Maaf ya, Bu, entah kau merasa atau tidak, sedari kecil aku lebih dekat dengan Bapak. Yah … meski kami acap beradu argumen hanya karena beda selera musik atau berebut saluran tv. Tapi kami lebih nge-soul. Mungkin karena Ibu banyak mendikte dan melarang. Sedangkan Bapak cenderung membebaskan. Dengan seperti itu, aku justru merasa mendapat kepercayaan.

Ibu tahu? Ada satu kenangan yang sampai sekarang masih dapat aku ingat jelas. Pada suatu petang, Ibu sedang sibuk di meja tulis, entah sedang mengerjakan apa. Aku yang masih kelas 2 SD waktu itu hanya tahu Ibu sedang sibuk nulis-nulis. Tiba-tiba Ibu menyuruhku mencarikan sesuatu, gunting kalau tidak salah. Sebelum gunting aku temukan, Ibu sudah menyusul dengan perintah yang lain. Semua perintah itu tidak bisa aku penuhi. Ibu kesal, demikian juga denganku. Aku lalu mendatangi Bapak di kamar. Di sana, di meja kerjanya, Bapak mendengarkan keluh kesahku, sampai aku tertidur.

Aku terbangun di tengah malam. Ada suara Bapak … sedang menasihati Ibu. “Dia kan, masih anak kecil. Belum bisa kalau disuruh ini itu. Kasihan, anaknya capek.” Aku bisa mendengar isak halus dari sisi Ibu berbaring. Aku pura-pura masih lelap, tapi ketika itu aku sungguh ingin memeluk Bapak erat-erat, dan bilang, “Pak, jangan marahi Ibu.”

Oya Bu, dulu, kalau aku sedang kesal atau sedih, aku lebih memilih mencari Yune untuk kupeluk. Aku ingat betul, ketika suatu hari, Ibu pulang dari luar kota dan yang mendapat oleh-oleh baju batik hanya Mbak. Aku lari ke kamar mandi, tempat Yune sedang mengucek baju, dan memeluknya dari belakang. “Yu’, aku ini anak tiri, ya?” Ya Allah, sebelia itu aku sudah baperan.

Tapi suatu hari, gantian Ibu yang mendekapku erat dalam pangkuanmu, sambil menangis nelangsa. “Ada Ibu, loh! Kan, masih ada Ibu ….” Kalimat itu kauucapkan berkali-kali untuk menenangkan aku yang ketika itu histeris karena Yune pulang ke kampung, untuk selamanya. Maaf ya, Bu, pasti waktu itu hatimu sangat sakit. Namun waktu itu aku kehilangan teman. Apakah kau akan menggantikan Yune sebagai teman?

Ya, nyatanya memang kesibukan Ibu sudah banyak berkurang dan lebih banyak di rumah sejak kami pindah ke Semarang. Berbeda dengan saat di kota sebelumnya, Ibu sering ikut Bapak pergi dinas ke daerah-daerah. Malah terkadang sebagai ketua Dharma Wanita, Ibu jadi lebih banyak acara daripada Bapak.

Setelah Yune pulang kampung, kita jadi sama-sama belajar ya, Bu. Terutama aku. Ternyata ada perasaan lain ketika setiap pulang sekolah aku bisa menemukan Ibu di rumah. Semacam perasaan lega dan tenteram. Sampai-sampai, ketika aku SMA, aku pernah berseloroh pada sahabatku. ‘Aku kepengin kaya ibuku. Setiap anakku pulang sekolah, mereka bisa menemukan aku di rumah.’ Dan itulah yang terjadi sekarang.

Ternyata memang betul ya, ungkapan ‘biarlah waktu yang menunjukkan’. Aku bertumbuh, begitu pun dengan kau, Bu. Kau di mataku tak lagi sama. Rumah kita memang tak pernah sepi kegiatan. Dulu, dengan dibantu Yune—asisten Ibu yang luar biasa itu—dapur kita menghasilkan wajik, puyuh goreng, sate telur puyuh, arem-arem, mendoan, tahu brontak, dan es mambo untuk dititipkan di koperasi kantor.

Setelah kita pindah dan Bapak tidak lagi menjadi kepala dinas, kesibukanmu bertambah. Dan karena tak ada lagi Yune, kami semua, anak-anak Ibu diminta untuk turun tangan. Ketika itu tak hanya membuat penganan untuk dititipkan di toko-toko, tapi juga memasak ‘rantangan’ untuk tetangga-tetangga di komplek. Apa Ibu masih ingat? Ibu juga rutin ke Pasar Johar untuk belanja dhandhang, seprai, atau baju dan kerudung, yang nantinya akan kaujual dengan cicilan.

Maaf ya, Bu, kalau kadang aku protes dengan pasang muka cemberut. Biasanya itu karena aku capek, dan bosan, atau bahkan sedang menyimpan iri pada teman-temanku. Sesekali aku membayangkan, enak kali ya, pulang sekolah bisa istirahat, tidak harus keliling antar rantang ke tetangga. Atau, selesai belajar malam bisa santai goler-goler ndengerin radio, bukannya membungkus rempeyek yang sudah Ibu buat, supaya bisa dititipkan ke toko esok harinya. Atau, tidak harus keliling ke rumah-rumah tetangga, untuk minta setoran uang cicilan dagangan.

Ingat nggak, Bu? Kejadian lucu waktu selepas Magrib kauminta aku untuk menagih cicilan ke Bu X. Ketika itu misi yang kuemban gagal. “Aku suruh datang lagi besok siang, Bu. Katanya pamali kalau ngeluarin duit malam-malam.” Aku menambahkan lagi ucapanku, tapi sambil memerhatikan wajahmu, Bu. “Tapi tadi ibu itu sedang nyegat tukang bakso, Bu. Berarti dia keluar uang malam-malam juga, kan?” Aku tahu kau jengkel, Bu. Tapi Bapak terlanjur ketawa keras mendengar ceritaku tadi. Jadinya kita malah sama-sama nyengir aja, ya.

Ironisnya, kita justru jadi betul-betul dekat setelah Bapak meninggal ya, Bu? Aku yang ketika itu masih menganggur, spontan mengarahkan tujuan hidupku hanya untukmu, Bu. Niat mencari kerja kembali kuluruskan hanya demi bisa membahagiakan Ibu, bukan sebagai pembuktian untuk siapa-siapa.

Selama aku masih menganggur, kita jadi tim yang solid. Kakak sudah bekerja, adik juga kuliah sambil bekerja part time di salah satu restoran cepat saji. Jadi tinggal aku di rumah yang waktunya 100% hanya untuk Ibu. Ketika itu, aku sudah seperti tangan dan kaki buatmu. Dari kulakan untuk warung, mengantar kontrol ke rumah sakit, sampai jadi porter blusukan ke dalam pasar, mendampingimu belanja bahan-bahan kue.

Namun, ketika itu aku merasa tenagaku saja belum cukup untuk membahagiakanmu, Bu. Aku harus melakukan lebih dari sekadar jagain warung. Maka aku menyambut ajakan Om untuk mencoba peruntungan di kota lain, di propinsi tetangga. Aku masih ingat, Bu, bagaimana dulu kaumendekapku dari belakang ketika aku sedang mengemasi bajuku ke dalam koper. Melepaskan sesuatu yang berharga dan memilih jalan yang menyedihkan (pada awalnya) memang layak disebut pengorbanan. Ketika itu, kita harus melepaskan waktu kebersamaan kita yang begitu berharga ya, Bu.

