November 2009.

Siang ini, aku sibuk mematut diri di cermin. Aku mau mendaftar sebagai calon anggota paguyuban karesidenanku, Barlingmascakeb (Banjarnegara, Purbalingga, Banyumas, Cilacap, dan Kebumen). Sebagai anak rantau, bisa bertemu dengan teman satu daerah adalah hal yang menyenangkan.

Alunan lagu Cari Jodoh milik grup band Wali terdengar merdu, menembus pintu kamar teman indekosku. Lirik lagu ‘aku yang tak laku-laku’ seperti menyindirku. Jodoh, ya? Hemm, belum pernah terpikirkan.

Sampai saat ini pun, Ibu masih melarangku pacaran. Katanya, aku kudu kerja dulu baru boleh mulai memikirkan jodoh. Ya, karena hanya beliau satu-satunya orangtuaku kini, aku kudu nurut. Lagian, belum ada seseorang yang bisa memikat hatiku untuk kukenalkan kepada Ibu.

Jogja, menjadi tempatku merantau setelah lulus SMA. Kata orang, Jogja itu kota kenangan. Apakah aku juga akan menjadi salah satu dari orang  yang merasakan kenangan itu nantinya? Pertanyaan lainnya, gimana, ya, kalau ada satu orang yang bisa bikin aku berbunga-bunga?

Ah, sudahlah, kok, aku jadi ngelantur ke mana-mana. Kudu bergegas nih. Pukul 15.00 acaranya, aku kudu cepet. Setelah selesai berdandan, aku menggendong ransel merah bergaris hitam. Aku membawa semua hal yang kubutuhkan di sana. Bismillah, aku siap berangkat. Untuk sampai ke tempat pendaftaran, aku harus menempuh waktu 10 menit dengan berjalan kaki.

Sesampainya di sana, sudah banyak teman yang berkumpul. Seorang laki-laki memakai kaos lacoste putih yang ditutupi jaket jeans, bercelana panjang hitam sedang menunggui sebuah meja. Ada tulisan ‘Pendaftaran Anggota Baru’ di atas meja yang dia jaga. Aku bergegas mendekatinya.

“Mas, maaf masih boleh ndaftar?” Aku bertanya sesopan mungkin. Aku tahu, ini sudah pukul 15.15. Tadi di jalan, ada teman yang mencegatku karena ada urusan kuliah.

“Masih, ini belum tutup, kok. Wong ndi (orang mana)?

Ah, Banjarnegara.Lah, Mas?

Setelahnya, banyak yang kami ceritakan. Sama-sama orang satu daerah memang selalu membawa kedekatan. Walau merantau sejauh apapun, jika bertemu dengan teman yang cocok, akan menjadi bius yang melenakan. Bertukar nomor telepon, membuat kami sering mengisi hari dengan bertukar kabar.

Dek, besok ada acara kumpul paguyuban. Ikut?

Masuk SMS darinya, Mas Andi. Sudah enam bulan kami saling mengenal. Aku merasa dia sudah menjadi bagian dari aktivitasku. Ngapain lagi kalau enggak say hi, bertukar kabar, dan hal yang menyebabkan jantung berdegup lebih kencang. Ya, aku tahu, aku dan dia bukannya tak ada ikatan pasti. Memang tak ada acara nembak, tapi aku yakin, kami memiliki perasaan yang sama.

Toh, ini malah jalan terbaik bagi kami, karena belum ada lampu hijau dari Ibu. Aku pun belum berani cerita apa-apa. Pernah suatu waktu, Mas Andi memberiku kode untuk mengenalkan dirinya kepada Ibu, tapi aku menolaknya dengan halus. Aku merasa belum siap saja.

“Mas, maaf ya, bukannya Adek enggak mau. Tapi belum sekarang. Nanti kalau Adek sudah siap, Adek pasti kenalin.”

Ya, itu janjiku beberapa bulan yang lalu, saat aku mencoba lebih mengenalnya. Maka, aku sudah merasa dia memang ada rasa untukku.

Kami dipertemukan lagi di acara kumpul paguyuban. Aku didapuk menjadi sekretaris dan Mas Andi sebagai ketua. Ya, aku memang jarang banget bertemu dengannya. Enam bulan ini, baru beberapa kali kami bertemu. Intensitasnya meningkat saat aku harus mengurus acara paguyuban ini.

Setelah acara usai dan urusan kelar, Mas Andi mendekatiku.

Dag dig dug, duar! Aku bener-bener tersihir. Aneh, ada yang mendesir di dadaku. Mukaku bak kepiting rebus. Rasanya ingin tersenyum terus saat dia menatapku. Inikah cinta yang sebenarnya?

“Dek, aku antar ke kos, ya?”

“Ehm, boleh Mas.” Mukaku mulai memanas.

“Mau makan dulu enggak?” Mas Andi menawariku.

Aku berpikir sebentar. Perutku sudah penuh, sih, gara-gara tadi menghabiskan snack temenku. Tapi, ini kan kesempatan langka. Baru kali ini Mas Andi mengajakku jalan.

“Boleh.”

Aku mengangguk malu. Ah, bodo amat. Nanti di sana ambil dikit aja makannya, batinku.

Hari-hariku setelahnya semarak dengan kehadiran cowok hitam manis bertubuh tinggi tegap itu. Karena kami beda fakultas, terkadang di hari libur saja kami bertemu atau hari di saat tak ada tugas kampus. Kami menjadi salah satu pasangan yang sedang dimabuk cinta di dunia ini. Aku pun sudah mulai berbagi cerita kepada Ibu.

“Bu, aku sedang dekat dengan seseorang.” Suatu malam, aku memberanikan diri menelepon Ibu. Aku merasa tak ingin menutupi hubungan ini tanpa restu Ibu.

“Mbak, Ibu kan sudah bilang, jangan dulu, tunggu kamu kerja nanti. Kamu tahu kan, bagaimana ibumu sekarang?” Ada nada khawatir dari ujung telepon, khas Ibu saat memberi nasihat tentang jodoh.

“Iya, Bu, aku tahu. Kami juga baru dekat, kok. Dia orang yang baik. Nanti aku kenalkan ke Ibu. Dia tulus, Bu.”

Setelah lama berbincang, Ibu mulai melunak. Banyak hal yang kuceritakan tentang Mas Andi kepada Ibu. Semua tentang kebaikan cowok manis itu, mungkin, sih, aku agak berlebihan. Tetapi, aku merasa yakin dengannya.

“Ya sudah, kalau itu sudah keputusanmu. Ibu berdoa untuk kebaikanmu. Ibu minta nomor telepon Mas Andi, ya. Oya, kamu yang penting kuliah yang betul, ya. Bikin Ibu bangga, Nak.”

Senyumku terkembang. Ibu mulai membuka hatinya. Setelah beliau trauma akan masa lalunya, aku memang terkena imbasnya. Namun, aku yakin, ini semua Ibu berikan hanya untuk kebahagiaanku. Tak lama, aku pun mengenalkan Mas Andi ke Ibu via telepon.

Kini, sudah tiga tahun kami mengenal. Tak ada konflik yang berarti. Semua berjalan lancar. Pernah, sih, kami cekcok karena menurut Mas Andi, aku terlalu mandiri. Pernah terlontar kalimat bahwa dia merasa aku tak butuh dirinya. Tapi, dia mau saja menerimaku lagi. Dia mungkin tahu, aku dibesarkan oleh seorang ibu yang kudu mandiri karena keadaan. Jadi, aku pun tumbuh dengan hal-hal yang sama.

Sebentar lagi, kami akan berpisah sementara. Dia akan diwisuda.  Ada rasa sesak dalam dada. Aku masih harus menunggu setahun lagi agar bisa menyusulnya. Tapi, aku tak boleh cengeng. Ini demi kebahagiaan kami. Mas Andi balik ke kampung halaman. Dia mencoba peruntungan bekerja di sana dengan ijazahnya.

Yah, setidaknya, aku tahu dia ada di mana. Aku hanya bisa menitipkan cerita kami kepada-Nya.

Sebelum Mas Andi balik, aku memberikan sepucuk kertas kosong. Aku pernah menonton film tentang seorang cewek yang memberikan keputusan untuk mengakhiri hubungan dengan kekasihnya, tapi ia memberi kertas kosong. Pacarnya disuruh menulis perasaannya sekarang, pun begitu cewek itu. Lalu, surat perasaan itu disimpan selama setahun. Ditempatkan di tempat yang mereka janjikan. Jika mereka sama-sama datang ke tempat itu lagi setahun yang akan datang, maka mereka jodoh. Lalu, mereka akan membaca surat pasangannya, agar tahu perasaanya setahun lalu.

Ya, kami pun membuatnya. Surat cinta kami untuk masing-masing dan dibaca setahun lagi. Aku hanya ingin memberikan warna dalam hubungan ini, agar terasa beda saja.

Kami benar-benar jodoh, kami datang lagi ke sana tanpa janjian. Aku membaca suratnya dan sebaliknya.

Namun, setelah membaca suratnya, aku agak kecewa. Kukira cintanya masih sama seperti sebelumnya, tak ada keraguan. Sayang, ada yang membuat dia ragu. Tapi, aku takkan menyerah. Akan kubuat cintanya sama seperti tahun-tahun sebelumnya. Aku pasti bisa. Toh, Mas Andi masih berkata bahwa dia masih ingin menjalin hubungan ini.

November 2014.

Ini tahun kelima kami menjalin hubungan. Aku sudah berada di Jakarta. Mas Andi masih di Kebumen. Kami sama-sama menjadi pekerja kesehatan. Jam kerja yang panjang, ditambah dengan adanya tugas darurat, membuat kami sulit menemukan waktu untuk mengobrol.

Hari ini Minggu, hari liburku. Aku menelepon dia. Mas Andi sudah lama tak menelepon. Kemarin, undangan pernikahan teman kerja memenuhi pikiranku. Apakah ini sudah masanya, ya, aku mengikat janji? Aku, hanya ingin mendengar kepastian. Lima tahun kami menjalin hubungan, rasanya sudah cukup jika saat ini aku menanyakan hal-hal masa depan. Ibu pun sudah mulai bertanya, bagaimana kami selama ini.

“Mas, jadi bagaimana, ya, hubungan kita?”

Aku bertanya setelah memberitahu Mas Andi bahwa teman kerjaku akan melangsungkan pernikahan bulan depan.

“Ehm, maksudnya apa, nih, Dek?”

“Mas, kan, tahu, kita sudah lima tahun menjalin hubungan. Salah, ya, aku tanya, kapan kiranya kamu melamar?”

Hening. Beberapa detik kudengar helaan napasnya, lalu tak ada suara lagi dari sana.

Aku mulai mengoreksi diri. Juga mengoreksi hubungan kami selama ini. Adakah yang salah? Atau memang belum saatnya? Ah, tapi, hubungan ini kan tujuan akhirnya adalah menikah. Apa yang dicari kalau tak ada kepastian. Tunggu, aku tidak mau menebak sebelum Mas Andi jawab.

“Mas? Masih di sana?”

“Ah, iya, Dek. Masih. Cuma aku belum bisa jawab pertanyaanmu. Maaf.”

Hatiku tersayat mendengar kata-katanya. Kenapa tak bisa menjawab? Bukankah, aku sudah memberinya banyak waktu untuk memikirkan tentang hubungan ini? Selepas kuliah, aku tak pernah menanyakan kepastiannya melamarku. Aku tahu, dia pasti ingin berjuang untukku. Mencari penghasilan sendiri dan sebagainya.

Lalu, apakah lima tahun ini belum cukup baginya? Aku pun tak perlu sesuatu yang mewah, aku sudah cukup dengan semua yang dia punya. Lagi, menikah, kan, berarti Allah akan memberi rezeki-Nya karena menggenapkan separuh iman. Mas, ada apa denganmu?

“Mas, boleh aku bertanya lagi?”

“Ya, Dek.”

“Pernahkah Mas memikirkan masa depan kita? Atau, punya pandangan apa ke depan untuk kita?”

Aku berusaha memberinya kesempatan untuk mendiskusikan hubungan kami setelah ini. Aku berharap, dia pernah memikirkannya, walau hanya sedikit.

“Dek, maaf, jika kamu berharap banyak padaku. Jika untuk saat ini, aku tak bisa memberikanmu janji apapun. “

Jeder! Buliran air mata jatuh tak terkendali. Aku bisa mencerna jawabannya, tapi, kok, ternyata sesakit ini, ya? Dia belum bisa memutuskan kebahagiaannya untuk bersanding denganku.

Untuk kesekian kalinya aku menangis. Bukan untukku sepenuhnya. Ibu, seseorang yang sudah membayangkan hubungan kami ke depan. Yang selalu bertanya, apakah aku sudah siap dilamar? Yang sudah bahagia hanya dengan ceritaku atas pencapaian-pencapaian kami. Yang ikut terharu karena kami berhasil mendapat pekerjaan yang mapan.

Apa kabarnya Beliau nanti? Aku saja patah seperti ini. Mungkin, aku hanya bisa mencoba ikhlas. Toh, memang, aku selalu menjaga hatiku untuk tak lebih dalam terperosok. Aku mencintainya tapi tak seluruh hidupku untuknya. Tapi, bagaimana dengan Ibu? Orang yang sudah memberikan sepenuhnya kepercayaan kepada Mas Andi. Yang sudah mulai membuka hati untuk calon menantunya.

Bagi Ibu dulu, lelaki itu memang suka menyakiti. Itu dulu pendapatnya saat Ayah meninggalkannya dengan luka yang sangat dalam. Tapi, karena obrolan intens Mas Andi dengan Ibu, itu membuka pikiran beliau. Namun, peristiwa hari ini, bagaimana aku bisa menjelaskan semua kepada Beliau? Haruskah Beliau juga merasakan hal yang sama lagi, kedua kalinya?

Ah, Mas Andi, andai kau tahu. Bukan aku saja yang patah, jika kita tak jadi nikah.

***

Oleh: Dhita Erdittya.

Ilustrasi dari sini.

Facebook Comments

This is a demo store for testing purposes — no orders shall be fulfilled. Dismiss

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: