“Bergaul kok dengan anak putus sekolah. Kamu itu anak kuliahan, calon guru pula, apa kata orang kalau kamu main sama dia. Iya kalau hanya sekadar main bersama, kalau sampai kamu doyan rokok, parahnya sampai mau minuman keras, siapa yang rugi? Teman lain yang lebih baik itu banyak, kenapa juga harus sama dia. Sudah, sekarang motor masukkan garasi. Enggak ada acara nonton konser Samsons malam ini. Titik!”

“Tapi, Buk ….” Aku mencoba menyela.

“Enggak ada tapi-tapian. Kali ini Ibuk enggak mau kompromi sama Kamu. Masuk kamar, belajar, persiapkan ujian akhir semestermu. Ibuk enggak mau IPK-mu anjlok gara-gara salah pergaulan dan kebanyakan dolan.”

Sore yang kelabu buatku. Rencana menonton konser Samsons di Stadion Mandala Krida malam itu gatot. Rencana yang sudah kususun rapi bersama Anto, tetangga sekaligus teman bermain band-ku  urung terealisasi. Aku mencoba meyakinkan ibuk, bahwa aku akan baik-baik saja. Namun, untuk kesekian kalinya Ibuk berhasil mengalahkanku.

Sekuat tenaga aku mempertahankan pendapatku, tetap saja tak mampu menembus benteng kokoh pertahanan ibuk. Berbagai alasan yang menurutku logis telah kukemukakan, tapi tetap saja ibuk tak bergeming. Entah sudah berapa ratus kali silang pendapat seperti itu terjadi, dan ratusan kali pula aku harus menuruti nasihat ibukku alias kalah dalam silang pendapat itu.

***

Ibuk, demikian aku memanggil beliau. Sosok wanita yang telah berusia kepala enam. Rambutnya kini telah beruban, tak lagi hitam seperti saat aku senang bermain dalam gendongannya. Aku adalah anak bungsu yang telah susah payah beliau kandung dan lahirkan. Banyak sekali kasih sayang yang tercurah untukku. Dari dalam kandungan aku telah merepotkannya. Mengikutinya kemanapun beliau pergi. Ke pasar aku ikut, ke sawah aku ikut, bahkan ke kamar mandi aku tak mau ketinggalan. Tentu saja, saat aku masih dalam kandungannya.

Memoriku terbuka manakala aku ke alun-alun menikmati sekaten di sore hari bersamanya. Di sana beliau biarkan aku berjalan sendiri. Saat itu aku masih belajar berjalan. Jalanku masih pelan-pelan ketika hendak meraih peyek pemberian orang. Dari kecil, ternyata beliau telah mengajarkan keberanian padaku.

Hal lain yang aku ingat adalah ASI. Ah, biar saja dianggap seronok. ASI adalah anugrah terbaik dari Allah untuk seorang bayi. Konon kualitasnya tak pernah ada yang bisa menandingi. Apalagi jika dibanding susu sapi seperti iklan-iklan di TV saat ini. Aku anak bungsu, tapi aku menikmati ASI darinya paling lama. Aku ingat, mungkin kala itu aku sudah berusia tiga tahun, tapi aku masih meminta ASI darinya.

Aku masih ingat, gayaku meminum ASI. Sambil bertepuk tangan, tandanya aku merasa girang. Aku tak pernah lupa bagaimana aku berhenti dari menyusu padanya. Bodrex jawabannya. Saat Bapak hendak minum obat tersebut, aku penasaran. Aku memaksa meminta obat tersebut. Aku coba ternyata pahit. Aku minta obat dari air susu beliau. Ah sayang, ternyata di situ telah diolesi bodrex pula. Berhentilah aku meminta ASI dari ibuk. Memori yang indah bagiku.

Masa TK SMA tak banyak perubahan pada dirinya. Perhatian, kasih sayang, bahkan kemarahan jika aku lalai masih sering aku dapatkan. Dengan siapa aku berkawan pun, beliau sangat peduli, bahkan terkesan membatasiku. Pernah suatu ketika aku hendak menonton konser sebuah grup band terkenal. Ibuk tahu rencanaku itu. Maka cerita sebagaimana tulisan ini kumulai, terjadilah.

***

Kisah sore itu tak berhenti begitu saja. Malam hari selepas salat isya, aku makan malam bersama keluarga. Saat semua telah selesai dan kembali ke kamar masing-masing, aku mencoba melakukan pendekatan kepada ibuk. Saat suasana kurasakan sudah memungkinkan kumulai membuka pembicaraan.