Ketika akhirnya aku diterima bekerja di Jakarta, kita rajin teleponan, tapi seringnya Ibu dulu yang menelepon. Aku tahu, tentu Ibu kesepian karena sering berada di rumah sendirian. Sedangkan aku, mana mungkin merasa sepi? Ada kesibukan pekerjaan dan bertemu banyak teman baru. Namun, memang ada yang hilang. Kali ini setiap pulang dari kantor, aku tidak menemukan Ibu yang menyambut di balik pintu.

“Mbak, adikmu minta izin mau nikah. Tapi Ibu kok, nggak enak ya, kalau anak-anak Ibu nikahnya nggak urut dari yang tua. Apalagi kakaknya yang dilangkahi dua orang.” Ibu memberi kabar sambil terbata karena tersela isak. Ibu juga bilang kalau saat itu jadi teringat pada Bapak. “Kalau Bapak, kira-kira gimana tanggapannya ya, Mbak?”

“Bapak udah nggak ada, Bu. Kita ikut tuntunan agama aja, yang sudah dimampukan sebaiknya disegerakan. InsyaAllah kakak-kakaknya ikhlas.”

Kita senang ya, Bu, ketika itu. Ada anggota keluarga baru, berwujud mantu, dan tak lama kemudian bertambah lagi dengan adanya cucu. Cucu Ibu, loh. Ibu berkali-kali menangis haru karena lagi-lagi … teringat pada Bapak.

Sayangnya, kebahagiaan itu tak selamanya. Sampai saat ini pun aku masih sanggup mengingat setiap detilnya. Ketika itu aku sengaja mengambil cuti beberapa hari, khusus untuk melaksanankan misi itu. Seperti biasa kalau pulang ke rumah Ibu, aku selalu tiba tengah malam, dan langsung tertidur di samping Ibu. Esok paginya, usai salat Subuh, kami akan sengaja bermalas-malas di atas kasur sambil bercerita apa saja. Seperti hari itu.

“Bu, sebenarnya aku pulang karena mau cerita sesuatu ….” Entah karena mukaku yang tak bisa diatur atau dari suaraku yang bergetar, roman muka Ibu waktu itu juga jadi tegang. Tersendat aku mengabarkan padamu, Bu, kalau menantumu—istri dari anak bungsumu—divonis tumor otak, dan akan dioperasi segera. Ketika itu Ibu sengaja tidak diberitahu lebih awal karena sedang bahagia-bahagianya menyiapkan pernikahan Mbak.

Ingat tidak, Bu? Ketika itu kau mengerang keras memanggil-manggil Bapak. “Ya Allah …, Paaakk! Nasib anakmu lanang kok koyo ngene … melasi temen! Astagfirullah ….!” Aku sendiri harus menjaga emosi karena ketika itu sedang hamil muda anak pertamaku. Setelah itu kita berpelukan lama sambil tak henti-henti mengucapkan istigfar. Betapa Allah telah menggenapkan kehidupan dengan begitu sempurna. Ada kebahagiaan, ada kesedihan. Ada yang datang, ada yang pergi. Menantumu yang cantik akhirnya berpulang tiga minggu pasca operasi.

Rasanya kita sudah melewati semuanya ya, Bu. Banyak keajaiban yang Allah berikan, dan aku yakin, itu karena doa-doamu yang tulus. Bersyukur keluarga kita selalu kompak dan harmonis. Itu semua berkat kekuatan kasih sayangmu, Bu, yang sanggup merekatkan kami. Darimu aku meyakini keajaiban dari kekuatan doa, darimu juga aku belajar menomorsatukan keluarga. Dan tahukah kau, Bu? Apa yang kaulakukan sejak aku kecil, menjadi teladan bahwa perempuan harus punya kemampuan untuk mandiri.

Bu, tahukah, restumu selalu menjadi petunjuk bagiku, bahwa Allah meridhoi jalan yang aku lalui. Sehat dan bahagia selalu, Bu, dan izinkan aku menjadi sahabatmu sepanjang waktu. []

Oleh: Okie Noor.

Ilustrasi dari sini.

Facebook Comments
error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: