kisah suami yang meminta poligami

Bolehkah Aku Merindunya Setelah Menikahimu?

“Merindumu adalah candu, aku tak sanggup menepis dan menutupi dengan cara menikahi dia.”

Kau gila! Mengatakan kalimat itu saat berada di samping istrimu. Semoga saja dia tak mendengarnya malam itu. Aku tak mau dicap sebagai cewek laknat perusak rumah tangga. Iya, meskipun aku sangat ingin memilikimu, tapi aku tak mau jadi cewek rusuh yang merebut suami orang.

Aku tak habis pikir. Bagaimana caramu menelponku setiap malam tanpa sepengetahuan istrimu? Padahal kan kau bilang dia ada bersamamu. Apa tidur perempuan salehah separah itu? Hingga tak terusik suara-suara berisik dari mulutmu? Atau jangan-jangan kau selalu mencekoki dia dengan obat tidur setiap malam. Sehingga kau bebas bermain gila dengan perempuan mana pun yang kau mau? Tapi entah kenapa hati kecilku bilang bahwa kau tak sejahat itu.

Hingga pada suatu ketika kau pernah ceritakan tentang rencanamu. Perihal ulang tahun pernikahan dan kejutan-kejutan yang sama sekali tak pernah terbayangkan. Aku baru benar-benar yakin kalau kau memang lelaki yang gila setelah mendengar rencana itu. Namun, anehnya aku tak bisa menolak begitu saja. Ada rasa penasaran ingin melihat akhir drama yang kau mainkan. Iya, kau juga memberikan satu peran untukku, malam ini.

Sssttt …. Kau letakkan telunjuk di depan bibir tipismu. Aku paham. Itu isyarat bahwa aku tak boleh mengeluarkan suara sekecil apapun.

Gelas-gelas itu kuangkat pelan. Kuletakkan di atas nampan bersama piring-piring dan sendok kotor. Kubiarkan sepasang lilin tetap menyala di mejamu. Kujaga nyalanya dengan menambahkan satu lilin baru. Seperti pintamu, kau akan tetap duduk di situ sampai batas waktu yang aku sendiri tak tahu. Kau minta tanpa lampu, selain pijar dari lilin di meja kayu, di hamparan kebun rumahmu.

Sebenarnya aku sebal dengan peranku. Apalagi harus menjadi pelayanmu dan pada perempuan yang selalu bikin aku cemburu.

Sialnya aku tak bisa meninggalkan tempat itu. Apalagi membiarkanmu berduaan dengan perempuan yang kau nikahi setahun yang lalu. Memang aku tak bisa memilikimu, tapi separuh hatimu milikku.

Aku ingin merasakan lebih dari sekadar sosok yang kausayang sebatas melalui telepon. Aku tak mau hanya sebatas membayangkan hubungan dari perbincangan. Ibaratnya hanya boleh merasakan tanpa menyentuhmu. Aku ingin lebih dari itu.

Kadang aku iri dengan perempuan yang sedang jatuh di pelukanmu. Parasnya sempurna. Sepertinya juga memiliki hati yang lebih mulia dibanding perempuan lainnya. Buktinya, dia mampu menjaga tubuhnya dari pandangan lelaki nakal dengan menggunakan pakaian dan akhlaknya. Bukankah kriteria itu yang selalu digembar-gemborkan para ustaz? Namun, rasa-rasanya itu hanya kedok dia saja untuk merayu dan merebut hatimu. Cuih!

Aku sih sebenarnya tak setuju, tapi kau memaksaku untuk turut mengikuti kriteria ustaz itu. Lagian juga aku sangat bosan jika setiap kali kau ceramahi. Soal jilbablah, kaos ketat, lipstik merah pekat, apa saja yang ada ditubuhku kaubilang tak seharusnya kupakai dihadapan sembarang orang. Tak baik. Tapi anehnya kau tak pernah ingin meninggalkanku.

Pagi tadi kau meneleponku. Mengatakan inilah kesempatanku. “Ah, kesempatan dalam hal apa?”

“Sudahlah. Pokoknya tunjukin kalau kamu bisa.”

“Bisa jadi jongos rumah tangga kalian? Enggak sudi!”

“Dina … Aku sudah mati-matian merencanakan hal ini. Mumpung Azizah tak keberatan dengan dinner spesial ini.”

“Gila, kamu ya?! Bisa bayangin perasaanku enggak sih, kamu?”

“Din …”

“Pokoknya enggak! Kau pikir aku wanita murahan?!”

“Din, ini kan cuma pura-pura. Hanya malam ini, please ….”

“Enggak!”

Hening. Setelah detak kelima jantungku, kau mengejutkan aku. “Din, kau masih sayang sama aku, kan? Tolong aku sekali ini saja, please.”

Sial! Aku selalu tercekat menjawab pertanyaan itu. Jelas sekali aku sayang saya kau, Nizam. Ngapain juga kau tanya soal cinta? Apa jawaban jujur dariku akan bisa memutar balik waktu? Tidak.

“Aku ingin membuktikan cintaku sama kamu,” pungkasmu.

***

Saya tahu, menjadi istri yang baik itu tak mudah. Ada berlapis-lapis kewajiban yang harus dijalankan. Terhadap suami, mertua, pun pada diri sendiri. Kadang butuh kekuatan ekstra. Bahkan pengorbanan yang tak tertakar beratnya. Bila semua kewajiban itu terlaksana, maka surga jaminannya.

Setahun menikah, dan malam ini kamu bilang mau memberi kejutan. Saya pun sudah menyiapkan diri. Termasuk menguatkan hati untuk menerima kejutan itu.

Kamu menggendong saya. Keluar kamar dengan mata tertutup. Kamu ikatkan sehelai dasi sebagai penutup mata. Katamu biar seperti adegan di film-film romance..

Kamu memang paling bisa meluluhkan hati wanita. Sejak kecelakaan seminggu yang lalu, kamu senang sekali menggendong saya. Ke ruang tamu, ke ruang makan, bahkan sekadar menjalani kebiasaan kita tiap malam minggu. Duduk berdua sepanjang malam di taman, menyapa kunang-kunang. Padahal ada kruk yang sering saya pakai menopang tubuh saat berjalan-jalan di rumah saat kamu tidak ada.

“Pokoknya entar jangan dibuka sebelum kusuruh buka, ya?” pintamu.

Saya khawatir luka akibat kecelakaan itu akan membuat kaki saya cacat secara permanen. Tak tegap berjalan, pun tak sanggup main kejar-kejaran di taman denganmu. Meskipun dokter sudah meyakinkan dari hasil foto rontgen, bahwa kaki saya akan sembuh seperti semula setelah beberapa bulan, tapi hal itu tak bisa menghilangkan ketakutan. Saya merasa akan cacat dan tak mampu berjalan dengan sempurna. Lalu kamu akan meninggalkan saya, karena malu punya istri cacat dan tak berguna.

Sebenarnya saya tak suka adegan semacam ini. Tentang kejutan, dengan dalih merayakan hari jadi pernikahan. Apalagi dalam kondisi saya yabg seperti ini. Kenapa harus berpura-pura seperti orang lain? Meniru cara yang kita pikir bisa membuat pasangan kita bahagia dengan  memberi kejutan. Padahal kenyataannya tidak semua perempuan punya selera yang sama.

“Iya, memangnya kejutan apa sih?”

“Ada, deh … Entar juga bakal tahu sendiri.” Kamu mengarahkan saya untuk duduk di sebuah kursi yang saya hafal sekali letaknya. Ini tempat favoritmu menghabiskan waktu sepulang kerja. Di taman belakang rumah kita. Sebuah kursi panjang dengan sebuah meja yang mengarah ke persawahan. Kita sering duduk di sini sekadar menyapa kunang-kunang yang datang dan pergi.

Hei, ada orang lain di sini. Apakah dia ibuku? Atau ….

“Sekarang, buka penutup matamu.”

Saya buka ikatan dasi yang menutupi mata. Mula-mula pandangan saya terasa kabur dan agak tak jelas. Berkali-kali saya berkedip. Mengucek kelopak mata, lalu menyapu seisi taman yang temaram. Entah kamu kemanakan lampu-lampu taman ini. Seperti ada yang sedang kamu pendam dalam pekat malam.

“Bagaimana, kamu suka kejutan ini?” Kamu tersenyum, menusuk sanubari dengan tatapan teduhmu. Mata itu yang selalu membuatku luluh.

“Terima kasih. Suka, Mas.”

Iya, tidak ada cara terbaik untuk menghormati suami selain menghargai setiap upayanya membahagiakan istri. Mungkin saya sudah terlatih dalam hal ini. Mengesampingkan ego untuk memupuk kebahagiaan dalam rumah tangga. Entahlah, apa kamu sadar hal itu. Saya jalani semua ini sebagai bagian dari niat ibadah.

Seorang perempuan datang. Membawa senampan teh hangat dengan wajah beku. Oh, bukan. Dia bukan Bibi yang biasa membantu masak dan bersih-bersih di rumah ini. Bagaimana bisa ada perempuan lain di rumah ini?

“Terima kasih, Dina.” Kamu memberinya senyum.

“Dina?”

“Iya, dia yang menyiapkan semua kejutan ini. Memasak, menata meja, menyajikan, apapun untuk malam ini. Untuk ulang tahun pernikahan kita”

Dina. Tentu saja aku ingat nama itu. Sejak kemunculannya malam itu di layar ponselmu. Kala itu kita sedang tidur, lebih tepatnya pura-pura tidur. Saya diam terpejam, kamu membalikkan badan lalu berbisik-bisik pelan. Cukup lama kamu berbicara di telepon. Awalnya saya pikir dia teman kerjamu, tapi lama-lama aku merasa ada sesuatu yang janggal dari obrolanmu.

Samar-samar aku dengar kamu mengatakan, “Merindumu adalah candu, aku tak sanggup menepis dan menutupi dengan cara menikahi dia.”

Menikahi dia? Dia siapa? Akukah yang kamu maksud? Kalau benar iya, maka kamu sudah berzina, Mas.

Sejak malam itu, saya tak pernah benar-benar tidur sepanjang malam. Maaf, saya mencuri waktu meninggalkanmu. Menemui Allah sang pencipta rindu dan cemburu. Saya pun berbisik pada-Nya penuh rindu. Menumpahkan segala resah dan gelisah. Mengadu tanpa rasa malu. Meminta tanpa membatasi jumlah dan masa. Maaf, Mas.

***

Sempurna, Azizah sepertinya tak menaruh curiga pada Dina. Sebentar lagi semua rencanaku akan berjalan dengan sempurna.

Siapapun pasti tahu kalau malam adalah tempat teraman menyimpan kejahatan. Buktinya, berkali-kali kutitipkan bejatku, malam selalu setia menjaganya. Andai saja malam adalah makhluk serupa manusia, barangkali sudah kuajak meneguk bergelas-gelas kopi. Cheers.

“Aku selalu ingat kenangan setahun yang lalu, Azizah,” bisikku serasa meniupkan mantra-mantra rindu pada Azizah, istriku. “Kita berjanji sehidup semati. Apapun yang terjadi akan selalu bersama.”

Dia bergeming. Tak sepatah kata pun diucapkannya. Hanya desah lembut napasnya yang lunglai terbawa angin. Entah kemana perginya beku, seperti ada tungku membara di tubuhku.

Dina berjalan pelan. Dia ambil dua gelas terakhir di mejaku. Melihatnya melirikku, aku tahu jawaban ke mana perginya beku. Dina merampas beku malam ini dan menyimpannya di dalam mata itu. Aku selalu rindu caranya menatap seperti itu. Tajam, tapi penuh tuntutan manja seperti biduan.

Benar sekali, kau akan menemukan kecantikan sempurna pada wajah wanita yang sedang cemburu.

Kutahan tangannya, kulempar kedipan, tanda memintanya singgah sejenak di sampingku. Sepertinya dia tahu, tapi ragu untuk duduk di sampingku. Kami tak bicara. Hanya saling tatap. Semacam saling merayu melalui bahasa bisu. Dina pun tak merespon sedikit pun. Hingga Azizah mengangkat kepalanya dari bahuku. Dia menatapku lekat, dengan mata sembab.

“Azizah, mulai malam ini Dina akan menemanimu di rumah ini.”

Azizah melempar tatapannya ke wajah Dina. Kulihat mata Azizah yang sembab mulai tergenang. Hanya beberapa detik kemudian air matanya telah mengucur deras membasahi pipi. Aku tahu ini bakalan sakit buat dia, tapi nanti pasti juga akan sembuh.

“Menemani sebagai apa, Mas?”

“Hanya ….”

“Jangan bilang kalau Mas sudah janji akan menikahi dia.”

“Kalau kamu tidak keberatan, Azizah. Aku … Pernah mencintai Dina sebelum kita menikah.”

“Apa karena aku cacat, sehingga harus ada perempuan lain di rumah ini?”

“Bukan begitu, aku ….”

“Mas, apa dia perempuan yang setiap malam menelponmu?”

Ternyata Azizah belum yakin kalau Dina yang setiap malam kutelepon itu adalah orang yang sama dengan Dina yang ada di sini sekarang. Kupikir Azizah akan minta cerai ketika tahu aku selingkuh, tapi ternyata tidak. Dia pura-pura tidur dan seolah tak pernah mendengar pembicaraanku dengan Dina di telepon. Oh, Azizah … Tak kukira sekuat itu hatimu.

“Azizah, aku bisa jelaskan tentang itu. Dia hanya ….”

“Tak perlu, Mas. Jawaban itu sudah jelas kulihat di matamu. Terserah Mas Nizam, tapi tolong beri aku waktu untuk memikirkan hal ini, Mas. Kuharap Mas bisa adil dan memikirkan masa depan keluarga kita. Mas, antarkan aku pulang ke rumah ibu, sekarang.”

Azizah menangis tersedu. Sementara Dina kulihat melangkah pergi tanpa menoleh ke arahku. Malam kali ini benar-benar telah mengkhianatiku. Bahkan membunuhku!

Oleh: Seno Ns

Ilustrasi dari sini.

Facebook Comments

4 thoughts on “Bolehkah Aku Merindunya Setelah Menikahimu?”

Tinggalkan Balasan