“Buk, salahkah berteman dengan anak yang putus sekolah? Bukankah berteman itu dengan siapa saja asalkan kita tidak mengikuti perilaku buruk teman kita itu, kan?” kuberanikan diri membuka percakapan.

Ibuk terlihat menoleh kepadaku, tapi tak ada suara sedikit pun sekadar membalas pertanyaanku.

“Kita kan, bisa belajar dari siapa pun, Buk. Termasuk dari orang yang tak berpendidikan sekali pun. Pasti ada sesuatu yang bisa kita pelajari. Maka apakah salah aku berteman dengan Anto, Buk?”

“Sudah belum ceramahnya?” satu kalimat bernada keras aku terima. “Kalau sudah, giliran Ibuk yang berbicara, ya. Jangan tersinggung. Jangan marah, jangan sampai dendam dengan Ibuk, ya.”

Aku tak berani menjawab pertanyaan ibuk. Aku tahu itu hanya pertanyaan retoris. Maka aku diam, berharap ibuk menjawab sesuai dengan harapanku, dan akhirnya aku diizinkan untuk pergi menonton konser dengan teman-teman band-ku.

“Nak, kamu pasti tidak suka Ibuk banyak melarangmu. Berteman dengan Anto, Ibuk melarangmu. Kamu hendak ikut camping, Ibuk juga melarangmu. Ketika malam tiba, banyak anak muda di kampung ini yang nongkong, Ibuk malah memaksamu ke langgar Mbah Zen. Ibuk paksa kamu mengaji bahkan dengan kebanyakan bukan teman akrabmu.”

Aku menghela napas, menunduk, mengiyakan perkataan ibuk barusan.

“Tahukah, Nak, Ibukmu ini dahulu adalah anak hasil pingitan. Eyang dan eyang buyutmu adalah dua wanita yang sangat protektif kepada Ibukmu ini. Jangankan berkawan dengan anak luar rumah, saat bermain keluar pagar rumah saja, Ibukmu ini akan langsung dipanggil untuk pulang ke rumah. Kamu tahu bagaimana perasaan Ibuk saat itu?”

Aku menggeleng pelan. Bukan tak tahu bagaimana perasaan ibuk saat itu. Aku yakin perasaan ibuk tak jauh berbeda dengan perasaanku saat ini.

“Ibuk, kesal juga saat itu, Nak. Ibuk, ingin seperti teman lain. Bermain bersama, belajar bersama, dan hal lain yang tentu saja menyenangkan untuk Ibuk. Tapi, semua itu tidak Ibuk dapatkan.”

“Lalu Ibuk melampiaskan kekesalan Ibuk kepadaku sekarang ini, ya? Apa salahku, Buk? Ibuk balas dendam, ya?” spontan aku berdiri untuk melakukan protes.

Ibu terdiam, tak merespon protesku yang mungkin berlebihan. Beliau tertunduk. Kulihat ada sesuatu yang basah dan bening keluar dari dua bola matanya. Mendadak aku merasa sangat bersalah. Baru kali itu aku membuat Ibuk menangis. Aku kembali duduk, tapi tak berani mendekati Ibuk. Aku salah tingkah, antara akan menenangkan Ibuk, atau membiarkan beliau. Akhirnya kuberanikan diri mengambilkan tisu untuk beliau.

“Maafkan, aku, Buk. Bukan maksudku membuat Ibuk menangis. Maaf tadi Aku spontan.”

Malam itu terasa begitu syahdu. Ketika bapak dan kakak-kakakku telah beristirahat dalam tidur, aku dan ibuk masih berdiskusi panjang. Bahkan, tak terasa air mata ibuk malam itu harus tumpah membuatku sedih tiada terkira. Kemarahanku malam itu berakhir dengan sebuah penyesalan. Sesal karena harus membuat ibuk menangis, bahkan sesal lebih mendalam, karena malam itu aku tahu bagaimana ibuk begitu menyayangiku.

***

Ibuk bercerita bahwa sistem pingitan eyang yang dahulu diterapkan, adalah sesuatu yang tak pernah disetujui oleh Ibuk. Maka, ibuk tak pernah memperlakukanku demikian. Lima anak beliau tak ada satu pun yang dipingit seperti dilakukan eyang kepada beliau. Ibuk tak pernah dendam kepada eyang, maka beliau tak pernah memingit kami.

Namun, mengapa pergaulanku sangat dibatasi? Mengapa pula ibuk sangat selektif terhadap teman-temanku? Malam itu aku mendapat jawaban dari ibuk. Perkembangan zaman yang sangat tak terkendali, disikapi beliau dengan selektif kepadaku. Tujuannya satu, agar kuliahku lancar, agar pendidikan keluarga tidak terhapus begitu saja oleh lingkungan pergaulan. Agar jangan sampai aku terjebak dalam pergaulan yang salah, maka aku amat dibatasi dalam hal berteman.

Bukan bermaksud merendahkan remaja lain yang tak berpendidikan, lebih dari itu, beliau ingin lingkunganku adalah yang mendukung studiku. Pergaulan dengan sesama remaja yang mengenyam pendidikan agama dan pendidikan tinggi tentunya. Di akhir penjelasannya, ternyata ibuk sepakat bahwa belajar dan berteman itu bisa dengan siapa saja. Namun, benteng diri harus sudah kokoh, sehingga aku tidak mudah goyah ketika ada teman mengajak ke perbuatan yang tidak baik.

***

Sebuah keputusan besar aku ambil ketika terbuka lebar lowongan menjadi guru di pedalaman Kalimantan. Bapak yang awalnya kulihat sangat eman (sayang namun cenderung suka mengkhawatirkan) ternyata sangat mendukungku untuk merantau. Bagaimana dengan ibuk? Beliau sedari awal tidak menyetujui bila aku harus merantau ke pulau seberang.

Alasan mendasar adalah karena aku anak bungsu, tidak ada saudara di sana, dan tentu saja pengalamanku masih nol besar. Belum lagi pergaulan dan lingkungan yang tentu saja sangat berbeda dengan lingkungan di sekitar rumahku. Kami-aku, bapak, dan ibuk- harus berdebat cukup panjang untuk menghasilkan keputusan akhir.

Dengan berbagai pertimbangan, akhirnya ibuk mengalah. Beliau mempersilakanku merantau, tapi tetap saja belum tampak raut ikhlas untuk melepasku. Pun saat hari keberangkatanku. DI saat yang lain begitu tegar melepas kepergianku, ibuk sangat berbeda. Berkali-kali beliau memelukku tentu saja dengan diiringi derai air mata yang tak henti-hentinya mengalir di pipi beliau.

“Jaga salatmu, jangan sampai bolong, tadarusnya juga. Kalau ada teman yang mengajak berbuat yang aneh-aneh enggak usah ikut. Jaga pergaulan, jangan dekat-dekat dengan orang yang tidak baik. Pokoknya cari teman yang baik-baik saja. Jangan lupa telepon Ibuk, kabarkan keadaanmu selalu.”

Kata-kata itu hanya aku yang mendengar. Ibuk membisikkannya sambil memelukku erat di hari kepergianku. Aku ingat betul kata-kata itu. Dan aku akan melaksanakan nasihat itu. Aku juga akan membuktikan kepada ibuk bahwa aku bisa menjaga diri, memilih teman yang baik dan tentu saja menjaga pergaulan.

Kata-kata ibuk benar adanya. Di tanah perantauan, banyak teman dari berbagai kalangan. Ada yang berasal kaum akademisi, ada pula dari kalangan berpendidikan rendah. Meski berpendidikan rendah, tapi mereka memiliki kecakapan dalam bekerja yang mumpuni. Tentu saja dalam pekerjaan teknis di perkebunan.

Tidak jarang pula ada beberapa teman yang dapat aku katakan adalah kaum buangan dari daerah lain. Buangan dalam hal ini karena mereka adalah para preman atau bahkan ada yang eks narapidana. Mereka tak lagi mendapat tempat di daerah asalnya. Merantau adalah pilihan terbaik agar dapat menyambung hidup. Untungnya, sistem kerja yang ketat dan penuh dengan aturan mengikat diterapkan di tempatku bekerja. Maka para mantan preman dan narapidana tersebut tetap harus taat aturan agar mereka tidak dipecat begitu saja. Hal yang demikian membuatku tak begitu risau bergaul dengan mereka.

***

Satu setengah tahun berselang, aku pulang. Ibuk adalah sosok yang paling senang ketika aku datang. Pelukan hangat seperti ketika melepas kepergianku, kembali aku dapatkan. Pun air mata kasih sayangnya. Kembali mengalir, membasahi pipinya tapi dalam suasana bahagia. Ibuk senang aku baik-baik saja. Teramat senang lagi, ibuk tahu aku mampu menjaga diri, bahkan di lingkungan yang keras. Ibuk senang aku mampu menunjukkan bahwa belajar dan berkawan dari bisa dari siapa pun.

Oleh: Wawan Murwantara.

Ilustrasi dari sini.

Facebook Comments
error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: