup kudengar suara adzan dari sebuah surau kecil di pinggir desa ini. Segera kulaju motorku untuk menunaikan sholat zuhur berjamaah. Aku memang belum baik dalam beribadah, tapi kuusahakan untuk selalu salat berjamaah selagi mampu.

Kuparkir motorku di samping surau. Saat berjalan untuk mengambil air wudhu, aku merasakan ada yang aneh pada kaki sebelah kiri.

“Lah, jebol ternyata!” pekikku tertahan. “Minta ganti ini!”

Iqamat pun terdengar dan aku lupakan masalah sepatu yang jebol. Selesai salat, aku sempatkan diri untuk mengisi perut di warung dekat surau. Penjualnya sudah hafal denganku. Ya, selama di sini, aku langganan makan di warung itu.

“Sorangan wae, mana temannya?” tanya Si Teteh yang punya warung.

“Iya Teh, temen saya lagi banyak urusan di kantor,” jawabku sambil tersenyum.

Di samping warung ini, ada hal menarik yang sampai sekarang masih membuatku bertanya-tanya. Di sebuah tanah lapang seperti pasar tradisional terhampar sepanjang mata memandang, dan di antara para penjual, ada satu bocah kira-kira berumur dua belas tahun, berjualan telur ayam kampung yang dikemas dalam kantong plastik.

Bocah lelaki itu membawa dagangannya dengan kantong plastik. Aku menebak satu kantong plastik isinya sepuluh telur dan dia hanya membawa tiga hingga lima kantong plastik setiap harinya. Bocah itu berjualan masih mengenakan seragam sekolah, itulah yang membuatku semakin tertarik.

“Punten Teh, anak kecil yang pake seragam itu memang jualan telur disamping ya, tiap hari?” tanyaku pada Si Teteh sembari mengamati si bocah.

Sambil melongok ke luar warung, Si Teteh menjawab, “Oh, si Ucup.”

“Namanya Ucup ya Teh? Masih sekolah?” tanyaku lagi.

“Iya, dia tiap hari jualan abis pulang sekolah,” jawabnya lagi. “Dulu ya abahnya jurangan telur di desa sini, tapi semenjak ada kasus plu burung, ada orang dinas kesehatan dari kota datang, terus bilang kalau ayam -ayamnya harus di bakar, meni kasian keluarganya, lalu abahnya sakit-sakitan lantas meninggal mungkin karena stress, sekarang ibunya jualan sayur di rumah dan si ucup jualan telur ayam kampung, kadang keliling kadang mangkal disini,” jelas Si Teteh panjang lebar.

Mendengar cerita Si Ucup, aku jadi merasa kasihan. Harusnya kan anak seusianya masih fokus sekolah dan belajar. Tapi Si Ucup malah sibuk berdagang membantu ibunya.

Apa aku beli aja ya semua telur Si Ucup? Batinku memberi usul. Tapi, isi dompetku tinggal tiga lembar uang biru. Sementara ini masih tengah bulan, gajian masih lama. sepatu juga jebol. Ya Allah … gimana ya?

Diantara semua pilihan itu ada satu yang terlintas dihatiku, oya uangku kan masih cukup untuk membelikan dua nasi bungkus untuk Ucup dan ibunya. Walaupun aku tidak bisa membeli semua barang yang dijualnya, setidaknya aku bisa mengisi perut Ucup dan ibunya siang ini

“Teh, bungkusin dua ya pake ayam sama orek,” pintaku pada Si Teteh. “Sama ini saya makan, jadi berapa?” Aku berkata kepada Teteh sambil melihat keluar mencari Ucup.

Selesai membayar, aku pun segera menghampiri anak itu. “Ucup ya?” tanyaku. Anak itu kaget, mungkin bingung kok aku tahu namanya. “Udah makan?”

Dia hanya menggeleng sambil memperhatikanku.

“Ini ada nasi dua bungkus buat kamu sama ibu kamu, sekarang kamu pulang dulu ya makan bareng sama ibu kamu,” timpalku lagi pada Ucup.

Dengan ragu-ragu ucup menerima kantong plastik berisikan dua bungkus nasi dariku. “Makasih om,” ucap ucup dengan lirih

Aku tidak menjawabnya, hanya kutepuk bahunya lalu aku berlalu. Ada kelegaan yang entah datang dari mana setelah kubelikan Ucup nasi. Yah meski nggak bisa memborong semua telurnya, tapi niatku untuk membantu sudah kulakukan.

Sampai di kos, aku kembali melihat isi dompetku sambil berfikir besok dan seterusnya makan apa? Tapi ah! Sudahlah, bukankah jika kita bertanya besok bisa makan atau tidak itu adalah penghinaan kepada Sang Pencipta, karena rizki kita sudah dijamin.

***

Biasanya aku selalu ke kantor cabang untuk sekedar membuat laporan harian tapi hari ini karena kondisi sepatuku yang agak sulit diajak jalan jadi aku langsung pulang ke kos.

“Elu. tadi gak ke kantor lagi ya Lung? Pak Muntaqi nyariin Elu,” ucap Pito sambil ketika melihatku masuk kos.

“Kagak. Gue nyari tukang sol,” jawabku “lihat nih, sepatu Gue mangap.”

Pito langsung menghampiriku lalu mengambil sepatuku. Dia memperhatikan dengan seksama, lalu dengan yakin dia berkata “Udah serahin ke gue, ntar gampang dilem aja lumayan bisa tahan sampe gajian.”

Aku tersenyum, sedari dulu Pito memang bisa diandalkan dalam situasi darurat seperti ini, Pito seperti mekanik yang bisa memperbaiki apapun.

Besoknya aku berangkat diboceng oleh Pito, sesampainya di kantor aku langsung menuju ke lantai dua ruangan kepala cabang, Pak Muntaqi. Ada yang aneh ketika aku menaiki anak tangga, mungkin Pito terlalu banyak menaruh lem dibagian sepatuku yang menganga jadi kakiku tidak nyaman.

“Permisi Pak, boleh saya masuk?” tanyaku ke Pak Muntaqi sembari mengetuk pintu ruangannya.

Pak Muntaqi segera menurunkan koran yang sedang dibacanya sembari berkata “Oh, iya masuk Le, sini duduk.”

Aku segera duduk di hadapan Pak Muntaqi. Lelaki pemimpin cabang itu melihat kearah bawah dan mengambil dua kotak yang ternyata adalah kotak sepatu.

“Jadi gini Le, bapak iku dulu sekali pernah tuku sepatu safety koyo ngene iki, nah bapak ndak punya anak laki-laki terus juga karyawan di sini, kakinya ndak ada yang sebesar kaki bapak,” ucap Pak Muntaqi sembari tertawa. “Nah ini mungkin cocok buat kamu, ambil Le, ini baru bapak pakai beberapa kali masih bagus,” timpalnya lagi dengan logat Jawa yang kental.

Aku bergegas menerima dua kotak itu, sekilas aku lihat merknya bukan merk murahan, lantas aku buka dan aku coba di hadapan Pak Muntaqi. “Cocok pak, pas sama kaki saya,” ucapku.

“Syukur Le kalo cocok,” jawab Pak Muntaqi. Wajahnya terlihat senang.

Alhamdulillah Pak, terimakasih bapak sudah kasih Sulung sepatu, kebetulan sepatu Sulung kemarin rusak,” ucapku sambil menjabat tangan Pak Muntaqi.

Pak Muntaqi menepuk bahuku sambil berkata “Ya Le, kebetulan kalo gitu, ya sudah, semoga bermanfaat ya”

Aku jadi teringat dua nasi bungkus untuk Ucup dan ibunya. Apa karena itu ya Allah gerakkan hati Pak Muntaqi untuk memberiku sepatu. Bukan hanya sepasang, bahkan dua pasang sekaligus. Ya Allah … makasih. Sungguh Allah memang paling tahu kebutuhan hambaNya.

Oleh: Riky Sulung Nugroho.

Ilustrasi dari sini.

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan