Aku sakit Bu, bibir lecet dan tangan memar tekena aspal. Bahkan dahi benjol karena diadu dengan trotoar. Motorku jatuh menggesrek trotoar dalam perjalanan dari Kaliurang menuju Solo. Tapi, Bu, keadaan ini kupastikan tidak akan sampai di telingamu. Aku tidak akan membiarkanmu khawatir, tidak akan.

Malam ini, biarlah kupeluk perih dengan rapal doa pada-Nya. Aku yakin, esok, segala khawatir akan lenyap berganti harapan.

Hujan pun turun, bertambah deras dan semakin deras. Dingin hujan bertambah-tambah dengan gigil jiwaku yang melayang, singgah pada masa silam. Aku melihatmu, berbaring tanpa daya di kursi panjang ruang tamu.

Digawa siki, aja suwe-suwe (dibawa sekarang, jangan lama-lama)!” perintah Bu Bidan Lastri pada beberapa lelaki yang datang ke rumah.

Isih deres udane, priwe (Masih deras hujannya, gimana)?

Malam itu, aku bingung, banyak orang datang ke rumah. Laki-laki, perempuan, semua hadir dan membuat sesak rumah yang memang tidak lapang. Mereka keluar masuk kamarmu, Bu. Beberapa di antara mereka mengajakku menjauh dan mengatakan tentang adik baru, adik kembar.

Aku yang waktu itu baru kelas empat tidak begitu paham dengan kata-kata orang dewasa. Jika adik baru akan segera hadir, kenapa aku tak boleh menemuimu, Bu? Kenapa aku tak bisa melihat adik baru itu? Bukankah aku kakaknya?

Dan aku semakin heran, saat akhirnya kau dibawa dengan kursi panjang tertutup terpal yang biasa dipakai untuk menjemur padi. Kau digotong oleh empat orang lelaki, dibawa ke Puskesmas yang letaknya sangat jauh. Teramat jauh. Bahkan lebih jauh dari sekolahku yang ditempuh selama satu jam. Menyeberangi sungai, menyusuri lorong berpayung pohon mahoni, kemudian menuju jalan aspal kasar. 

Mae digawa nyang Puskesmas, sesok kan mulih ngawa adik sing lucu (ibu dibawa ke puskesmas, besok kan pulang bawa adik yang lucu),” jelas simbok tetangga padaku.

Aku membisu, dingin tubuhku karena kehujanan sewaktu bermain tadi, tidak lagi terasa. Bagaimana bisa, kau yang akan memberiku adik baru justru digotong dengan kursi panjang tertutup? Padahal, di luar hujan sangat deras. Apa kau tidak kedinginan, Bu? Apa nanti kau tidak masuk angin?

Aku memandangimu dengan tandu itu dari pintu. Memandangimu, hingga bayangan obor orang-orang yang mengiringimu tak lagi terlihat. Jalan setapak di depan rumah pun kembali pekat setelah kepergianmu. Angin yang menampar pohon cengkih di halaman, turun dan mendekap tubuhku. Mendadak air mataku membanjir dan berteriak, “Mae! Mae!”

Beberapa tetangga membopongku dan akhirnya aku tertidur dalam keadaan hati yang entah.

Ah, luka di bibir ini tentu tak ada artinya dengan semua perih yang pernah kau alami kan, Bu? Aku semakin menebalkan tekad, esok akan segera sembuh dan kembali kuliah seperti biasa. Kembali melakukan banyak hal, agar cita-cita melihatku menjadi guru segera terkabul.

Mata ini pun kupaksa terpejam sementara hati terus menggemakan dzikir. Bliz! Kilat memendar dari jendela disusul bunyi yang membuatku kembali teringat padamu, Bu.

Ternyata malam hari setelah kau dibawa dengan tandu, bukanlah malam terakhir aku sendirian tanpamu. Esoknya, dan esoknya lagi, entah berapa malam tepatnya, aku belum menemukanmu di pembaringan. Aku belum bisa memelukmu dan mendengar dongeng dari mulutmu.

Aku masih sendiri, dengan simbah yang terus terbatuk sewaktu menggantikanmu mendongeng. Maka, pura-pura tidur adalah hal terbaik agar simbah lekas pergi dari kamar. Setelah beliau pergi, aku akan kembali bangun dan memandangi lampu teplok yang bergoyang, bercanda dengan angin.

Kubayangkan kau di samping dan melanjutkan dongeng tentang Putri Sewidak Loro (Putri Enam Puluh Dua) atau mengulang dongeng Joko Kendil, Mbok Rondo, Kancil, Keong Mas, juga mendengarmu menyenandungkan keroncongan, Jembatan Merah.

Kuusap bantal yang biasa kaupakai dan mencari aroma rambut dengan minyak kemiri. Tapi gagal, bantal ini sekarang beraroma apak karena lembab dan tidak terkena matahari. Tentu saja, tidak ada yang lebih baik darimu dalam merawat kain. Kuingat-ingat, tidak hanya kain bungkus bantal, baju sekolahku pun apak dan kusut.

Kau yang biasanya meniup-niup bara dalam setrika kemudian menandaskannya pada kain seragamku. Baju seragam yang sebelumnya telah kau rendam dengan air bercampur melati sebelum dijemur. Aku pun sangat bangga, ketika seragam itu kupakai dan aroma wangi menguar. Hingga pak guru memuji dan menanyaiku minyak wanginya merk apa.

Bu, apa tempat bernama Puskesmas itu sangat menyenangkan hingga kau lama tak kembali? Oh, iya, si mbok tetangga bilang, kau sudah tidak di puskesmas, tapi pindah ke tempat yang serupa tapi di kota kabupaten. Tempat apa itu namanya, aku tak paham. Tapi simbok tetangga bilang, tempat itu akan membuatmu semakin cepat pulang dengan adik baru.

Aku pun membayangkan kaupulang dengan adik imut yang akan menjadi temanku nanti. Tapi kapan kaupulang? Apakah masih lama?

Hujan masih menemaniku di sini Bu, masih setia dengan kilat dan angin yang sungguh membuatku semakin rindu pelukanmu. Pelukan yang menyambut setiap aku berteriak di atas jembatan menuju rumah.

Mae, aku entuk biji sanga (Bu, aku dapat nilai sembilan)!”

Kau pun menyambut di pintu dan memelukku. Aroma asap dapur yang membungkus tubuhmu itu akan kuhirup dalam-dalam dan menyimpannya dalam ingatan.

Maem sik, Mae gawe megono (urap dari nangka muda yang dicincang kecil kemudian dikukus)!”

Tentu dengan sangat gembira aku langsung melepas seragam dan bersiap makan. Kau memang ibu idola, tak pernah membuatku kecewa, ketika pulang sekolah dalam keadaan lapar.

Bu, kapan kaumasak lagi? Aku rindu aroma bawang di jemarimu sewaktu kucium tangan selepas pelukan di pintu. Oya, Bu, sebentar lagi juga UHB (Ulangan Harian Bersama). Nanti siapa yang akan menemaniku belajar? Bukankah kau juga harus menyelesaikan rajutan kristik bergambar Oshin itu?

Lampu templok di kamar masih saja bergoyang, meliuk bersama angin. Aku pun masih terjaga, mendengarkan hujan yang sepertinya akan berhenti, berganti gerimis.

Illa kok durung bobok (Illa kok belum bobok)? Meremo, Nok! Merem!” Entah sejak kapan simbah kembali ke kamar dan mendapatiku masih melek menatap lampu teplok. Setelahnya, ia kembali berbaring di samping, kembali mencoba mendongeng, tentu dengan batuk yang terus mengganggu.

Petir kembali bersahutan, kilatnya beberapa kali berpendar di balik korden jendela. Gluduk itu, lama-lama kok mirip batuk simbah. Pikirku menertawai kenangan yang beberapa waktu lalu singgah dalam ingatan.

Segetir apa pun kenangan, kini aku bisa menertawainya. Setidaknya, demi sebuah nama yang kauberikan untukku, Ilalang. Tanaman belantara yang akan hidup di mana dan dalam kaeadaan apa pun.

Perih dan kaku sekujur badan kembali terasa. Kuulang lagi, doa tidur dan coba memejamkan mata. Di luar, sudah tidak ada lagi suara, sepi dan sunyi.

Bu, apa saat di rumah sakit kau juga merasa kesepian? Simbah dan simbok tetangga bilang, kalau aku tak boleh menyusulmu. Kata mereka, bahkan simbah kakung yang menunggu saja tak bisa masuk ke dalam ruangan di mana kau berbaring.

Percuma angger nyusul ya ora bisa ketemu (percuma, misal nyusul ya tidak bisa ketemu). Ruangane rapet, ditutup (ruangannya rapat, ditutup). Simbah kakung ae ora isa mlebu, mung dokter karo perawat (simbah kakung saja tidak bisa masuk, hanya dokter dan perawat).”

Panjang lebar simbok tetangga memahamkan, kalau aku sebaiknya di rumah saja, sekolah dan belajar. Tidak perlu ikut nyusul karena selain jauh, harus jalan selama satu setengah jam kemudian naik bis tiga jam, juga di rumah sakit, tidak akan betemu.

Engko malah didukani bu dokter (nanti malah dimarahi bu dokter).”

Setelah penjelasan itu, aku tak pernah menanyakan kepulanganmu, Bu. Tak pernah. Tapi, setiap pulang sekolah, di jembatan menuju rumah, aku pelankan langkah. Berdoa dalam hati dan terus berdoa semoga saat di depan pintu, tiba-tiba kau muncul dengan senyum dan tubuh beraroma asap.

Tapi, berapa kali aku pulang sekolah, yang kudapati hanya pintu yang bisu. Tak ada sosokmu dengan rambut tergelung, menggunakan tusuk konde seperti yang dipakai Bibi Lung, dalam serial Pendekar Rajawali. Aku pun kecewa.

Bu, ibu ….

Dzikirku berganti gumaman menyebut namamu. Hingga entah berapa lama, sampai aku terlelep dan baru menyadari saat alarm HP menjerit di jam tiga dini hari.

Kuraih HP dan mematikan alarm. Gambar amplop dengan angka sepuluh kupencet. Beberapa pesan masuk dari teman BEM menanyakan kabar. Tapi, aku deg-degan saat melihat tanda angka satu di kotak masuk dengan namamu, Bu.

Priwe kabarmu, Nok? Apik-apik ae? Mae kok kepikiran awakmu.

Mataku panas seketika, desakan air sudah tak bisa dibendung. Dalam isak yang sangat dalam, kuketik balasan:

Alhamdulillah, kabare Apik Mak. Nyuwun doa supados sehat lan barokah selalu. (Alhamdulillah. Kabarnya baik, Bu. Minta doa supaya sehat dan barokah selalu)

Aku tahu Bu, di hatimu selalu ada doa untukku. Tapi, tidak apa-apa kan, jika pun aku selalu mengatakannya. Selalu memintanya. Meski pun aku tahu, tanpa kuucap, tanpa kuminta, kau pasti akan memberikannya untukku.

***

Oleh: Sri Bandiyah.

Ilustrasi dari sini.

Facebook Comments

This is a demo store for testing purposes — no orders shall be fulfilled. Dismiss

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: